
Khalisa masih tetap diam dan tak bicara apapun, bahkan Dia beberapa kali membuat gerakan menghindar ke kanan dan kiri, terus dilakukan berulang. Sampai ketika Braum yang hendak memegang tangan Khalisa, dimana Khalisa sontak Mundur kebelakang.
"Jangan ganggu aku!" teriak Khalisa keras sambil mencoba untuk berbalik arah. Tapi, dua teman Braum langsung menghentikannya.
"Jangan sombong, nona" ucap Gusti terkekeh.
Braum yang saat ini kesal, akhirnya mencoba kembali meraih tangan Khalisa. Dan hal tersebut membuat Khalisa langsung mencoba untuk menampar Braum. "Jangan sentuh aku!" Bentak Khalisa, tapi tamparannya langsung di tangkis.
"Lepaskan" ucap Khalisa yang merasakan pegangan erat tangan Braum.
Sambil tersenyum dan terkekeh, Braum tetap tak melepaskan pegangan tangannya. Walaupun ada beberapa orang yang lewat dan memperhatikan mereka. Dan tentunya tidak ada orang yang mau mencampuri urusan Braum gengnya.
"Khalisa, Ayolah. Biar abang antar pulang" Ajak Braum yang merasakan Khalisa terus meronta.
Mencoba membantu Braum, tiga orang temannya saat ini terus mencoba untuk mendesak Khalisa. "Nona Khalisa, Bos Braum sudah berbaik hati. Tak usah sungkan" ucap Antony menambahkan.
"Iya Nona, Bukankah orang tua Nona berteman baik dengan orang tua Bos Braum" Tambah Yanto mencoba untuk membujuknya.
Terus mencoba untuk membuat tangannya terlepas, Khalisa mencoba untuk membuat ancaman. "Aku tidak kenal kamu, walaupun orang tua ku dekat dengan keluarga mu. Aku akan bilang pada papa, kalau kamu selalu mengganggu ku!." Ancam Khalisa yang memang hanya sekali bertemu dengan Braum di sebuah acara pesta, dan datang karena terpaksa.
Menghela nafas, Braum tetap tersenyum. "Oke, bilang saja. Dan yang perlu kamu harus tahu. Papamu itu bawahan papaku. Aku hanya ingin berbaik hati, jika aku mau. Bisa saja aku langsung bilang pada papa ku, Kalau kamu tidak mau berteman dengan ku?, Lalu apa yang akan terjadi?."
"Ya, nona Khalisa. Bagaimana kalau papa nona Khalisa berhenti bekerja sama?" Tambah Gusti yang memang mencoba untuk membantu.
Sambil melihat wajah Khalisa yang memang menawan, Braum yang memang baru mengenal Khalisa di sebuah acara pesta ulang tahun ayahnya beberapa bulan yang lalu. Merasakan penasaran sebagai seorang pria, dan itu memang sudah naluri kelelakiannya. Seperti mau tak bisa menjawab apa yang dikatakan Braum, terlihat Khalisa tahu sifat Braum yires. Sampai terdengar suara dari kejauhan seseorang yang sedang membuang putung rokoknya. Setelah duduk beberapa saat dan terus memperhatikan apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Sosok Rein yang sedari tadi melihat apa yang sedang dilakukan Braum dan gengnya. Saat ini berjalan pelan sambil meretakkan tangannya. "Braum Yires, akhirnya kita bertemu lagi. Kau sudah sehat?" tanya Rein Baik hati menanyakan Kabarnya.
Melihat Rein, tentunya Braum mengingat apa yang sudah dilakukan Rein terhadap dirinya. Melepaskan pegangan tangannya, Braum langsung berjalan ke arah Rein. "Rein!, apa kamu mau ikut campur lagi?. Bahkan kami sudah tak lagi mengganggu wanita mu!. Kau jangan serakah!" Bentak Braum tak gentar.
"Serakah!, hahaha!" Tawa Rein berhenti tepat di depan Braum yang sedang berdiri sambil memerintah Gusti untuk tidak membiarkan Khalisa kabur.
"Dengar kawan. Berhubung di episode pertama aku belum menunjukkan kebolehan ku. Kali ini aku hanya ingin menambah episode kita berdua yang belum selesai, sampai aku puas memberikan mu pelajaran."
"Dan ingat, apa yang sudah kamu lakukan pada ku semenjak masa SMA. Kau selalu membuat ku dalam masalah. Bahkan membuat ku tidak punya cerita cinta masa SMA. Dimana semua Gadis SMA selalu menyampingkan diriku." Curhat Rein mencoba untuk kembali mengingatkan apa yang pernah dia alami.
