
Di ruang perawatan!
Dimana Rein baru saja mendapatkan kembali berkah Author yang secara ajaib masuk ke dalam pikiran dan tubuhnya.
"Urgh!" Rintihan...
Rein kembali tersadar,di mana seorang suster sedang memeriksa kesehatan Rein. Saat ini Rein langsung berdiri dan bergegas menemui Anita. Menyingkap selimut,Rein langsung berjalan keluar ruangan perawatan dengan tingkat aneh.
"Hey tuan,tunggu.." ucap Suster yang merawat Rein.
Tak peduli apapun,terlihat Rein melihat Anita yang sedang duduk sendiri di depan sebuah kamar rawat seseorang. Sambil menangis meneteskan air mata,Anita melihat seseorang berdiri di depannya.
"Anita apa yang terjadi!" Ucap Rein melihat beberapa dokter datang.
Seperti tak mempedulikan Rein,Anita langsung meminta sesuatu pada seorang dokter." Tolong ayahku,Bagaimana pun caranya." ucap Anita terus menangis ketika mendengar Ayahnya kembali kambuh.
"Kami usahakan,Bagaimanapun pak inspektur Koja Bareta, adalah pasien prioritas kami" Ucap Dokter tersebut yang langsung masuk ke dalam Ruangan tempat dimana ayah Anita di rawat.
Rein yang saat ini melihat dengan jelas pemandangan lain,di ruangan rawat seseorang. Melihat seorang pria berbaring lemah dengan beberapa orang yang sedang melakukan sesuatu. Mencoba memberanikan diri,terlihat Rein yakin dengan kemampuan yang dimiliki." Mata tembus tulangku ini bisa melihat dan mendeteksi tubuh seseorang, dan kemampuan baru Pukulan satu inch yang diberikan Author,aku rasa bisa aku gunakan untuknya." ucap Rein yang langsung menendang pintu kamar rawat ayah Anita.
Dan hal tersebut langsung membuat Anita dan beberapa orang di luar ruangan terkejut termasuk suster yang mengejar Rein. " Hey,apa yang kamu lakukan!" Bentak Suster yang menarik tangan Rein.
"Rein,apa yang kamu lakukan!" Teriak Anita melihat Rein terus berjalan sambil menyeret seseorang suster,berjalan cepat ke arah dimana dokter sedang mencoba meletakkan sesuatu di dada Ayah Anita.
"Dokter,ada pasien gila. Maaf,dia mendobrak masuk" ucap suster tersebut yang melihat Rein meraih Alat kejut jantung.
"Hey!" Bentak Dokter terkejut melihat Rein langsung mendorongnya tanpa menjelaskan apapun.
"Menyingkir!" Teriak Rein yang sedari tadi melihat pembuluh darah di jantung Ayah Anita seperti macet dan mendengar suara jantung yang lemah.
__ADS_1
Tak peduli dengan apa yang terjadi,Rein saat ini percaya diri dan langsung membuat sebuah gerakan. Dimana dia membuat genggaman tangan dengan jari tengah yang sedikit mencuat sekitar satu inch.
"Aku akan pecahkan penyumbatan, Baiklah" Ucap Rein yang langsung di tampar oleh Anita dan dalam sekejap,saat Rein berbalik melihat Anita. Pukulan satu inch nya sudah mengarah ke dada Seseorang yang bernama Koja Bareta.
Hanya sekilas,dalam hitungan detik. Sebuah ledakan kecil di dalam pembuluh darah jantung Koja lenyap dan hancur berkeping-keping,dan itu hanya bisa dilihat Rein sendiri.
"Anita.." ucap Rein yang langsung ditarik beberapa orang satpam yang dipanggil oleh seorang suster.
Dan sesaat saat Rein ditarik,Sosok Koja Bareta langsung memuntahkan banyak darah yang keluar dari mulutnya. "Buhuks!."
Mendengar hal tersebut,Anita langsung melihat ayahnya yang terbangun dan perlahan membuka matanya. " Dokter.." ucap Anita melihat Rein yang sudah pergi dan melihat Dokter yang mencoba untuk memberikan pertolongan.
"Orang gila dari mana dia!" Bentak Dokter mencoba untuk memberikan pertolongan kembali.
Sampai beberapa menit kemudian,Anita keluar dan melihat Rein yang sedang di nasehati oleh dua orang petugas keamanan. Sambil meraih pundak Rein,saat ini Anita membalikkan tubuh Rein dan langsung kembali menamparnya.
"Bodoh!,apa yang kamu lakukan dengan ayahku!" ucap Anita menangis.
Saat ini Rein diam dan terus menundukkan kepala,dan siap menerima konsekuensi atas apa yang sudah dilakukan. "Anita,maafkan aku.." ucap Rein yang melihat Anita menangis ce cegukan.
"Hiks,dia satu-satunya keluarga ku. Aku menjadi seorang polisi karena aku ingin membuatnya bangga" ucap Anita yang mendengar suara langkah kaki seorang dokter.
