
Hanya diam dan saling pandang tanpa melakukan apapun. Dengan hentakan jendela kamar yang beberapa kali bergerak tertiup angin, membuat suasana kamar semakin mencekam. Rein yang perlahan menurunkan Bu Nina yang tengah menutup mata dan menutup telinga,hanya tersenyum melihat Bu Nina yang masih takut mendengar suara guntur dan jendela yang terus berdetak.
"Urh!" Lirih Nina,yang berjongkok dan belum berani membuka mata dan membuka telinga yang tertutup telapak tangannya.
Sambil berjalan ke arah jendela,Rein perlahan melihat beberapa sambaran petir yang terus menggelegar di beberapa wilayah yang dapat di lihat dari jendela kamar Bu Nina. "Cuaca ekstrem tiba-tiba terjadi, apa ada pertanda buruk? Firasat ku tak enak." Ucap Rein pelan sambil menutup Jendela dan menyibak tirai jendela.
Merasakan pakaian yang basah kuyup,Rein terus melihat Bu Nina yang tak kunjung berdiri dan masih berjongkok,seperti masih takut. Hanya menggerakkan tangannya mencoba untuk menyentuh pundak Bu Nina, Gerakan tangan Rein yang terlalu cepat. Langsung membuat Bu Nina menjerit,"Uwaa!."
Sontak jeritan Bu Nina juga membuat Rein terkejut,"Nina,tenanglah.." Ucap Rein mencoba untuk kembali membuat Bu Nina tenang.
Berinisiatif membuat gerakan lain,Rein mencoba untuk berjongkok dan mendekap tubuh Bu Nina dari belakang. "Tenanglah,ada aku disini." Desah Rein pelan di telinga Bu Nina yang masih tertutup telapak tangan.
Jlegar! Suara petir meledak di langit!
Sontak hal tersebut kembali membuat Bu Nina berteriak keras,"Rein.." Teriak Nina yang perlahan merasakan hangat tubuh Rein yang terus mendekapnya.
"Jangan khawatir,aku masih disini" ucap Rein lirih di telinga Bu Nina.
Beberapa menit setelah mencoba untuk menenangkan Bu Nina yang ternyata masih takut akan suara guntur dan petir,Rein terus mendengar suara detak jantung Bu Nina yang berdetak tak teratur. Sambil terus melihat pemandangan lain dengan mata tembus tulangnya,Rein melihat beberapa sambaran petir dari balik dinding kamar Bu Nina.
__ADS_1
"Hiks,Hiks.." Tangis Bu Nina mulai terdengar,yang perlahan membuat Rein heran.
Rein sendiri sudah memeriksa beberapa ruangan di rumah Bu Nina dengan pandangan mata tembus tulangnya, Rein hanya mencoba mencari Adik Bu Nina yang ternyata belum pulang sampai sekarang. "Nina, Kau sudah cukup tenang?" tanya Rein yang perlahan melihat Bu Nina melepaskan telapak tangan dari telinganya dan sedikit membuat anggukan pelan.
Masih meneteskan air mata yang bercampur dengan wajah yang basah,Terlihat Bu Nina belum ingin mau berdiri. Dia kembali meraih tangan Rein yang hendak lepas dari mendekap tubuhnya. "Rein,dekap aku terus" Pinta Bu Nina merasakan tenang saat Rein tetap mendekap tubuhnya.
"Baiklah," Lirih Rein kembali mendekap tubuh Bu Nina dari belakang.
Dan di sisi lain..
Sosok Rina yang hendak pulang ke rumah setelah melaporkan beberapa hal mengenai perpindahan kerjanya,saat ini sedang kesulitan karena mobilnya tergelincir di sebuah jalan di hutan. Jarak Rumah sakit Ol Hospitals dan Rumahnya sendiri cukup jauh. Yang dimana Rina sendiri memutuskan untuk melewati jalan memutar karena kemacetan di wilayah kota," Uh! Kenapa tiba-tiba mogok!" Keluh Nina yang mencoba untuk memeriksa keadaan mobil yang dinaikinya.
Mendengar suara gelegar guntur dan petir yang terus menderu dan menyambar,tak membuat Rina Rurina takut. Berbeda dengan kakaknya,Rina seperti sudah terbiasa dengan hal tersebut. "Tumben hujan deras,padahal tadi siang cerah?." Gumam Rina yang masih berada di dalam mobil sambil memeriksa beberapa perlengkapan di dasbor. Hanya menemukan payung lipat, Sebelum keluar dari mobil. Rina sendiri mencoba untuk menghubungi kakaknya. "Uh,sinyal hilang lagi?."
