Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 44. Main Poker


__ADS_3

Rein yang terkejut melihat seseorang menepuk pundaknya, seketika kembali heran melihat seseorang polisi yang tak memiliki detak jantung. Melihat seorang bawahan polisi yang tersenyum aneh, Rein berdiri dan ingin mencoba untuk menjelaskan.


"Maaf Pak, aku cuma numpang istirahat. Kalau begitu aku mau balik" Ucap Rein yang melihat ekspresi muka bawahan polisi terus menatap tajam ke arahnya.


"Mau kemana buru-buru, Mumpung belum larut malam, bagaimana kalau kamu temani aku main poker?. Capek juga kerja seharian." Ucap bawahan polisi yang kemudian melangkah dengan membawa sebuah bok kecil berisi Kartu Remi.


Rein yang benar-benar merasakan hal aneh, pada bawahan polisi tersebut. Saat ini ingin mencoba untuk mengikuti keinginannya, tanpa melakukan hal yang akan membuat dirinya mendapatkan masalah. Berjalan pelan ke arah tempat dimana ada dua orang polisi lainnya. Rein sendiri merasakan ada dua detak jantung yang masih terdengar Normal.


"Hey bro, Kita punya temen main poker. Ku pikir Pak Ragyl tidak mau ikutan bermain. Kebetulan ada warga sekitar di sini. Jadi kita bisa langsung mulai." ucap bawahan polisi yang membawa Rein menemui dua polisi lainnya.


Terus menatap Rein, dua orang polisi tersebut tersenyum dan menjelaskan bahwa wilayah di sekitar kawah Meteor jatuh, belum bisa di masuki warga sipil. "Lain kali, Kamu harus tahu tempat. Berhubung memang kita sedang kekurangan pemain, dan tidak Ingin mengganggu Pak Ragyl, lebih baik kamu temani kami." Ucap bawahan polisi yang lain.


Rein hanya menggaruk pelipisnya, dan pada akhirnya Rein mencoba untuk menemani ke-tiga polisi yang sedang bertugas. Tentunya Rein sendiri juga ingin mencari informasi, melihat masing-masing nama ketiga polisi. Rein melihat ke arah polisi yang menegurnya. Yang dimana polisi tersebut sedang membuat empat cangkir kopi. "Pak Kelly, Saya tidak minum kopi" ucap Rein yang untungnya membawa lima kaleng bir yang disimpan di tas ranselnya. Tapi sesaat hendak mengeluarkan kaleng bir, Rein mencoba untuk menghormati ketiganya dan mencari beberapa bungkus rokok yang disimpan.


"Malam ini kita akan begadang semalaman" ucap Polisi bernama Kelly yang kemudian memberikan masing-masing segelas kopi, termasuk Rein. "Cobalah.."


"Ya, cobalah bro" paksa dua polisi yang lain.


"Kamu tak perlu sungkan, Sebelum mulai bermain kita teguk bersama" ucap Kelly memaksa.


Tidak ingin membuat hal yang mencurigakan, Rein yang yang tahu bahwa sosok Kelly, memang berbeda langsung mencoba melakukan sebuah trik. Dimana saat hendak mengambil segelas kopi yang diletakkan di meja kemah. Rein tanpa sengaja menyenggol gelas tersebut sampai tumpah. "Wah, Tumpah" ucap Rein yang memang sengaja melakukannya dengan alasan hendak meletakkan tiga bungkus rokok di dekat gelas kopinya.


"Tak apa, aku akan buatkan yang Baru" Ucap Kelly tak curiga.


"Pak Kelly tidak usah, Kebetulan aku bawa lima kaleng bir dan tiga bungkus rokok." Ucap Rein yang langsung meletakkan tiga kaleng bir ke meja masing-masing polisi.

__ADS_1


Sambil menatap tajam ke arah Rein, sosok Kelly hanya tersenyum biasa. Sambil bersiap membagi kartu, Kelly merasakan Hembusan asap rokok yang baru dinyalakan Rein. "Merokok tidak baik untuk kesehatan" ucap Kelly mengingatkan.


"Tak apa bro, kebetulan aku tak bawa Rokok. Boleh minta?" tanya Dua polisi yang lain yang kemudian berdiri dan meraih sebungkus rokok di tangan Rein.


"Ya, ambilah." Ucap Rein tersenyum.


Sambil menatap ke arah Kelly, seorang polisi temannya menggeleng kepala. " Hey, Kelly tumben sekali kamu sekarang jarang merokok." Ucap seorang polisi yang duduk di dekat Rein.


"Ya, Seharian ini. Kamu sedikit aneh" ucap polisi yang lain Menimpali.


