
Antony yang melihat hal tersebut, langsung melepaskan Khalisa dan bersiap untuk membuat pukulan tanpa perintah dari Braum. "Kurang asem, Siapa kau!" Teriak Antony bersiap memukul Rein yang masih memakai helm.
Tak membuat gerakan apapun dan tetap diam, terlihat Rein menerima pukulan Antony dengan genggam tangannya. Meremas dan langsung membuat pelintiran tangan, yang membuat Antony merasakan sakit. Rein terkekeh kecil.
"Argh!" teriak Antony yang langsung mendapatkan sebuah tendangan kuat dari Rein yang membuat tubuhnya langsung terpental kebelakang.
Rein yang masih tetap diam, kembali merasakan dua orang yang sudah bangkit hendak menyerang dirinya. Dilihat semua orang termasuk Anita dan Khalisa, saat ini Rein langsung menundukkan tubuhnya dan membuat gerakan tinju ke arah Gusti dan juga seseorang yang belum di kenalnya.
"Uh!" Rintih Gusti dan seseorang pria yang baru bergabung dengan geng Braum Yier.
Bangkit kembali, Baik Braum dan ke-tiga temannya membuat sebuah isyrat untuk mencoba menyerang sosok pria yang masih memakai helm. "Serang!" Teriak Braum Yier yang belum kapok.
Kembali membuat sebuah serangan bersama, salah satu teman Braum yang berperawakan sedikit seram dengan rambut pelontos bertato dibagian lehernya, Mengeluarkan sebuah belati yang disimpan di bagian belakang pinggangnya. "Cih, Matilah kau!" teriak Seorang pria siap menyerang Rein.
Sembari membuat gerakan cepat, Rein langsung membuat pukulan ke arah Braum dan Antony. Melihat ke arah Belakang, Rein terkekeh kecil melihat Gusti yang juga sudah siap menerima pukulan.
"Rein...!! Awas! di samping mu" teriak Anita mencoba untuk memberitahu Rein bahwa salah satu teman Braum siap menusuk tubuhnya.
"Rasakan ini!!" teriak Seseorang langsung mengarahkan belati ke tubuh Rein. Yang dimana Rein sendiri sedang memukul Gusti. Tak sadar seseorang langsung menikam dirinya.
Jleb!
Sebuah tusukan langsung mengenai bagian pinggang Rein, yang sontak membuat dirinya tertegun. Berhasil membuat Gusti terlempar dengan pukulannya, Rein merasakan sakit dan perih. "Kau!!!" Teriak Rein yang masih merasakan belati menusuk di pinggangnya.
"Hehe, Rasakan itu" ucap Pria yang menusuk Rein terkekeh kecil. Hanya dalam hitungan detik, Rein membuat kembali ayunan tangan yang langsung mengarahkan ke pria yang sudah menusuknya.
Pukulan keras dan lebih keras, di lancarkan Rein.
Pria yang berhasil menusuk Rein saat ini merasakan tekanan kuat pukulan Rein yang mengarah ke wajahnya, pria penusuk merasakan retakan rahang wajahnya. "Argh!!!."
"Glen!!" Teriak Braum dan yang lainnya terkejut.
Melihat sosok penusuk yang jauh terkapar pingsan, Rein langsung menarik belati yang masih menancap di pinggangnya. "Cih, Aku tak tahu jika salah satu dari mereka ada yang bawa belati" ucap Rein melepaskan helm sambil merasakan sakit.
__ADS_1
"Uh, Rasanya sakit sekali."
Anita yang melihat hal tersebut sontak langsung berlari ke arah Rein. "Rein,.."
"Rein!" Gumam Braum dan yang lainnya melihat wajah Rein. Kembali berdiri, Braum dan yang lainnya kembali mengingat apa yang sudah terjadi. Dimana saat ini Braum yang masih takut dengan Rein mencoba untuk pergi.
"Antony, Gusti, Bawa Glen cepat. Ternyata dia Rein" Perintah Braum yang mendengar suara sirine kepolisian datang ke arah Mereka. Dimana beberapa saat yang lalu, Anita yang sudah tersadar langsung membuat sebuah panggilan pada pihak kepolisian.
Sampai beberapa menit kemudian, Braum dan semua orang temannya langsung di bawa pergi. Sambil melihat Rein, rasa benci Braum yang belum terobati saat ini cukup merasa senang. "Cih, Lagi-lagi dia ikut campur!." Tukas Braum terkekeh kecil.
Melihat Glen yang juga dibawa dalam keadaan pingsan, Braum membuat ekspresi menyeringai seperti memiliki sebuah rencana Baru. "Awas saja kau Rein!."
Tak lagi berbicara apapun, Braum dan kelompoknya langsung bergegas pergi menuju kantor kepolisian. Dan Motor mereka berempat langsung diamankan oleh beberapa orang dari pihak kepolisian yang di panggil Anita.
Berjalan pelan ke arah Anita dan Rein, terlihat Khalisa juga sudah membuat panggilan pada pihak rumah sakit untuk segera datang. "Mas, Bagaimana keadaan mu?" tanya Khalisa yang mengingat Rein.
