Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 6. Menghabiskan Waktu


__ADS_3

Hanya bisa memandang dari kejauhan, Fara terus menerus mengagumi sosok Rein tanpa bisa mengutarakan isi hatinya. Dan saat Rein hendak naik ke dalam taksi yang sudah di pesan sebelum nya, melalui aplikasi Docars, Perlahan kaki Fara melangkah maju dan berlari. "Rein tunggu..!" teriak Fara yang kemudian memeluk Dan mendekap tubuh Rein dengan erat.


Terkejut dengan apa yang terjadi, Rein hanya diam dan berdiri tegak. Merasakan hangat tubuh Fara yang memeluk nya, "Ada apa lagi?, kenapa kamu menangis?" tanya Rein yang mendengar suara isakan tangis Fara di telinga nya.


"Terima Kasih, aku belum bisa membalas semua kebaikan mu" ucap Fara yang kemudian mencium pipi Rein.


Terkejut Rein, mendapatkan ciuman pipi untuk pertama kalinya. Dengan mata terbelalak, Rein kembali melihat Fara yang melepaskan pelukan dan berlari kembali ke pintu Gerbang. "Apa ini?" ucap Rein memegang pipinya. Melihat Gerbang masuk rumah Fara yang tertutup otomatis, Rein sedikit meneteskan air mata dan tersenyum kecil. "Haha, inikah ciuman pertama?" ucap Rein pelan dan kemudian masuk ke dalam taksi online.


"Kemana bung?" ucap Sopir taksi membangunkan lamunan Rein.


"Kuburan pak" berkata Rein.


"??"


Hanya mengikuti apa yang dikatakan Rein, supir taksi online kemudian melajukan mobil nya. Sambil memandang Rein yang sedang melamun di belakang kursi. "Dasar anak muda jaman sekarang, ckck." Guman supir taksi online tersenyum.


Berbunga bunga hati Rein untuk saat ini, Merasakan taksi yang berjalan lambat dan kemudian menghentikan lajunya. "Sudah sampai di kuburan" ucap Supir taksi memberitahu.


"Apa maksud mu!" bentak Rein.


"Bukankah tadi anda minta di antar ke kuburan? hehe" ucap Supir taksi yang kemudian menurun Rein di dekat kuburan. Melaju kencang, mobil taksi meninggal kan Rein.


Tersadar dengan lamunan, Rein melihat sekitar. "Astaga.. kenapa aku ini?" berkata Rein pelan sambil melihat sekitar. "Ini kuburan yang menyeramkan, mana sepi lagi!. Kenapa dia langsung pergi?."


Memeriksa aplikasi map, Rein mengetahui lokasi nya berada. "Oh.. ini kan kuburan cina, ya sudah lah.. lagi pula aku memang sudah di usir dari kontrakan." Berkata Rein yang kemudian masuk kedalam gerbang kuburan cina. "Memorial Green, nama yang bagus."


"Lebih baik besok aku cari tempat menginap, oh lebih baik aku telepon Paman Garriar , mungkin dia mau menerima ku.. dan akan aku bicara kan pada ayah dan ibuku, bahwa aku kehabisan uang."


Sambil duduk di sebuah kuburan cina yang terletak dekat Pintu gerbang, Rein kemudian tertidur. Hanya sebentar, Rein mencoba memejamkan matanya. Rein mendengar suara seseorang perempuan meminta tolong.

__ADS_1


Di sisi lain , tempat kuburan cina. Sekitar lima orang preman dengan Mobil hitam. Menurunkan seorang wanita yang berpakaian terusan pendek berwarna hitam blink blink, dengan heels merah yang terpasang di kakinya. Dengan stoking hitam tipis dengan beberapa robekan di bagian Betis nya. Perempuan muda tersebut kemudian di lempar ke semak belukar di dekat pemakaman.


"Tolong aku!!" Teriak Seorang perempuan yang sedikit jauh dari tempat Rein. "Tolong.. jangan.. aku akan bayar berapa pun, tolong jangan sentuh tubuh ku..!"


Lima orang berkumpul dan mengelilingi perempuan tersebut, dengan wajah seram dan memakai banyak tato di tubuh nya. Kelima orang preman siap mengadakan upacara mereka. "Haha, silakan bos duluan" ucap beberapa anak buah mempersilahkan.


Sambil merobek baju terusan ketat perempuan yang dibawa, bos preman memegang dada perempuan tesebut. "Wow.. ukuran yang besar, karena kamu tidak sanggup membayar hutang.. kami dengan terpaksa akan meminta tubuh mu untuk melunasi nya" ucap bos preman yang kemudian menurunkan celana.


"Pegang dia, biarkan dia meronta. Lagi pula di sini sepi, haha."


"Tolong, jangan.. aku pasti akan melunasi semua hutang ku, aku sudah bekerja siang malam.. bukankah masih ada tenggang waktu satu minggu" ucap perempuan tersebut yang mendengar teriakan seseorang datang.


"Lepaskan dia!!" teriak Rein yang melompat dari atap mobil hitam yang terparkir. