Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 84. Sayang, Kalau Tidak Digunakan


__ADS_3

Berbicara beberapa hal, Rein dan Khalisa tampak saling memandang satu sama lain. Dimana tatapan mereka langsung teralihkan ke arah samping.


"Kau lucu Rein" ucap Khalisa terkekeh sambil menutup mulutnya.


"Ternyata seperti itu pengalaman masa SMP mu, Kamu hebat bisa melalui banyak hal saat masih SMP. Aku kagum dengan mu Rein" imbuh Khalisa yang mendengar cerita tentang masa lalu Rein. Dimana Khalisa mendengar beberapa bagian kelucuan yang dilakukan Rein.


"Itu hanya masa lalu. Waktu itu aku memang mencuci sisa makanan tetangga rumah di kampung. Dan tertangkap basah sedang menguyah banyak tulang sapi yang aku remukan." Lirih Rein sembari menyalakan Rokok dan menghembuskan beberapa kali asapnya.


"Baiklah, mungkin lain Kali aku ingin mendengar cerita mu. Kalau begitu aku mau pulang, Bagaimana pun kamu tahu aku sudah punya istri" Lirih Rein yang melihat Khalisa membuat gerakan jari.


"Ssh" pelan Khalisa membuat isyarat.


"Jangan keras-keras."


"Eh?, memang kenapa?" tanya Rein yang langsung di raih tangannya oleh Khalisa dan berjalan ke sisi lain. Dimana orang tuanya tidak akan mendengar apapun yang akan di katakan Khalisa.


"Begini Rein, maafkan aku sebelumnya. Aku yang salah belum menceritakan tentang dirimu yang sudah menikah. Tapi, tolong jangan katakan apapun tentang ini. Papa dan Mama ku, cukup senang melihat ada seseorang yang mau melindungi ku dari gangguan Braum. Dan mereka menyuruh ku untuk meminta mu, berkunjung minggu depan. Mereka ingin mengadakan makan malam keluarga, dan kamu harus datang. Aku bingung dengan situasi ini." Jelas Khalisa terus menundukkan kepala sambil mencoba menjelaskan situasi dimana Orang tuanya menyukai Rein. Dan Khalisa yang di suruh oleh orang tuanya mengajak Rein makan malam.


"Bukankah tinggal katakan saja kita baru saling kenal?, Kalau untuk makan malam. Mungkin aku bisa usahakan." Berkata Rein melihat Khalisa membuat gerakan menggeleng kepala.


"Itu tidak mungkin Rein, Bagaimanapun diantara kita belum saling mengenal satu sama lain." tutur Khalisa yang bingung membuat keputusan.


"Terlebih, Kalau mereka tahu kamu sudah punya istri, mereka pasti juga akan menyuruh mu untuk tidak berhubungan dengan ku. Tapi disisi lain, aku takut tak ada orang selain kamu yang bisa menolong ku dari gangguan Braum Yier."


Sambil menaruh telapak tangannya ke pundak Khalisa, tampak Rein cukup tahu keadaan tersebut. "Baiklah, aku paham kok. Aku mengerti kekhawatiran mereka, Bagaimana pun kamu anak mereka yang harus di jaga. Aku akan coba datang minggu depan dan ku harap kita akan bisa menjadi teman. Lagi pula, aku juga sudah berjanji untuk melindungi mu. Kalau begitu sampai jumpa lagi" Ucap Rein berjalan pelan ke arah motornya.

__ADS_1


"Rein, terimakasih. Maaf seharusnya dari kemarin aku katakan hal tersebut." Ucap Khalisa membuat lambaian tangan.


Rein hanya membalas ucapan Khalisa dengan senyuman ringan, dengan sedikit suara tawa yang sangat pelan dan hanya bisa di dengar olehnya. Menutup kaca helmnya, Rein tentunya tahu kalau Khalisa tak mungkin menyukai pria beristri dua. "Walau Khalisa tampak menawan, setidaknya aku puas bisa mengenalnya" pikir Rein pulang ke moon house.


***


Di moon house.


Di dalam kamar, disambut oleh Nina yang terus memanjakannya. Tampak Rein cukup senang merasakan dirinya yang terus dimanjakan Nina.


"Sayang, Ah.." Desah Rein yang terus menerus merasakan beberapa kali tumbukan dari tubuh Nina. Dimana terlihat Rein sedang merebahkan tubuhnya sambil sesekali mengelus pipi Nina yang berkeringat.


"Uh, Ah, Sayang gantian..." Pinta Nina yang terus menerus membuat beberapa teriakan yang menggema.


Mengerti dengan apa yang diinginkan Nina, tampak Rein melakukan beberapa hal lain. Dimana saat ini Rein memiringkan wajahnya sembari menyesap liur Nina yang berkumpul di mulutnya. "Hah, Hah, permainan mu bertambah baik sayang" Rintih Nina yang terus menjulurkan lidahnya ke dalam mulutl Rein.


