Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 65. Kerja Bakti Sendiri


__ADS_3

Rein melihat ke ujung jalan, dimana dia melihat dan memperhatikan ada lebih dari 20 mobil berjajar sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya untuk memblokir jalan. Dan melihat 30 orang sedang melakukan unjuk rasa di depan beberapa orang dari kontraktor jalan.


Entah apa yang sedang mereka inginkan, ke tiga puluh orang tersebut terus berteriak-teriak sambil menyanyikan yel-yel kebanggaan mereka.


"Naikkan Gaji kami!" Teriak beberapa orang yang terlihat seperti pemimpin demo. Dimana sebagian besar orang tersebut memakai pakaian berwarna oranye.


"Tenang saudara-saudara, Kami mengerti keluh kesah kalian. Tapi, melihat apa yang sudah kalian lakukan. Kami mohon kerja sama. Bagaimana pun kalian sudah merusak tatanan jalan pantai." Ucap seorang Mandor proyek jalan yang datang ke tempat kejadian. Dimana ada sekitar seratus batang pohon yang tumbang sengaja di tebang.


Hanya ingin mencari tahu, Rein mencoba untuk mendekati kerumunan massa aksi unjuk rasa dari para pekerja kontraktor pembangunan jalan. "Hem, mungkin masalah inten. Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, sampai besok juga tidak akan kelar" Gumam Rein melihat dan mendengarkan keramaian aksi demo.


Melompat ke ujung jalan di dekat masa unjuk rasa, Rein mencoba untuk melakukan sesuatu. Sembari melihat detik jam digital yang terus berubah. Rein dengan telaten mencoba untuk memindahkan satu persatu batang pohon yang sudah terpotong rapi, memang sengaja di gunakan untuk memblokir jalan.


"Fueh, walaupun aku sanggup mengangkat kayu besar dengan berkah author. Tapi sepertinya, kali ini aku juga memerlukan bantuannya lagi" Gerutu Rein diam sejenak sambil membuat sebuah pesan dari akun whatsapp nya.


Ping!


[Thor, Ente Lagi nganggur nggak?"] Chat Rein yang meminta sebuah petunjuk.


Tapi sayangnya, setelah menunggu beberapa detik Rein melihat pesan chat tidak mendapat balasan apapun dari Author nya.


Hanya bisa tersenyum dan mengerti kesibukan author nya. Rein dengan sengaja mencoba untuk mencari perhatian para pekerja kontraktor jalan.


"Sepertinya memang harus cari cara lain, Ada lebih dari seratus batang pohon yang tumbang." Ucap Rein yang masih belum terpikirkan solusi untuk memenuhi janjinya.


Mengangkat dan melemparkan satu-persatu batang pohon dari ujung jalan ke sisi pinggir. Rein memastikan semua orang melihat apa yang sedang dia lakukan. Sambil terus mendengarkan orang yang berbicara dengan toa genggam, Rein terus berupaya semaksimal mungkin.


"Hoy!, Apa yang kamu lakukan disana!" Teriak seseorang berbicara dengan pengeras suara.

__ADS_1


Melihat kearah Rein yang terus membuat keributan dengan melemparkan beberapa batang pohon ke pinggir jalan. Semua mata pengunjuk rasa memperhatikan apa yang sedang dilakukan Rein.


Bahkan mandor proyek jalan tersebut heran melihat Rein yang terus menerus mencoba untuk membersihkan jalan dari beberapa pohon yang tumbang. Rein yang mendengar suara langkah kaki seseorang, terlihat tersenyum.


"Hoy anak muda!!!" Teriak seorang pria dengan pengeras suara memekik di telinga Rein.


"Apa??" tanya Rein memperlihatkan ekspresi wajah kecut seperti tidak senang.


Sambil terus menggunakan pengeras suara, pria tersebut kembali membuat teriakan.


Nging!


"Apa yang kamu lakukan!!!" Teriak pria tersebut kembali membuat telinga Rein berdenging.


"Apa??" tanya Rein seperti orang budeg.


Nging!


Berjalan pelan mendekati Rein, sosok mandor proyek jalan mencoba untuk menemui Rein. "Anak muda, Terimakasih atas kerjasamanya" ucap mandor tersebut tersenyum.


"Ya, tak masalah. Lagian ini juga jadi masalah ku. Bagaimana pun, diujung jalan sana ada seorang wanita yang sedang menunggu ku" Ucap Rein sopan sambil kembali mengangkat beberapa pohon dan terus melemparkan ke sisi pinggir jalan.


Nging!