"Anita, selamat ayahmu..Sudah normal kembali. Dan bahkan setelah pemeriksaan,kami tidak lagi menemukan penyumbatan di pembuluh darahnya. Dia sudah sembuh total" Ucap dokter melihat ke arah Rein dan kemudian meminta untuk berbicara empat mata.
Sambil melihat Anita yang tersenyum,saat ini Rein berjalan pergi dengan seorang dokter yang ingin menanyakan apa yang sudah dia lakukan. Di sebuah ruangan tertutup,milik dokter tersebut. Rein hanya berbicara beberapa hal.
"Ya,aku cuma melakukan seperti ini" ucap Rein membuat gerakan pukulan.
"Ah,kamu merendah. Apakah kamu juga seorang dokter?" tanya Dokter tersebut melihat Rein.
__ADS_1
"Aku mahasiswa, entahlah..cuma aku tadi melakukan naluri insting saja." ucap Rein melihat papan nama dokter didepannya. "Jonatan Heart??."
Sambil melihat kartu mahasiswa Rein,saat ini dokter tersebut menghela nafas panjang "Lain kali,kau jangan seperti itu,sangat membahayakan. Anggap saja ini keberuntungan." ucap Jonatan heart menggeleng kepala dan belum mengenal Rein. Hanya sekilas melihat nama Rein Rumble di kartu mahasiswanya,saat ini Dokter menyuruh Rein untuk pulang.
"Baiklah, Lagi pula. Anita pasti akan marah besar padaku,tapi aku cukup senang melihat dia tersenyum. Mungkin lain kali aku akan meminta maaf padanya sampai dia tenang." ucap Rein rumble melihat Notifikasi dari Bu Nina yang sudah menunggunya untuk bertemu.
"Duh,hampir lupa. Mana aku kehilangan jejak Rina lagi" ucap Rein yang kemudian pamit dan pergi.
***
Beberapa menit setelah meninggalkan rumah sakit,Rein melihat Anita dengan mata tembus tulangnya. Yang bisa di perbesar dan diperkecil sesuai selera. " Duh,para suster di sini gemoy gemoy." Ucap Rein menutup mata tembus tulangnya.
Hanya melihat sekilas Anita yang sedang berbicara dengan ayahnya,Rein melompat ke beberapa gedung sambil tersenyum. "Pengalaman yang mengerikan,tapi untunglah berhasil. Anita,maafkan aku..sudah membuat mu khawatir." Ucap Rein yang kemudian bersiap menuju ke tempat pertemuan dengan Bu Nina.
Turun dengan santai,Rein berjalan pelan dan masuk ke sebuah cafe senja jiwa,dimana Bu Nina menunggu. " Kurasa memang telat" Ucap Rein melihat jam digital menunjukkan pukul 20:10.
Melihat Bu Nina (29) dengan balutan pakaian berudu hitam dengan rok pendek putih tanpa stocking,Rein melambaikan tangan. "Duh,kenapa pake dandan cantik segala. Kita bukan kencan kan?" Gumam Rein dalam hati. Melihat tampilan yang berbeda dari Bu Nina,yang dimana gaya rambutnya terlihat seperti gadis muda nan hijau. Dimana dua kepang kecil rambutnya mengikat keseluruhan rambutnya yang panjang.
Bibir merahnya terlihat sedikit tipis,mungkin karena kehabisan lipstik. Terpapar pelembab bibir yang memantulkan cahaya dari beberapa lampu di Cafe senja jiwa. Datang ke Arah Bu Nina, Rein yang juga ingin menjelaskan alasan dirinya tak mengundang Bu Nina ke acara pernikahan dadakan nya.
Berdiri dengan raut wajah kesal,Bu Nina sendiri seperti sedang menahan keinginan dirinya. "Rein Rumble..Tak kusangka,kau menghamili Anak orang!" Ucap Kali pertama keluar dari Mulut Bu Nina,yang dimana Bu Nina sudah termakan Gosip dari Adiknya sendiri.
Bahkan Rein sendiri belum sempat duduk,langsung terkejut mendengar perkataan Bu Nina yang mengada-ada. "Eh!!, Apa yang Bu Nina katakan!" Ucap Rein di lihat beberapa orang yang sedang berada di cafe senja Jiwa. Bahkan tidak seperti rencana awal,dimana Bu Nina ingin tahu alasan kenapa Rein bisa cepat menikah,saat ini Bu Nina memandang Rein dengan tatapan lain. Tatapan sebuah kecemburuan besar,antara Dosen wanita dan mahasiswanya.
Sambil menahan diri,Bu Nina yang ingin menampar Rein karena kecewa. Saat ini Bu Nina ingin mencoba untuk bersikap tenang. "Hah,maaf..Aku terbawa suasana." Hela Bu Nina sedikit menarik nafas.
"Tenang Bu,Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Ucap Rein tahu kalau Bu Nina pandai menahan diri.
__ADS_1