
Rein sendiri tampak senang mengetahui papa mertuanya menyukai dirinya. Walaupun hanya sesaat, Rein kembali diam dan ingin menanyakan perihal kedatangan Randall ke Moon House. "Ku kira papa akan datang bersama Mama Mertua, Jadi Papa hanya ingin menemui ku?." Tanya Rein bersikap biasa.
Sambil menyesap teh buatan Griss, Randall terus memperhatikan Seseorang yang sedang menaruh cangkir lainnya ke arah Rein. Melihat Fara yang sudah mengenakan pakaian pelayan, tampak terlihat mata Randall terus beralih pandang beberapa kali. Ketika dia melihat Rein yang tampak begitu akrab dengan satu orang pelayan wanitanya.
"Rein, Papa ingin bicara beberapa hal dengan mu, tapi tidak disini. Untuk waktu dan tempat, nanti papa chat kamu" Ucap Randall yang tentunya tahu beberapa hal di dalam Moon House, yang dimana Randall sendiri tahu kelakuan papa mertuanya yaitu kakek Orgami Basura. Tak ingin menaruh curiga apapun, dengan sikap wajar seorang mertua pria dengan menantu lelakinya. Randall memberikan Rein sebuah catatan kecil, yang diberikan langsung bersamaan dengan kunci kontak motor yang dibawanya.
"Kebetulan papa hanya ingin mengetahui perkembangan mu dengan Arumi. Pasti kamu cukup kesulitan,bukan?" tanya Randall yang melihat Rein menyimpan catatan yang diberikan.
Dimana Rein tertegun ketika Randall membicarakan Arumi,, sambil melihat dan memandang beberapa kali wajah Randall. Tampak Rein mengerti dengan apa yang Papa mertuanya katakan. "Tidak juga, mungkin aku akan terbiasa." Balas Rein yang kemudian sambil mematikan rokoknya.
"Kau sungguh pria yang baik Rein, Baiklah papa tak akan membahas pernikahan kalian, hanya saja hal tersebut jangan sampai menghambat mu." Sambil kembali menyesap tehnya, Randall hanya ingin melihat-lihat Moon house.
Melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 16:20. Randall kemudian berdiri dan tersenyum pada Griss dan Fara yang masih berada di tempat tersebut. Tentunya mereka berdua tahu tugasnya, Sambil berjalan mengikuti Rein dan Randall pergi ke halaman depan. Dimana sebuah motor Nobcar merah berdiri dengan gagahnya. Rein tertegun dengan mata yang terbelalak. Melihat sebuah motor baru dengan warna merah dan sebuah helm full face tergeletak di jok motornya.
"Bagaimana kalau kamu coba?, Sekalian papa juga mau pulang?" ucap Randall yang beberapa kali melemparkan kunci mobilnya dan bersiap untuk pergi.
"Baiklah, aku akan coba sore ini juga" ucap Rein melihat ke arah Fara dan Griss sambil mengatakan beberapa hal.
__ADS_1
"Malam ini mungkin aku akan pulang terlambat, Kalau Arumi menanyakan kemana diriku. Katakan saja, aku sedang ada kuliah Sore." Jelas Rein yang tahu bahwa mana mungkin Arumi akan menanyakan dirinya.
"Baik tuan Rein" Ucap Fara dan Griss bersamaan, dan mereka juga tahu harus bersikap.
***
Di perjalanan ke sebuah tempat, dimana Randall berpisah dengan Rein yang pergi ke arah belokan menuju ke arah lain. "Pa, sudah ya. Hati-hati dijalan" ucap Rein mengangguk kan kepala,berpisah.
"Oke Rein, kau juga hati-hati" Balas Randall yang menutup jendela mobil dan melihat Rein yang langsung menambah kecepatan.
"Jadi ingat masa muda."
Mengendarai motor dengan jaket merah, seirama dengan warna motornya. Rein berhenti sesaat ketika melihat beberapa mobil ambulan datang dari arah belakang. Sebagai warga yang baik, tentunya Rein tahu mana yang harus di dahulukan. Walaupun jalan di sekitar hutan tampak sepi. Melihat dengan mata tembus tulang yang diperbesar beberapa kali lipat. Rein terus menatap dua orang yang merupakan petugas Rumah sakit.
