Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 66. Kencan, bersama Anita


__ADS_3

Dengan wajah kebingungan semua orang terlihat saling menatap dan tak mengerti dengan apa yang terjadi. Bahkan semua pendemo dan beberapa pengemudi yang melihat hal tersebut terlihat heran.


"Kenapa jadi canggung seperti ini?, Bukan kah seharusnya kita terkejut?" ucap Beberapa orang yang kembali masuk kedalam mobilnya.


Dan beberapa orang polisi yang sedikit ngelag juga merasa canggung dengan apa yang baru saja terjadi. Tak mengatakan apapun lagi bahkan berterimakasih pada Rein. Para polisi kembali mencoba untuk mengatur lalu lintas. Tapi semua pendemo terlihat menghadang mereka. Dimana mereka berdiri sambil melihat ke arah Mandor proyek jalan.


"Naikan Gaji kami" Teriak beberapa pendemo kembali mengeluarkan suara.


"Saudara ku, tenang. Kita bicarakan ini di lapangan saja. Aku pasti akan mendengar suara kalian." Ucap Mandor tersebut yang kembali berjalan ke ujung jalan.


Diikuti dua puluh sembilan pendemo dan juga iringan beberapa mobil yang mengantri. Mereka semua terlihat seperti pasukan karnaval. Dimana beberapa polisi juga ikut berjejer sambil berjalan dan mengatur lalu lintas.


Rein sendiri tertawa terbahak-bahak melihat Apa yang terjadi. Menggeleng kepala merasakan naskah kisahnya yang tidak terlalu menegangkan. "Haha, ini episode paling aneh. Padahal aku ingin sekali memamerkan kemampuan ku dan bisa dilihat semua orang." Lirih Rein yang mendengar suara seorang wanita mendekat ke arahnya dengan raungan motor kepolisian.


Vrum!


"Hey Rein...!!" teriak Anita yang menyusul Rein dan mencoba untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya dilakukan Rein.


Membalikkan tubuhnya, Rein melambaikan tangan ke arah Anita yang terus memacu motornya. "Anita..." Teriak Rein yang bersiap untuk membuat gerakan menghentikan laju motor Anita.


Dom!


Berhenti seketika, motor besar kepolisian yang dinaiki Anita langsung tersendat. Turun dari motornya, Anita terdiam sejenak. "Jalan Sudah mulai lancar, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Anita melihat Rein menepati janjinya.


Beberapa kali menyeka keringat dan melepas bajunya. Rein duduk sembari menyuruh Anita untuk duduk bersama. "Kemari lah" ucap Rein menepuk beberapa kali tanah rerumputan. "Sekarang kita berdua sama-sama berkeringat."


Tak menolak walaupun bau keringat, Anita sadar jika Rein memang sudah melakukan sesuatu. Bahkan janjinya yang sudah ditepati, yaitu membuat lancar jalan tersebut. "Tapi Rein, Bagaimana kondisi pendemo?" tanya Anita yang memberikan Rein air mineral.


Membuka penutup botol, Rein beberapa kali langsung meneguk air. "Gluk..Ah, nikmatnya" ucap Rein menyeka mulutnya dengan tangannya.


"Kalau itu bukan urusan ku"

__ADS_1


"Baiklah, Jadi bagaimana. Hari ini aku mau ajak kamu berkencan" Ajak Rein yang kemudian berdiri.


Sambil melihat jam kerjanya yang belum habis, Anita sendiri sedikit membuat senyum sambil menggaruk pelipisnya. "Hehe, Aku masih harus bekerja. Bagaimana kalau malam ini?" tanya Anita yang ikut berdiri. "Lagian aku juga harus berdandan."


"Nanti aku telepon kamu deh."


Sambil kembali menaiki motornya, Anita tanpa sadar memberikan kecupan ringan di pipi Rein. "Oke, aku tunggu kabar darimu." Ucap Rein yang terus melihat ke arah Anita yang melaju ke arah Barisan karnaval.


Membuat lompatan keras ke udara, Rein pergi untuk mengambil motornya yang disembunyikan. Kembali ke arah moon house, Rein tersenyum merasakan sensasi kecupan yang diberikan Anita.


***


Sore hari.


Rein yang sudah bersiap setelah menerima kabar dari Anita. Saat ini dirinya beberapa kali memandang wajahnya di cermin. Berjalan pelan ke arah halaman depan, Rein melihat Arumi yang baru pulang dari sekolahnya.


Hanya tersenyum, tampak mata mereka saling pandang. Dimana Arumi langsung masuk dan tak mempedulikan apa yang akan dilakukan Rein.


