
Siang hari..
Saat sendiri di dalam kamar mandi Universitas. Rein mendengar suara bunyi telepon genggam miliknya. Sebuah panggilan telepon dari Nina yang mengatakan sudah mengambil smartphone milik Adiknya, dan sedang mengurus mobilnya bersama beberapa polisi,yang sedari pagi menghubungi dan memeriksa Lokasi kejadian, jatuhnya pecahan Meteor.
"Ya, mereka tadi pagi meminta ku datang dan aku sekalian saja mengurus mobil ku. Aku baru kembali ke rumah" Ucap Nina menjelaskan.
Sambil berbicara pelan, terlihat Rein bernafas lega dan tidak terlalu khawatir terjadi sesuatu pada Nina. "Tapi, apa para polisi juga sedang memeriksa lokasi ledakan meteor?, lebih baik aku coba lihat. Mungkin ada video yang di share di aplikasi Tiktok." Ucap Rein yang kemudian beranjak pergi setelah mematikan sambungan teleponnya. Melihat beberapa pasang mata di kamar mandi memandangnya.
Berjalan sedikit kikuk, Sekilas mengingat Braum Yires dan tiga temannya. Rein heran, dan merasa bersalah sudah membuat mereka terluka parah.
Melihat Chat Whatsapp Griss, yang mengatakan bahwa papa mertuanya sudah datang. Saat ini Rein yang sedang menunggu Fara keluar dari kantor dosen, sejenak memandang Sosok Leinera yang memang terlihat berbeda. "Ketua Palang Merah memang cantik, bahkan menjadi pusat perhatian. Tapi kenapa aku baru melihatnya?" tanya Rein yang memang baru tahun pertama Kuliah. Dan Leinera sendiri akan menyelesaikan kuliahnya di tahun ke tiga, Apa dia punya orang dalam?.".
Karena bagaimana pun, Dahulu kala Rein bersekolah di SMP-SMA yang sama dengan Leinera. Yang bahkan Rein sendiri melihat Leinera memang paling aktif dalam berbagai bidang ekskul. Tapi Baru bisa mulai mendekati Leinera saat Kelas satu SMA. Dan kehilangan jejak Leinera saat kelulusannya. Dimana Rein hampir tidak bisa naik kelas dua karena ulah Braum dan kawan-kawannya, yang menyabotase hasil ujiannya. Baik Rein dan Braum yang memang dahulu satu kelas. Braum sempat melihat Rein yang begitu dekat dengan Leinera saat masih berada di kelas satu. Hal tersebut memicu rasa kecemburuan. Dimana Braum yang juga menyukai Leinera. Sama-sama lebih menyukai wanita yang lebih tua dari mereka, Braum memulai tindakan bersama Kawan-kawannya.
Tiga tahun yang lalu.
Sambil berjalan ke sekolah, Rein yang akan menghadapi kenaikan kelas. Sudah bersiap untuk mengikuti ujian. Dan setelah ujian selesai, Braum dan kawan-kawannya datang ke sekolah di malam hari dan dengan menyogok penjaga sekolah, mereka masuk ke ruangan kantor yang menyimpan dokumen hasil ujian.
"Kau yakin tidak apa-apa?" tanya Gusti.
"Tidak apa-apa, cuma bikin jawaban Rein salah beberapa jawaban." Ucap Braum terkekeh setelah menghapus dan membuat jawaban lain yang dilingkari.
__ADS_1
"Sungguh tega dirimu" Ucap Gusti yang menemani Braum dan melihat kedua temannya yang masih berjaga di luar.
"Aku hanya ingin Rein tidak naik kelas saja, Bagaimana pun Aku akan menyusul Nona Leinera sendiri sampai Universitas. Kakak kelas yang gemoy,pasti akan aku dapatkan." ucap Braum terkekeh beberapa kali seperti senang melakukan hal tersebut.
"Benar, aku juga melihat Rein tampak dekat dengan Leinera. Bahkan beberapa kakak kelas pria saja sukar sekali mendekati dia. Sungguh mujur Rein itu." Gumam Gusti yang kemudian berdiri dan tersenyum bersama Braum.
"Kita kembali" ucap Braum pergi.
Hingga saat pengumuman hasil ujian di beritahukan, Rein yang melihat Nilai akhirnya langsung dibuat terkejut. "Kenapa?, padahal aku sudah berusaha. Nilai ku..Turun! dan aku akan tinggal kelas." Sambil meratapi semua hal di dalam kepalanya.
Hingga satu hari setelah selesai pengumuman hasil nilai Ujian Kenaikan kelas, Rein kemudian dipanggil oleh pihak sekolah yang juga memanggil Braum dan kawan-kawannya, dimana ada seseorang penjaga sekolah dan juga Leinera yang datang ke sebuah ruangan milik Guru pembimbing.
Leinera yang memang masih ada di dalam sekolah disaat kejadian Braum dan kawan-kawannya datang ke sekolah di malam hari. Membuat Leinera yang sedang membereskan beberapa berkas dan dokumen yang tertinggal. Dia tanpa sengaja melihat Braum dan kawan-kawannya datang ke sekolah sambil membuat sebuah transaksi dengan penjaga sekolah. Curiga dengan hal tersebut, Leinera memantau mereka dan membuat beberapa jepretan foto. "Hem, aneh.." ucap Leinera terus mengawasi ke empat orang yang tidak dia kenal.
Sampai beberapa menit berlalu, Leinera melihat Braum dan kawan-kawannya kembali pergi ke arah penjaga sekolah dan memberikan kunci ruangan. "Hoho, Baiklah Rein..karena kamu sudah pernah membantu Di kegiatan Palang Merah. Aku akan menyelamatkan mu." Sambil terus membuat rekaman video yang memperlihatkan Transaksi akhir. Leinera langsung bergegas pergi ke luar sekolah dan melihat penjaga sekolah yang terkejut melihatnya.
Seolah-olah seperti tak tahu apapun, Leinera berencana menguak semua Rencana Braum dan kawan-kawannya di akhir kelulusan dan pengumuman kenaikan kelas Rein. Sampai di mana, Saat ini Rein dan Braum saling lihat dan saling pandang satu sama lain.
"Kau aku pecat!" Bentak kepala sekolah pada penjaga sekolah.
"Jika bukan karena Laporan Dari leinera dan beberapa bukti video dan foto, Kau mungkin akan tinggal kelas Rein. Walaupun nilai mu sendiri masih rata-rata, Aku akan berikan kesempatan untuk mengulang bersama mereka berempat."
__ADS_1
"Braum yier, Walaupun orang tua mu adalah penyandang dana di SMA ini, Aku tak memberitahu mereka kejadian ini. Kau mau Terima atau tidak?" Lanjut Kepala sekolah bijaksana.
Dan walaupun pada akhirnya Rein bisa kembali mendapatkan nilai yang cukup baik, Dan bisa naik kelas. Braum dan kawan-kawannya masih tetap mengganggu Rein. "Untunglah kita sekelas lagi, Sayang sekali leinera sudah lulus. Pasti kamu kehilangan semangat" ucap Braum yang terus mengganggu Rein dan itu adalah awal mula mereka bermusuhan.
***
Sembari terbangun dari lamunannya, Rein tersadar ketika Fara memegang pundaknya. " Rein, ayo pulang" ucap Fara yang sudah menyelesaikan urusannya.
"Sudah selesai?" tanya Rein.
"Sudah, hanya melunasi tunggakan saja. Untunglah Kakek Orgami baik padaku." Ucap Fara tersenyum.
Dan tentunya senyum itu memiliki maksud lain, yang tidak bisa dikatakan Fara pada Rein.
Sembari berjalan ke arah belakang Universitas, terlihat Rein bersiap. "Griss bilang padaku, Kalau papa mertua membawa motor untuk ku." Ucap Rein pelan.
"Kamu memang terlalu baik Rein, Tetapi bukankah lebih baik bilang pada kakek Orgami kalau Arumi kejam padamu?" tanya Fara sambil merasakan gerakan melompat Rein.
Semakin cepat Rein melompat, Fara juga semakin menempelkan tubuhnya. Sampai membuat Rein terkekeh "Ukuran mu memang berapa sih?, Aku penasaran" Ucap Rein yang langsung mendengar bisikan suara Fara memberitahu ukuran dadanya.
"Aku tak mau memberitahu mu" Ucap Fara terus menempel pada tubuh Rein.
__ADS_1
Sampai di moon house, Rein kembali membuat rasa hormat pada papa mertuanya, yang datang sendiri tanpa di temani istrinya. "Papa mertua, Terimakasih sudah mau berkunjung." Ucap Rein mencium tangan Randall.
"Kamu memang sopan, tidak salah Papa mertua memilih mu untuk dijadikan menantunya." Ucap Randall yang langsung merangkul Leher Rein.