
Mansion Roxy, di wilayah Amber timur, provinsi East Blue. Seseorang tengah sekarat, seperti ingin menerima ajalnya.
"Uah!, Sakit!!!"
"Dadaku sakit!!!"
Teriak seseorang yang masih dalam keadaan setengah sadar, mencoba untuk bertahan hidup. Adam Roxy, pemuda yang menderita sakit jantung bawaan. Berumur 21 tahun, sedang menghadapi masa kadaluwarsa hidupnya. Berstatus lajang, hidup tak mau matipun tak mau. Kepalanya yang gundul, dengan tubuh kurus. Hanya memakai piyama bergambar anak bebek. Berbaring di tempat tidur, sambil terus memakai alat bantu pernapasan.
Ada sekitar 10 orang pelayan wanita dan 5 pelayan pria berjaga di luar kamar besar. Dan seorang perawat wanita sedang mencoba untuk membantu Menangani adam. Sambil berharap cemas memikirkan anaknya, dua orang tua terduduk sambil menangis pilu melihat anaknya yang terus meronta. Ada banyak alat bantu perawatan di dalam kamar adam.
Di luar koridor mansion Roxy.
Jonathan Dan Rein berjalan cepat menuju kamar Adam. Mengenal beberapa orang di dalam koridor, Jonathan Langsung disambut dengan senang hati oleh beberapa orang pelayan.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Jonathan yang dipersilahkan masuk ke dalam kamar Adam.
"Mas, maaf anda tidak boleh masuk" ucap seorang pelayan pria.
"Iya, aku paham kok. Lagian sebentar lagi aku juga masuk. Terimakasih pak, tidak menghinaku." Ucap Rein yang kemudian bersandar di tembok. Tentunya Rein tahu harus berperilaku baik dalam hal ini dan tidak ingin bertingkah congkak. Membuat sebuah pandangan mata menuju ke dalam Kamar Adam. Rein tahu pasti apa yang sedang dilakukan.
Dia melihat Jonathan yang sedang memeriksa Adam, dan Rein melihat seorang perawat yang sangat dia kenal. "Eh!, Itukan Rina??, Dia sudah sembuh??" tanya Rein dalam hati yang terus memperhatikan Rina yang cakap membantu Jonathan menangani Adam.
Sampai beberapa jam berlalu, Rein kembali melihat Jonathan tersenyum. Tapi dibalik senyumannya, ada sesuatu yang diharapkan pada Rein. Jonathan sendiri sampai saat ini hanya mencoba untuk meredakan rasa sakit di tubuh Adam dengan beberapa pemeriksaan dan penanganan. Setelah berbicara dengan kedua orang tua Adam, Saat ini Jonathan langsung menyuruh Rein untuk masuk.
__ADS_1
"Rein, ikut aku" pinta Jonathan yang langsung menemui Rein tanpa perantara siapapun. Dan Bagaimana pun, Karena Jonathan memang membutuhkan bantuan Rein.
Rein sendiri sudah paham dengan maksud Jonathan membawanya. Masuk ke dalam kamar Adam, Rein melihat dua orang tua yang terus menatap dirinya. Dimana mereka berdua sudah tahu tentang Rein dari cerita Jonathan. Hanya saling lihat, Rina yang tahu tentang kemampuan Rein juga terdiam dan tak ingin menghentikan apa yang akan Rein lakukan.
"Pak Roxy, Bu Mega. Dia pemuda yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Namanya Rein Rumble, walaupun dia bukan seorang dokter. Tapi dia memiliki sebuah bakat, dua pasien ku juga menghadapi masalah kritis sampai akhirnya Rein datang dan menyembuhkan mereka." Jelas Jonathan sambil memperkenalkan Rein pada dua orang tua yang sedang duduk sambil terus menangis.
"Nak, Rein. Kami berdua mempercayai mu. Tenang saja, kami berdua sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Seperti yang dikatakan Dokter Heart, kamu satu-satunya harapan kami." Ucap Roxy yang kemudian berdiri dan memegang tangan Rein mencoba untuk memohon.
Rein tentunya sedikit bingung dengan penerimaan Pak Roxy dan Bu Mega. "Fuh, tidak ada drama." Gumam Rein dalam hati yang biasanya harus mengalami penghinaan di masa lalu. Bahkan ketika dirinya hendak membantu seseorang.