"Masih belum mau menyapa?" keluh Rein yang kembali melanjutkan rencananya.


"Aku sudah sampai di depan Plaza, Kamu dimana?" tanya Rein yang mencoba untuk menelusuri bagian lain jalan. Dan melihat Anita yang melambaikan tangan. Membalas lambaian tangan Anita, dengan sedikit tersenyum. Rein langsung bergegas pergi menyebrangi jalan yang tidak terlalu Ramai.


"Maaf aku telat" tutur Anita dengan penampilan yang berbeda, dimana dia saat ini mengenakan outfit yang berbeda dari keseharian menjadi seorang polisi wanita. Dengan balutan Crop top putih, hot pants denim, dan blazer pink fuchsia. Anita terus memegang tas kecil di perutnya. Rein terus memperhatikan dengan seksama penampilan Anita, yang juga tampak serasi dengan heels magenta bertali.


"Kamu cantik sekali" puji Rein memerah wajahnya.


"Terimakasih" lirih Anita sedikit malu dan perlahan mulai berjalan berjajar dengan Rein.


"Rein, ini pertama kali aku melakukan kencan, Jadi mohon bantuannya"


"Ya, santai saja. Lagian tak perlu buru-buru. Baiklah, untuk pertama bagaimana kalau kita pergi ke dalam Plaza." Ucap Rein yang juga sudah mempersiapkan beberapa hal.

__ADS_1


"Iya" jawab Anita sembari melihat wajah Rein.


Sudah memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat, Rein tanpa sadar langsung memegang tangan Anita. Sedangkan Anita sendiri hanya mengikuti kemana Rein akan membawanya.


Kebetulan di sekitar mall sedang diselenggarakan acara festival tahunan. Dimana terdapat banyak penjual makanan dari berbagai daerah dan juga beberapa permainan seperti pasar malam, hanya saja dalam sentuhan modern.


"Anita, Bagaimana kalau kita nonton film?" Tunjuk Rein yang melihat ke papan iklan beberapa film terpajang di depan Plaza.


Berhenti sejenak, Anita terlihat fokus melihat ke arah tempat festival. "Aku tak terlalu suka nonton, Bagaimana kalau kita coba kesana?!" tunjuk Anita yang merasakan perutnya lapar.


"Um, baiklah." ucap Rein yang tentunya mendengar suara perut Anita yang berbunyi pelan. Masih menggandeng tangan Anita, Rein merasa tak ada penolakan.


Sampai di depan gerbang festival, Baik Rein dan Anita melihat banyak pengunjung yang mulai berdatangan dengan beberapa orang dan keluarga mereka.


"Selamat datang, Selamat datang" ucap beberapa orang yang bertugas menyambut dan membagikan brosur iklan makanan.


Mengikuti beberapa orang yang sedang mengatri tiket masuk festival, Rein dan Anita sekarang berdiri saling membelakangi. "Anita, kamu duluan" ucap Rein sopan dan mempersilahkan Anita untuk masuk terlebih dahulu.


Tampak wajah Anita perlahan bersemangat melihat kedalam acara festival makanan. "Wah, disini banyak penjual makanan" kagum Anita yang terlalu sibuk untuk mengunjungi tempat tersebut.


"Ya, ada juga beberapa permainan. Bagaimana kalau kita cari tempat untuk makan, sepertinya kedai di sana menarik" tunjuk Rein merasakan tangan Anita langsung menyambar tangannya.


"Ayo Rein, aku sudah lapar" ucap Anita bersemangat.


"Em, Ayo" balas Rein yang ditarik kuat oleh Anita.


Sampai di depan kedai milik seseorang penjual seblak, Rein mencoba untuk mencari tempat duduk. "Kita duduk di sana saja" ucap Rein berjalan pelan bersama Anita yang sudah melepaskan tangannya.


Sampai datang seorang pelayan kedai seblak, yang lama menyapa dan memberikan menu makanan dan minuman. " Silakan, Mau pesan apa?" tanya pelayan kedai tersebut.


Melihat menu, Rein mencoba untuk mencari makanan yang belum pernah dimakan. "Uh, bang seblak itu apa sih?" tanya Rein melihat beberapa menu.

__ADS_1


Sambil menjelaskan beberapa menu, pelayan kedai menerangkan. "Ini adalah makanan khas Negara Aisa, ada beragam Rasa. Mau coba yang mana?" tanya pelayan kedai tersenyum ramah.


"Aku mau seblak ceker, um sama seblak makaroni" Ucap Anita yang langsung membuat pesanan. "Dan Minumannya, es legen."


__ADS_2