Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 67. Festival Garing


__ADS_3

Melihat apa yang dipesan Anita, terlihat Rein cukup heran dengan tampilan makanan yang sudah dihidangkan dalam beberapa menit.


"Gluk.. Makanan apa ini?" tanya Rein melihat aneh dan sedikit tertegun.


Sampai beberapa menit mencoba, Rein sendiri tampak tidak terlalu menyukai makanan tersebut. Tapi berbeda dengan Anita yang dengan lahap menikmati makanannya. "Wuah, Rasanya sungguh Nikmat. Aku baru pertama kali memakan makanan seperti ini" Ujar Anita yang melihat Rein terdiam dan tak menghabiskan makanannya.


"Kenapa Rein?, Kau tidak makan lagi?" tanya Anita.


Menggaruk pelipisnya sambil tersenyum kecil, Rein melihat Anita yang tampak masih ingin makan. "Kamu masih mau?" tanya Rein memberikan piring mangkuk makanan yang belum disentuh.


"Boleh buatku?" tanya Anita.


"Em, Aku mau pesan kopi saja" berkata Rein mencoba untuk memanggil seseorang yang juga berjualan minuman. Dan tempat tersebut memang bebas digunakan siapapun.


"Wah, Rasanya kenyang" tutur Anita yang sudah menghabiskan porsi makanannya dan Makanan Rein.


Menyesap kopi hitam, Rein tersenyum melihat Anita yang cukup puas. "Mau kunjungi tempat lain?" tanya Rein.


Membuat anggukan, Anita tanpa ragu langsung berdiri dan menunggu Rein yang sedang menyelesaikan pembayaran. "Fuh, aku hampir lupa diri." Tutur Anita melihat Rein yang sudah kembali.


Hanya hal kecil yang Rein lakukan, sembari terus mencoba untuk lebih mendekatkan dirinya dengan Anita. Dan Bagaimana pun, Rein memang pernah menyimpan rasa pada Anita.


"Rein, boleh?" tunjuk Anita yang ingin memakan sate maranggi.


"Em, kamu ternyata suka makan ya" ucap Rein terkekeh.


"Jangan bilang seperti itu, Lagian kamu kan yang sudah mengajak ku. Jadi, apa kamu ingin sesuatu dari ku?" Ucap Anita yang berjalan sambil memakan beberapa tusuk sate maranggi. "Kamu mau??."


"Boleh" Jawab Rein yang terus menelusuri beberapa tempat yang menjual makanan. Hingga sampai di halaman belakang tempat Festival makanan, Rein dan Anita melihat beberapa tempat permainan dari berbagai daerah lokal.

__ADS_1


"Silakan, Silahkan coba. Rolet jarum" Teriak Seseorang penjaja mainan yang mencoba untuk menarik pengunjung.


Menghampiri sebuah kedai permainan, tampak Rein ingin mencoba peruntungan. "Anita, bagaimana kalau kita buat pertandingan. Kalau aku kalah, Malam ini aku akan kabulkan permintaan mu" ucap Rein mengajak Anita berkunjung ke sebuah kedai permainan tembak bebek.


"Boleh" ucap Anita langsung.


"Tapi, kalau kamu yang kalah. Kamu juga harus mengabulkan permintaan ku. Bagaimana?" Jelas Rein ingin sesuatu dari Anita, terlebih memang Rein menyukai sosok Anita.


"Kau pasti minta yang macam-macam?, Aku Terima tapi kita sebut permintaan kita masing-masing terlebih dahulu, bagaimana?" Anita sendiri tak mau sampai dirinya terjebak dalam permainan yang dibuat Rein. Dan mengikuti apa yang diinginkan.


"Oke, Kau dulu" ucap Rein menunggu.


"Aku ingin kamu memperlihatkan kemampuan mu lagi, Aku penasaran. Bagaimana kamu bisa melakukan lompat tinggi" Jelas Anita yang sudah tahu Bagaimana Rein beberapa waktu lalu membuat dirinya terkejut.


"Baiklah, Rupanya kamu memang sangat berhati-hati dengan ku." ucap Rein yang langsung menyebutkan permintaannya.


"Kalau aku menang, Aku minta kamu mencium pipi sebelah kananku. Tadi siang aku merasa kalau keseimbangan tubuh ku condong ke kiri." Ucap Rein yang masih mengingat kecupan pipi kirinya.


"Memang kamu pikir aku mau minta apa lagi, Terutama kamu sudah mau menepati janji untuk kencan Hari ini. Tenang, aku ini pria baik kok" Canda Rein masih ingin tetap menjaga kualitas dirinya.


"Uh, mana ada pria yang mengatakan dirinya baik." Ucap Anita yang kemudian bersiap melakukan sebuah permainan.


