
"Aku pelayannya" ucap Griss bersamaan.
"Aku Teman kencannya" ucap Anita melihat ke arah Arumi dan Griss dengan mata terbelalak.
"Aku khalisa, maaf belum memperkenalkan diri" ucap Khalisa sopan sambil melihat ke arah Rein yang menutup wajahnya dengan selimut.
Dan sekarang mata semua orang langsung tertuju pada Arumi, yang dimana Anita dan Nina sedikit lambat merespon.
"Aku sendiri Sudah jadi kekasihnya" ucap Nina terang-terangan dan kembali saling lihat.
Suasana hening sesaat, dan masing-masing orang kembali terdiam sejenak. Rina yang tertegun ketika mendengar Arumi mengatakan bahwa dirinya adalah Istrinya. Saat ini terlihat cukup senang, tapi dirinya tak menyangka jika Rein sudah menikah.
"Haaah!" terkejut Anita dan Rina bersamaan.
Menghampiri Griss, Nina langsung membuat tatapan tajam. "Griss...Apa maksud mu, Kau pelayan Rein?, Lalu...Arumi itu istri Rein??" tanya Nina sedikit tidak jelas dan tersendat.
"Hehehe, Aku memang pelayan Rein sekarang, dan Nona muda Arumi memang istri sah tuan Rein" ucap Griss yang tidak membicarakan hubungan dirinya dengan Rein, selain hubungan pelayan dan majikan.
"Tunggu, kau mengatakan dirimu sendiri kekasihnya??" tanya Arumi yang melihat Nina yang lebih tua dari Rein dan dirinya, mengakui kalau dirinya adalah kekasih Rein.
"Benar, Aku sudah tidur dengannya" ucap Nina yang kelepasan dan membuat Rina terbelalak matanya.
"Apa!!" teriak Rina yang hanya tahu Rein punya hubungan sebagai seorang kekasih dari kakaknya.
"Tunggu, Kak. Hubungan mu sudah sejauh itu???."
Sambil menepuk kepala, Griss sendiri hanya bisa diam dan sedikit menggerutu. Dimana dia terus menatap ke arah Arumi. "Uh, Maaf Rein. Kayaknya kamu bakal kena masalah besar." Ucap Griss dalam hati.
Arumi sendiri tak terlalu banyak merespon dan langsung meraih selimut yang menutupi wajah Rein. Sambil membuat sebuah gerakan, terlihat Arumi langsung mendaratkan sebuah kecupan di bibir Rein.
Keadaan tersebut terlihat jelas di mata semua orang yang memperhatikan, termasuk Khalisa yang tak memiliki hubungan apapun dengan Rein. "Aku memang istrinya, jadi lebih baik kalian semua keluar. Aku yang akan menjaganya. Benarkan Rein." Lirih Arumi yang langsung membuat tamparan di wajah Rein.
__ADS_1
Plak!
Dimana tamparan tersebar langsung membuat Rein terbangun dari tidur pura-pura nya. "Aduh, Kenapa aku ditampar" Lirih Rein membuka mata sambil mengelus pipinya.
"Rein.."
"Rein.."
"Rein.."
Panggil Nina, Anita dan Rina yang menatap Rein dengan tatapan tajam.
"Kalian pergilah" Usir Arumi yang tak mau membuat keributan apapun setelah mengetahui bahwa dirinya juga Khawatir ketika mendengar kabar Rein yang terluka. "Griss, tolong.."
"Nona??" ucap Griss tak tahu apa yang sedang di pikirkan Arumi saat ini.
***
Griss dan Nina saling menatap, sambil berbicara beberapa hal.
"Maaf, aku memang belum memberitahu mu soal Rein yang sudah melakukan pernikahan dan aku yang berhenti menjadi dosen. Ini hanya masalah ku,.." Ucap Griss mencoba untuk menjelaskan dan masih tetap menjaga hubungan dirinya dengan Rein. Dimana Griss sendiri sudah sering di pakai oleh Rein dalam beberapa kesempatan. "Uh, rancu.."
Menghampiri Nina dan Griss, terlihat Rina mengkerut wajahnya ketika mengetahui bahwa Kakaknya sudah tidur dengan Rein. "Kak, aku mau bicara dengan mu" Tarik Rina yang langsung membawa Nina menjauh dari semua orang.
Sedangkan Anita dan Khalisa hanya saling lihat dan berbicara beberapa hal. "Oh jadi Rein bukan sekali ini menolong mu?" tanya Anita.
"Ya, tapi untuk yang kali ini. Aku tak menyangka kalau Grup braum sampai membuat celaka Rein. Aku harus meminta maaf dan berterimakasih" ucap Khalisa yang masih mengkhawatirkan Rein.
