Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 39. Panggung Untuk Nina, Berobat ke Bidan.


__ADS_3

Mendengarkan apa yang dikatakan Rina, Nina sendiri seperti mengingat beberapa hal yang juga dikatakan oleh Griss padanya. "Maksudnya video ini kan?" Berkata Nina sembari memperlihatkan Video lama yang di kirim Griss padanya.


Dimana sebuah video memperlihatkan Rein yang sedang melompat ke berbagai gedung tinggi, Ruko dan halaman belakang rumah Griss. "Dan Juga Video di saat terjadi kebakaran Ruko paman evelyn!." Imbuh Nina yang masih menyimpan Video Aksi Rein.


Sambil melihat Beberapa video yang di perlihatkan Nina padanya, Rein terkejut!. Yang bahkan wajahnya hampir terlihat saat mencoba membantu petugas Damkar yang kesulitan mengeluarkan seseorang di dalam Ruko paman evelyn. "Kok, aku Nggak tahu?" tanya Rein yang juga melihat Video dirinya yang di perlihatkan Nina. Dimana Rein melakukan aksinya,saat sedang melompat sambil menggendong wanita hamil di sebuah aplikasi snake video.


Mengingat hpnya yang tertinggal didalam mobil, saat ini Rina yang hendak berdiri langsung merasakan sakit di beberapa bagian. Hampir terjatuh karena merasakan bagian lututnya yang memar, Rina merasakan tangan Rein yang berhasil menangkap tubuhnya. "Duh.." Rintih Rina menahan sakit. Saling pandang kembali, Mereka berdua terus menatap mata masing-masing.


"Kau tak apa, lebih baik kita obati dulu lukamu" ucap Rein yang langsung menggendong Rina.


Nina sendiri tak lagi merasakan cemburu, karena bagaimana pun Rein melakukan hal tersebut untuk membantu adiknya yang terluka.


"Turunkan aku, Hp ku tertinggal di mobil, aku harus mengambilnya" Ucap Rina meminta pada Rein untuk menurunkan dirinya.


"Tidak, kita obati luka mu. Mungkin disekitar perumahan ini ada klinik 24 jam." ucap Rein berjalan pelan dan tidak lagi membuat lompatan. Dan Bagaimana pun, walaupun dirinya bisa membuat gerakan cepat. Tapi itu membutuhkan stamina yang memadai, terlebih Rein sendiri sudah terlalu capek bermain dengan Nina di dalam kamar.


"Aku tetaplah manusia biasa" Gerutu Rein sebelum ada yang ingin membicarakan dirinya.


Menanyakan sebuah klinik pada pemilik warung kuningan, Nina kemudian kembali ke arah Rein yang masih menggendong Adiknya. " Pak, Terimakasih ya." Ucap Nina melambaikan tangan.


Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala, pemilik warung Kuningan bergumam pelan. " Duh,jadi ingat masa muda. Hebat juga pemuda itu, mampu punya dua wanita sekaligus. Cantik lagi."


Hanya terkekeh kecil mendengar gumam pemilik warung Kuningan, Rein tersenyum. "Kau kira aku hanya punya dua?." Ucap Rein dalam hati terus berjalan menuju ke lokasi yang di tunjuk Nina.


Sambil berjalan berjajar bersama Nina, Rein hanya diam sambil beberapa kali melirik Rina yang terus menatap wajahnya. Walaupun Rein tak tahu apa yang dikatakan di dalam hati Rina, tapi Rein terus mendengar detak jantung Rina yang semakin cepat. "Dimana Nin?" tanya Rein berhenti sesaat sambil menarik nafas.


"Itu Rein Disana, Tapi itu Bidan..Bukan klinik" Tunjuk Nina sambil menggerutu melihat sebuah bangunan yang berdiri dengan sebuah papan Nama. "Apa pemilik warung Kuningan tidak bisa membedakan Klinik sama bidan?."

__ADS_1


"Bidan Tupai Family" Ucap Rein membaca papan nama besar yang berdiri.


"Melayani, Konsultasi Mama Muda dan pasangan adik kakak, privasi dijamin." Ucap Nina yang juga ikut membaca.


"Jual tanah hubungi +62890xxx" Ucap Rina yang membaca sebuah papan kecil di bawah Papan nama bidan Tupai Family.


Sambil menghela nafas bersama, Baik Rein dan Nina kemudian masuk kedalam. Tak melihat seorang pun yang berjaga, Nina mencoba untuk menghampiri meja pendaftaran. Dimana terdapat sebuah bel lonceng Klasik berwarna emas tembaga.


Klinting..


Suara merdu lonceng Klasik, membuat suara memanggil seseorang. "Permisi, kami mau berobat" Teriak Nina lirih. Seperti tak mendengar jawaban apapun, Nina merasakan beberapa kali pakaiannya seperti ditarik seseorang. Sambil terus membunyikan lonceng dan berteriak pelan.


