Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 41. Mahluk Aneh, Muncul!.


__ADS_3

Wilayah hutan,tempat dimana ledakan meteor terjadi. Sekitar 9 belatung hitam, terus menggeliat dengan bentuk kepala yang berbeda, masuk kedalam tanah dan terus berjalan pelan seperti mencari sesuatu. Sebuah pecahan batu meteor sebesar motor vespa yang dipenuhi banyak rongga terbuka, yang dimana masing-masing rongga memiliki lubang yang sudah yang penuh dengan bekas cangkang telur yang sudah pecah. Dan dari tiap-tiap cangkang Telur yang berbentuk lonjong, memperlihatkan belatung hitam yang terus keluar dari sarangnya. Belatung hitam tersebut terus menggali Tanah dan berjalan perlahan menuju ke suatu tempat. Beberapa berkas sinar berwarna ungu terlihat, ketika para belatung hitam tersebut berjalan menggeliat. Tak berhenti berjalan, sampai para belatung hitam tersebut berhasil menemukan tujuannya.


Untunglah ledakan batu meteor tersebut sedikit jauh dari Area Rein saat itu. Walaupun dari hasil ledakan menimbulkan tekanan besar, Rein dan yang lainnya tak terlalu merasakan efek samping dari ledakan yang dibuat. Hanya tampak beberapa pohon hujan yang terbakar, dan tanah yang membuat cekungan sebesar dua kali lipat pecahan batu meteor tersebut.


Dan dibeberapa lokasi yang terpapar pecahan batu meteor. Di dalam sebuah kandang ayam. Tampak jelas seekor belatung besar yang sudah memakan korbannya. Saat ini belatung besar tersebut terlihat sedang melingkupi tubuhnya dengan benang halus, membentuk kepompong.


"Petok!" Suara ayam menjerit aneh melihat kepompong yang terus menerus berdetak, seperti sebuah detakan balon yang disentuh beberapa kali.


Dan tempat lain, Di dekat kandang anjing, Sebuah kepompong yang sudah terbelah memperlihatkan tubuh seseorang yang sudah sempurna. Sambil tersenyum melihat ke arah anjing yang terus menyalak.


Seorang wanita muda tanpa pakaian, langsung mencoba meraih leher anjing tersebut. "Wugh!" Teriak Anjing merasakan sebuah ancaman. Hingga beberapa detik kemudian, hanya terdengar suara rintihan seekor anjing yang meregang nyawa. "Ngik."


Berjalan pelan, seorang wanita melihat tangannya yang memperlihatkan kuku tajam dengan jari panjang. Sambil tersenyum masuk kedalam rumah milik seseorang, "Akhirnya aku memiliki tubuh yang sempurna" Ucap wanita tersebut masuk kedalam kamar rumah seseorang dan tertidur.


***


Hingga pagi hari, Rein yang masih berada di rumah Nina. Saat ini terbangun sambil berteriak merasakan mimpi aneh yang dialaminya. Tertidur di kamar Nina, Rein terlihat terus memperhatikan tangannya. "Hosh, Hosh, Tanganku.." Gumam Rein pelan merasakan sakit kepala.


Sambil melihat ke seluruh tubuhnya yang hanya memakai boxer ketat, Rein melihat Nina yang masih tertidur pulas disampingnya. Melihat Nina yang masih berselimut, Rein mencoba untuk bergerak turun dari ranjang. Berjalan ke arah kamar mandi.


"Itu hanya mimpi kan?" tanya Rein sambil merasakan pancuran air shower yang terus membasahi tubuhnya.


Mendengar suara pintu kamar mandi di buka, Rein melihat Nina langsung masuk. "Kau sudah bangun sayang?" ucap manja Nina yang ikut nimbrung mandi.


"Sayang terimakasih untuk yang semalam, selain sudah membantu Adikku, Kamu sudah mau menemani ku tidur" Ucap pelan Nina mendekap tubuh belakang Rein.


Sambil merasakan beberapa sentuhan tangan hangat Nina, saat ini Rein mencoba untuk memastikan sesuatu. "Nina, kamu melihat yang semalam kan?" tanya Rein.

__ADS_1


Sambil membalikkan tubuhnya, Rein dan Nina saling menatap. "Ya, supir taksi itu.." Ucap Nina menjelaskan apa yang terjadi.


"Sepertinya itu memang bukan mimpi, Baiklah. Untuk sementara ini hanya akan jadi rahasia kita, Setelah pulang kuliah. Aku akan mencoba untuk mengambil HP Rina yang tertinggal di dalam mobil." Ucap Rein yang memakai kembali pakaiannya yang sudah kering setelah di cuci dan di jemur semalaman di belakang kulkas.


Sambil mencoba untuk melihat keadaan Rina, Rein melihat Rina yang sedang membersihkan beberapa luka ditubuhnya sendiri. Dengan mata tembus tulangnya, Rein tertegun. " Gluk.." Keluar dari jendela kamar Nina, saat ini Rein tersenyum.


"Hari ini kamu ke Universitas?" tanya Rein.