"Urh, Baru kali ini aku lengah. Rasanya aku mau pingsan.." rintih Rein merasakan buram pandangan matanya.
"Anita, Permintaan mu. Lain kali saja aku kabulkan, itu jika aku masih hidup"
***
Sampai beberapa jam berlalu. Di sebuah rumah sakit Ol Hospitals. Rein sedang menjalani perawatan dari pihak medis, dimana saat ini dirinya sedang tertidur setelah mendapatkan beberapa perawatan.
Di Dalam Kamar Nomor 09.
Rein yang masih belum membuka matanya, dan terus terbaring lemah tak berdaya. Bahkan dia juga tak mendengar beberapa orang yang datang untuk menjenguknya.
Anita dan Khalisa yang masih berada di depan pintu kamar rawat. Melihat dua orang wanita yang baru keluar setelah melihat keadaan Rein.
Sudah saling memperkenalkan diri, terlihat Anita tertegun melihat sosok Arumi yang datang setelah dipanggil oleh pihak rumah sakit.
"Maaf Nona Arumi, Kalau boleh tahu siapa Anda?" tanya Anita yang juga melihat sosok Griss dengan pakaian pelayan.
__ADS_1
Arumi yang belum menjawab terdiam sesaat, ketika dirinya mendengar suara seseorang dari arah lobi memanggil Griss.
Seseorang wanita dengan pakaian anggun langsung Menanyakan sesuatu pada Griss yang sedang terkejut melihatnya. "Griss, Bagaimana keadaan Rein!" Tanya Nina yang mendapat kabar Dari adiknya Rina, yang juga membantu merawat luka Rein. Dan memberitahu padanya bahwa Rein mengalami insiden.
"Nina, Bagaimana kamu tahu kalau Rein ada disini, Aku baru saja mau memberitahu mu." Ucap Griss yang sebenarnya tak mau sampai Nina tahu bahwa Arumi datang dan itu jelas akan membongkar Rahasia Rein.
"Rina adik ku yang menelpon, Bagaimana keadaan Rein?" tanya Nina cemas dan menatap ke semua orang.
Berjalan pelan dari sisi koridor yang lain, Terlihat Rina yang sedang berjalan bersama Dr. Jonatan dan Leinera anaknya. Dimana Rina juga memberitahu mereka berdua. "Kak, kamu mau masuk?" tanya Rina yang membuka pintu kamar rawat Rein.
" Um, Aku ikut" ucap Nina yang cemas dan tidak terlalu peduli saat ini. Yang ada hanya rasa cemas dan khawatir pada Rein.
Saling menatap, Baik Arumi, Griss, Anita dan Khalisa melihat empat orang yang tidak mereka kenal masuk ke dalam kamar.
"Griss, siapa dia?" tanya Arumi.
"Em, Nina itu temanku dan dosen Rein" Jawab Griss yang juga heran dengan Anita dan Khalisa.
Mereka saling pandang kembali dan tetap diam di tempat. Dimana suasana canggung terlihat jelas, " Nona Arumi anda belum jawab pertanyaan ku, sebenarnya anda siapanya Rein?" tanya Anita.
"Aku itu Is.." Belum sempat menjawab, saat ini Semua orang mendengar teriakan keras dari dalam kamar rawat Rein.
Dimana Rein sendiri sudah bangun dan merasakan sebuah dekapan khawatir dari Nina. " Rein, Apa yang sebenarnya terjadi?, Kenapa kamu bisa tertusuk?" Ucap Nina terus menangis keras.
"Nina, tenanglah. Aku tak apa-apa" ucap Rein terbelalak dan tersadar melihat beberapa orang yang sangat di kenalnya datang. Dimana Rein dengan mata sedikit pucat melihat Arumi, Griss, Anita dan sosok Khalisa yang belum dikenalnya masuk kedalam kamar.
"Haha, Rein... Untunglah lukamu tidak dalam. Baiklah, Leinera, Rina kita biarkan Rein beristirahat dan untuk Kalian semua. Mohon maaf, untuk tidak mengganggu Rein saat ini. Kondisinya masih belum bisa pulih" Jelas Jonathan yang sudah memeriksa Rein dan dibantu Leinera.
"Cih, Akhirnya kamu ketahuan juga Rein" Ucap Leinera acuh dan langsung berjalan pergi sambil melihat ke semua wanita yang datang untuk menjenguk Rein.
Dengan wajah sedikit panik, Rein merasakan cemas dan langsung menutup kembali matanya. "Aduh, Kenapa semua orang bisa datang bersamaan" Lirih Rein dalam hati cemas.
Dengan Bantuan Rina yang meminta semua orang untuk keluar kembali, saat ini Rina meminta orang terdekat Rein untuk menjaga. "Dari kalian selain kakakku yang dekat dengan Rein, Hanya diperbolehkan masuk satu orang lagi." Ucap Rina sedikit terkekeh kecil dalam hati. "Pasti bakal seru, Nina sadarlah."
__ADS_1
"Aku istrinya" ucap Arumi langsung.