
Satu minggu kemudian.
Di moon house, Rein yang sedang beristirahat di kamar sendiri tiba-tiba mendengar keributan. Dimana saat ini Arumi sedang bertengkar dengan mamanya yang datang untuk berkunjung.
"Arumi, Jadi kamu belum melayani Rein!" Teriak Anastasya yang mencemaskan hubungi Rein dengan anaknya.
"Mama lebih baik pulang dan jangan urusi kehidupan ku!" Bentak Arumi kasar.
"Pokoknya hari ini, Sampai kamu di genjot Rein. Mama akan tinggal disini!" Bentak Anastasya yang sangat mendukung Rein.
Sembari menenangkan istrinya, sosok Randall yang sudah pulih saat ini melerai keduanya. "Hunny, kita kesini untuk berkunjung. Tolong jangan ribut dengan anak sendiri." Ucap Randall menengahi.
"Diam kau Hubby, Kau pulanglah. Pokoknya, sampai aku melihat Rein menggenjot Arumi, aku tidak mau pulang." Ucap Anastasya bersikeras.
Rein yang memang ingin beristirahat dari pelatihan beberapa hari lalu, saat ini bersiap untuk menemui mama mertuanya. "Ribut banget" Keluhan Rein yang menatap wajahnya di balik cermin.
Berjalan dan membuka pintu kamarnya, Rein tersentak merasakan sebuah tendangan kuat dari Anastasya yang mendobrak pintu kamarnya. "Waaaa!!" Teriak Rein jatuh tersungkur.
"Rein!!, Kau sudah berbohong pada mama!" Bentak Anastasya yang sudah mengikat Arumi.
Mencoba bangun, Rein yang memang berbohong tentang hubungannya dengan Arumi saat ini kembali merasakan lemparan tubuh Arumi jatuh ke pangkuannya. "Mama, maafkan daku.." ucap Rein yang dengan sigap menerima tubuh Arumi.
"Mama, apa yang kamu lakukan.."
"Papa bantu aku dong..lepaskan ikatan ini" Pinta Arumi yang tak bisa berdiri dan masih berada di pangkuan Rein.
"Hunny, jangan kasar-kasar dengan Arumi. Bagaimana pun, dia anak satu-satunya." Ucap Randall kembali membujuk.
"Dima kau Hubby. Pokoknya, Rein harus membuat cucu untuk kita." Bentak Anastasya tak mau kalah.
Sampai beberapa menit perdebatan, saat ini Rein tak tahu apa yang harus dilakukan. Dimana saat ini Rein ditatap oleh Anastasya. "Mommy, kenapa masih di kamar ku?" tanya Rein melihat Anastasya yang sedang duduk ingin melihat Rein menggenjot Arumi.
"Sudah lakukan saja, Arumi tidak akan meronta" Ucap Anastasya duduk sembari menyesap susu coklat hangat buatan Griss.
"Rein, cepat lepaskan aku." Pinta Arumi mencoba untuk membujuk Rein.
__ADS_1
Sedikit bingung dengan situasi yang memaksa, Terlihat Rein langsung berjalan ke arah Anastasya dan berbisik di telinganya. Mendengar sesuatu yang diucapkan Rein, sosok Anastasya kembali memerah wajahnya. "Uh, kau ini. Baiklah..tapi aku punya syarat. Jika dalam tiga bulan Arumi belum juga hamil. Terpaksa aku harus memaksanya." Ucap Anastasya yang kemudian berdiri dan berjalan ke arah Arumi.
Mengeluarkan belati, dengan beberapa gerakan cepat. Sosok Anastasya sudah memutuskan ikatan Arumi. "Hari ini mama tidak mau ribut, Tapi ingat apa yang mama katakan." Ucap Anastasya yang menyimpan kembali belati ke bagian pahanya.
"Rein, temani mama berenang" Pinta Anastasya.
"Baik mommy" Ucap Rein yang sedikit takut dengan mama mertuanya. " Untunglah.."
Randall sendiri saat ini sedang ada panggilan mendesak dari papa mertuanya, yang meminta dirinya untuk menemani pergi ke tempat bermasalah. Sambil menyimpan kembali hpnya, Randall langsung menemui Anastasya. "Papa memanggilku, Jadi nanti kamu pulang sendiri atau minta pada Rein untuk mengantarkan mu." Ucap Randall siap pergi.
"Kenapa papa hanya meminta mu?" tanya Anastasya.
"Entah, baiklah aku pergi dulu." Ucap Randall yang melihat Rein bersama Arumi yang berjalan pelan.
"Arumi, Rein. Papa pulang dulu ya. Maaf, jangan sampai mamamu naik darah lagi." Pinta Randall yang sedikit cemas, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan panggil Orgami Basura.
