
Dalam perjalanan pulang ke moon house, Rein tetap bisa melihat layar laptop kecil di dasbor miliknya. Dimana saat ini dia juga terhubung langsung dengan pihak DKB. Dengan sebuah earphones di telinganya, Rein mendengar suara Mis Lilith yang berbicara dengannya. Mendengar beberapa hal yang harus diketahui dirinya, Rein terus menatap jalan yang terlihat Macet.
"Padahal ini jalan pantai, kenapa bisa macet? Bukankah sekarang bukan hari libur?" tanya Rein berhenti ke arah pinggir jalan dan mencoba untuk bertanya pada seseorang yang sedang berdiri sambil merokok.
"Pak, apa ada kecelakaan?" tanya Rein melihat seorang pria yang menyimpan telepon genggamnya.
"Entah, sudah dari jam enam pagi, mobil ku belum bergerak sama sekali. Aku bahkan harus mengambil cuti hari ini" ucap Pria tersebut yang memutuskan untuk balik arah. "Kalau motor sih kayaknya bisa jalan, Kau bisa lewat bukit itu."
Melihat pria kantoran yang menunjuk ke arah bukit, Rein juga melihat beberapa kendaraan bermotor melewati jalan tersebut. "Oh, Terimakasih pak" Ucap Rein tersenyum dan mencoba untuk kembali melajukan motornya melewati sisi lain jalan ke arah bukit.
Memperhatikan jalan yang sedikit terjal, Rein memutuskan untuk berhenti dan mencoba untuk melihat ke arah jalur yang macet. "Panjang sekali, Bahkan kalau aku paksakan cukup susah melewati pinggir jalan yang juga penuh antrian" Lirih Rein memperbesar penglihatan matanya dan melihat sosok polisi wanita yang sedang kesusahan dalam menangani lalulintas. Mengkerut kan keningnya, Rein menatap tajam ke arah polisi wanita tersebut.
"Eh!, Bukakan itu Anita. Kenapa dia seperti sedang kesal?" Tanya Rein dalam hati melihat sosok Anita yang sedang mengatur lalulintas di perempat jalan menuju ke arah kota.
***
Di sisi lain, perempatan jalan pantai.
Seorang polisi wanita sedang kebingungan mengatur lalulintas. Dimana banyak mobil baik besar ataupun kecil terus membunyikan klakson.
Din!
"Hey, Bagaimana sih!, Cepat atur yang benar!" Teriak supir truk besar yang terjebak diantara dua mobil yang Juga tidak sabaran.
Din! Din!
Sambil memegang kepala, Anita yang datang dengan beberapa polisi lainnya terlihat kesal, tapi bagaimanapun keadaannya dia tetap sabar. "Bagaimana, apa pihak kontraktor sudah datang untuk menangani jalan dimana ada lebih dari seratus pohon hias yang roboh?" tanya Anita yang sedang berkomunikasi dengan seseorang.
"Bu, lebih baik Anda beristirahat. Biar kami yang menangani perempatan jalan ini." Ucap seorang polisi lalu lintas yang melihat Anita penuh dengan keringat.
__ADS_1
"Maaf ya, Aku mau beristirahat sejenak" Keluh Anita menatap tajam ke arah supir truk.
Berjalan pelan ke pinggir jalan dimana terdapat motor besar anggota kepolisian, Anita mendengar suara deru motor yang melaju kencang dari atas bukit. Sambil meneguk air mineral, Mata Anita terbelalak melihat motor Nobcar merah melakukan jumping seperti hendak ingin menabrak ke arahnya.
Dengan rasa terkejut, Anita seketika panik melihat motor Nobcar merah langsung berhenti tepat di depannya. Saking terkejutnya, Anita tanpa sadar menumpahkan banyak air mineral dari kepala botol yang mengalir deras membasahi pakaiannya. Terus meneguk dan masih berdiri, Anita mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Hey Anita apa kabar?" tanya Rein yang belum melepaskan helmnya.
"Gluk..Gluk.." Meneguk air, Saat ini Anita seperti tahu bentul suara orang didepannya. Sampai beberapa detik ketika Anita melihat seorang pria melepaskan helmnya. "Rein..."
"Hey, sudah lama...ya" ucap Rein yang langsung di sembur Air mineral oleh Anita.
Byur!
"Hey!" Teriak Rein.
Byur!
Dan beberapa menit kemudian.
Sambil mengelap pakaian masing-masing, Baik Rein dan Anita kembali saling pandang.