Plak! tamparan!


"Iyaah!" Teriak Nina yang merasakan Rein terus menerus menampar buritannya.


"Sayang, aku datang!" ucap Rein yang perlahan mendekap Nina dari belakang.


"Iyaw!" Teriak Nina kembali membuat gema di dalam kamar mereka berdua.


Bahkan suara mereka terdengar menggelegar dari luar kamar. Dimana terlihat Arumi yang masih terjaga, sedikit menyeritkan dahinya mendengar suara permainan Rein dengan Nina.

__ADS_1


"Uh, Mereka berdua bermain lagi tiap malam apa tidak bosan?, aku berharap Nina bertambah berat badannya" Lirih Arumi sedikit mengumpat Nina, dan hanya bisa menggeleng kepala tanpa pernah tahu rasanya di genjot Rein.


Meletakkan segelas air di meja kamarnya, Arumi terus menutup telinganya. Bagaimana pun, kamar keduanya memang saling berdekatan. Walaupun sudah lama menikah, baik Arumi dan Rein tetap masih belum mau sekamar. Terlebih dengan kedatangan Nina, tampak Rein sendiri seperti tak pernah lagi berharap bahwa Arumi akan memintanya untuk sekamar dengannya.


Mengambil earphones wifi nya, Sambil mencari lagu pengantar tidur. Arumi langsung menekan tombol play di aplikasi Epop nya. Tak lagi mendengar jeritan dari kamar sebelah, yang setiap malam terus menghantuinya. Senyum Arumi bertambah lebar, "Akhirnya tenang.." lirih Arumi perlahan memejamkan mata.


Dan bagi Rein sendiri, walaupun dia memang berharap bisa melakukan sesuatu pada Arumi. Setelah kedatangan Nina, Rein terlihat cukup puas merasakan dirinya yang terus dimanjakan Nina.


Walaupun terkadang Rein harus berkecil hati, karena bagaimana pun. Nina setiap bulan sekali, selalu mendapatkan siklus bulanan yang sangat wajar baginya.


Mengakhiri permainan malam mereka, Rein melihat Nina cukup berkeringat. Dimana dengan sebuah kecupan kecil di bibir Nina, Rein berterimakasih atas pelayanan manjanya. "Terimakasih sayang" tutur Rein yang kemudian menyelimuti Nina.


"Selamat malam sayang?" lirih Nina yang melihat Rein tersenyum ke arahnya.


"Selamat malam sayang" Senyum Rein berjalan pelan ke arah pintu. Dengan hanya memakai boxer ketat hitamnya, tampak Rein berjalan seraya memakai jubah tidurnya. Mengikat kain kecil di bagian perutnya, "Jadi mulai besok aku sudah tak bisa dimanja Nina lagi" ucap Rein yang sudah menghitung siklus bulanan Nina.


"Ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi" berkata Rein yang berjalan ke arah dapur. Rein memeriksa keadaan rumah yang sudah cukup sepi, karena bagaimanapun hanya ada Griss saja yang mengurus Moon House. Rein sendiri sudah beberapa kali berbicara dengan Kakek Mertuanya dengan meminta beberapa pelayan tapi sampai saat ini hal tersebut masih belum juga di kabulkan.


"Mengurus Rumah sebesar ini, pasti Griss cukup kelelahan. Terlebih Fara yang sampai saat ini belum memberikan ku kabar." Sambil kembali berpikir, Rein juga Berkeinginan untuk mencarikan Nina seorang supir. Walaupun bisa saja, Nina ikut berangkat bersama Arumi. Rein juga harus menjaga Nina, "Um, Pokoknya aku mau minta pada Kakek mertua sebuah mobil baru dan Supir pribadi untuk Nina."


"Ya, Supir yang bisa beladiri tentunya"


Tapi Rein juga harus melakukan sesuatu untuk kakek mertuanya sebagai timbal balik atas keinginannya.


Mengetahui situasi yang sedikit membuat Rein terganggu, dimana beberapa mahkluk yang disebut Plagiator bisa saja membuat celaka Orang terdekatnya. Rein terus memikirkan jalan yang terbaik, walaupun tidak harus mengandalkan Kakek mertuanya. Dimana Kakek mertuanya sendiri hanya menyetujui Rein menduakan Cucunya. "Aku akan bekerja keras mulai saat ini!."

__ADS_1


"Minggu besok, aku akan coba cari Seorang supir Untuk Nina. Dan untuk mobil, aku akan usahakan sendiri" lirih Rein yang mendengar suara rintihan pelan dari dalam kamar pelayan wanita.


"Oh ya, selama Nina disini. Aku jadi jarang berbicara dengan Griss. Aku samperin saja, sayang kalau tidak digunakan" Ucap Rein berjalan sambil menenteng susu kotak Ultra rasa Jeruk menuju ke kamar Griss yang berada di ujung lorong lantai bawah.


__ADS_2