
Pagi hari sekitar pukul 06:00
Sambil terus berpikir sendiri dan tak ada yang menemani, Rein yang sudah menangkap arah pembicaraan dirinya dengan Arumi. Saat ini Dia tahu bahwa dirinya harus bisa mengusahakan keturunan yang akan dibuatnya adalah seorang lelaki.
Dan berpikir jika kalau dia gagal, kemungkinan besar dia juga akan bernasib sama seperti papa mertuanya. Menjadi seorang prajurit khusus dan tetap terikat dengan keluarga Basura. "Kakek Orgami masih menyembunyikan beberapa hal padaku. Argh, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?. Pasti Nina marah besar, bahkan aku pasti akan di cap jelek oleh Anita. Padahal aku ingin diam-diam melakukan ini, karena khawatir terjadi sesuatu padaku. Aku sendiri sekarang??" Lirih Rein melihat jendela dan mendengar suara pintu kamar rawatnya di buka oleh seseorang.
Berjalan pelan ke arah Rein, terlihat Rina mengkerut wajahnya sambil meletakkan nampan obat di meja. Dan semangkuk bubur yang disajikan untuk sarapan pagi Rein. Bekerja profesional, Rina terlihat tak membicarakan apapun tentang kejadian semalam. Sambil menyuapi Rein, terlihat Rina terus menatap tajam.
Suasana canggung terlihat jelas, dan Rein sendiri juga tetap diam sampai dia meminum obat yang sudah disediakan. "Hari ini dokter Jonathan akan kembali memeriksa mu." ucap Rina memberitahu.
"Rina..." panggil Rein pelan.
Berdiri dan berjalan seolah-olah tak mendengar namanya di panggil, terlihat wajah Rina yang cukup kesal. Hendak keluar dari kamar rawat, Rina berhenti sesaat dan langsung menutup kunci rapat-rapat.
Berjalan pelan ke arah Rein dengan sebuah genggaman tangan. Rina berhenti sejenak sambil menggetarkan bibirnya. "Dasar pria bejat!"
Plak!
Tamparan keras memekik ruangan, dimana tamparan Rina langsung mendarat di pipi Rein. "Kau sudah membuat kakak ku bersedih, Kau hanya pria yang memanfaatkan dirinya. Kamu pasti akan meninggalkan Nina setelah puas memakainya." Tutur Rina meneteskan air mata.
Rein hanya diam sambil merasakan sakit tamparan Rina. Tak memegang pipinya, tangan Rein tetap berada di pangkuannya.
"Jawab aku!" teriak Rina yang melihat Rein hanya diam membisu.
Tok!
Sebuah suara pintu kamar rawat Rein di ketuk seseorang. Dimana terlihat dari sisi luar, sosok Khalisa datang sendiri dengan membawa kotak makanan. "Aku harus berterimakasih padanya" lirih Khalisa yang menyempatkan datang di pagi hari.
Belum melihat pintu kamar dibuka, Khalisa yang hendak mengetuk pintu kembali melihat seseorang juga datang ke arahnya. Sosok Nina dengan pakaian elegan datang untuk menjenguk Rein setelah menangis semalaman.
Saling lihat, Khalisa tersenyum ke arah Nina.
__ADS_1
Sama seperti halnya Khalisa, Nina sendiri juga membawa sebuah jinjingan makanan. Dan saling membuat tatapan mata sembari tersenyum.
"Kau datang untuk menjenguk Rein?" tanya Nina Ramah.
"Iya, Aku mau berterimakasih Pada Rein. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah tak lagi perawan. Lagipula ini semua salah ku" Ucap Khalisa yang masih berada di depan pintu, melihat pintu kamar rawat dibuka dan menatap Rina yang keluar.
"Kak?" ucap Rina lirih melihat Nina.
"Maaf suster, Apa aku boleh masuk?" tanya Khalisa yang mundur ke belakang, melihat Rina membuat anggukan pelan.
"Boleh, masuklah" Ucap Rina yang langsung menghentikan Nina. "Kak.."
Melihat sekilas, Khalisa yang hendak masuk mendengar suara tangisan Rina. "Maaf terimakasih" ucap Khalisa yang langsung masuk dan tidak ingin tahu apa yang ingin mereka bicarakan.
Berjalan pelan ke arah Rein, Khalisa sendiri membuat senyum ramah. " Selamat pagi" sapa Khalisa yang memperhatikan Rein yang sedang mengetik sebuah pesan.