"Hoy!, Berhenti!. Jangan Ganggu urusan kami!!" teriak ketua unjuk rasa kembali berteriak dengan pengeras suara.


Rein yang tak mempedulikan teriakan ketua pengunjuk rasa, tetap bersemangat melakukan hal tersebut. "Fuuh.. Masih ada 80 batang pohon. Aku harus cepat" Ucap Rein menyeka keringat.

__ADS_1


Ketua pengunjuk rasa kembali ingin berteriak tapi seorang temannya langsung menghentikan dirinya. "Sss, kamu lebih baik diam. Bukankah ini aneh?" ucap seseorang yang memperhatikan Rein.


"Aneh apa?, Kau lihat dia berusaha untuk membersihkan jalan...yang..kita.. Blokir dengan pohon??" Ucap Ketua pengunjuk rasa terdiam beberapa saat dan tersadar melihat Sosok Rein yang terus mengangkat dan melemparkan beberapa pohon ke pinggir jalan.


Di lihat semua orang termasuk mandor proyek jalan, Rein terus menerus berusaha untuk membuka jalan. "Aih, Waktu ku tinggal lima belas menit lagi. Masih ada 40 batang pohon lagi yang harus aku pindahkan" Tutur Rein sengaja mencari perhatian.


Tentunya Rein sadar melakukan hal tersebut, karena bagaimana pun Dia memperhatikan dari ke tiga puluh orang pengunjuk rasa , ada seseorang yang memiliki sebuah jantung yang berada di sisi kanan tubuhnya. "Hem, Dia belum mau memperlihatkan dirinya. Baiklah, aku masih bisa tenang karena dia tak menyerang ku" Ucap Rein dalam hati.


Sampai sepuluh menit kemudian, Rein melihat beberapa mobil lain yang berjajar Rapi terus menunggu di ujung jalan lainnya. "Hey, lihat itu! jalan sudah mulai terbuka" ucap seseorang pengemudi yang sudah keluar dari mobil.


"Benarkah!?" tanya seorang polisi yang masih berjaga-jaga di sekitar ujung jalan yang lain.


Terus melihat ke arah Rein, semua orang heran melihat Rein yang terus mengangkat dan melemparkan beberapa pohon ke pinggir jalan.


"87, jalan sudah hampir terbuka." ucap seseorang polisi yang sedang mengawasi beberapa pendemo.


Berjalan mengikuti Rein baik mandor proyek jalan dan beberapa pendemo merasa heran melihat hal tersebut. Rein sendiri yang sedang belajar untuk tidak congkak, tetap melakukan upaya keras. Melihat ke depan jalan, Rein terus menghitung jumlah pohon yang belum dipindahkan.


"Seminggu setelah latihan di markas, ternyata kekuatan tenaga dalam ku bertambah pesat" Tutur Rein tersenyum. "Tinggal 10 batang pohon lagi, sepertinya pas untuk ku menepati janji dengan Anita."


Sampai seseorang dari arah pendemo terlihat kesal Melihat apa yang terjadi. Dimana saat ini, seseorang dari pendemo sedang melakukan tranfer informasi. "Seperti yang kamu katakan Wakil Kabuto, tapi aku melihat pria di sana menggunakan pakaian merah dan bukan hitam seperti yang kamu katakan?" ucap seseorang terus memperhatikan Rein.


"Baik aku mengerti, Bagaimana pun aku tak ingin memancing keributan. Baik, aku tunggu perintah" Menyimpan kembali smartphone ke dalam saku, sosok pria pendemo langsung meninggalkan tempat tersebut.


Tak lagi melihat Rein, dia terus berjalan ke arah bukit sambil beberapa kali memainkan kumisnya yang tipis. Merubah bentuknya menyerupai seekor rayap, sosok plagiator Termite langsung mengepakkan sayap tipisnya dan terbang ke arah lain dan menghilang.


Tak terjadi apapun, Rein yang sudah menyelesaikan janjinya, saat ini melihat ke arah semua orang yang menatap dirinya. "Pak polisi, jalan sudah aku buka, hanya tinggal menyelesaikan masalah dengan mobil mereka." Tunjuk Rein yang kemudian melompat dan tak ingin ikut campur dengan masalah pendemo dan mandor proyek jalan.

__ADS_1


Tentunya Rein berpikir itu memang bukan masalahnya, terlebih dia heran dengan seseorang yang dicurigainya langsung menghilang. "Apa dia takut padaku?, Bagaimana pun menurut mis Lilith para Plagiator sekarang sudah mulai bergerak dan terorganisir." Lirih Rein yang kembali membuka penyamarannya.


__ADS_2