Terus melihat arah ambulan yang seperti sedang menuju ke sebuah lokasi yang sama, Rein mencoba untuk mengikuti mobil ambulan tersebut. "Karena dampak Meteor tersebut, apakah ada orang yang terluka?."
"Ku pikir, Hujan Meteor yang kemarin tidak membuat heboh publik. Bahkan seperti tidak ada orang yang mengetahui bahwa ada hujan Meteor kemarin malam." Ucap Rein melajukan motornya kembali.
__ADS_1
Sampai di lokasi, Rein sendiri memilih untuk tidak terlalu dekat menyembunyikan motornya. Sambil bersiap untuk melompat ke arah sebuah pohon di hutan pinus. Mata Rein memandang dari ketinggian, dimana terdapat beberapa mobil kepolisian yang sedang menyelidiki kawah kecil bekas pecahan bola Meteor. "Mereka masih disini, Aku jadi tidak bisa mendekat." Pikir Rein yang melihat dengan mata tembus pandang yang di perbesar.
Yang dimana matanya bisa melihat lebih dekat beberapa orang yang sedang berbincang mengenai hal yang ditemukan mereka. Sekilas Rein melihat seseorang yang sedang membawa sebuah plastik bening dengan beberapa cangkang telur aneh yang sudah pecah dan memiliki warna putih seperti telur pada umumnya.
"Cangkang telur apa itu?" tanya Rein penasaran, dan mencoba untuk melihat dari dekat lokasi kawah Meteor tersebut.
Menyelinap dan tetap bersembunyi, Rein mendengar suara pembicaraan seseorang yang sudah meneliti bola Meteor dan beberapa cangkang telur yang ditemukan. "Ini bukan telur unggas, tapi jika di lihat kembali pecahan cangkang ini menyerupai telur Semut." Berkata seorang peneliti yang datang bersama pihak kepolisian. "Lebih baik aku periksa ini di laboratorium. Untuk hasilnya, belum bisa dipastikan. Apakah bola itu adalah sarang semut atau sejenis sarang serangga dari luar angkasa."
"Baiklah, kami paham. Mohon bantuannya." Ucap Seorang polisi yang mengawasi tempat kejadian. Dimana sebuah kawah terbentuk seperti besar lapangan basket yang membentuk sebuah lingkaran tak berbentuk.
Sambil melihat beberapa kasus yang terjadi secara bersamaan, seorang polisi sedang menerima panggilan seseorang. "Ya, untuk kasus pembunuh supir taksi, Kita juga akan menyelidikinya. Bagaimana pun, kematiannya tidak wajar." Ucap seorang polisi menutup panggilan.
"Entah apa yang terjadi kemarin malam, bahkan pihak pemerintah juga belum mengkonfirmasi adanya hujan Meteor. Sungguh aneh, Meteor tersebut seperti bukan dari dunia ini. Tapi kita melihat pecahannya, terasa aneh. Bahkan orang yang tinggal di sekeliling area ini tak merasakan dampaknya. Untunglah tidak ada orang yang mati karena ini." Sambil meminta pada beberapa bawahannya untuk tetap berjaga-jaga, seorang perwira polisi masuk kembali ke dalam mobilnya.
Dan Rein sendiri sambil menunggu malam datang, saat ini dia mencoba untuk mendekat ke arah dimana perwira polisi tersebut sedang beristirahat. "Gawat, aku bakal jadi tersangka kalau begini. Bahkan jika aku jelaskan mereka juga tak akan percaya." Gerutu Rein dalam sekejap mengambil beberapa dokumen di dalam mobil perwira polisi. Memeriksa beberapa laporan, Rein menemukan dokumen kasus pembunuhan terdapat supir taksi.
"Kalau seperti ini, Lama-lama juga kami akan di ditemukan. Bagaimana pun, Baik aku, Nina dan Rina ada di dalam mobil taksi tersebut." Melihat beberapa dokumen lain, Rein yang saat ini sedang berjongkok di dekat mobil perwira polisi langsung terkejut ketika tangan seseorang memukul pundaknya.
__ADS_1
"Hey, anak muda. Kamu lagi ngapain?" tanya seorang bawahan perwira polisi yang tak dirasakan Rein detak jantungnya.