
Di Ruang Makan.
Hanya berdua dan saling pandang, Rein kembali tertegun melihat Anastasya yang berpakaian anggun dan terlihat berbeda dari sebelumnya. Melihat ke arah Meja makan yang masih kosong, Rein perlahan mendengar suara Troli makanan datang.
"Mommy, Kau sungguh cantik malam ini" Puji Rein yang mencoba untuk membuat suasana.
"Benarkah?, Kau memang menantu ku yang paling bisa mengerti" ucap Anastasya yang membuat gerakan anggukan pada beberapa pelayan wanita.
Terus memperhatikan, Rein mencoba untuk terbiasa melihat beberapa pemandangan lain yang terus di perlihatkan beberapa pelayan wanita. Menemani Anastasya makan malam, Rein kembali gugup ketika dia sudah menyelesaikan makannya.
"Aku tidak minum.." Ucap Rein hendak menolak sebuah tuangan wine hitam ke dalam gelas.
"Tak apa Rein, Kau nanti harus terbiasa. Wine hitam ini berkualitas tinggi dan hanya keluarga Basura yang bisa memilikinya." Jelas Anastasya yang langsung menyesap wine hitam dengan beberapa kali tegukan.
"Uwaaah...Rasanya..Enak.."
Kembali menyodorkan gelas wine hitam ke arah Rein, seseorang pelayan wanita tersenyum. "Silakan Tuan Muda, Wine hitam ini sungguh spesial." Ucap seorang pelayan wanita tersenyum sembari memperlihatkan belahan dadanya.
Meraih gelas, Rein ingin mencoba.
"Iya, aku coba cicip" ucap Rein sedikit ragu karena dia terbiasa mengkonsumsi susu.
Hingga beberapa menit berlalu.
Pindah ke ruangan besar di Aula utama rumah Anastasya. Rein tertawa terbahak-bahak mendengar cerita tentang Arumi dari Mulut Anastasya. "Hahaha, benarkah. Dia sampai sekarang masih sering mengompol??." Tanya Rein yang pada akhirnya tahu, kenapa Arumi menutup dirinya.
Begitu halnya Anastasya, yang memiliki maksud lain untuk membicarakan hal tersebut dengan Rein di rumahnya. "Ya, tadi mommy sudah menemui Arumi. Ternyata sampai sekarang dia masih tetap belum bisa menangani hal tersebut. Jadi, mungkin kamu bisa membantu Arumi menangani gejala tersebut. Walaupun dia bebal, tapi sebenarnya dia tadi sempat mengatakan bahwa dia menyukaimu. Bagaimana pun, kamu sudah membantu kakeknya untuk sembuh dari sakitnya." Tutur Anastasya terus terang.
Sambil mencoba untuk jujur, Rein meraih sebatang rokok yang sudah diminta pada seorang pelayan wanita. "Fueh, Mommy. Aku mau jujur padamu. Ini berkenaan dengan ku yang tidak ingin memiliki hubungan dengan Gadis yang lebih muda dari ku. Jujur saat aku menyetujui pernikahan ini, aku hanya ingin menyelamatkan Fara. Mommy, maafkan menantumu. Aku harus mengatakan yang sebenarnya, bahwa aku tidak menyukai Arumi." Ucap Rein menundukkan kepala.
"Kau suka wanita yang lebih tua dari mu? dan seumuran dengan mu? bukan??" tanya Anastasya tersenyum.
"Itu benar, Maaf mungkin hubunganku dengan Arumi tidak akan berjalan mulus. Walaupun aku sudah berjanji akan membuat cucu untuk kalian." Ucap Rein merasakan sentuhan tangan Anastasya memegang pundaknya.
__ADS_1
"Rein ceritakan padaku, apa yang sudah pernah kamu alami di masa lalu" Pinta Anastasya yang langsung meraih wajah Rein dan membenamkan di belahan dadanya. "Cerita lah.."
Rein sendiri yang memang cenderung terpikat dengan wanita yang lebih tua darinya, terlihat merasakan nyaman. "Mommy, apa aku boleh bercerita sambil menyedotnya?" tanya Rein yang tertidur di pangkuan Anastasya.
"Kamu mau?" tanya Anastasya yang perlahan membuka sebagai gaunnya.
Sampai beberapa jam berlalu, terlihat Rein seperti merasakan Anastasya yang memanjakan dirinya. Sambil beberapa kali membuat remasan tangan, Rein sesekali berhenti dan terus bercerita tanpa Ragu tentang masa lalunya pada Anastasya. Mendengarkan dengan baik, Sosok keibuan Anastasya merasakan sedih dan sedikit meneteskan air mata.