Seperti mencari informasi dari dalam kepalanya, sosok Kelly mencoba untuk mengingat bahwa dirinya memang perokok. "Ya, tapi aku sudah berhenti mulai sekarang. Karena merusak jantung" ucap Kelly yang perlahan mulai terlihat aneh.


Tertawa keras!


Tak membuat gerakan apapun yang mencurigakan lagi, sosok Kelly tetap diam sambil terus memperlihatkan ekspresi senyum. Membagi kartu ke beberapa orang, Kelly diam sejenak dan langsung membuat sebuah gerakan trik membagi kartu dengan cepat. Seperti gerakan seorang profesional, Kelly membuat dua teman polisinya terbelalak.


"Wow!, Kau ternyata berbakat!" ucap polisi yang duduk disamping Rein.


Sampai permainan dimulai, Rein yang mampu melihat semua kartu di tangan masing-masing orang. Langsung memenangkan babak pertama.


"Hebat kamu bro, Oh ya Kami lupa menanyakan siapa namamu" ucap polisi di samping Kelly bertanya.


Sambil melihat ke arah Kelly yang kalah dan kembali mengocok kartunya, Rein terdiam beberapa saat. "Namaku Rein, maaf aku juga lupa memperkenalkan diri" ucap Rein kembali melihat gerakan tangan Kelly yang mahir memainkan kartu.


Sampai beberapa putaran, Rein melihat jam digital di smartphonenya yang sudah menunjukkan pukul 22:10 malam. "Kelly sudah, kita akhiri saja. Kau memang berbakat tapi selalu kalah."Gumam polisi di samping Kelly yang langsung berdiri. "Aku mau patroli sebentar."

__ADS_1


Melihat ekspresi Kelly yang tampak biasa saja dan tetap datar, seperti tak kesal dengan kekalahan yang berturut-turut. Rein melihat Kelly berdiri sambil meletakkan gelas kopi di meja setelah beberapa kali menyesapnya. "Aku mau kencing." Ucap Kelly dengan suara sedikit serak.


Rein sendiri hanya diam dan menatap ke mana arah Kelly berjalan. "Pak, saya juga mau pulang. Sudah malam" ucap Rein pada seorang polisi yang beberapa kali menguap.


"Ya,baiklah. Hati-hati dijalan, dan ingat untuk tidak lagi mendekati tempat ini." Ucap seorang polisi yang melihat Rein berjalan ke arah lain.


"Aku mau tidur sebentar ah."


***


Di dalam mobil perwira polisi, sambil mendengar alarm hpnya yang berbunyi. Sosok perwira polisi bernama Ragyl terbangun dan melihat ke arah jam digital yang sudah menunjukkan pukul 22:45.


"Pegal sekali badanku, rasanya remuk semua" ucap Ragil terbangun dan langsung membuka pintu mobil. Melihat ke arah seorang polisi yang sedang tertidur di meja santai kemah. Ragil kemudian berjalan dan langsung menepuk beberapa kali kepalanya.


"Aku masih ngantuk, seharian belum istirahat" ucap polisi tersebut yang langsung menerima pukulan keras sebuah topi yang diarahkan ke kepalanya.


"Bangun, Kamu patroli sana!" Bentak Ragyl.


Terhentak bangun, polisi tersebut langsung berdiri tegak. "Baik Pak!" ucapnya.


Menggeleng kepala dan mengambil satu kaleng bir yang belum di buka. Sosok Ragil Melihat empat gelas kopi tergeletak di meja perbekalan. "Oh, dasar ya. Kenapa tidak ngajak kalau mau ngopi?" ucap Ragyl meletakkan bir tanpa menaruh curiga apapun.


Sedangkan Disisi Rein sendiri, Tampak dia yang sedang mengikuti ke mana Kelly pergi. "Sudah kuduga, ada yang aneh pada Kelly. Aku coba ikuti kemana dia pergi" Tutur Rein yang terus berjalan pelan sambil mengikuti Kelly. Sambil melihat sekilas, Rein memang menemukan keganjilan pada tubuh Kelly. Yang dimana, Rein melihat seluruh bagian tubuh Kelly tampak seperti manusia normal pada umumnya. Hanya saja ada bagian organ tubuh yang hilang. Tubuh Kelly yang hidup tanpa jantung, "Apa dia seperti Pak supir taksi yang waktu itu ku bunuh?. Tapi anehnya kenapa Dia terlihat Normal seperti manusia pada umumnya?." Tanya Rein dalam hati langsung bersembunyi ketika melihat Kelly berhenti sambil melihat ke sebuah rumah di atas bukit.


"Mau apa dia? Kalau mau kencing kan bisa di alam terbuka. Atau dia mau pinjam Kamar mandi?."

__ADS_1


__ADS_2