
Hari demi hari terus dilewati Rein dengan kedamaian. Di moon house, Rein cukup senang melihat Nina dan Griss yang tampak lebih akrab. Dimana mereka berdua juga mewarnai kehidupan di moon house. Hanya saja, Rein belum mau melakukan usaha mendekati Arumi yang notabene adalah istri pertamanya. Karena Rein memang cukup kesulitan untuk bisa berbicara dengan Arumi.
"Hah, padahal aku ingin istri pertama ku memiliki sifat keibuan. Tapi walaupun begitu, aku sudah mendapatkannya pada diri Nina." Keluh Rein yang beranjak pergi dari aula utama dimana Nina dan Griss sedang bergosip di malam hari.
"Sayang, mau kemana?" tanya Nina menghentikan Griss bergosip.
"Aku mau beli rokok, kamu mau nitip?" ucap Rein melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 21:00. Dimana dia ingin melihat kota di malam hari sambil ingin menggerakkan tubuhnya yang cukup kaku.
"Titip yang rasa anggur, aku tak mau pake balon yang diberikan Rina" pinta Nina yang kembali membuat beberapa obrolan dengan Griss.
Berjalan pelan ke arah kamarnya untuk mengambil pakaian yang diberikan mis lilith padanya. Tampak Rein cukup senang melihat desain pakaian barunya. Ditambah, Kakek orgami juga sudah memberikan Rein sebuah pedang besar yang terbuat dari pecahan batu meteor. Dimana Kakek Orgami berhasil mengamankan satu buah pecahan tersebut. Walaupun Rein belum tahu proses pembuatannya, dan bagaimana mis lilith bisa membuat pedang tersebut. Tampak Rein cukup puas dengan hasil yang diperoleh dalam pertarungan melawan Kabuto saat itu.
"Mungkin benar yang dikatakan Gee, untuk menghadapi Para Plagiator memerlukan material khusus seperti pedang ini." Lirih Rein yang sudah berganti pakaian. Dimana pakaian atribut tempurnya yang berwarna hitam dengan beberapa garis merah terlihat keren.
Setelan pakaian atribut Khusus hasil dari pengembangan yang dilakukan Keluarga Basura. Membuat Rein tampak berbeda. Pergi ke Garasi dimana motor modifikasinya berada, Rein yang memang tak menyembunyikan apapun. Melihat Arumi yang tumben datang menghampiri dirinya.
"Pakailah masker ini, Bagaimana pun kamu harus menyembunyikan identitas mu sebagai seorang Basura. Ini milik hadiah untuk mu, Bagaimana pun aku belum di perbolehkan untuk melakukan tugasku sebagai seorang Basura." tutur Arumi seperti tahu apa yang akan Rein lakukan.
"Oh ya, waktu itu. Saat kamu menyelamatkan ku dari Brandon, aku tahu itu kamu. Konyol sekali.."
Mendengar hal tersebut, Rein memerah wajahnya. Dimana dia saat ini tahu Bahwa Arumi juga memperhatikannya. "Hehe, jadi kamu sudah tahu ya. Tapi kenapa baru bilang sekarang?." Tanya Rein malu.
"Aku juga sudah mendengar beberapa hal aneh dari Mama dan papa. Dimana beberapa orang yang berada di bawah pengaruh Keluarga Basura perlahan demi perlahan ingin membuat pemberontakan. Mereka seperti di kendalikan oleh organisasi lain. Itulah kenapa, Kakek meminta mu juga harus ikut andil dalam masalah keluarga Basura." Jelas Arumi kembali masuk kedalam kamarnya.
"Aku mengerti" ucap Rein terlihat senang melihat Arumi menyapanya.
"Sebenarnya kalau boleh aku katakan. Ini semua gara-gara seseorang di luar sana. Tadinya ku harap Kisah ku menjadi Romantis sekarang berubah drastis. Author sialan!" Keluh Rein pelan sambil melihat masker berwarna merah yang diberikan Arumi.
Menyimpan pedang di bagian bawah motornya, tampak Rein juga bersiap untuk menyibukkan dirinya. Sambil menyalakan mesin motornya, Rein mendengar sebuah Notifikasi chat dari seseorang.
"Gluk, ini dari Anita. Ku pikir dia sudah memblokir nomor ku?" ucap Rein membaca pesan.
__ADS_1
Ping!
[Bantu aku cepat!] chat Anita dengan beberapa Emoji kepalan tangan dengan beberapa api.
Ping!
[Apa lagi?, Apa itu caramu meminta tolong?] balas Rein kembali melihat balasan dari Anita.
Ping!
[Heh!, Aku masih marah padamu!. Jika kamu ingin aku memaafkan mu, cepat kesini!] balas Anita menambahkan beberapa emoji tersenyum.
Ping!
[Aku sudah sering membantu mu, apa ada masalah lagi?] balas Rein yang dibeberapa kesempatan selalu di mintai tolong oleh Anita.
Ping!
[Cepat..tidak ada waktu lagi] balas Anita mengirim Lokasi.