Meletakkan hpnya di kursi depan,Rina memberanikan diri. Sambil melihat wilayah jalan hutan yang gelap gulita dan hanya berteman lampu mobil yang menyala terang. Rina mendengar kembali suara sambaran petir yang menyambar sebuah pohon di dekat jalan dimana mobilnya terparkir. Melihat dengan tatapan kelam,dengan mata terbelalak sambil menengadah tangannya. Rina berteriak keras melihat sebuah pohon terbakar dan langsung tumbang menimpa mobilnya. "Tidak...!!."
***
Di Rumah Bu Nina, dimana beberapa kali suara dering Hp Nina berbunyi bersamaan dengan waktu saat Rina hendak keluar dari mobil. Saat ini Terlihat Rein dan Bu Nina yang sedang berbaring di ranjang. Hanya sekilas mendengar suara telepon. Bu Nina yang saat ini sedang berada di bawah tubuh Rein, Sambil terus memegang wajah Rein dan terus meneteskan air liur di lidah masing-masing. Rein yang hendak menyudahi permainan mereka, kembali di tarik lagi tubuhnya.
__ADS_1
"Rein..akhirnya,aku melakukan ini juga" Lirih Bu Nina yang merasakan sensasi dimana Rein terus menggenjot dirinya.
"Terimakasih,sudah tak lagi memanggilku Bu Nina,sayang."
Rein yang juga terus merasakan sensasi tersendiri,saat ini terus melakukan beberapa gerakan Menaikturunkan tubuhnya. "Aku meledak!" Teriak Rein yang menekan bagian tubuh bawahnya.
"Jangan keluar kan di dalam!, Iyaaaah!!" Hentak Nina merasakan sensasi.
Sampai beberapa jam berlalu,Rein membaringkan tubuhnya sambil terus melihat wajah Nina yang terus tersenyum sambil memegang wajahnya. "Nina, Bisakah kamu merahasiakan ini?." Ucap Rein lirih.
"Um,aku tahu. Bagaimana pun,kamu sudah menikah dengan seorang putri cucu mafia kejam,CEO tua. Aku tahu,hubungan ini pasti akan menghambat mu. Tapi,Rein maukah kamu menerima cinta ini?" Tanya Nina yang sedikit ragu karena hubungan mereka yang berstatus Dosen dengan mahasiswanya.
"Lagi pula,aku memang sudah menjadi milik mu seutuhnya. Hanya dengan tubuh ini sekalipun,aku tetap tidak bisa membayar apa yang telah kamu lakukan padaku. Rein aku sayang kamu." Sambil meraih kembali wajah Rein,Nina kembali membuat kecupan hangat permainan lidah mereka.
Melihat Rein yang sudah tertidur pulas karena kelelahan setelah kembali bermain. Bu Nina tersenyum melihat Rein yang begitu kuat memberikan kebahagiaan padanya. Hanya ingin memeriksa keadaan adiknya yang belum pulang,Nina melihat sebuah notifikasi panggilan dan share lokasi di whatsapp nya. " Uh, kenapa aku tak mendengar Rina memanggil?" Sambil memeriksa Tempat di aplikasi Google map, dimana Rina sudah membagikan lokasi terakhir. Mata Nina kembali tercengang melihat titik dimana Rina berada.
"Ini kan!, Di jalan hutan? Kenapa dia melewati jalan ini?" sambil melihat jam digital di hpnya yang menunjukkan pukul 01:10. Nina langsung bergegas membangunkan Rein yang masih terlelap dalam tidurnya.
Sampai beberapa menit kemudian,melihat Hujan yang sudah reda di tengah malam. Rein yang berpakaian jaket hangat milk Nina,langsung mencoba untuk membantu Nina mencari keberadaan adiknya. Sambil menggendong tubuh Nina di depan,terlihat Wajah Rein yang serius.
__ADS_1
"Apakah dia mengalami kecelakaan?, Panggilan teleponnya dari pukul 22:00. Rein..Tolong adikku" Pinta Nina cemas sambil merangkul leher Rein dan memejamkan mata.
Hup! Melompat beberapa kali, Rein terus melihat Lokasi dimana terakhir Rina berada. "Adikmu terlalu Nekad,sudah tahu sedang ada badai,kenapa dia tidak memilih untuk tinggal di tempat kerjanya." Ucap Rein yang kemudian turun dan melihat sebuah pohon tumbang di atas sebuah mobil dengan banyak pecahan kaca dan beberapa bagian yang penyok.