Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 79. Kedai Kharina


__ADS_3

Duduk sendiri di taman Universitas setelah menyelesaikan beberapa mata kuliahnya. Tampak Rein sedikit merasa kangen dengan Fara.


"Sudah beberapa bulan Fara belum memberikan kabar, Bagaimana dia sekarang? Bahkan aku sudah mencoba untuk membuat panggilan tapi dia tak merespon" Keluh Rein kangen dengan sosok Fara.


"Bahkan aku sudah meminta kakek mertua, agar mengizinkan ku melihat kembali Fara. Tapi dia menolak atas dasar kepentingan. Fara, padahal aku ingin kamu melihat ku, setidaknya aku bisa memacari mu terlebih dahulu." Memejamkan mata sembari merasakan angin lembut di siang hari. Rein tertidur pulas. Sampai sebuah bayangan seseorang membuat teduh wajahnya yang terkena sinar matahari. Merasakan hal tersebut, Rein membuka perlahan matanya dan melihat seseorang wanita datang menghampiri dengan membuat senyum ramah.


"Rein, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Khalisa yang datang ke halaman taman Universitas dan tak sengaja melihat Rein yang tertidur di tempat tersebut.


Bangun perlahan, Rein meretakkan beberapa bagian jarinya. "Khalisa, Kamu belum pulang?" tanya Rein yang melihat Khalisa ikut duduk di dekatnya.


"Um, ada mata kuliah tambahan. Oh ya Rein, aku mau mentraktir mu makan hari ini. Apa kamu punya waktu senggang?" tanya Khalisa Sambil mencabut rumput.


Melihat jam digital di smartphonenya. Rein tampak baru sadar jika dia sudah tertidur cukup lama. "Sudah pukul 15:00, Aku tertidur cukup lama" ucap Rein yang langsung berdiri dan merasakan perutnya kelaparan.


"Baik, Kamu yang traktir ya?" Ucap Rein menengadahkan tangannya ke arah Khalisa. Membantu Khalisa berdiri, Rein merasakan tangan lembut Khalisa.


"Lembut sekali tangannya" pikir Rein tertegun melihat Khalisa.


Berdiri dengan perlahan, Khalisa membuat anggukan pelan. Melepaskan tangan Rein, terlihat Khalisa yang hendak melangkah, tanpa sengaja membuat kakinya tergelincir karena dia tidak melihat ada akar pohon yang mencuat di tanah. "Uwaaa...!" teriak Khalisa hampir terjatuh. Tapi, Dengan respon cepat. Rein berhasil menangkap tubuh Khalisa.


"Kau tidak apa-apa Khalisa?" tanya Rein sembari menahan tubuh Khalisa dengan tangannya.


Saling pandang sejenak, mata Khalisa dan Rein bertemu. Diam dan terus diam, ini terlihat seperti adegan romantis. Dimana seorang pria yang sedang memeluk tubuh perempuan yang dicintai.


"Um, aku baik-baik saja" ucap Khalisa dengan wajah memerah. "Kau bisa bantu aku berdiri?."


"Iya" ucap Rein tersadar dan langsung membantu Khalisa berdiri tegak.


"Matur thank you Rein" lirih Khalisa pelan.


Berjalan bersama dan terus terdiam menuju ke halaman parkir. Rein mencoba untuk meminta dan menawarkan Khalisa naik motornya. "Aku cuma bawa motor, atau kita naik taksi saja?" tanya Rein.


"Tidak usah, Aku akan naik motor mu saja. Lagian aku yang mengajakmu. Dan tidak mau membuat mu repot untuk bolak-balik ke Universitas." Pelan Khalisa yang melihat Rein menaiki motornya.

__ADS_1


"Naik lah" pinta Rein yang memakai helmnya dan merasakan getaran Motornya. Dimana Khalisa sedang mencoba untuk naik ke atas motornya.


"Kamu pakai rok sih, lebih baik duduk menyamping saja"


"Iya, cukup susah ya. Lain kali aku pakai celana panjang saja" ucap Khalisa membenarkan duduknya. Dimana Khalisa terlihat duduk menyamping sambil sedikit ragu untuk membuat pegangan.


"Pegang perut ku" Pinta Rein menyalakan mesin motornya.


"Iya, maaf ya Rein" ucap Khalisa sembari mencoba untuk membuat pegangan tangan di perut Rein. Merasakan bentuk perut Rein yang terasa keras dan memiliki beberapa gelombang.


***


Vrum!


Melaju cepat, di dalam perjalanan menuju ke sebuah kedai yang diinginkan Khalisa. Rein sendiri merasakan dekapan tangan Khalisa keras memegang perutnya.


"Rein pelan dong" pinta Khalisa merasakan terpaan angin yang membuat rambut hitam panjangnya terurai.


"Hehe, aku pelan kan" ucap Rein terkekeh sembari membuat laju motornya berjalan pelan.


