
Sampai pagi hari menjelang.
Rein masih memejamkan mata, tampak Dia cukup kelelahan dalam permainannya dengan Nina. Bahkan terlihat Rein menikmati keadaan tersebut.
Sambil mencoba untuk merasakan beberapa kecupan di pagi hari. Rein melihat Senyum di wajah Nina, "Pagi sayang. Hari ini memandang wajahmu, rasanya aku ingin lagi bermain." pinta Rein yang kembali mendekap Nina.
"Sayang, Lalu kapan kamu akan menikahi ku!" Ucap Nina menagih janji. Sambil mencoba untuk memanjakan Rein di pagi hari.
Rein tersentak dan terbangun, dimana Rein kembali mengingat apa yang sudah Dia katakan dalam permainan semalam.
"Aku paham, aku akan bicara dengan orang tuamu. Apakah mereka setuju atau tidak tergantung keputusan mereka" Ucap Rein pelan sembari memainkan kembali permainan.
"Aku dan Rina sudah tak lagi punya orang tua, itulah kenapa aku bekerja keras sampai membuat pinjaman pada Dawin grup, ini semua untuk Rina." Ujar Nina sembari menceritakan beberapa hal dan terus membuat goyangan pinggul. "Ah!."
Mendengarkan semua cerita Nina, Rein sendiri yang juga sudah berjanji untuk menikah dengan Nina. Kali ini Dia kembali mencoba untuk meyakinkan Nina. "Aku tak akan melanggar janji ku. Kalau begitu, Kita temui Kakek Orgami. Bagaimana pun, aku juga sudah meminta restunya untuk menduakan Cucunya." Ajak Rein yang langsung membawa Nina ke dalam kamar mandi. "Lanjut di kamar mandi ya."
Rein sendiri juga sebenarnya adalah anak yatim piatu, yang dibesarkan oleh orang tua angkat di desanya. Tapi itu hanya cerita masa lalu yang ingin Rein lupakan. Dimana Dia hanya dijadikan anak pemancing, dan di biarkan hidup sendiri ketika orang tua angkatnya sudah memperoleh keturunan. Itulah kenapa Rein terus hidup sendiri dan hanya mengandalkan uang dari kerja paruh waktu. Dia di usir dari rumah, saat masih SMP dan mulai hidup mandiri sampai sekarang. Rein tidak membenci orang tua angkatnya, hanya saja dia tahu kalau dirinya hanya dimanfaatkan. Dan tentunya Rein selalu mendambakan kasih sayang.
Itulah yang biasa terjadi di kehidupan nyata, dimana sebagian orang mengadopsi anak hanya untuk memancing berkah, dan setelah mereka memiliki anak. Mereka melupakan anak angkat mereka, hanya sebagian kecil dari perilaku masyarakat kekinian. Yang bahkan tidak mau tahu, apa yang akan terjadi pada anak yang sudah mereka angkat. Mungkin ada pepatah yang menyatakan hal tersebut.
Rein sendiri tak terlalu bersedih hati, dia tetap pada keinginan egoisnya sendiri. Dimana dia yang selalu diasingkan, dalam kehidupan dan juga dalam berbagai hal. Tapi kisah sedihnya, sekarang berubah drastis dan itu sudah menjadi keputusan Rein sendiri, bagaimanapun dia sendiri yang akan menghadapi kisahnya. "Aku akan buat keluarga yang terjamin" Ucap Rein yang berdiri di atas genteng Moon House, dimana saat ini Rein sudah mengenakan pakaian pengantin. Menatap Nina yang Juga sudah bersiap." Sudah ku putuskan, Inilah langkah awal ku!."
***
Beberapa hari setelah pernikahan.
Rein dan Nina yang melangsungkan pernikahan di kediaman Kakek mertuanya. Rein dan Nina tidak terlalu banyak mengundang kenalan. Rein merasa lebih tenang dan mendapatkan kedamaian saat ini. Dimana Rein tak harus lagi membendung hasrat duniawi nya. Hanya butuh persiapan matang sampai Arumi siap melayani dirinya. Rein juga merasakan beberapa kesibukan lain, berkerja untuk Orgami Basura. Itulah syarat Rein menerima persetujuan.
__ADS_1
Tetap berkuliah, Rein cukup senang dengan keputusan Nina. Walaupun sebenarnya bisa saja Rein kembali membuat pengorbanan untuk Nina. Bagaimana pun peraturan Universitas yang tidak memperbolehkan dosennya menikah dengan mahasiswanya, membuat Rein dan Nina menghadapi keputusan yang sulit. "Jadi, kamu mau jadi Guru SMA?" tanya Rein yang sudah mendengar keputusan Nina.
"Iya sayang, aku mencintaimu. Aku tak mau kamu terus berkorban untuk ku, sekarang giliran ku" Peluk Nina yang siap berangkat bekerja.
