
Tertawa keras dengan wajah Kelly, sosok plagiator tersebut langsung mencoba untuk mengepakkan sayapnya. "Hahaha, Kau hanya punya kemampuan melompat tinggi. Tapi aku bisa terbang" ucap Kelly terkekeh dan langsung melesat ke arah Rein.
"Rasakan ini, Kail tajam!"
Membuat gerakan bersiap, Rein tak gentar. Dia mencoba untuk melakukan sesuatu dengan pedang pendeknya. "Cih, Bagaimana pun. Kisahku tak akan berakhir seperti ini." Ucap Rein kembali membuat sebuah ayunan pedang.
"Sunny Slash!"
Debum!
Suara hantaman kuat terlihat. Dimana sesaat sebelum cahaya cekung cahaya muncul. Kelly yang melesat cepat langsung membuat tangkisan pada pedang pendek yang di pegang Rein. Melihat tebasan udara di hentikan, Rein terus menahan tekanan kail tajam Kelly dengan pedangnya. Mundur perlahan ke belakang, Rein tertekan.
"Kau hanya manusia biasa, walaupun kamu punya kemampuan aneh" ucap Kelly mendominasi keadaan, terus terbang ke depan dan menekan kail tajamnya.
"Cih, Ini belum seberapa." Sambil tersenyum, Rein mengambil alat semprot kecil yang dibawanya. Dengan tangan kiri, dia langsung memperlihatkan sebotol Pestisida ke arah wajah Kelly.
Brush!, langsung menekan tombol penyemprot yang diarahkan ke wajah Kelly. Rein melihat ekspresi Kelly yang seketika berubah. "Wuah!" teriak Kelly langsung berhenti menekan dan langsung menutup mulutnya.
Berjalan mundur ke belakang sambil terus merasakan sesak nafas dan pengap. "Kurang asem, Air apa yang kamu semprot kan!" Ucap Kelly batuk.
"Uhuks,Uhuks"
Sambil kembali menyimpan sebotol pestisida ke saku belakang, Rein tersenyum. "Itu adalah cairan racun yang dibuat manusia untuk mengalahkan serangga seperti mu. Bagaimana rasanya?" tanya Rein belajar dari pertarungan sebelumnya, dimana pembasmi nyamuk tidak mempan pada Kelly yang notabene masih dalam tubuh manusia.
Sambil terus menutup mulutnya, sosok Kelly terkekeh. "Hahaha, Plagiator bukan hanya bentuk lain dari serangga. Kau akan lihat bagaimana kemampuan plagiator lain. Tapi katakan kalau kamu bisa bertahan hidup!" Teriak Kelly merasakan sebuah tinju menusuk ke dadanya.
__ADS_1
Dan itu sebuah proses cepat, dimana Rein sudah bersiap membuat gerakan cepat. Dimana tangannya yang memakai sarung tangan khusus dengan ujung tajam, yang merupakan desain perlengkapan milik keluarga Basura. Membuat konsentrasi Kelly buyar, Rein terkekeh kecil. "Ya, Bagaimana kalau aku hancurkan jantung mu?" Ucap Rein melihat ekspresi wajah Kelly cemas.
"Jangan dong, Ini masih Bab 50. Aku ingin lanjut.." Ucap Kelly yang memang merasakan pandangan matanya mulai kabur dan merasakan lemas tubuhnya. Akibat terlalu banyak menghirup pestisida.
Kress!, Suara remukan jantung yang di cengkram Rein langsung hancur seketika. Dimana Rein dengan cepat menarik keluar jantung Kelly dan memperlihatkan proses remukan jantung di depan matanya. Banyak darah Ungu menetes di tangan Rein, "Dengan ini berakhir sudah!" Ucap Rein langsung di tendang Kelly dengan sedikit kesadaran merasakan kematian.
"Uh! Dasar Bandel" Ucap Rein mundur kebelakang dan melemparkan remah jantung ke tanah. Melihat tubuh Kelly yang jatuh sambil menengadah tangannya ke atas.
"Queen..." teriak Kelly terakhir kalinya..
Terus melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, Rein melihat darah Ungu yang terus mengalir membuat tubuh Kelly seperti benda padat yang terkena air keras. Dimana tubuhnya perlahan menguap dan berasap putih. Membuat bau tidak sedap, Rein mundur ke belakang. " Sudah mati saja merepotkan" Keluh Rein melihat tubuh Kelly seperti terurai masuk ke dalam tanah. Begitu juga bekas kulit kepompong yang lenyap menjadi tanah hitam.