"Papa, Mama!" Teriak Khalisa yang membuat Rein terkejut.


"Maaf Rein, Aku cuma mau memperkenalkan mu pada papa dan mamaku. Sudah satu minggu setelah papa dan mama ku di pecat dari perusahaan Yiers Corporation. Jadi, aku ingin kamu mencoba makanan kami, Bagaimana?" Ucap Khalisa yang langsung meraih tangan Rein.


"Tapi Khalisa, kamu tidak bilang sebelumnya. Duh, aku malu bagaimana kalau papa dan mamamu mengira Aku pacaran dengan mu?" ucap Rein yang melihat dua orang tersenyum ke arahnya.


"Pede banget, kamu Rein. Hihihi, tapi entahlah.." Balas Khalisa berkelakar.


Memperkenalkan Rein pada Orang tuanya, terlihat Khalisa juga sudah menceritakan beberapa hal tentang Rein. Yang beberapa kali menyelamatkan dan membantunya lepas dari gangguan Braum.


"Nak Rein, Terimakasih sebelumnya. Aku Ghazi dan ini istri ku Kharina." Ucap Ghazi memperkenalkan diri sembari menyalami Rein.


"Tak masalah paman, aku Rein Rumble. Senang bertemu dengan mu" Sapa Rein sopan sembari mencium tangan Ghazi dan Kharina.

__ADS_1


"Kedai Kharina, apa ini menggunakan namamu tante?" tanya Rein ramah. Melihat papan nama kedai yang tertulis jelas pada bagian spanduk.


"Ya, benar Nak Rein. Kamu sopan banget Rein. Tampan pula, Ayo kita masuk." Ajak Tante Kharina yang langsung berjalan ke dalam kedai.


"Terimakasih Tante, Aku mau makan diluar halaman saja, Rasanya ingin sesekali makan di halaman seperti ini" Ucap Rein yang langsung berjalan ke arah meja kosong di halaman depan kedai.


"Tak apa Ma. Aku akan bantu kalian" ucap Khalisa yang meminta Rein untuk menungu.


Sambil kembali menyalakan rokok, Tampak Rein melihat tiga orang yang tengah sibuk menyiapkan makanan. "Kedai Baru yang lumayan." Ucap Rein melihat beberapa orang pelanggan yang datang. Bersikap wajar seperti pelanggan lainnya. Tampak Rein kagum dengan usaha orang tua Khalisa.


"Makanan datang" ucap Khalisa di bantu Kharina menghidangkan beberapa makanan panas dan beberapa daging di meja.


Rein sendiri cukup terkejut saat melihat banyak pelanggan yang mulai berdatangan. Menjadi seorang pertama yang datang, tentu membuat Rein merasakan bahwa dirinya menjadi pembuka rezeki Orang tua Khalisa. Sedikit bangga, Rein terkekeh dalam hati. Tapi itu cuma perasaan Rein saja, apa kalian pernah merasakan hal yang sama?. Kalau Iya, komen ya.


Di temani Khalisa makan, Rein melihat Ghazi dan Kharina yang cukup sibuk. "Wah, maaf Rein. Biasanya tidak seramai ini saat sore. Padahal papa dan Mama mau menjamu mu" Ucap Khalisa yang tergerak ingin membantu orang tuanya.


"Hahaha, tak apa. Kayaknya orang tua mu butuh bantuan. Baiklah, Karena aku sudah cukup kenyang. Aku akan bantu kalian juga" ucap Rein berdiri dan setelah mengamati beberapa hal, Rein cukup yakin bisa membantu.


"Tidak usah Rein. Aku akan buatkan kamu kopi, bagaimana mungkin aku akan merepotkan mu" ucap Khalisa yang melihat Rein tetap berjalan ke arah dalam kedai.


" Rein.."


"Tak apa, Khalisa. Aku mau bantu kok" ucap Rein yang kemudian berbicara dengan Ghazi dan melihat orang tua Khalisa yang cukup kelelahan melayani beberapa pelanggan yang terus berdatangan.


"Mana pesanku!" Bentak beberapa pelanggan yang sudah menunggu.


"Khalisa cepat bantu mama menyiapkan hidangan" teriak Ghazi pelan.


" Baik! Ma!!" jawab Khalisa yang langsung sibuk.


"Hehe, maaf ya Nak Rein. Bisa kamu bantu aku potong beberapa daging itu" Ucap Ghazi yang memang membutuhkan beberapa bantuan, "Tumben baru buka kedai sudah ramai, uh kamu memang membawa keberuntungan Rein."


"Haha, itu perasaan anda saja Paman" Ucap Rein yang langsung mengambil pisau dapur dan langsung membuat beberapa gerakan cepat. " Nih sudah aku potong dan aku pisahkan daging dan tulangnya."

__ADS_1


"Eh! cepat amat!" Kagum Ghazi heran melihat Rein.


__ADS_2