Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 68. Aksi Rein Vs Braum and The Geng


__ADS_3

Di sisi sebuah jalan, seorang gadis sedang diganggu oleh empat pria dengan kendaraan bermotor. Dimana ke empat pria tersebut terus mengikuti Gadis muda yang sedang berjalan tergesa-gesa.


"Khalisa, ayo biar abang antar pulang" ucap seorang pria yang mengenal gadis tersebut. Di temani ketiga pria lainnya, yang juga mengendarai motor. Pria tersebut terus mencoba untuk membujuk gadis bernama Khalisa.


"Pergilah, jangan ganggu aku lagi" ucap Khalisa yang baru selesai kerja paruh waktu di sebuah restoran sebagai seorang pelayan.


"Padahal kalau kamu mau menjadi pacarku, Kamu tak perlu kerja paruh waktu. Apapun keinginan mu, pasti abang kabulkan." Ucap pria tersebut terus berupaya keras menggoda.


"Bos, sudah paksa saja dia" ucap pria yang lain langsung menghentikan motor mereka. Dimana saat ini banyak orang yang masih berlalu lalang melihat apa yang terjadi.


"Cih, padahal Abang sudah berbaik hati, Kenapa sikapmu seperti ini?" ucap pria tersebut yang kemudian menghentikan motornya dan bersiap untuk meraih tangan Khalisa.


"Braum, lepaskan..Ah..Sakit,Iyaw" teriak Khalisa yang mencoba untuk meminta tolong. Dimana saat ini, banyak orang melihat dan berhenti, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani melakukan tindakan.


"Hahaha, Jangan jual mahal. Bukankah aku sudah bilang, aku tinggal meminta pada papa memecat ayahmu. Aku akan tawarkan lagi padamu, jika kamu mau jadi pacarku. Aku pastikan ayahmu dapat bekerja kembali di perusahaan papaku." Ucap Braum yang sudah kesal karena terus ditolak cintanya.


Membuat dorongan kuat sampai braum mundur, Khalisa memberanikan diri untuk segera pergi. Dan berlari ke tempat yang lebih ramai, dimana dia melihat ke arah Bangunan Plaza dengan halaman luas. "Mas bantu aku" Pinta Khalisa yang menghentikan seseorang.


Vrum!


"Khalisa, mau kemana kamu" teriak Braum yang terus mengejar bahkan dia tak takut apapun. Di temani tiga orang temannya, Braum yang cukup kesal karena belum bisa membuat Khalisa jatuh ke tangannya. Tanpa pernah menyerah. Dia terus membuat gangguan, "Kalau kebaikan ku tidak diterima juga, terpaksa aku main kasar. Tinggal Bawa kamu ke hotel saja."


***


Di tempat lain, di waktu yang bersamaan.


Anita yang sedang menunggu Rein, dimana Rein yang sedang mengambil motornya di tempat parkir Plaza. Saat ini Anita melihat seorang gadis muda yang sedang diganggu oleh seseorang. Dimana Anita sendiri melihat ada sekitar empat orang berjaket seperti anak geng motor. Dimana ke empat pria tersebut langsung menghentikan motor mereka tepat di depan Gadis muda yang terlihat ketakutan.


"Hem, Tumben ada yang berani membuat masalah di depan ku" ucap Anita yang belum melihat Rein datang.

__ADS_1


Tentunya, sebagai seorang penegak hukum, Anita langsung beranjak pergi sambil membuat sebuah lompatan kecil melewati pagar pembatas jalan. Dimana dia terus menatap ke empat pria yang membuat putaran motor mengelilingi seorang gadis.


Sambil terus memperhatikan sisi lain jalan yang sedikit ramai dengan kendaraan. Anita langsung berjalan cepat sambil mencoba untuk melakukan sesuatu.


"Hentikan!" teriak Anita yang sudah sampai di seberang jalan. Bersikap seperti seorang polisi wanita, Anita lupa kalau saat ini dia tak memakai seragam kepolisian. Berlari ke arah seseorang, Anita siap beraksi.


Seperti tak mendengar teriakan Anita, ke empat pria berjaket geng motor terus menerus mengelilingi Gadis muda tersebut. "Braum, Jangan Ganggu aku. Siapapun tolong!" Teriak Khalisa yang mendengar suara motor terjatuh. Dimana Khalisa terkejut melihat salah satu teman Braum mengaduh kesakitan karena terjatuh dari motornya.


"Duh,duh..Nyeri" ucap Seseorang yang terjatuh.


