Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 9. Menyelamatkan


__ADS_3

"Oh ya Rein, apa kamu sudah dengar tentang Braum dan kawan-kawan nya. Mereka di rawat di rumah sakit" ucap Fara.


"Oh, mereka. Biarkan saja.." ucap Rein.


"Tapi , Rein.. Pihak kampus sedang menyelidiki kasus mereka. Apa kamu yakin tidak masalah?" tanya Fara yang juga terlihat dan menyaksikan Rein dan Braum berkelahi.


"Haha, aku tahu itu akan terjadi, yang jelas kamu tidak ada hubungannya dengan ini. Jika kamu mau, laporkan saja" ucap Rein yang kemudian berdiri.


"Rein , aku tidak akan melakukan hal tersebut. Walaupun caramu tidak terlalu baik, tapi aku senang karena kamu memberikan mereka pelajaran. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk melaporkan mu" ucap Fara yang memegang tangan Rein. "Lagi pula, mungkin semua orang yang pernah di ganggu Braum dan kawan-kawan nya juga merasakan senang, termasuk aku.."


Melihat ke arah Wajah Fara, Rein kemudian duduk. "Baiklah, mungkin caraku memang tidak terlalu bagus. Tapi, aku sudah puas. Dan Jika terjadi sesuatu aku tidak akan melibatkan mu" berkata Rein yang meraih Ranselnya. "Hari ini , aku ingin kembali ke rumah pamanku. Sampai jumpa besok."


Berjalan bergegas, Rein kemudian meninggalkan Fara sendirian. Sambil berpikir tentang Bu Nina, "Llebih baik aku mencari Bu Nina. Walaupun kita tidak ada hubungan apapun, tapi dia selalu baik terhadap ku" berkata Rein yang kemudian berlari dan mencoba mengingat alamat rumah Bu Nina. "Aku ingin membantu nya."


Berlari sambil memesan taksi online, Rein melihat notifikasi di aplikasi BCA Mobile. "Haah!, ada yang mengirimkan uang?, tapi siapa!" berkata Rein yang melihat nominal uang yang masuk ke Rekening di aplikasi BCA Mobile. "1.00.000.000 juta??, wow."


Ping!


Sebuah Notifikasi dari Whatsapp muncul, membuka perlahan chat dari author. Rein kemudian membaca isi pesan.


Ping!


[Rein, aku sudah mentransfer sejumlah uang ke rekening BCA mu, lebih baik bergegas ke rumah Bu Nina!] ucap author di dalam Whatsapp dan sudah membuka Pemblokiran nya.


Ping!


[Apa maksud mu , Thor?] balas Rein.


Ping!


[Sudah, nanti saja. Aku bicara kan.. lebih baik cepat, atau Bu Nina tidak akan selamat] balas author yang mengirim emoticon mobil dengan asap.


Masuk ke dalam taksi online, Kemudian Rein menyuruh supir taksi untuk segera pergi. "Ke Jl. mekar bunga nomor 96 pak!" suruh Rein.

__ADS_1


"Baik" ucap supir taksi online yang kemudian melajukan mobil nya.


"Tambah kecepatan pak!" berkata Rein.


"Ini sudah batas maksimum, tidak bisa di percepatan atau aku nanti dapat masalah" ucap Supir taksi yang taat peraturan.


"Cih, apa tidak bisa Anda menurut pada pemeran utama pria?" berkata Rein kesal.


Tak mempedulikan Rein, supir taksi online tetap tidak menambah kecepatan mobil. Sambil memperhatikan jalan, Supir taksi online tersenyum. "Jika anda mau, bisa aku lakukan. Tapi.."


"Oke , akan aku tambah ongkos nya, jadi cepat!" berkata Rein yang kesal.


"Oke, oke. Pegangan yang erat," berkata supir taksi online yang kemudian berkelok dan kemudian berhenti tepat di depan Rumah Bu Nina. "Sudah sampai."


"Haaah!, sudah sampai!" berkata Rein yang kemudian keluar dari mobil dan melihat ke arah supir taksi online yang tersenyum senang. "Sialan kamu pak!,aku tertipu."


Rumah Bu Nina memang tidak terlalu jauh dengan universitas sans Diego. Hanya butuh 20 menit perjalanan, "Hehe, terimakasih" ucap Supir taksi yang kemudian pergi meninggalkan Rein.


Dengan kesal, Rein yang sudah menjanjikan bayaran lebih terus mengumpat supir taksi online yang sudah membuat nya kesal. "Aku tandai supir taksi ini" berkata Rein yang kemudian berdiri dan melihat Rumah Bu Nina. Memeriksa gerbang rumah yang terbuka dengan tiga mobil yang berjajar di halaman rumah Bu Nina.



