
Melihat jam tangan kembali, Nina terus melihat Rein yang melirik adiknya yang sedang memejamkan mata karena efek obat tidur yang diminum nya. Walaupun sebelumnya Nina tahu, bahwa Rina tidak menyukai Rein. Sambil tersenyum, Nina mengalihkan pandangannya. Melihat sebuah mobil taksi konvensional yang kebetulan lewat, dengan membuat tanda, Nina langsung mencoba untuk memberhentikan nya.
Berjalan pelan mobil taksi konvensional perlahan berhenti tepat di depan Rein dan Nina. Seorang supir taksi membuat senyum memperlihatkan giginya yang besar. Tanpa berkata apapun, sambil terus melihat Rein dan Nina masuk kedalam. Supir taksi tersebut langsung menghadap ke depan sambil beberapa kali memutar matanya. "Ghaah.." Desis Supir taksi.
"Nina, kau duduklah di belakang, jaga Rina" ucap Rein yang sedari tadi sudah memberikan panggung untuk Nina.
"Baiklah, kamu tahu yang terbaik" ucap Nina yang mengikuti kemauan Rein.
Tapi,bukan karena hal itu yang membuat Rein khawatir. Bagaimana pun, saat ini Rein hanya mendengar suara detak jantung dua orang selain dirinya. Hanya penasaran, Rein tetap bersikap biasa.
"Ke-Ma-Na?" ucap Supir taksi berbicara tergagap pelan. Sambil terus tersenyum memperlihatkan Giginya, Supir taksi konvensional sedikit melirik kan mata ke arah Rein.
"Kereta" ucap Rein yang tahu betul apa yang harus di lakukan.
Tak berkata apapun lagi, Jelas terlihat supir taksi tak menanggapi kelakar Rein. Yang dimana sudah jelas, Rein merasakan hal aneh pada diri supir taksi tersebut. "Detak jantungnya tak terdengar. Tapi,aku merasakan hal aneh pada supir taksi ini. Aku belum berani memastikan." Ucap Rein dalam hati sambil mencoba untuk membuat tindakan pencegahan.
***
Dalam perjalanan beberapa menit kemudian..
Sambil melihat Nina yang sedang menjaga Rina dibelakang, Rein mencoba beberapa untuk berbicara pada supir taksi di sampingnya.
Merasakan hal yang aneh pada supir taksi tersebut, Rein tentunya ingin memastikan beberapa hal. "Tak ada detak jantung, ini sungguh aneh untuk orang normal." Gumam Rein dalam hati.
__ADS_1
"Pak supir pintar banget mengemudi, Dari mana asalnya pak?" tanya Rein memastikan.
Sambil melihat ke arah Rein dengan gerakan lehernya yang kaku, supir taksi tersebut tersenyum sambil terus memperlihatkan giginya. Terlihat matanya yang sejenak berputar beberapa kali. "Dari..Dari.." Seperti suara televisi digital yang rusak karena kehilangan sinyal. Supir taksi langsung melihat sebuah lesatan tinju mengarah padanya.
Suara retakan di rahang supir taksi terdengar begitu keras, yang membuat Nina langsung terkejut melihat Rein meninju supir taksi tersebut. "Rein apa yang kamu lakukan?" tanya Nina merasakan mobil taksi sedikit oleng.
Tak selang berapa lama, Rein berteriak keras ke arah Nina. " Pegangan!, Supir taksi ini aneh!" Ucap Rein yang langsung menarik tinjunya dan dengan mata terbelalak Melihat wajah supir taksi yang tampak berbeda.
Seperti tak merasakan apapun, wajah supir taksi kembali memperlihatkan beberapa kali putaran bola mata dan perlahan membuat semua giginya terlihat tajam seperti taring hisap. Melihat hal tersebut, Rein yakin ada sesuatu yang aneh telah terjadi. Kembali membuat gerakan cepat sambil membuat tendangan ke arah tubuh supir taksi. Rein melihat dengan jelas supir taksi hendak membalas serangannya.
Meraih Kemudi mobil, Rein bersiap untuk apa yang akan terjadi. "Ghahh!" Desah Supir taksi dengan nada keras yang aneh.
Di lihat dari luar, mobil taksi yang perlahan Oleng langsung mengeluarkan tubuh supir taksi yang terpental setelah pintu mobil terbuka. Di mana dengan tekanan tendangan yang dilakukan Rein di dalam mobil, membuat supir taksi jatuh bergulir ke jalan aspal.
"Rein!, Kemudinya!" Teriak Nina merasakan beberapa kali getaran mobil taksi yang oleng.
"Apa itu sebenarnya!" Ucap Rein yang sesaat melihat wujud aneh yang diperlihatkan supir taksi.
Berhenti dengan cepat, Terlihat Rein mampu membuat Mobil taksi tersebut berhenti tepat sebelum menabrak tiang lampu pinggir jalan. Dimana kebetulan daerah tersebut terlihat terang dengan beberapa lampu jalan yang memang sudah kembali normal. Turun dari mobil dan ingin kembali memastikan, Rein menyuruh Nina untuk tetap di dalam mobil.
