
Disisi lain.
Di sebuah rumah megah yang berdiri di wilayah perbukitan pinggir kota. Tampak seorang wanita yang sedang menyusui sosok bayi lelaki dengan botol susu.
"Nyaw!, Aku bosan susu formula. Vena, carikan aku ibu susu. Aku ingin Susu asli, bosan aku terus menerus minum susu Formula" ucap Clark dengan nada khas suara Bayi.
"Nya, Nya!"
"Maaf tuan Clark, aku tak bisa melakukannya. Bagaimana pun, kamu pasti akan melahap jantungnya" Tolak Vena.
"Nya!, Kau tak mau menuruti kemauan ku!" ancam Clark yang langsung menjulurkan tentakel ke arah Mulut Vena. Hanya membuat ancaman, Clark sendiri terus memandang Vena dengan tatapan kuat.
Seperti tak takut apapun, Vena hanya tersenyum.
"Tuan Clark, aku hanya seorang pengasuh mu. Kalau pun aku mengiyakan, kita sendiri akan mendapatkan masalah. Terlebih, kamu sendiri yang sudah membunuh ibu kandung mu." ucap Vena yang menyaksikan bayi Clark membunuh ibunya sendiri dan semua orang di rumah tersebut kecuali dirinya.
Yang bahkan pihak kepolisian tidak mempercayai pernyataan Vena saat sedang di interogasi. Dimana seorang kuasa hukum keluarga Bayi Clark memutuskan untuk menyerahkan hak waris tersebut pada bayi Clark dan menyuruh Vena untuk menjadi pengasuhnya. "Jika kamu memang mau membunuh ku, lakukan saja. Aku tak mau terlibat dalam permainan kalian para Plagiator." Ucap Vena pasrah.
Dimana Vena sendiri juga sudah mencoba untuk mengatakan semua hal pada pihak kepolisian. Tapi tak ada satupun orang yang mempercayai ceritanya. "Cih, baiklah. Kali ini kamu menang. Tapi ingat, aku bisa saja melenyapkan keluarga mu di kampung dengan bantuan seseorang." Ucap Bayi Clark yang memang membutuhkan sosok Vena untuk menjadi pengasuh dan pembantunya.
Sambil kembali menyusu dan menyesap dot botol susu, tampak Bayi Clark beberapa kali memainkan dada Vena. "Dasar bayi mesum!" lirih Vena dalam hati jelas tak bisa menyinggung bayi Clark.
Sampai beberapa jam menyusui Bayi Clark, tampak Vena berjalan ke arah tempat tidur bayi. Menaruh bayi Clark yang sudah tertidur pulas, Vena mendengar suara bel rumah berbunyi beberapa kali.
Ting tong!
Berjalan ke arah gerbang pintu rumah, Vena tertegun melihat seorang pengacara datang kembali ke rumah tersebut. Mempersilahkan masuk sosok pengacara pria dengan tubuh gendut, Vena mendengarkan beberapa hal yang akan disampaikan.
"Tentang Hak waris Keluarga Lewis, Clark Lewis seorang bayi berusia tiga tahun akan memperoleh hak warisnya setelah berumur delapan tahun. Sebagai seorang pengasuh, Kamu juga akan mendapatkan sebagian hak waris rumah ini beserta harta yang ditinggalkan. Nona Vena, selamat" ucap Seorang pengacara pria tersenyum sambil menjulurkan tangan ke arah Vena.
"Pak Dully, Kenapa harus aku. Bukankah masih ada anggota keluarga Lewis yang bisa mewariskan harta tersebut?. Kenapa aku juga mendapat bagian?" tanya Vena tercengang setelah melihat Nominal harta yang diberikan padanya.
__ADS_1
"Apa kamu akan menolaknya?" tatap pak dully sang pengacara yang langsung memperlihatkan wajah lainnya pada Vena. Dimana, terlihat wajah seram pak dully sedang menjulurkan tentakel panjang ke arah Vena.
"Baik aku mengerti" ucap Vena yang sudah tahu bahwa pak dully juga merupakan seorang Plagiator lainnya. Dimana saat ini Vena sendiri merasakan tekanan yang kuat. Seperti terorganisir, beberapa Plagiator memainkan peran mereka dengan baik.
Bahkan kasus pembunuhan yang dilakukan Clark sendiri dapat langsung di tutupi dengan kepiawaian mereka. "Ingat, satu jengkal kamu berkhianat. Keluarga mu di kampung akan merenggang nyawa." Ucap Pak dully kembali membuat ancaman.
"Aku mau lihat Clark, Bagaimana pun Wakil Kabuto menyuruh ku untuk membujuknya dan memintanya untuk tetap melakukan sesuatu sesuai dengan peraturan."
Berjalan ke arah kamar Clark, Vena kembali tertegun melihat pak dully yang berubah wujud menjadi seorang pria tampan. Dimana dia terlihat cukup kesal melihat bayi Clark yang sudah memiliki 21 jantung manusia. "Ingat untuk tidak terus terusan melakukan keinginannya. Pastikan dia bergerak santai dan jangan bertindak gegabah" ucap Pak dully yang datang atas permintaan Kabuto.