Memperhatikan dari bawah, Rein melihat jendela rumah Bu Nina yang terbuka. "Aku terlambat, lebih baik aku bergegas atau Bu Nina akan di eksekusi" ucap Rein yang kemudian berlari dan mendobrak pintu masuk rumah Bu Nina.


Di dalam rumah Bu Nina, Sekitar 10 orang sedang berada di kamar Bu Nina. Melihat Bu Nina yang sedang di ikat di kursi, dan hanya memakai bikini. "Akan aku bayar , lepaskan aku!" teriak Bu Nina yang sudah mendapatkan beberapa tamparan di wajahnya.


"Sudah satu bulan, kamu belum bisa mengembalikan uang ku. Sesuai dengan perjanjian, aku bisa menyita rumah mu dan juga menikmati tubuh mu" ucap seseorang pria berbadan besar sambil menghisap rokok.


"Beri aku satu minggu lagi, aku akan bayar hutangku.." ucap Bu Nina yang sedang menahan tangisan.


"Hahaha, enak saja.. Perjanjian tetap perjanjian, sudah saatnya aku nikmati tubuh mu" berkata Seseorang yang kemudian menyuruh bawahnya untuk keluar kamar.


"Dawin.. kau memang menyebalkan!, lebih baik aku mati" ucap Bu Nina yang melihat pintu masuk kamar di tutup.

__ADS_1


"Sudah lah, walaupun kita dahulu teman, tapi hutang tetap lah hutang. Terlebih kamu dahulu telah menolak cinta ku, jadi kita bisa mulai?" ucap dawin yang membuang rokok dan menginjaknya.


Belum sempat dawin memegang tubuh Bu Nina, terdengar suara gaduh dari balik kamar. "Apa lagi.. ini!" ucap dawin yang melihat pintu kamar di buka seseorang.


Krek!


Membuka pintu keras dengan kakinya, sosok Rein muncul tepat waktu. "Bu Nina!" teriak Rein yang sudah melumpuhkan 10 orang bawahan dawin.


"Rein!!, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Bu Nina dengan wajah terkejut, melihat Rein datang.


"Siapa lagi ini, mengganggu saja!" berkata Dawin yang memandang ke arah Rein.


"Aku bayar hutang Bu Nina, katakan berapa jumlah nya!" teriak Rein keras dengan memamerkan sejumlah uang di aplikasi BCA Mobile.


"Haha!, apa kamu mau main main dengan ku?, lagi pula apa hubungan mu dengan Nina?" tanya Dawin mengacungkan jari tengah ke arah Rein.


"Cih, seharusnya aku yang melakukan itu!, kau mencuri adegan ku!" berkata Rein yang kemudian maju ke arah Dawin dan memperhatikan tubuh Bu Nina. "Gluk,duh Kenapa pake di buka segala?."


"Rein, ini bukan urusan mu, pergi lah.!" berkata Bu Nina yang tak ingin Rein mendapatkan masalah.


"Anda tenang saja, aku akan membayar hutang anda." ucap Rein tersenyum dan mengambil permen. " Katakan, berapa!."


"Oh.. rupanya ada pahlawan diantara kita, baiklah.. sepertinya kamu suka wanita yang lebih tua darimu, akan aku hargai jerih payahmu.. Benar benar mengingat masa mudaku, huahaha!" berkata Dawin yang kemudian memperlihatkan telunjuk ke arah Rein.


"100.050.000."


"Apa!, 100.050.000 ribu rupiah!?" berkata Rein yang hanya memiliki saldo 100.000.000 ribu rupiah. Sambil mengambil dompet, perlahan Rein menghitung uang yang tersisa.


"20.000,30.000,35.000.. aduh.. kurang 15.000 lagi!" berkata Rein yang saat ini sedang duduk sambil merogoh sakunya. Menemukan 10.000 lagi di tas ransel. Saat ini Rein terlihat panik.


"Aku hanya punya 100.045.000 ribu rupiah, kurang 5.000" ucap Rein menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bagaimana, apa kamu punya? " Tanya dawin memegang tangan Bu Nina.

__ADS_1


"Bu Nina, maaf aku ke kurangan lima ribu" ucap Rein gelisah.


"Huahahaha, jadi.. bagaimana kalau kamu pergi, dan jangan pernah kembali lagi" ucap dawin yang mencoba menendang Tubuh Rein.


__ADS_2