"Kemana sih?, katanya 24 jam?" ucap Nina merasakan kembali beberapa tarikan pada pakaiannya.


"Nina, dia sudah ada sedari tadi" ucap Rein menggeleng kepala.


"Maaf Bu, saya bidan disini. Mau periksa kandungan? Atau mau konsultasi keluarga berencana." Ucap seseorang pria yang terus melihat Nina dari bawah.


Sambil memperhatikan seseorang yang terus tersenyum dengan pakaian putih dan membawa buku novel, Nina kemudian berjongkok. "Adik manis belum tidur?" tanya Nina sengaja memperpanjang episode.


Dan Rein sendiri hanya diam dan ingin membuat karakter Nina lebih bisa dilihat, dimana sifat keibuannya terlihat saat ini. "Hey,Kak.. Kamu tidak lihat papan namanya!" Ucap Rina kesal yang melihat Rein terkekeh kecil.


"wkwk.."


Sambil memandang gelar di papan nama, Sontak Nina terkejut dan langsung mundur beberapa langkah ke belakang. "Nicholas A.Md.Keb, Eh!!!" Hentak Nina terperanjat dan kemudian langsung meminta maaf beberapa kali. Sambil melihat Rein dan Rina yang menundukkan kepala, saat ini Nina langsung mengangkat tubuh seorang pria dewasa dengan rambut panjang di ikat anyam di dua bagian. Meletakkan di atas meja,saat ini Nina langsung menjelaskan beberapa hal. "Bisa bantu pak Nico?."


Mendengarkan dengan baik apa yang di utarakan Nina,saat ini seorang bidan pria kembali tersenyum dan langsung melompat dari atas meja pendaftaran. Hampir terkejut, Nina berteriak keras. "Duh, pak Nico jangan bikin kaget." ucap Nina yang kemudian menyuruh Rein menggendong Adiknya.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri" ucap Rina yang kembali hampir terjatuh, Tapi Rein kembali menangkap tubuhnya.


"Sudah,jangan paksakan tubuh mu" ucap Rein kembali menggendong tubuh Rina.


***


Di ruang pemeriksaan.


Dibantu Rein mengangkat tubuhnya, seperti sedang menggendong bayi. Tampak Bidan pria tersebut cekatan dalam memberikan pertolongan pertama pada Rina. "Tolong ambilkan desinfektan di lemari, Istri ku lagi pulang kampung. Jadi agak sulit meraihnya" ucap bidan pria tersebut tersenyum.


Setelah beberapa menit pemeriksaan dan memberikan pengobatan, saat ini Bidan pria tersebut langsung duduk di meja khususnya. Menjelaskan beberapa hal dari hasil pemeriksaan yang dilakukan. "Pak.." ucap Nico pelan sambil menunggu Rein berbicara..


Sengaja ingin membuat lama, Rein tahu permainan tersebut. Sambil melihat jam tangan dan detik jam dinding. Sosok bidan pria tersebut hanya diam dan terus menggeleng kepala. Sampai sebuah jitak kan keras melayang di kepala Rein.


Pletak!. "Auh! Sakit tahu Nin!" ucap Rein memegang kepalanya.


"Maaf Pak Nico, aku kakaknya" ucap Nina yang saat ini menggantikan Rein mendengar penjelasan Bidan pria tersebut.


Sambil kembali tersenyum, sosok bidan pria bernama Nicholas langsung mencoba kembali menjelaskan. " Jadi begini Bu..." Sambil mencoba untuk menunggu, Pak Nico memainkan tangannya beberapa kali.


"Nina" ucap Nina pelan sambil tersenyum.


"Bu Nina, adik anda tidak mengalami luka yang parah, hanya memar. Kebetulan saya tidak ada obat untuk luka luar, Jadi saya tuliskan resepnya saja. Minum setiap hari supaya kondisi adik bu Nina cepat membaik." Jelas Pak Nico yang kemudian menyerahkan resume pemeriksaan dan catatan obat yang harus dibeli.


Sampai beberapa menit Kemudian, Rein yang langsung kembali menggendong tubuh Rina keluar, sambil menunggu Nina menyelesaikan pembayaran. " Sudah turunkan aku" pinta Rina memerah wajahnya.


"Tidak, kalau aku turunkan kamu. Aku pasti nanti di komplain. Kita cari taksi, dan pulang." Ucap Rein yang melihat Nina keluar setelah melakukan pembayaran Via dompet digital.

__ADS_1


Menghampiri Rein dan Rina, terlihat Nina heran melihat catatan pak Nico yang tidak bisa di baca. Sambil menaruh catatan resep di saku jaketnya, Nina dan Rein berjalan ke arah jalan Umum di depan perumahan. "Tidak ada sinyal, ku pikir bisa pesan taksi online." Keluh Nina terus menunggu di pinggir jalan bersama Rein yang terus menggendong Adiknya, yang perlahan memejamkan mata karena reaksi obat.


__ADS_2