"Nina, Aku sayang kamu" ucap Rein yang juga siap berangkat melanjutkan tugasnya sebagai seorang mahasiswa. Sambil menatap Nina yang cukup senang bisa kembali bertemu dengan Griss, Rein sendiri juga sudah melunasi janjinya pada Griss yaitu membawa Nina ke moon house.
"Rein, terimakasih" senyum Griss yang mengantarkan Nina sampai halaman depan. Dimana Griss melihat Rein yang bersiap mengantarkan Nina ke Sekolah SMA dimana Arumi menempuh studi.
Berangkat lebih awal dari Arumi yang masih melakukan beberapa hal, dan berangkat sendiri. Rein tetap menunggu kesempatan untuk bisa bersama Arumi suatu saat nanti. "Sayang, Kau siap?" tanya Rein menyalakan motornya.
"Em" ucap Nina yang melambaikan tangan ke arah Griss. Mendekap Tubuh Rein dari belakang, tampak senyum Nina yang berseri. Walaupun umur mereka cukup jauh, Baik Rein dan Nina tak mempermasalahkan hal tersebut.
***
Disisi lain, Di dalam penjara kota.
Mereka berempat hanya tinggal menunggu waktu, untuk membalas Rein dengan rencana besar mereka. Hanya satu malam di penjara. Dendam Braum sendiri sampai saat ini belum bisa terbalaskan, ditambah dengan dendam barunya yang tertuju pada Rein.
"Rein, tunggulah pembalasan ku" Ucap Braum yang sedang membuat model baru jaket geng motor bersama tiga orang temannya di dalam mansion pribadinya.
"Hey bos, lihat desain jaket ku" ucap Gusti memperlihatkan sebuah gambar dengan tulisan Silver Skull.
"Lihat punya ku juga" ucap Anthony yang juga memperlihatkan desain jaketnya.
"Gerrr!" Sambil menggetarkan giginya, Braum juga memperlihatkan desain jaket dengan tulisan REVENGE YIERS.
Hanya tinggal menunggu waktu, Braum Yier tertawa pelan dan langsung memakai syal rajutan nya. Dimana saat ini sedang musim penghujan. "Akan aku pastikan Rein membayar ini semua!" terkekeh Braum penuh Amarah sambil melihat sosok Glen yang tersenyum padanya. Dimana Glen memperlihatkan desain jaket dengan Nama Black Lion.
__ADS_1
"Glen coba tambak Revenge di bawahnya" pinta Braum kagum.
***
Setelah mengantarkan Nina ke Sekolah SMA elit bernama SMA Katulistiwa 69, Rein sendiri cukup merasa kangen dengan sekolahnya dulu. Walaupun benaknya terus menggerutu.
"Sayang, aku kerja dulu ya" ucap Nina membangunkan lamunan Rein. Sambil meraih tangan Rein dan langsung menciumnya.
"Ya, sayang. Aku hanya kangen saja. Cepatlah masuk" ucap Rein yang terus menatap Nina sampai di depan Gerbang. Membuat lambaian tangan Rein sedikit merasa lega. "Dari dosen sekarang jadi guru SMA."
Menuju ke Universitas San Diego. Rein cukup senang dengan pilihan Nina. Berhenti di halaman parkir Universitas tampak Rein kembali bersiap. Tapi sesaat hendak berjalan, suara seorang wanita menyapa dirinya.
Memalingkan wajah ke arah seseorang yang memanggilnya, Rein tertegun melihat sosok Khalisa yang tersenyum lebar kearahnya.
"Hey Rein, tunggu aku." ucap Khalisa yang datang dari sisi lain.
Rein tentunya langsung berhenti dan membuat sapaan hangat. "Pasti hari ini akan jadi Hari yang baik untuk ku, disapa wanita cantik bernama Khalisa" tutur Rein dalam hati.
"Pagi Khalisa."
Berjalan bernama Khalisa, tampak Rein sedikit gugup. Bahkan kali ini Rein sedikit merasa di perhatikan oleh beberapa orang yang terus melihat dirinya berjalan bersama Khalisa. "Rupanya kamu cukup terkenal disini, tapi kenapa aku baru mengenal mu?" tanya Khalisa.
"Terkenal apa, Mereka melihat mu. Bukan melihat ku, Bagaimana ya mengatakannya. Kamu terlihat cantik pagi ini." Gombal Rein membuat pujian.
"Heh!, Gombal. Bagaimana pun, aku sudah tahu kamu punya istri. Baiklah, sampai jumpa lagi Rein" Senyum Khalisa yang memisahkan diri, dan berjalan ke sisi lorong menuju ke tempat Jurusan kuliahnya.
"Um, senang bisa mengenal mu" ucap Rein sedikit iseng ingin tahu apa warna pakaian dalam Khalisa. Dengan kemampuan berkah dari authornya, Rein terkekeh kecil. "Biru muda, ternyata Khalisa suka warna biru langit, oh pasti hari ini. Akan lebih menyenangkan."
__ADS_1