Dan di dalam kamar rawat, Arumi duduk terdiam dan terus menatap Rein yang sedang menundukkan kepala. "Apa hubunganmu dengan Wanita itu sudah cukup lama?" tanya Arumi memberanikan dirinya.
"Iya, semenjak aku berkuliah" lirih Rein.
__ADS_1
"Kau juga sudah tidur dengan dia?" tanya Arumi membuat tatapan tajam ke arah Rein sambil terus membuat genggaman tangan.
Hanya membuat anggukan, Rein sendiri belum mengakui semuanya. Mencoba untuk menatap mata Arumi, tampak Rein melihat sedikit gelinang air mata terjatuh di pipi Arumi.
"Hiks, Maafkan aku. Mungkin ini salahku, Bagaimana pun kamu pasti melakukan hal tersebut karena aku belum melayani mu." Tutur Arumi yang kemudian berdiri sambil memegang tangan Rein.
"Aku hanya belum siap, tapi aku tak marah dengan kelakuan mu."
Bagaimana pun, di dalam darah Arumi terdapat gent keluarga Basura. Dimana Gent tersebut lebih menonjol kan keinginan yang meluap-luap dan misteri lainnya.
"Eh?, apa maksud mu??" tanya Rein bingung.
Membuat tawa kecil, terlihat Arumi cukup tertarik mengetahui Rein yang berani menunjukkan sisi lainnya. "Kau tahu, Keluarga Basura itu memiliki kelain genetika. Dimana setiap keturunan keluarga Basura condong memiliki banyak pasangan. Tapi itu dikhususkan hanya untuk keturunan Lelaki. Bahkan mama ku sendiri sempat ingin membuat Harem-wanitanya sendiri."
"Tapi itu dilarang keras oleh kakek yang ingin tetap menjaga Keturunan yang dominan. Walaupun kakek punya banyak istri dan pelayan, tapi hanya ibuku yang mewarisi Gent Basura. Dimana Gent Basura tersebut langsung menurun padaku." Jelas Arumi seperti tak mempermasalahkan apapun yang dilakukan Rein.
"Selain mamaku, ada sekitar 10 istri kakek yang juga melahirkan beberapa keturunan yang berbeda. Tapi sayang dari beberapa keturunan tersebut, hanya ada mamaku yang mendapat Gent Basura. Ini seperti sebuah efek lotre, dimana hanya ada satu pemenang dari sekian lotre yang di pilih." Ungkap Arumi sedikit membeberkan tentang darah Basura.
"Tapi, Karena mama dan aku seorang wanita. Kakek membuat batas, yang membuat mamaku tidak diizinkan untuk membuat keturunan lain. Walaupun dia juga punya keturunan lelaki yang tidak memiliki Gent khusus tersebut."
"Sama-sama memiliki darah keturunan, beberapa istri kakek yang tidak Terima mencoba untuk membuat kudeta. Dimana kamu tahu, bahwa Kakek di incar oleh seseorang dari keluarga yang lain." Terus menceritakan beberapa hal yang belum diketahui Rein, terlihat Arumi tak mempermasalahkan apapun.
"Sampai aku siap, Aku menunggu waktu yang tepat. Bagaimana pun, aku juga sudah berjanji pada Kakek untuk memberikan keturunan lelaki" Ucap Arumi yang kemudian tersenyum ke arah Rein. "Tapi, Kalau sampai keturunan perempuan yang aku dapat, ini hanya akan menjadi sebuah taruhan. Jadi sebelum waktunya tiba, aku belum mau digenjot olehmu."
Rein sendiri sedikit menangkap arah pembicaraan Arumi. Dimana dia tahu, bahwa Arumi memang belum siap dan menunggu waktu yang tepat untuk menghasilkan keturunan Dengan Gent Basura. Dan tidak sembarangan dalam melakukan hubungan. Bahkan Rein tahu, walaupun mama dan papa mertuanya bisa menghasilkan keturunan lain. Tapi belum tentu keturunan tersebut memiliki Gent Basura. Dan itu hanya akan menambah masalah Inten dalam keluarga.
"Arumi, Kamu tidak marah karena aku sudah menggenjot beberapa wanita?" tanya Rein mulai paham.
"Aku tak marah, Bagaimana pun aku sendiri juga sudah tahu bahwa kamu sudah menggenjot Fara dan Griss" tutur Arumi yang kemudian berjalan ke arah Pintu.
Sambil tersenyum, Arumi yang juga mendapat mandat dari Anastasya dan Kakeknya. Dimana Dia juga punya rencana tersendiri. "Rein!, Kalau kamu memang mau menjadi Pria Harem. Aku akan merestui mu!" Ucap Arumi yang langsung pergi.
__ADS_1
"Eh!!!" Kembali terkejut, Rein tak tahu apa yang dipikirkan Arumi.