Seperti tak ingin meninggalkan bukti, Para plagiator juga memiliki kewaspadaan diri. Semua orang yang masih berada di tempat tersebut masih tercengang melihat apa yang terjadi.
"Dia sudah pergi" ucap Kameramen yang sesaat merekam kepergian Rein.
***
Sampai beberapa jam kemudian, Suara deru sebuah helikopter turun dan tak menemukan apapun selain seorang perwira polisi yang sedang melakukan wawancara. "Ya, bagaimana pun orang berkacamata merah itu juga termasuk tersangka. Dia tahu bahwa Kelly adalah seorang plagiator. Dia pasti orang dalam organisasi gelap Elit Global." Jelas Pak Ragyl yang melihat beberapa tentara yang datang terlambat sedang memeriksa lokasi kejadian.
Kembali menyiarkan, Reporter Bella menutup siaran langsung. "Benarkah ini semua perbuatan elit Global? atau memang mahluk itu adalah penghuni lain yang hidup bersama kita dan baru menampakkan dirinya?. Bagaimana, apakah pemerintah akan membuat gerakan untuk menanggulangi masalah ini?" Tutup Reporter Bella yang kemudian bersiap kembali.
Sambil melihat foto sosok Rein dengan tampilan pakaian atribut merah, Bella yang penasaran mencoba untuk lebih mencari tahu. Siapa sebenarnya Sosok manusia yang berhasil mengalahkan Plagiator tersebut. "Bro, kita pulang" Ucap Bella.
***
__ADS_1
Beristirahat di dekat tower atas gedung Universitas San Diego. Rein sambil membuka pakaian atributnya dan berkemas. Saat ini langsung membuat pesan pada Fara. "Aku ingin istirahat..dulu" ucap Rein yang memejamkan mata setelah berganti pakaian.
Sendiri tidur di atas gedung, Rein merasakan aliran angin yang semilir membuat keringat basahnya semakin dingin. Tertidur sambil tersenyum, dan merasakan sensasi luar biasa pada dirinya.
Sampai beberapa jam berlalu, Rein kembali terbangun dan melihat Notifikasi pesan dari Fara. "Eh! Sudah jam 15:00!" Ucap Rein yang membaca pesan chat Fara.
"Aku ketiduran sampai tak sadar ada beberapa panggilan dari Fara" Ucap Rein menelpon balik Fara.
"Oh, kamu langsung balik sendiri?" tanya Rein yang memeriksa Universitas dan melihat beberapa orang yang masih sibuk dengan urusan masing-masing.
"Oh ya, dari kemarin Aku juga belum ngobrol dengan leinera dan hanya melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Lebih baik aku temui dia, hehe" Ucap Rein yang memang sedari tadi melihat sosok Leinera duduk sendiri sambil bermain laptop.
Berjalan pelan setelah turun dari atap gedung, Rein yang saat ini membawa tas besar dan berpakaian kemeja pendek. Langsung duduk di bangku taman Universitas. Melihat Leinera yang seperti mengacuhkan dirinya, Rein terus memandang bagian samping wajahnya.
"Kau belum pulang?" tanya Rein.
"Aku masih sibuk" jawab Leinera yang tahu di sampingnya adalah Rein, walaupun dia tak memalingkan wajahnya dan terus menatap layar laptop.
Sambil melihat ke depan, Rein sedikit menggaruk pipinya. "Dia memang dingin, Baiklah. Lebih baik aku langsung pulang saja" Ucap Rein dalam hati yang melihat Gerombolan Braum Yier di depan Gerbang Universitas.
Senang melihat mereka, Rein menarik nafas lega. "Mereka sudah sembuh, Orang kaya memang hebat" Ucap Rein yang terus menatap Braum dan kawan-kawannya yang masih berdiri di dekat mobil Porsche merahnya.
Braum Yier dan Rein sendiri memang tidak satu jurusan, sehingga Rein hanya sesekali melihat Braum dan teman-temannya. "Apa mereka sedang menunggu ku?, Kalau begitu aku langsung saja temui mereka. Aku juga masih kasal..." Gumam Rein hendak melangkah dan tertegun melihat seorang wanita muda yang berjalan ke luar Gerbang dimana Braum Yier dan kelompoknya langsung menghadang Wanita tersebut.
Seorang wanita dengan rambut hitam pekat, dengan outfit slim fit dengan kemeja putih menggunakan blouse. Terlihat beberapa kali mencoba untuk menghindari gerombolan Braum Yier. "Halo Khalisa, Mau pulang Bareng?" tanya Braum yang masih suka menggoda wanita cantik.
__ADS_1