"Hehe, Maaf Rein. Kau mengejutkan ku" ucap Anita pelan sambil terus memberikan Rein tisu kering.
"Pakaian ku jadi basah kuyup" ucap Rein yang merasa cukup membersihkan wajah dan pakaiannya. Hanya ingin mencari tahu sebab terjadi kemacetan, saat ini Rein bertanya pada Anita.
"Kamu bau keringat"
"Diam, aku sedang kerja di lapangan. Aku juga sudah datang dari jam 5 pagi tadi, dan mendengar panggilan mendesak dari beberapa warga sekitar." Jelas Anita menutup bagian ketiaknya yang basah, dan memang dia belum mandi tadi pagi.
__ADS_1
Menutup hidung, Rein sedikit mundur kebelakang. Dan menjauh dari Anita yang memang bau ketiak. "Kalau bukan disini pusat kemacetan, Lalu dimana?" tanya Rein beberapa kali mengibaskan tangannya.
"Aku tak kau menjawab, pergilah. Huh.." Kesal Anita sedikit merasa malu memperlihatkan tampil wajahnya yang belum mandi dan sudah memakai seragam polisi.
Memakai helmnya kembali,Rein mencoba untuk kembali ke arah Anita. "Maaf, Maaf. Kau jangan marah" ucap Rein yang melihat Anita masih memakai pakaian rangkap piyama di balik seragam polisinya.
"Huh" memalingkan wajahnya, Anita menjelaskan beberapa hal pada Rein.
"Semalam mungkin ada orang iseng yang menebang pohon hias pinggir jalan, Sampai sekarang beberapa kontraktor sedang berupaya untuk menyingkirkan lebih dari seratus pohon tersebut." Jelas Anita yang menunjukkan dua jalan ke arah Kota dengan penuh antrian mobil yang terus membunyikan klakson.
"Sudah, ini bukan urusan mu. Kalau kamu sedang mengejar waktu, kamu bisa lewat jalur bukit seperti yang lain. Walaupun itu cuma untuk kendaraan bermotor saja yang bisa lewat aksesnya. Aku mau kerja lagi, bay.." Jelas Anita sedikit menghindari Rein dan merasa malu karena terpergok belum mandi.
"Baiklah, Hey Anita. Apa siang ini kamu ada Acara?, Kalau aku bisa membantu mu menangani jalur ini?" tanya Rein yang juga penasaran atas penjelasan Anita.
"Bodoh, Mana mungkin Anak kuliahan seperti mu bisa melakukan hal tersebut!" Bentak Anita yang masih kesal. Tapi dia sendiri tahu bahwa Rein memiliki kemampuan dan pernah membantunya beberapa kali.
Berjalan pelan dan melepas helmnya, Rein saat ini langsung meraih tangan Anita. "Maaf, bau mu enak kok. Baiklah, berikan aku waktu selama 30 menit. Kalau aku bisa membuat lancar jalan ini, maukah kamu berkencan dengan ku?" Ucap Rein yang memang merasa kasihan melihat Anita yang berkeringat dan bekerja keras.
"Kau yakin?" tanya Anita.
"Kau bawa Hpkan?, setting alarm di pukul 09:30. Jika sampai jam 9:30 Lalu lintas belum lancar, Aku akan mengabulkan permintaan mu" Janji Rein yang ingin memiliki kesempatan untuk berkencan dengan Anita.
"Baiklah, Aku Terima. Ingat ya, kamu harus memenuhi permintaan ku" Ucap Anita yang memang masih penasaran dengan Rein.
Membuat kesepakatan, saat ini keduanya kembali berpisah. Dimana Anita melihat Rein pergi dengan motor ke arah bukit dan menuju ke sisi lain jalur jalan ke arah kota. "Dia memang penuh kejutan" ucap Anita melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 09:00.
Rein sendiri langsung menyimpan motornya dan mencoba untuk melakukan sesuatu. "Baiklah, sekarang saatnya jubah merah beraksi. Kali ini aku menjadi Red Knight" ucap Rein yang langsung membalikkan jaketnya dan mengambil pedang kecil yang disimpan di bagian lain motornya. Dengan memakai kacamata merah, Rein yang memang sebelumnya pernah menggunakan setelan tersebut sekarang memiliki dua Identitas. Sebagai seorang Basura dan pahlawan kota.
"Baiklah, sekarang sudah saatnya aku beraksi kembali" tutur Rein melompat ke arah beberapa pohon hias yang ditebang oleh seseorang.
__ADS_1