Mengendarai kembali motornya, tampak Rein cukup senang akhirnya Anita membuka blokir nomornya. Dan kebetulan saat ini Rein juga ingin kembali mengembangkan kemampuan yang sudah dilatihnya di markas besar Basura. Menerima Gaji walaupun tak bekerja, tentunya Rein tak ingin makan gaji buta tanpa melakukan apapun. Dimana dia tak terlalu memikirkan soal keuangan dirinya karena Kakek Orgami sudah menjamin kehidupan rumah tangganya. Tentunya, Hal tersebut tidak terlepas dari dirinya yang sekarang bekerja pada Orgami Basura.
***
Malam hari sekitar pukul 20:00 sebelumnya.
Sebuah kecelakaan di daerah puncak, dimana sebuah truk dan beberapa mobil hancur karena ulah seseorang yang menebang pohon dan menggelindingkan banyak bagian batang pohon dari atas puncak. Belum diketahui siapa orang yang sudah melakukannya, bahkan beberapa polisi hanya bisa menemukan jejak pelaku penebangan liar di daerah puncak tersebut. Dan juga beberapa jejak pohon yang sudah ditebang meninggalkan serbuk kayu. Sampai beberapa mayat seseorang yang kehilangan jantungnya.
"Bagaimana?, ini terlihat masih Baru" ucap seorang polisi yang sedang menjelajahi hutan dimalam hari dengan penerangan lampu senter LED.
Terus mencari seseorang yang bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan. Sekitar Lima polisi pria terus mencari beberapa jejak lainnya. Terus mencari petunjuk, Kelima polisi memutuskan untuk berpencar.
__ADS_1
Dimana salah seorang polisi pria cukup merasa heran melihat banyak pohon cemara yang sudah ditebang dan hanya menyisakan serbuk kayu dan juga ranting pohon berdaun.
"Aneh ini sangat aneh. Bagaimana orang ini bisa dengan cepat membawa batang pohon yang sudah ditebang dan di lempar ke jalan?" ucap Polisi membuat beberapa dokumentasi kejadian tersebut.
"Malam-malam seperti ini, sungguh merepotkan jika memang benar ada tindak kejahatan pembunuhan. Ayo Kita cari petunjuk lain." Ucap polisi lain yang langsung menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu, Aku mendengar. Ada seseorang yang meminta tolong. Ayo, kita cari saja sumber suara tersebut." Ajak Polisi yang lainnya berjalan cepat. "Mungkin pembunuh supir truk masih berkeliaran disini."
Di lain sisi, hutan di dalam Daerah puncak.
"Tolong..." Teriak seorang pria kurus yang terus berlari seperti menghindari sesuatu. Dimana dia Melihat seseorang yang terus membawa kepala pacarnya.
"Tolong, siapapun tolong aku!" Jerit Pria tersebut tampak ketakutan. "Ada pembunuh!."
Berlari dan terus membuat Jeritan, pria kurus terus berteriak keras Sampai suaranya menggema di dalam hutan. Bahkan suaranya sampai terdengar di telinga para polisi yang sedang bertugas menyelidiki pembunuhan di jalan puncak.
"Tolooong!"
"Kalian dengar?" tanya seorang polisi yang terus melihat ke sekeliling. Melihat dan terus mencari sumber suara dari teriakan seseorang.
"Ya, arahnya semakin mendekat. Apa di hutan ini ada harimau?" tanya polisi yang lain.
"Ngaco kamu, Puncak ini kan tempat buat kemah. Ayo lebih baik kita bergerak cepat, mungkin ada hal lain yang belum kita periksa. Terlebih mungkin saja kita bisa menangkap pembunuh itu." Ajak seorang polisi yang perlahan melihat bayangan seseorang dan mendengar suara berisik dari tengah hutan.
Debum!
Suara beberapa pohon jatuh tumbang, di sekitar tempat para polisi berdiri. Dari setiap pohon yang tumbang terlihat seperti mengarah pada mereka. Pepohonan yang tumbang tersebut terus menerus mengejar seseorang yang berlari zig zag, mencoba untuk menghindari pohon yang tumbang.
"Tolong...!" kembali teriakan pria kurus terdengar, dimana suaranya semakin dekat ke arah beberapa polisi yang bersiaga.
"Pak polisi, tolong aku!" Teriak Pria kurus yang melihat ada beberapa polisi di sekitar tempat dirinya berlari. Tapi, sesaat pria kurus tersebut hampir sampai ke arah beberapa polisi yang berjaga.
__ADS_1
Sebuah tebasan dari tangan seseorang langsung menusuk tubuhnya. Pria kurus yang merasakan ketakutan terlihat langsung menjerit kesakitan. Dimana terlihat tubuh bagian belakangnya langsung mendapatkan dua luka tusukan.
"Mau lari kemana?, Aku hanya ingin memakan jantung mu. Ini buatmu sebagai hadiah" ucap seseorang yang melemparkan kepala seorang wanita dari mulutnya.