Hanya menggeleng kepala, Nina membalas senyuman Rein. "Kurasa aku mau cuti, sampai Rina baikan. Lagian aku mau ke apotek untuk membeli obat oles luka luar." Ucap Nina yang menyuruh Rein mendekatkan wajahnya. Membuat kecupan ringan di pipi Rein. "Hubungan rahasia ini, aku ingin suatu saat bisa menjadi kenyataan."


"Um, Baiklah aku pulang ya" Ucap Rein melompat beberapa kali ke udara sambil membuat beberapa pesan di smartphonenya.


Ping!


[Thor!, Kamu sudah sembuh belum?" Tanya Rein dalam aplikasi whatsapp nya.


Tak mendapatkan pesan dari Arumi yang tidak mengkhawatirkan dirinya. Rein sedikit tampak murung dan melihat beberapa pesan yang di Kirim oleh Fara. Membaca pesan dan langsung membalasnya.


Ping!


[Aku kembali sebentar lagi] balas Rein di Pesan whatsapp yang dikirim ke Fara.


"Fara seharusnya sudah mendapatkan keringanan dari Kakek mafia kejam, Baiklah." Ucap Rein yang terus melompat ke arah Moon House dengan cepat.


***


Sekitar pukul 07:46.

__ADS_1


Rein makan dengan lahap makanan yang disajikan Griss dan Fara. Memperhatikan Arumi yang juga sedang menyelesaikan makannya. Rein memperhatikan dengan jelas Arumi yang memakai seragam sekolah SMA, yang dimana Arumi terlihat berbeda.


"Hari ini aku naik mobil, kamu cari sendiri cara pergi ke kampus. Walaupun mama dan kakek menyuruh mu untuk menghantar jemput, Kau tak perlu Repot-repot. Siang ini papa akan datang membawa sebuah hadiah untuk mu. Kau temui papa sendiri, Karena aku mau ekskul." Jelas Arumi panjang lebar. Berdiri sambil meraih tas yang di bawa Griss.


Sambil terus makan dan melihat Arumi, Rein melihat dengan jelas Arumi yang tampak berbeda. Dimana Arumi dengan balutan seragam putih dan rok merah kotak-kotak pendek selutut. Dan memakai vest merah yang terdapat logo sekolah SMA.


Di temani Fara yang masih berdiri di sampingnya, Rein tersenyum dan menyuruh Fara duduk menemaninya makan. "Kau lihat Leinera?" tanya Rein.


"Dia sudah duluan pergi ke Universitas, Bagaimana pun dia hanya magang sembari melanjutkan studinya " Ucap Fara yang tahu beberapa hal tentang Leinera.


Sambil melihat Griss yang sudah kembali, Rein ingin bertanya sesuatu. "Jadi dia memang kuliah tahun ketiga di San Diego?" tanya Rein.


"Ya, tahun ini dia akan menyelesaikan kuliahnya Kedokteran. Kau bahkan nanti terkejut melihat penampilannya. Oh ya, jadi dulu dia satu SMA dengan mu?" tanya Griss bersikap biasa hanya di depan Rein. Sambil makan menemani Rein, kemudian Griss menjentikkan mata.


"Ya, Aku dulu terlibat sesuatu dengannya, saat itu dia sedang mencari pendonor darah dan kebetulan aku bertemu dengannya. Karena aku butuh uang, Dan karena memiliki golongan darah yang cocok akhirnya aku bersedia mendonorkan darah padanya. Sejak saat itu, aku terus main ke Anggota Palang merah." Jelas Rein yang kemudian menyelesaikan makannya.


"Fara, ayo kita juga berangkat kuliah."


"Baik, aku juga sudah bersiap" Ucap Fara yang langsung berganti pakaian hanya dengan membuka pakaian pelayannya.


Dan Griss sendiri memang sudah memutuskan untuk berhenti menjadi dosen, dan tetap berada di moon house sambil berkomunikasi dengan Kakek Orgami. Griss yang sudah tahu bahwa Rein memang memiliki kemampuan dari balasan Chat Nina, tersenyum melihat Rein. "Aku juga sudah tahu, Tenang saja." Ucap Griss pelan dan melambaikan tangannya.


"Begitu ya, Kamu memang sudah tahu" Ucap Rein tanpa ragu langsung menggendong Fara di belakang punggungnya.


Sambil menghela nafas, Griss tersenyum. "Kasihan Nina, Cintanya pasti bertepuk sebelah tangan.." Sambil berdendang, Griss kembali masuk dan menutup pintu moon house.


Dan Rein sendiri sambil merasakan dekapan tangan Fara, terus melaju cepat ke tempat kuliah. "Fara, Untunglah Kakek Orgami memberikan keringanan. Jadi kamu tak perlu berhenti kuliah." Ucap Rein hanya mendengar suara lirih Fara.

__ADS_1


"Rein,terimakasih. Berkat mu juga aku tidak lagi dijodohkan dengan teman masa kecilku." Ucap Fara sambil memejamkan mata dan merasakan semilir angin sejuk membawanya pergi bersama Rein ke Universitas.


__ADS_2