
Butuh sekitar Dua jam perjalanan bagi Rein rumble yang berjalan sambil menggendong tubuh Bu nina. Sedikit merasakan berat tubuh Bu nina, Rein berupaya keras membawanya ke market yang menyimpan mobil bu Nina.
"Bu, tubuh anda berat sekali" ucap Rein sedikit kelelahan.
Sambil menunjuk ke arah Market, bu nina kemudian berkata. "Bentar lagi sampai, itu lihat mobil ku."
Merasakan lega, Rein kemudian menurunkan Bu Nina di dekat mobilnya. Setelah memeriksa bagian kaki bu nina yang terkilir, dengan terpaksa Rein mencoba meminta tolong pada author kembali. "Aku kan belum pernah mengemudi mobil, mungkin author mau membantu ku" ucap Rein dalam hati, kemudian mengambil smartphone nya. Mengirim pesan Telegram, Rein menunggu jawaban. "Hehe, maaf ya author..mengganggu mu di tengah malam."
Setelah menunggu beberapa saat, notifikasi Telegram Rein akhirnya di balas author.
Ping!
[Ada apa lagi?, aku sedang sibuk menulis Novel lainnya] balas author yang baru menyelesaikan novel Tiga puluh Tahun Ultraman mencari cinta.
Ping!
[Ayolah thor, kita kan teman. Lagi pula, aku kan tokoh utama pemeran pria. Masa aku tidak bisa mengemudi?] balas Rein dengan emoticon meminta dan dengan bulatan senyum lebar memperlihatkan Giginya.
Ping!
[Aku akan update besok, kalau sekarang update kisahmu itu bikin aku repot, kau tahu!!] balas author dengan emoticon kesal bulatan merah dengan beberapa asap menggumpal.
Ping!
[Tapi, thor. Kali ini Bu nina mendapatkan masalah, bukan kah author suka karakter Bu nina. Dia begitu menggoda, bukan?] balas Rein mengirim Gambar Bu nina.
Ping!
[Oh, jadi ini karakter Bu nina, baiklah.. tapi dengan satu syarat.. kamu harus mengirim Foto...] balas author panjang Lebar dengan sedikit sensor di tulisan.
Ping!
[Oke, aku paham!. Jadi tolong ya!] balas Rein yang kemudian menunggu, author membuat dirinya bisa mengemudi kan mobil.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Rein Sudah merasakan dalam dirinya, dia bisa mengemudi mobil. " Yosh.. akhirnya, aku bisa mengemudi" ucap Rein yang kemudian mendengar suara peluit di dini hari.
Priwiet! Priet! Priet!
Suara peluit dari seseorang pria yang memakai jas oren dengan topi Tukang parkir Market. "Ayo mundur.. mundur.. Terus" ucap Tukang parkir yang datang entah dari mana, kemudian mengetuk kaca jendela mobil.
Membuka kaca jendela mobil, Rein tersenyum kecil. "Ini sepuluh ribu buat mu, dan jangan bikin kaget lagi!!" ucap Rein dengan nada kesal, dan menggeleng kepala.
"Makasih bang, maklum ya" berkata Tukang parkir yang kemudian melambai ke arah mobil Rein yang sedang melaju. "Lumayan... buat beli Rokok."
Sambil melihat bu nina yang sedang menahan sakit, Rein yang mendudukkan tubuh bu nina di kursi samping kirinya sedikit jelas memperlihatkan belahan paha. Dimana banyak sobekan stoking hitam yang robek di mana-mana. Sambil membaca beberapa notifikasi dari author lewat Telegram, Rein tersenyum.
Ping!
[Sudah aku buat dirimu bisa memijat, dan mengurut bagian tubuh. Ingat kirim kan Foto Bu nina padaku] balas author yang sudah menyelesaikan satu naskah untuk Rein.
Ping!
[Terimakasih thor, kamu memang pengertian] balas Rein yang kemudian memejamkan matanya sebentar dan merasakan dirinya sudah memiliki teknik pijat khusus.
"Jl. Mekar bunga Nomor 96 , Tapi lebih baik kita ke hotel saja. Mungkin, anggota Dawin Grup sudah menunggu ku dirumah, kali ini aku benar-benar kesulitan" ucap Bu nina yang terlilit hutang pada seorang Rentenir Bernama Dawin grup.
