
Sambil duduk di atas Kasur, Rein yang juga sudah mengenakan belum mengenakan pakaian. Saat ini sedikit merasakan sakit di bagian kepalanya. Dimana ada luka lebam hasil dari pukulan vas bunga yang di arahkan Anita.
"Apa yang kamu pikirkan sih?" Gumam Rein yang terus menerus mengusap kepalanya.
"Seharusnya aku yang bilang begitu!, Apa yang sudah kamu lakukan dengan ku!" bentak Anita ingin meminta penjelasan. Dan ingin kembali memukul Rein dengan tangannya.
"Kamu pasti sudah, melakukan sesuatu dengan tubuh ku!"
Merasakan rasa sakit yang perlahan sembuh, Rein merasakan hawa hangat di tangannya. Melihat cincin yang dipakai seperti mengeluarkan energi penyembuhan. "Rasa sakit ku sudah hilang?" lirih Rein yang langsung menangkap genggaman tangan Anita. Dimana Anita sendiri mencoba untuk memukul Rein.
"Jahat!, Kamu jahat!" Teriak Anita berpikir Rein sudah menggunakan tubuhnya.
Berdiri sambil merasakan refleksi cepat, Rein tak tahu ada yg sedikit perubahan dalam tubuhnya. Dan tanpa sadar, saat dirinya bangun. Handuk yang dikenakan olehnya langsung terlepas. "Tunggu Anita, aku akan jelaskan." ucap Rein kembali mendengar Anita berteriak keras, ketika matanya melihat benda tak bertulang Rein menggantung ke bawah.
"Uwaaa!!" Teriak Anita yang langsung mendorong Tubuh Rein dan berlari ke arah pintu masuk.
"Aku benci kamu Rein!!"
Krek! Suara pintu masuk terbuka, dimana Anita langsung di tarik kembali oleh Rein saat hendak keluar dari kamar hotel.
Beberapa menit kemudian.
Menjelaskan beberapa hal, Rein melihat Anita yang terus menundukkan kepala tak percaya dengan apa yang dikatakan Rein. Tentunya Rein sendiri sedang mengarang cerita, dimana Rein menceritakan bahwa Anita meminta bantuannya untuk menangani beberapa preman jalan. Dan menceritakan bahwa Anita di serang oleh seseorang menggunakan alat kejut yang membuatnya pingsan. Rein sendiri juga mengatakan bahwa dia tak tahu Rumah Anita. Sehingga Rein memutuskan untuk membawa Anita ke hotel. Dan Rein memang tak melakukan apapun selain melepaskan seragam polisi Anita. Walaupun sempat ada pikiran Rein yang sedikit tergoda melihat tubuh Anita. Rein sendiri tidur di lantai beralaskan handuk.
"Bohong, kamu pasti sudah menggenjot ku!" Keluh Anita menangis.
"Benar, kamu pasti merasakan sakit di bagian punggung mu, kan?" tanya Rein menjelaskan.
Merasakan sakit di punggung akibat sengatan listrik dari alat kejut, tampak Anita membuat anggukan. "Karena kamu mengatakan hal itu, aku jadi merasakan sakit. Tapi, kenapa kamu harus membuka seragam ku!" Bentak Anita masih tak percaya dengan penjelasan Rein.
"Lebih baik kamu mandi dulu, Bagaimana pun seragam mu kotor. Jadi aku mencucinya semalam" Ucap Rein menghela nafas. Sambil membuka jendela, tampak Rein cukup kesal dengan Mis lilith yang membuat Ingatan Anita menghilang. Dimana Mis lilith menyuruh Gee melakukan sesuatu dengan kemampuannya.
Menyalakan sebatang rokok, Rein kembali mendengar suara notifikasi dari sang author melalui pesan whatsapp.
Ping!
__ADS_1
[Rein, aku menemukan naskah lamaku] balas author yang kemudian menjelaskan beberapa hal dengan sebuah pesan chat panjang. Tidak bisa membuat panggilan Video call dan hanya bisa menggunakan panggilan suara. Tampak Rein memilih untuk meminta Author menjawab panggilannya. Tapi sang author menolak karena dia lebih suka mengetik.
Ping!
[Lain kali saja, aku akan jelaskan hasil penemuan ku] balas author mengetik pesan kembali.
Ping!
[Baik, aku mengerti. Bahkan kamu masih malu dengan ku. Katakan saja apa yang kamu temukan] balas Rein yang tahu bahwa authornya memiliki sifat pemalu.
Ping!
[Dari 303 Plagiator yang sudah berwujud sempurna, setelah dia berhasil memakan sepuluh jantung manusia. Plagiator tersebut akan memiliki sebuah item khusus, dan jika Plagiator sudah menyerap item tersebut. Mereka akan memiliki banyak kemampuan, dari penyembuhan, Regenerasi, menghilang dengan kecepatan dan lain sebagainya. Tapi itu diperlukan waktu selama beberapa bulan. Yang aku lihat dari cincin itu, Item tersebut memiliki efek penyembuhan tahap satu. Seandainya kamu membiarkan dia pergi, mungkin kamu bisa memperoleh item penyembuhan yang cukup kuat. Tapi itu juga berisiko, Bagaimana pun Plagiator juga akan semakin kuat.] balas author menjelaskan beberapa hal lainnya.