Menghentikan ketikannya, Rein yang murung kemudian tersenyum dan membalas sapaan Khalisa." Pagi, Kamu?" Balas Rein yang melihat Khalisa masih berdiri.
"Kau tak apa-apa kan?, apa ada yang terluka?" tanya Rein yang kembali terdiam. "Namaku Rein Rumble, Maaf aku juga lupa belum memperkenalkan diri."
"Um, tak apa. Waktu itu aku juga belum berterimakasih padamu, yang sudah menolong ku dari gangguan Braum." Tutur Khalisa yang mengingat beberapa kejadian.
"Tak apa, Tapi Kenapa Braum sampai mengganggu mu?" tanya Rein yang mempersilahkan Khalisa untuk duduk.
***
Mendengar cerita Khalisa. Rein tahu maksud kedatangan Khalisa yang datang untuk menjenguknya sekaligus berterimakasih. Tampak raut wajah Rein penuh Amarah mendengar cerita Khalisa. "Ternyata selain Aku, Dia juga mengganggu kamu. Cih, Kalau saja aku berhati-hati. Pasti dia sudah babak belur kemarini malam." Keluh Rein melihat Khalisa yang membuka kotak makanan.
"Tapi karena aku, kamu jadi celaka, aku yang sudah membuat mu seperti ini. Aku hanya bisa membuat makanan ini untuk berterima kasih." Pelan Khalisa yang menyiapkan makanan.
"Tak apa selama kamu baik-baik saja... Tapi aku sudah makan, lagipula kayaknya dokter melarang ku makan daging untuk sementara" Ucap Rein melihat wajah Khalisa yang kecewa.
__ADS_1
"Em, tapi kayaknya kalau diem dan tidak memberitahu. Aku juga masih lapar"
Tapi sesaat kemudian, Nina yang sudah berbicara dengan Rina. Langsung membuka pintu dan masuk "Rein.." ucap Nina yang melihat Khalisa sedang menyuapi Rein.
"Aaaa... Nina!!" Rein terkejut dan langsung melahap satu sendok suapan makanan yang diberikan Khalisa.
Terlihat cemburu, Nina yang datang setelah membuat keputusan dan juga sudah berbicara kembali tentang keinginannya pada Rina. Langsung membuka ranjang makanan yang dibawa.
Tak menanyakan apapun, saat ini Nina merasa seperti tersaingi dan menatap tajam ke arah Khalisa. "Rein, Makan sarapan yang aku bawa untuk mu." Ucap Nina salah sangka. Dimana Nina langsung memasukkan satu sendok makanan yang dibawa ke dalam mulut Rein.
Sampai beberapa menit kemudian.
Nina sendiri sudah mendengar penjelasan Khalisa, bahwa dia datang hanya untuk berterimakasih dan tidak ingin mengganggu hubungan mereka.
"Haha, Jadi seperti itu. Oh ya, ternyata kamu juga Kuliah di San Diego" Ucap Nina terkekeh.
"Em, Kalau begitu aku permisi. Rein cepat sembuh ya" senyum Khalisa ringan sembari melihat ke arah Nina.
Pergi sendiri, Khalisa kembali memikirkan sesuatu, terlihat dia sedikit terkekeh kecil melihat dan mengetahui ada hubungan antara Mahasiswa dan dosen. "Hihihi, Sepertinya Rein lebih menyukai Wanita yang sudah matang." Lirih Khalisa yang melihat Anita datang dari koridor rumah sakit.
"Pagi" sapa Khalisa melihat Anita dengan seragam polisi sedang menenteng makanan.
"Pagi, Khalisa. Kamu datang untuk berterimakasih pada Rein?" tanya Anita.
"Ya, Bu polisi juga mau jenguk Rein?" tanya Khalisa melihat Anita yang perhatian.
"Em, Sudah ku putuskan. Aku akan ikut bersaing, Bagaimana pun Rein juga sudah sering membantu ku. Dia sangat keren kemarin malam. Lagipula ada janji yang belum dia penuhi" Ucap Anita yang kembali berjalan ke arah Kamar rawat Rein.
Khalisa heran dengan tingkah Anita, dan kembali teringat kalau ada Nina yang masih di dalam kamar dan tidak memberitahu. " Eh!," Ucap Khalisa yang ingin tahu apa yang akan terjadi dan dia memutuskan untuk kembali ke kamar rawat Rein.
"Duh, aku lupa memberitahu Anita kalau ada Bu Nina di sana."
__ADS_1