Braum yang sebenarnya merasakan sensasi takut, saat ini dia hanya ingin mencoba untuk menaikkan harga dirinya. "Cih, Kali ini karena aku ada urusan mendadak. Kau ku ampuni" Ucap Braum sedikit gemetaran ketika menatap mata Rein.
"Lepaskan dia, Kita ada urusan lain" Ucap Braum membuat sebuah tanda pada ke tiga temannya.
Sambil masuk kedalam mobil, Braum tetap terus mengutuk Rein. "Sial, kenapa aku jadi takut seperti ini?" ucap Braum dalam hati yang mengingat terakhir kalinya dia dihajar oleh Rein.
"Menurut mu begitu?" tanya Braum menatap Rein yang sedang berdiri dengan Khalisa sambil terus melambaikan tangan. "Kurang asem, dimana ada wanita sekarang pasti ada Rein!, Akan aku beri pelajaran dia!."
***
Hanya sekilas melihat wajah Khalisa, Rein mencoba untuk bertanya. "Kau tidak apa-apa kan?."
"Terimakasih" ucap Khalisa yang langsung beranjak pergi dan sekali melihat wajah Rein.
Rein sendiri terlihat bingung dengan Khalisa, sambil menghela nafas. Rein berpikir setidaknya Dia sudah mencoba untuk membantu. "Ya, ku kira bisa kenalan. Ya sudahlah." Gerutu Rein terus melihat Khalisa yang berjalan tergesa-gesa ke ujung jalan.
__ADS_1
Masih berdiri dan terus menatap Khalisa, tanpa Rein sadari sebuah tepukan tangan seseorang menempel di pundaknya. "Namanya Khalisa, Walaupun cantik tapi dia pendiam." Ucap Seorang wanita yang lebih dewasa dari Rein berdiri sejajar.
"Eh!, kapan kamu di belakang ku!" Ucap Rein terkejut melihat Leinera yang berada di sampingnya.
Sambil tersenyum dan membuat ekspresi wajah yang berbeda dari sebelumnya, terlihat Leinera kembali membuat pandangan sinis. "Tuan Rein yang terhormat, Aku mau bicara dengan mu." Pinta Leinera yang sedikit tidak senang ketika Rein sok akrab dengannya beberapa saat yang lalu.
Melihat tatapan Leinera yang kembali berbeda, Terlihat Rein memperhatikan apa keinginan Leinera. "Mau bicara apa Kak...Lei..ner..a.." Ucap Rein tahu bahwa dia merasakan aura sedikit menindas Leinera.
***
Di rumah keluarga Heart.
Rein yang ikut naik ke dalam mobil Leinera, saat ini Rein tak tahu kenapa Leinera membawanya pergi ke rumahnya. Sambil melihat gerbang masuk terbuka, Rein terus memperhatikan lokasi rumah Leinera yang memang jauh dari perkotaan. Sebuah rumah besar di bangun di sebuah bukit di dekat pantai yang memiliki halaman luas. Dimana terdapat 100 anak tangga yang mengarah ke tepi pantai.
Sekitar pukul 16:36.
Rein duduk di halaman depan sambil menyesap teh manis dan menunggu Leinera kembali. Terus memperhatikan setiap bagian rumah keluarga Heart, Rein melihat dua orang berjalan ke arahnya. Sosok Leinera dan seorang pria yang baru kembali dari rumah sakit. Setelah meminta Leinera untuk mencarikan seorang pria yang berkuliah di Universitas San Diego.
"Gluk, Aku padahal belum siap melamarnya." Gumam Rein yang terus memperhatikan seorang pria dengan kemeja batik dan memakai kacamata. Sambil mencoba untuk mengingat, tampak Rein pernah melihat pria tersebut.
Terus mendekat dengan senyuman, sosok pria berkacamata yang merupakan ayah Leinera langsung menyapa Rein. "Hay Rein" sapa Jonathan Heart yang langsung mengenali Rein.
"Anda?!" ucap Rein terus mengingat.
"Aku Jonathan Heart. Papa Leinera, Kau pasti ingat dengan ku." Ucap Jonathan heart terus membuat ayunan tangan saat Bersalaman dengan Rein.
__ADS_1
Dan disaat yang tepat, Rein dengan insting lelakinya. Langsung membungkuk dan mencium tangan Jonathan heart. "Maaf aku hanya terkejut Papa" ucap Rein sopan.
"Hahaha, tak perlu seperti itu. Aku tahu kamu Orang yang sopan. Mari, lebih baik kita bicara di dalam. Maafkan Leinera ya, dia memang seperti itu" ucap Jonathan menggeleng kepala karena melihat Rein di suruh menunggu di halaman depan dan melihat teh pahit yang dihidangkan.