"Kau bisa jalan sendiri?, aku mau antar papa Sampai depan" Ucap Rein yang melepaskan pegangan tangan Arumi.
"Ya, aku bisa jalan sendiri" Ucap Arumi merasakan tubuhnya yang sakit karena mencoba untuk bertarung dengan mamanya.
***
Rein melambaikan tangan ke Randall yang pergi dengan sebuah mobil hitam Ycream. Sambil menghela nafas panjang, Rein kembali masuk kedalam.
"Fueh, mama dan anak sama saja. Cepat naik darah.." Keluh Rein yang saat ini belum melihat Leinera datang.
"Aku juga belum melihat Leinera, apa aku harus menunggu sampai dia lulus. Dia juga belum mau tinggal disini. Padahal aku berharap dia bisa memaksakan diri untuk tinggal disini." Keluh Rein yang juga mengingat sosok Fara yang sudah pergi dari moon house.
"Oh ya, Fara juga belum menghubungi ku. Menurut Bu Nina, Fara pindah Universitas. Ah, padahal sudah begitu dekat kenapa semakin kesini semua wanita ku pergi??." Keluh Rein dalam hati yang melihat Arumi masuk kedalam kamarnya di bantu Griss.
Berjalan ke arah kolam renang di belakang rumah, saat ini Rein langsung melepaskan pakaian. Dimana dia juga sudah melihat Anastasya yang sedang berenang. "Apa aku harus menolak ya?" Ucap Rein yang sudah berjanji untuk menerima sebuah latihan khusus dari Anastasya.
"Rein cepat kesini!" Pinta Anastasya yang melihat Rein masih berdiri.
"Mommy, Kau yakin ingin melakukan disini??" tanya Rein sedikit tertegun melihat tubuh Anastasya yang hanya memakai bikini tipis berwarna magenta.
__ADS_1
"Ya, hanya pakai tangan. Tenang saja, Griss juga sudah memberi obat penenang pada Arumi." Ucap Anastasya membuat gerakan jari menyuruh Rein untuk datang ke arahnya.
"Papa maafkan aku" Ucap Rein yang saat ini berjalan ke arah Anastasya yang sudah berdiri di pinggir kolam.
***
Melakukan beberapa hal, setelah beberapa menit. Saat ini Rein terus melihat beberapa kali gerakan tangan Anastasya.
"Duh, kasihan kamu Rein. Pasti sakit ya, terus menahan diri. Mommy bantu keluarkan.." Ucap Anastasya membuat beberapa gerakan tangan maju mundur.
Melihat ke arah lain, saat ini Rein melihat Griss yang memperhatikan dirinya. "Ah..Rasanya sungguh..." Lirih Rein berhenti sesaat merasakan gerakan tangan Anastasya.
"Rein pokoknya kamu harus bisa menaklukkan Arumi bagaimana pun caranya, dia gadis bebal. Kalau pun, dia tidak mau. Mommy akan berikan sesuatu untuk mu, supaya kamu bisa menggenjot Arumi tapi tentunya dengan kesadaran." Ucap Anastasya sedikit sukar merasakan gerakan tangannya.
"Sudah keras seperti ini, kamu mau tahan sampai beberapa lama?"
"Um, tergantung mom. Aku belum mau Meledakkan nya." Lirih Rein memejamkan mata merasakan dirinya yang sedang dimanja Anastasya.
"Uh, Kalau seperti ini aku Gunakan mulut ku saja" Ucap Anastasya yang langsung melahap benda tak bertulang Rein.
"Mommy!, apa yang kamu lakukan..Jangan..Ah!" Teriak Rein keras..
"Aku meledak!!"
Sampai beberapa jam kemudian..
Saat ini Rein sedikit gemetaran kakinya. Sambil membantu mengoleskan pelembut kulit di punggung Anastasya. Rein kembali tertegun melihat tubuh Anastasya. "Mommy, sudah ya.." Ucap Rein yang sedang mengurut Anastasya.
" Belum, bagian buritan ku belum kamu urut. Lakukan saja" Pinta Anastasya tersenyum.
"Tapi mommy, apa ini tidak kelewatan?" tanya Rein ragu.
"Tidak apa, Lagian tadi kamu langsung menyemburkan cairan tubuh mu ke mulut ku, jadi ini hukum untuk mu." Ucap Anastasya yang langsung menarik tali bikininya.
" Sudah cepat.."
__ADS_1
" Baik, Maafkan aku.." Lirih Rein kembali tertegun merasakan sensasi luar biasa. "Rasanya, aku mau lampiaskan pada Nina..nanti"