Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 80. Pengalaman Mandiri Rein.


__ADS_3

Untunglah Rein memiliki beberapa bakat dalam memasak dari pengalaman hidup mandirinya dimasa lalu. Melihat Ghazi yang sudah cukup kelelahan, Tampak Rein meminta Ghazi untuk beristirahat dan membiarkan dirinya untuk mencoba.


"Jangan Rein, Ini diluar kemampuan mu. Bagaimana pun, Nak Rein adalah tamu" ucap Ghazi berkeringat.


"Paman jangan khawatir, Aku akan tunjukkan kemampuan ku selama 15 tahun menjadi Manusia yang hidup mandiri" tukas Rein tersenyum memperlihatkan giginya yang putih. Dengan membuat sebuah gerakan tangan, Rein yang sudah terbiasa dengan perkakas memasak. Saat ini Dia langsung mencoba untuk melakukan sesuatu. "Kalau tidak salah, aku pernah menanyakan bumbu pewangi pada chief Restoran dimana aku pernah magang."


"Hem, aku coba ingat-ingat" Berpikir keras terlihat Rein percaya dengan apa yang akan dilakukan. Mendengar suara gaduh Khalisa yang tampak panik, Rein langsung meraih beberapa bumbu.


"Papa..!"


Datang dengan cemas, Khalisa yang berkeringat langsung kembali meminta beberapa porsi makanan untuk dihidangkan. "Papa, Tiga porsi Daging Rebus ekstra pedas. Hosh, Hosh.." Ucap Khalisa menahan nafas. Melihat papanya yang juga sudah tidak kuat lagi mengolah makanan.


"Yosh!, Semua sudah siap!" Teriak Rein yang meraih kertas lembaran pesanan dari tangan Khalisa dan Melihat tante Kharina yang cukup kelelahan.


"..Empat porsi Daging rebus..Aku capek.." Ucap Kharina yang duduk berdekatan dengan Khalisa.


"Bagaimana ini, Mereka terus berteriak.." Ucap Khalisa yang bangkit perlahan dan mencoba untuk melakukan sesuatu.


"Khalisa cepat antar Tiga porsi daging Rebus ini" Ucap Rein membuat beberapa gerakan cepat ketika melihat daging rebus sudah siap di hidangkan.


"Um, Wangi.." ucap Khalisa menerima Tiga porsi daging rebus yang berbeda dari buatan papanya.


Sekitar pukul 20:01 malam.


Setelah beberapa jam, Rein terus membantu Kedai Kharina, tampak dirinya tak merasakan lelah sama sekali. "Paman, Ini satu porsi daging rebus super" ucap Rein yang meletakkan semangkuk daging rebus ke nampan yang tergeletak.


"Rein, Paman tak sangka kamu bisa memasak" Tutur Ghazi yang merasa terbantu.


"Paman tenang saja" ucap Rein yang sudah tak lagi bisa membuat apapun. Dimana beberapa bahan makanan sudah ludes terpakai.


Sekitar pukul 21:00 Malam.


Paman Ghazi bersama Kharina langsung meminta maaf pada beberapa pelanggan yang kecewa, karena tidak bisa makan di tempat tersebut.

__ADS_1


"Maaf, Maaf. Kami akan tutup" Ucap Ghazi dan Kharina yang kemudian langsung membereskan dan membersihkan kedai mereka.


Sambil duduk dan sedikit bersantai, Rein yang sudah cukup berkeringat. Saat ini dia sedang melepas lelah sembari menyalakan rokok. "Fueh, akhirnya selesai juga. Padahal aku masih sanggup, tapi sayang bahan makanan sudah ludes terpakai." Ucap Rein yang melihat Khalisa datang dengan secangkir kopi.


"Khalisa, temani Rein saja. Biar kami yang membereskan kedai" ucap Kharina menyuruh.


"Baru kali ini, ada banyak pelanggan. Padahal biasanya kedai ini sepi" keluh Ghazi yang cukup senang dengan hasil hari ini.


"Benar yang kamu katakan, sudah ayo kita cepat bereskan kedai" Berkata pelan Kharina yang melihat Rein dan Khalisa berbincang.


***


Pukul 21:45 Malam.


Rein dan keluarga Khalisa saat ini sedang duduk bersama di sebuah meja kecil yang masih terpampang di halaman kedai.


"Jadi kedai ini rumah Paman dan Tante?" tanya Rein yang melihat kedai tersebut memiliki dua tingkat.


"Ya, Nak Rein. Kami membeli Kedai ini beberapa minggu yang lalu. Dan Kami memutuskan untuk membuat usaha berupa kedai makanan. Ya seperti yang kamu lihat" Jelas Ghazi yang langsung meraih dompet dan memberikan Rein sejumlah uang hasil jerih payahnya.