"Cih, Wajahnya benar-benar mengerikan. Ku pikir ini bukan kisah Horor. Tapi ada yang aneh pada supir taksi tadi" Gumam Rein mendengar suara langkah kaki cepat seseorang yang berlari mengejar.
Sambil tersenyum dan ingin mencoba kemampuannya kembali, Tanpa ragu Rein melihat seseorang dengan cepat datang menghampiri dirinya. Sambil melihat keadaan sekitar, Rein memang benar-benar tak merasakan detak jantung supir taksi yang terlihat langsung melompat ke arahnya. Yang dimana wajahnya sudah benar-benar berubah total seperti wajah tanpa mata dan memperlihatkan lubang mulut besar dengan gigi tajam sekitar 100 buah.
__ADS_1
"Ghahh!." Desah supir taksi yang langsung mencoba untuk menangkap Rein dengan kedua tangannya.
Sambil membuat gerakan tinju satu inch, Rein bersiap dengan apa yang akan terjadi. "Cih, Supir taksi ini berubah Menjadi liar!. Apa-apaan ini!." Gumam Rein yang juga langsung melompat bersamaan dengan lompatan supir taksi.
Hendak ingin langsung meninju supir taksi, Rein sendiri sempat Ragu untuk melakukannya. Hanya berpikir sebentar, Rein merasakan ancaman yang kuat dari supir taksi tersebut. Yang jika Rein tidak segera melakukan sesuatu, kemungkinan terburuk akan terjadi.
Buuugh!, Suara tinju keras yang dibuat Rein, seketika langsung membuat hancur wajah aneh supir taksi. Sambil kembali membuat tendangan kuat, Rein langsung melompat mundur kebelakang, Sambil terus mencoba memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Sampai beberapa menit kemudian, Rein melihat dengan mata terbelalak. Melihat sosok aneh yang diperlihatkan sebuah tubuh manusia dengan kepala lintah penghisap darah. Yang dimana kepalanya sudah Penyok di bagian pipinya. Namun, masih bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya yang lain.
Sambil menyalakan rokok yang baru dibeli di warung kuningan, Rein menghembuskan beberapa kali asap rokoknya. "Fueh!, Apa seperti ini saja?" Gumam Rein mencoba untuk melihat dengan mata tembus tulang, yang bisa di perbesar dan di perkecil sesuka hati. Mencoba melihat struktur tubuh supir taksi yang aneh dan mendadak terlihat liar.
Memperhatikan beberapa bagian tubuhnya, Rein melihat sesuatu yang bergerak lambat. Seperti seekor belatung yang sudah menggerogoti tubuh supir taksi.
Dimana Belatung tersebut bergerak dari bagian kepala menuju ke bagian tangannya. "Bahkan dia sudah tak lagi memiliki jantung, Lalu kepalanya berubah aneh. Apa belatung ini sudah memakan dua bagian tubuhnya?." Ucap Rein yang meminta kantong plastik bekas jajanan yang dibawa Nina.
"Kalau aku meninggalkan jejak, Ini akan sangat berbahaya. Tapi aku harus melakukan sesuatu, Belatung hitam ini..Dari mana asalnya?" Sambil mengingat kembali, Rein langsung membuat gerakan cepat ke arah supir taksi yang masih berdiam diri. Dengan sebuah tusukan tangan, dalam sekejap tangan Rein meraih seekor belatung hitam sebesar wortel, yang terus menggeliat dengan kepala penuh dengan gigi tajam.
Tak membuat gerakan seperti hendak menyerangnya. Rein melihat dengan jelas belatung tersebut seperti ingin melanjutkan memakan tubuh supir taksi yang sudah penyok wajahnya. "Kamu masih mau makan dia?" Ucap Rein langsung menekan tubuh belatung tersebut.
Brash! Hancur memperlihatkan banyak lendir dengan tubuh yang terbelah menjadi dua bagian. Belatung tersebut mati seketika di depan mata Rein. "Uh..menjijikkan" Ucap Rein ingin muntah tapi ditahan.
Membuang plastik bekas di tangannya yang penuh dengan lendir belatung, Rein menyuruh Nina turun. Mengambil tubuh Rina di dalam mobil taksi, saat ini Rein mencoba sekuat tenaga menggendong dua tubuh wanita yang jarang diet. "Nina,naiklah ke punggung ku. Kita harus pergi meninggalkan lokasi ini." Ucap Rein bersiap.
__ADS_1
"Sebenarnya itu apa Rein?,Kenapa kamu bunuh Pak supir taksi?" tanya Nina yang melihat dari dalam mobil Rein yang bertarung dengan supir taksi.
"Aku juga tidak tahu, Lebih baik untuk sementara kita lebih baik diam. " Ucap Rein merasakan lelah tapi tetap memaksakan dirinya.