Melihat hal tersebut, Braum terkejut ketika matanya melihat seorang wanita dengan blazer pink fuchsia menendang salah satu temannya. Menghentikan motornya kembali, Braum langsung membuat isyarat dan menyuruh satu temannya untuk memegang Khalisa.


"Hoy, Siapa Kamu?" Tanya Braum melangkah sambil menyuruh temannya yang terjatuh untuk bangunan.


"Aku polisi, Kau akan ditahan karena sudah membuat keributan dan mengganggu seorang gadis muda" Ucap Anita yang masih belum sadar. Jika dirinya masih dalam mode orang biasa dan tak membawa apapun selain uang receh dan smartphone di tas kecilnya.


Saling lihat dan saling pandang, Braum tertawa terbahak-bahak. Tak takut apapun, Braum berjalan pelan sambil meminta temannya menyalakan api. "Fueh, Kalau kamu polisi aku ini tentara" ucap Braum sembari mengeluarkan asap rokok dari telinganya dan hidungnya.


"Uhuks..Uhuks" Batuk Anita mengibaskan tangan.


"Kawan-kawan, rupanya aku punya incaran baru. Bagaimana kalau kita bawa dia juga?" ucap Braum terkekeh melihat Anita yang terus terbatuk. "Gusti, lakukan!."


"Dasar pria perokok, Uhuks" ucap Anita sedikit mundur tapi dia merasakan dua orang menghadangnya dari belakang.


"Nona cantik, Kalau kamu polisi. Tangkap aku dong" ucap Gusti yang mencoba untuk memegang tangan Anita.


Tapi dengan sebuah gerakan cepat, Anita langsung menendang perut Gusti, dimana celana pendek Anita sempat terlihat.


Debug!

__ADS_1


"Uh, hampir saja" ucap Gusti sedikit merasakan sakit di perutnya.


"Kalian para berandalan, mau coba-coba?" Ucap Anita yang langsung terkena sebuah pukulan di dadanya. Dimana Braum sendiri yang membuat sebuah tendangan bebas ke arah dada Anita.


"Auh..tega!" Rintih Anita mundur dan langsung di pegang tanganya oleh Gusti.


"Bos, kau tega banget??" ucap Gusti heran.


"Aku sedang kesal, Sudah banyak gadis yang aku kejar baik yang muda dan yang tua. Mereka selalu menolak ku, apa kurang ku coba?." Keluh Braum cukup merasa kesal. Melihat ke arah beberapa orang, saat ini Braum memberikan tatapan tajam.


"Kalian semua, Kalau ada yang berani. Silakan maju, Aku akan lampiaskan kemarahan ku" Teriak Braum yang langsung berjalan ke arah Khalisa dan memegang dagunya. "Anthony, pegang dia lebih kuat."


"Baik bos, Rasakan kau Khalisa" ucap Antony yang sedang memegang Khalisa.


Sambil terus meronta, Khalisa merasakan genggam tangan Braum yang semakin keras memegang dagunya. "Hehe, Aku akan cium kamu di depan semua orang yang bahkan tak ada yang berani mengganggu" ucap Braum yang kembali mendengar teriakan Anita.


"Hoy, lepaskan dia!" Teriak Anita yang tak bisa lepas dari pegangan dua orang teman Braum. Bahkan cukup sulit untuk bisa lepas.


"Hahaha, Aku akan lepaskan dia kalau ada yang berani duel dengan ku!" Ucap Braum yang membuang putung rokoknya dan dengan perlahan mendekatkan bibirnya ke arah Bibir Khalisa.


Vrumm! Vrumm!!


Suara motor seseorang terus menderu dan langsung membuat sebuah jumping melewati pagar pembatas jalan Plaza. Dimana terlihat sosok Rein yang datang dan langsung membuat beberapa tendangan ke arah dua orang yang memegang Anita.


Debug!


Gerakan yang cepat, membuat keduanya tersungkur jatuh ke lantai batako. Dimana saat ini Rein berhenti dan langsung berjalan cepat ke arah Braum. Tak mengeluarkan suara, Rein dengan segenap tenaga langsung mengarahkan sebuah pukulan tinju ke wajah Braum yang hampir menyentuhkan bibirnya ke arah bibir Khalisa.


Debug!

__ADS_1


Merasakan sebuah pukulan keras diwajahnya, seketika Braum terpental kesamping dan terjatuh ke beberapa orang yang berkerumun. "Argh!, Sakit!" Teriak Braum keras mencoba untuk melihat seseorang yang berani memukulnya.


__ADS_2