Ping!
[Gila sih, Level itu sangat sulit. Kau menciptakan mahluk brutal yang melebihi kemampuanku] keluh Rein kesal.
Ping!
Ping!
[Lagian, dikira tidak capek apa!, mencari Nafkah lama. Sudah pokoknya aku akan bantu kamu sebisa ku] tambah Author yang memperlihatkan sebuah screenshot gambar. Dimana Novel Rein mendapatkan Star Rising berbakat. Dengan hadiah yang cukup lumayan menarik.
Ping!
[Aih, kamu ini. Baiklah, setelah ini selesai. Kamu harus mengembalikan kisah romantis ku kembali.] Balas Rein menutup pesan whatsapp, sambil menggeleng kepala melihat cover bukunya yang tampan.
"Haish, Para author memang sialan. Kami para pemeran utama selalu menghadapi kesulitan. Mereka dengan santainya hanya memikirkan keuntungan. Nasib.." Lirih Rein yang melihat Anita sudah keluar dari kamar mandi.
Menyimpan kembali smartphonenya, saat ini Rein ingin mencoba sesuatu. Menghampiri Anita yang sudah mengecek bagian keperawanannya. Rein menatap Anita yang memerah wajahnya.
"Bagaimana? tak ada rasa sakit kan?, Aku benar tidak melakukan apapun dengan tubuh mu. Lagi pula, Kamu juga membenci ku" ucap Rein lirih.
__ADS_1
Merasakan tak ada rasa sakit di bagian keperawanannya, Anita bernafas lega. Tapi Anita merasakan sakit di bagian punggungnya yang terkena sengatan listrik dari alat kejut. "Aku percaya, tapi bagaimana pun kamu sudah melihat tubuh ku." Ucap Anita pelan.
"Uh, Kau juga sudah melihat ku tadi, bukankah kita impas" ucap Rein terkekeh. Dan langsung menerima beberapa pukulan di dadanya.
Pukul! Pukul!
Dimana Anita langsung membuat beberapa pukulan di dada Rein. "Jangan ungkit!, kamu pasti tadi sengaja melepaskan handuk!" ucap Anita yang langsung di peluk Rein.
"Sudah, Kita lupakan saja yang tadi. Lebih baik kita kembali" ucap Rein yang ingin mencoba melakukan sesuatu dengan cincin di jarinya. Dimana dia langsung membuat beberapa usapan di punggung Anita.
Beberapa menit kemudian.
Keluar dari hotel, terlihat Anita merasakan tubuhnya terasa ringan. Tak tahu apa yang terjadi, Anita langsung naik ke atas motor Rein.
"Aneh, kenapa rasa sakit di punggung ku hilang?" tanya Anita.
Menyalakan mesin motornya, Rein terkekeh sambil merasakan Anita yang memegang pundaknya. "Ayo, aku antar kamu pulang" ucap Rein tersenyum dan sembari melihat cincin yang dikenakannya
"Jika ini adalah item khusus, Bukankah akan lebih menarik jika aku bisa melenyapkan semua Plagiator?, Hanya saja dua Plagiator sebelumnya tak menghasilkan item apapun." Lirih Rein mengingat supir taksi dan seorang polisi yang berubah menjadi Plagiator. "Tapi, Kalau membiarkan mereka sempurna, itu akan membuat ku kerepotan nanti. Bahkan Nante saja sudah cukup kuat. Terlebih Kabuto yang pernah aku hadapi bersama papa dan mama mertua."
"Dan yang aku ingat, Dia memiliki wajah Perwira Polisi."
Melesatkan motor ke sebuah jalan menuju rumah Anita. Rein sendiri terus mengingat jalur tersebut, dimana dia dan Anita berhenti tepat di gerbang Rumah Anita.
Turun dari motor, tampak Anita membuat panggilan ke kantor polisi. "Ya, hari ini aku mau Ambil cuti" ucap Anita mengakhiri panggilan. Sembari memperhatikan Rein yang masih belum pergi.
"Rein, tunggu. Kamu jangan pergi dulu" Ucap Anita yang juga melihat Rein sedang membaca pesan dari seseorang.
Dimana Rein mendapatkan pesan dari Nina yang berangkat bersama Arumi. "Oh syukur lah, Mereka bisa akrab. Rupanya pilihan ku tepat, Nina adalah sosok wanita keibuan yang aku dambakan." Ucap Rein dalam hati.
"Rein, kamu mau mampir?" tanya Anita melihat Rein sedang melamun.
"Hari ini, aku masih ada kuliah. Lain kali saja." Ucap Rein yang melambaikan tangan dan langsung memacu motornya kembali.
"Yah, dia pergi..Oh ya, Aku masih ingat janji Rein belum di penuhi. Baiklah, mungkin lain kali saja" Pikir Anita yang tidak sepenuhnya kehilangan ingatan. "Rasanya aku capek banget."
__ADS_1