Membalas perasaan Pak Roxy dengan sebuah senyuman, Rein yakin bahwa dia bisa membantu anak mereka. "Baiklah, aku tak akan pamrih. Bagaimana pun, Kalian berdua hebat bisa membesarkan dan terus merawat anak kalian. Aku salut." Ucap Rein yang saat ini kembali di genggam tangannya oleh Bu Mega.
"Nak Rein, Kami tidak akan menjanjikan apapun. Tapi jika suatu saat kamu perlu bantuan di masa depan, kami sekeluarga akan dengan tulus membantu mu. Tolong selamatkan Anak kami" Ucap Bu Mega memohon.
Semua orang yang didalam saling Pandang satu sama lain, sampai Jonathan membuat anggukan. "Baiklah, kita keluar dan biarkan Rein membantu Adam. Karena bagaimana pun, aku juga hanya bisa membuat Adam tenang dan tak bisa menyembuhkannya." Ujar Jonathan kembali berisik pada Rein. "Tolong ya."
"Emh.." ucap Rein yang melihat semua orang sudah keluar dan melihat pintu kamar tertutup rapat. Melihat wajah Adam yang pucat seperti jarang mandi, membuat Rein menggeleng kepala. Sambil kembali membuat pesan pada authornya, Rein saat ini ingin kembali meminta saran. Dan Bagaimana pun, Apa yang dilakukan Rein sebelumnya, adalah sebuah ketidaksengajaan.
Ping!
[Tak perlu Ragu, Kemampuan Tinju satu inch mu itu memang bisa digunakan untuk mengobati ataupun menyakiti seseorang. Kamu hanya tinggal yakin pada apa yang akan terjadi.] Balas Author yang sedang bersemangat untuk membuat lanjutkan kisah Rein.
Ping!
__ADS_1
[Baiklah thor, Aku percaya padamu. Kali ini kisahku bisa mulus juga berkat bantuan mu] Balas Rein melihat kepalan tangannya dan membuat jari tengahnya sedikit mencuat.
Melihat bagian tubuh dan organ Adam, dimana Rein melihat detak jantung lemas. Dengan beberapa aliran darah yang tersumbat. Rein kembali mencoba untuk memeriksa kemungkinan lain yang menyebabkan detak jantung Adam lemah. "Kurus banget, gundul lagi" gumam Rein bukan bermaksud menghina.
Sambil bersiap, Rein berdiri di atas kasur di mana Adam tertidur. "Adam tiga titik aliran darah yang tersumbat, Dada kanan, perut dan Dada kirinya. Ini bukan penyakit jantung turunan, karena bagaimana pun aku melihat pak Roxy tidak memiliki penyakit dalam. Ini hanya sakit ketakutan, mungkin dia juga mengalami masalah percintaan yang menyebabkan dia jatuh sakit." Ucap Rein membuat analisa.
Dan dalam sekejap Rein membuat sebuah pukulan tinju 1/3 inch modifikasi, "1/3 puch!" Teriak Rein memukul perut Adam.
Bugh!
"Argh!" teriak Adam menjerit keras, membuat matanya langsung terbuka dan terbelalak lebar.
Tanpa membuat pukulan Bersambung, Rein dengan cepat langsung kembali memukul bagian dada kana dan kiri Adam. Sontak hal tersebut langsung membuat Adam terperanjat seperti terkena sengatan listrik.
"Uaragh!" Jerit Adam tampak samar melihat seseorang berdiri di atas perutnya. Hanya beberapa detik merasakan, Adam seperti ingin muntah.
"Hoeek!" mengalir banyak darah hitam dari mulutnya, Adam langsung kembali pingsan.
Hup! melompat ke bawah kasur, Rein saat ini tersenyum. "Istirahat lah, kamu sudah sembuh" ucap Rein yang kemudian membuka pintu kamar Adam dan melihat semua orang Ingin tahu kenapa Adam berteriak keras.
Sambil mencoba untuk bertanya, Jonathan langsung melihat Rein berjalan keluar. "Rein, Bagaimana hasilnya?" cemas Jonathan.
"Tunggu saja delapan jam, Mungkin besok pagi dia sudah bisa bangun. Papa periksa saja, aku mau beristirahat sebentar." ucap Rein yang kemudian menemui Bu Mega dan pak Roxy.
__ADS_1
"Tak apa, Dia akan sembuh. Kalau boleh, apa bisa aku makan?" tanya Rein tersenyum.