"Baik, aku akan usahakan dia tidak memakan jantung manusia bulan ini." Lirih Vena kembali merasakan cengkraman jari tangan tajam pak dully, yang menekan pundaknya.
"Baguslah kalau kamu mengerti, sebagai manusia yang mengetahui keberadaan kami. Kamu akan jadi satu-satunya manusia yang selamat di dunia ini beserta keluarga mu. Hahaha" Jelas Pak dully tertawa keras.
***
Menjelang malam.
"Vena, cepat bawa aku untuk mencari jantung manusia!" Pinta Clark memaksa.
"Tidak bisa Tuan Clark, Kamu harus menahan diri." Ucap Vena sembari mengocok botol susu dan langsung memasukkan ke dalam mulut Clark.
Diam sambil kembali menyusu, tampak bayi Clark cukup tenang. Dimana dia mendengar beberapa hal yang terjadi saat dirinya tertidur. "Jadi Dully datang, Sial dia memasang gelang peledak di tanganku." Ucap Clark kesal.
"Maafkan aku tuan, Bagaimana pun baik dirimu dan Dia mengancam ku." Ucap Vena yang tak mendapat kesempatan apapun selain menurut pada mereka.
"Cih, Gara-gara aku memakan jantung bayi. Aku hanya memiliki separuh kemampuan. Walaupun aku sudah melahap 20 jantung, aku hanya bisa menggunakan Clock up dan belum memiliki tubuh bawaan. Rupanya Mereka ingin mencegah ku menjadi Raja Plagiator." Keluh Clark terus menyesap dot khas bayi.
"Nyo,Nyo"
Sambil memperlihatkan dokumen hak waris, tampak Vena sendiri tersenyum lebar. Bagaimana pun, di dalam dokumen hak waris tersebut, tertulis namanya sendiri. "Tuan Clark, Besok kita akan belanja. Aku mau beli banyak keperluan. Dan pastikan anda menyembunyikan kemampuan mu" Pinta Vena cukup senang, dan juga memiliki tujuan lainnya sendiri.
__ADS_1
"Nyo, Baiklah. Lakukan sesuka mu. Bagaimana pun, kamu sudah berjasa merawat ku. Belikan aku susu Formula penambah tinggi badan. Aku harus mencari cara bagaimana bisa menggunakan tubuh ini dengan baik." Pinta Clark yang masih merasakan kesal karena terjebak dalam tubuh seorang bayi.
***
Di saat yang sama, Rein yang sedang melakukan beberapa hal di alun-alun kota. Tampak dia tak menemukan apapun petunjuk yang mengarah pada Plagiator bayi yang dia lihat.
"Lebih baik aku kembali, sepertinya mereka tidak bergerak dalam satu wilayah. Hoam, lebih baik aku cari makan terlebih dahulu" Ucap Rein kembali melajukan motornya menuju ke arah sebuah kedai.
Dimana Rein saat ini langsung berjalan ke arah seseorang gadis muda yang sedang melayani beberapa pelanggan kedai.
"Nak Rein, silakan duduk" Ucap Kharina yang langsung menghampiri Rein.
"Terimakasih tante" balas Rein tersenyum sembari melihat Khalisa yang sedang membawa beberapa nampan pesanan dan terlalu sibuk melayani beberapa pelanggan lainnya.
Tak jadi menyapanya, tampak Rein terus memperhatikan Khalisa yang berkeringat. "Dia manis juga ternyata."
"Tunggu sebentar ya Nak Rein, Biar Khalisa yang menemani mu" Ucap Kharina yang langsung berjalan ke arah Khalisa dan membisikkan beberapa hal.
"Sudah, yang disini biar ibu yang urus. Kamu temani Rein saja" Bisik Kharina terkekeh.
"Tapi bu," lirih Khalisa yang langsung di dorong oleh ibunya.
"Sudah sana, Lagian kamu juga belum beristirahat" Ucap Kharina yang membuat lambaian tangan ke arah Rein.
Berjalan pelan sedikit malu, karena belum berdandan, tampak Khalisa menundukkan wajahnya. "Rein kenapa tidak bilang mau kesini?" tanya Khalisa duduk.
"Kalau aku langsung bilang, aku tak tahu wajah mu yang tanpa Riasan. Kamu cantik alami malam ini" Ujar Rein dengan gombalan sejatinya.
Tersipu malu, tampak Khalisa membenarkan rambutnya dan menaruh di sela telinganya. "Rein, aku mau bicara dengan mu. Ini soal Braum yang sudah menyelesaikan masa skorsingnya. Aku takut dia mengganggu ku lagi besok." Lirih Khalisa mencoba untuk meminta bantuan Rein, Jika Besok Dirinya mungkin akan kembali di ganggu Braum.
"Kamu tenang saja Khalisa, Aku juga ingin lihat Dia masih berani berulah atau tidak" Ucap Rein terkekeh sambil melihat Kharina yang datang dengan sebuah nampan pesanan dan beberapa makanan di atasnya.
__ADS_1