Berjalan ke arah paman pemilik permainan tembak bebek, Rein Menerima dua buah busur dan lima anak panah. "Aturan mudah, masing-masing bebek memiliki lima poin. Jika kamu berhasil memperoleh dua puluh lima poin. Ada hadiah spesial untuk mu" ucap pemilik kedai permainan menjelaskan.


"Oh, Memang hadiah spesialnya apa?" tanya Rein yang melihat beberapa hadiah lain dengan beberapa poin. Dari lima sampai dua puluh lima, yang masing-masing hadiah bisa didapatkan langsung asalkan pemain berhasil memperoleh poin terendah yaitu lima.


"Dua set jaket couple dengan cinta di setiap rajutannya" ucap pemilik kedai permainan, yang Juga memiliki cara bagaimana pemain tidak bisa memperoleh hadiah apapun.


"Oh, cukup menarik" ucap Rein memberi sejumlah uang dan kemudian memberikan busur panah lainnya pada Anita.

__ADS_1


"Kamu dulu"


"Baiklah, Aku tak akan kalah" Ucap Anita bersiap.


Seperti sebuah persaingan, mereka berdua melakukan tanding tembak bebek dengan sebuah busur panah. Memiliki lima kali kesempatan menembak, Anita yang mendapat giliran pertama. Mencoba untuk berusaha, membuat sebuah gerakan seolah sudah profesional. Anita dengan sekuat tenaga menarik anak panah yang sudah terpasang pada slot benang busurnya.


Hanya dalam satu kali tarikan, Sebuah anak panah melesat tajam. Rein yang melihat pun kagum melihat Anita yang melepaskan anak panah tersebut.


Swos!


Anak panah yang melesat tajam hampir mengenai salah satu bebek yang sedang bergerak seolah berenang. "Yah, melesat." Keluh Anita yang bersiap kembali.


Sampai pada tarikan yang kedua, Anita tersenyum senang melihat anak panahnya mengenai seekor bebek yang langsung jatuh berguling-guling. "Yeay!" teriak Anita bersemangat.


"Hebat, Ayo Anita" ucap Rein memberikan semangat.


Sampai lesatan anak panah ke lima, Anita berhasil mengenai seekor bebek dan hanya menyisakan dua bebek yang tersisa. "Giliran mu, Rein." ucap Anita yang kemudian mundur dan melihat pemilik kedai permainan menekan tombol pengulangan.


Bersiap dan membuat sebuah posisi, saat ini Rein berkonsentrasi. Dimana tubuhnya seperti memancarkan sebuah energi yang langsung terpancar jelas. Dengan tatapan mata yang tajam dan menyipit. Rein membuat sebuah pemandangan lain dengan mata tembus tulangnya. "Ayo Rein, Aku sudah punya 15 poin." Ucap Anita memberikan semangat sekaligus ejekan.


"Cih, Aku akan dapat dua puluh lima poin" ucap Rein yang langsung melepaskan anak panah dari benang busurnya.


Swiss..


Tapi anehnya, saat terlepas. Anak panah tersebut langsung meluncur melengkung ke bawah. "Rein!, apa yang kamu lakukan?" tanya Anita melihat gerakan anak panah yang terjatuh melengkung bahkan seperti tak bertenaga.


"Hehe, Gagal deh" ucap Rein terkekeh.


Sambil kembali mencoba, Rein kembali melakukan kesalahan. "Arh, kenapa?" tanya Rein yang melesatkan kembali anak panah ke lima dan hasilnya tetap sama. Tak ada satupun anak panah yang mengenai bebek.

__ADS_1


Datang ke arah Rein dengan sebuah hadiah, pemilik kedai permainan terkekeh. " Selamat nona cantik, ini hadiah mu. Sayang sekali pacar mu tak mendapatkan poin sama sekali." Ucap pemilik kedai permainan yang memberikan sebuah boneka Squidward ke tangan Anita.


Menyelesaikan beberapa permainan, dan setelah keduanya puas. Baik Rein dan Anita memutuskan untuk duduk di sekitar Tempat festival, dimana mereka berbicara beberapa hal. "Rein tepati janji mu" Ucap Anita yang menunggu. Bahkan Anita sendiri sebenarnya tak tahu, kenapa Rein melakukan hal tersebut. Bukan ingin mengalah, tapi Rein juga punya maksud lain. Berdiri dan membuang putung rokoknya, Rein membuat senyuman senang. Walaupun dia tak mendapatkan hadiah utama dari permainan tembak bebek. Dia cukup senang, "Oke, Aku akan kabulkan keinginan mu." ucap Rein yang mengarahkan tangannya ke arah Anita.


__ADS_2