"Hiks, Ternyata seperti itu masa lalu mu. Kau sungguh pria yang tabah Rein. Baiklah, mommy pasti akan membantu mu menghilangkan ketakutan pada Gadis muda." Ucap Anastasya kembali menyuruh Rein menyedot butiran hitam miliknya. Sambil menidurkan Rein dengan beberapa sentuhan dan belain rambut.
***
Membawa tubuh Rein yang sudah terlelap tidur dengan bantuan beberapa pelayan wanita, Anastasya mencoba untuk memilih beberapa pelayan wanita yang tampak masih muda. "Vanny, umur mu berapa sekarang?" tanya Anastasya yang sudah mengumpulkan beberapa pelayan wanita yang tampak masih muda.
"Tujuh Belas tahun dua bulan, nyonya" Ucap Vanny yang kemudian berdiri di samping Anastasya.
"Ah, dari 30 pelayan wanita hanya kamu yang masih muda. Dan lima dari kalian seumuran dengan menantu ku." Membuat gelengan kepala, Anastasya kembali membubarkan semua orang.
"Baik Nyonya" Ucap Vanny menunggu di luar kamar.
Sedangkan Anastasya saat ini mengeluarkan lima buah butir obat rahasia untuk Rein. Membangunkan Rein yang masih terlelap, Anastasya langsung menelan kan lima butir obat ke dalam mulut Rein. Yang dimana beberapa saat yang lalu, Anastasya sudah membuat Rein pingsan dengan obat bius di butir hitam dadanya.
Tentunya kemampuan Anastasya yang jauh lebih berpengalaman dalam hal tersebut, Bisa membuat Rein takluk. Meneguk air putih, Anastasya langsung membuka mulut Rein dan mencoba untuk mendorong lima butir obat rahasia miliknya. "Baiklah, tinggal tunggu Reaksinya." Ujar Anastasya yang menyuruh Vanny masuk dan melepaskan pakaiannya.
"Kau layani tuan muda sampai pagi" Pinta Anastasya yang kemudian keluar dari kamar tempat Rein tertidur pulas.
"Baik Nyonya" ucap Vanny yang kemudian naik ke atas Ranjang dan menunggu Reaksi obat rahasia yang diberikan Anastasya pada Rein.
***
Sampai malam hari sekitar pukul 01:00.
Rein yang sudah terbangun merasakan seseorang terus memainkan benda tak bertulang miliknya. Dimana Rein langsung terkejut dan merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Siapa kamu??" tanya Rein tersentak.
"Aku Vanny, aku akan melayani tuan muda sampai pagi" Ucap Vanny yang terus mencoba untuk melakukan tugasnya.
Merasakan sebuah dorongan kuat, Rein kembali terjebak dalam permainan yang dibuat Anastasya untuknya. "Uh, Tadi mommy memang membiusku tapi Kenapa daku tidak bisa menolak keinginan ini" Ucap Rein memegang tangan Vanny sambil merasakan lidahnya yang masuk kedalam mulutnya.
"Tuan, mau sekarang?" tanya Vanny bersiap.
Hingga pagi menjelang.
Rein merasakan kepalanya pening dan merasakan tangan seseorang memegang dadanya.
"Tuan sudah bangun?" tanya Vanny yang masih berselimut dengan Rein.
"Urg, apa yang terjadi semalam?" tanya Rein kembali melihat sosok Vanny tertidur di atas dadanya. Membuat kecupan hangat sebagai seorang pelayan wanita Rein.
"Tuan mau lagi?" tanya Vanny bersiap.
"Kau, siapa?" tanya Rein sedikit tersadar.
"Aku Vanny tuan muda" ucap Vanny yang kemudian mengangkat selimut dan bersiap bermain kembali.
Sampai beberapa menit kemudian, Rein akhirnya tersadar dan mendorong kuat tubuh Vanny sampai terjerembab ke lantai.
"Maaf tuan, Aku hanya mengikuti perintah Nyonya besar" Ucap Vanny yang sudah memberitahu umurnya.
"Tidak, Aku sudah melakukan sesuatu dengan Gadis muda seperti mu. Tidak!" Teriak Rein kembali teringat tentang masa lalunya, dimana dia pernah diperlakukan tidak baik saat masih di SMP.
"Tapi, Ini aneh. Kenapa aku bisa melakukan sesuatu pada mu?" tanya Rein melihat Vanny bangkit dan mencoba untuk mendekat ke arah Rein kembali.
"Duh, sakit tuan muda. Jangan kasar" Keluh Vanny mencoba untuk melakukan sesuatu kembali.
"Bagaimana kalau aku Gosok punggung tuan di kamar mandi?, Nyonya besar sudah menunggu tuan untuk sarapan" Pinta Vanny mengajak Rein.
__ADS_1