"Tak kusangka, Bu nina memiliki masalah. Andai aku punya uang, pasti akan aku bantu anda" ucap Rein yang mencoba meminta sesuatu pada author. Sambil berpikir, Rein memegang smartphone dengan tangan gemeteran. "Tapi aku sudah banyak meminta pada author. Em, bagaimana jika dia menolak??."
Melihat ke arah Rein, saat ini Bu nina menghela nafas. "Tak apa Rein, ini urusan ku. Kamu hanya mahasiswa ku, jadi aku hanya berterimakasih padamu sudah membantu ku, atau aku sudah tak lagi perawan" berkata Bu nina yang masih belum memiliki seorang suami.
Terkejut!
"Apa!!?, Bu nina masih Perawan??" ucap Rein penuh tanda tanya.
"Hhe, benar.. apa kamu tak percaya?" berkata Bu nina yang tersenyum dan memperlihatkan kelip merona bibir merahnya. "Selain jadi dosen, aku juga bekerja di Klab malam di tempat karaoke. Tapi, aku hanya memberitahu mu, kamu bisa menyimpan Rahasia kan??."
Dengan Nada pelan, Rein menjawab dengan sedikit anggukan. "Ya, aku bisa menyimpan Rahasia" berkata Rein yang kemudian berbelok menuju ke Hotel.
__ADS_1
Sebuah Hotel bernama Mercury Wave Hotel. Masih Buka di jam malam, menerima beberapa tamu yang menginap untuk sekedar bersenang senang.
Memarkirkan mobil Bu nina, Kemudian Rein membantu Bu nina untuk berjalan dan mendaftarkan tamu.
Selangkah demi selangkah, Mereka berdua sudah sampai di depan Lobi pendaftaran. "Satu kamar untuk satu malam" berkata Bu nina mengeluarkan kartu Visa.
"Ini kuncinya" ucap Pelayan Hotel wanita yang masih bekerja di shif malam dan menyerahkan sebuah kunci kamar hotel bernomor 107 ke tangan Rein.
Memperhatikan dari kejauhan, pelayan hotel menggeleng kepala. "Ckck, masih muda tapi sudah bekerja seperti itu. Haah, jaman memang sudah berubah.. Tapi dia memang tampan."
Seperti mendengar suara hati pelayan hotel, Rein berhenti dan mengedip matanya ke arah pelayan hotel. "Hehe , enak saja... aku pemuda normal" berkata Rein dalam hati, ingin memberikan pelajaran pada pelayan hotel. "Awas ya..."
Masih dalam papahan Tangan Rein yang membantunya berjalan, saat ini Bu nina merasakan kelelahan. "Rein, bisa kamu gendong aku lagi?" ucap Bu nina yang lemas.
...
Rein Rumble...
"Baik, aku gendong" berkata Rein yang kemudian meraih kaki Bu nina dengan tangan kanannya dan meraih leher Bu nina dengan tangan kirinya.
Menggendong dan melihat belahan dada Bu nina yang terbuka, Rein sedikit merasakan hawa panas tubuhnya naik. "Gluk."
Memegang leher Rein, kemudian Bu nina menempelkan kepala di dada Rein yang membusung. Merasakan dada Kekar Rein yang terbentuk. "Tak kusangka, kamu punya tubuh yang bagus," berkata Bu nina yang kemudian melihat pintu lift terbuka.
Pukul 03:00 Dini hari.
Di kamar hotel nomor 107, Rein kemudian memeriksa kaki Bu nina yang terkilir. Melepaskan heel dari kakinya, perlahan Rein membuka stoking hitam Bu nina. "Aw.. Rein, pelan pelan.." desah Bu nina yang merasakan tangan Rein menyentuh bagian pahanya.
"Aku juga pelan pelan, sudah lebih baik anda tidur saja. Akan aku periksa kaki anda" ucap Rein yang menggulung stoking hitam Bu nina satu persatu.
Merasakan harum kaki Bu nina, dalam pikiran Rein sedikit melayang-layang. "Hem, baunya sedap. Seperti nya Bu nina pandai merawat diri, pantas saja di begitu menawan saat mengajar."
__ADS_1
"Rein , apa kamu bisa memijat?" tanya Bu nina.
"Tentu, hal yang mudah bagiku" berkata Rein yang kemudian berdiri dan mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikan pelicin. "Karena ini hotel, pasti ada pelumas ataupun pelicin."