"Duh, maaf ya Rein. Padahal aku mau menjamu mu, malah kamu yang membantu ku lagi" ucap Khalisa yang langsung mengelap pipi Rein dengan sapu tangan.


Mencoba untuk mencegah Khalisa, Rein sendiri terdiam merasakan elusan lembut sapu tangan Khalisa. "Khalisa, sudah" ucap Rein meminta Khalisa menghentikan usapanya.


Hanya melihat apa yang sedang dilakukan Khalisa, Baik Ghazi dan Kharina membuat anggukan kecil bersama. "Duh, jadi ingat masa muda" ucap Kharina membuat Khalisa tersadar.


Memegang tangan Khalisa, Rein sendiri tersenyum. Dimana Khalisa langsung menarik tangannya. "Rein, Apa minggu depan kamu ada acara?" tanya Khalisa gugup.


Kembali melihat jam digital di Smartphonenya, Rein terlihat sedang berpikir. "Entahlah, aku belum punya rencana apapun minggu ini" Ucap Rein yang belum bisa memastikan apapun.


"Paman, tante, Khalisa. Aku mau pulang, maaf sudah merepotkan. Terlebih sudah dijamu dengan traktiran. Kalau begitu aku permisi." Ucap Rein yang langsung meraih tangan orang tua Khalisa dan menciumnya.


"Ya, Nak Rein. Sering-sering kesini ya." ucap Kharina yang kemudian melihat Rein berjalan pelan ke arah motornya.

__ADS_1


Berlari kecil, Khalisa sendiri langsung mencoba untuk menghentikan Rein. Dimana terlihat Khalisa sudah menyiapkan Barcode nomor kontaknya. "Rein, tunggu. Bolehkah aku meminta Nomor kontakmu?" Ucap Khalisa meminta.


"Mungkin, Aku ingin lebih mengenalmu"


"Baiklah" ucap Rein tak segan memberikan nomor kontak dengan memindai Barcode akun Whatsapp Khalisa.


"Terimakasih Rein" Lirih Khalisa senang.


Sambil melambaikan tangan, Baik Ghazi dan Kharina terkekeh kecil melihat Wajah Khalisa yang memerah. "Duh, kayaknya ada yang sedang jatuh cinta" Goda Kharina terkekeh kecil ke arah Khalisa.


"Apaan sih,ma. Rein itu sudah.." ucap Khalisa menghentikan perkataannya.


"Sudah apa?" tanya Kharina melihat Khalisa yang berlari ke dalam kedai.


" Sudah, jangan ganggu atau Goda Khalisa. Biarkan mereka yang menentukan. Ayo, kita masuk." Ucap Ghazi yang berjalan bersama istrinya masuk kedalam kedai.


***


Suara sunyi jangkrik mengerik menemani suara langkah Kaki Rein yang berjalan pelan masuk kedalam rumah. Dimana penghuni moon house sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.


Rein yang perlahan membuka pintu kamarnya, tertegun melihat Nina yang sudah menunggunya dengan pakaian tipis tanpa memberitahu. Dimana Rein seperti merasa bersalah ketika melihat Nina yang sudah tertidur pulas.


Mengunci pintu kamarnya, Rein duduk terdiam sambil terus melihat wajah Nina yang tampak kelelahan. "Pasti capek mengajar di Sekolah SMA. Apa aku biarkan saja?" lirih Rein yang tahu bahwa Nina saat ini ingin menunaikan tugasnya sebagai seorang istri.


Memutuskan untuk mandi malam dengan air hangat, Rein mendengar suara pintu kamar mandi di ketuk. "Sayang, kamu sudah pulang?" ucap Nina terbangun mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.


Memakai handuk dan berjalan ke arah pintu kamar mandi, Rein tersenyum ke arah Nina. "Maaf, aku baru pulang sayang" ucap Rein tersenyum.


"Syukurlah kamu sudah pulang, aku tadi ketiduran, Padahal aku mau buat surprise untuk mu." Ucap Nina yang langsung di peluk Rein.


"Tak apa sayang. Kalau kamu mau, kita lakukan sekarang" ucap Rein yang langsung menggendong tubuh Nina.


"Rein, Kamu tadi habis kemana sih?" tanya Nina yang melihat Rein sedang memakai parfum. Sambil membuat pose menggoda.

__ADS_1


"Hanya urusan kecil, Bagaimana manapun Aku sekarang kuliah sambil bekerja di tempat Kakek Orgami. Apa kamu sudah siap?" Ucap Rein yang melihat Nina membuat anggukan kecil.


"Kemari lah sayang, aku akan menghibur mu" lirih Nina dengan suara menggoda.


__ADS_2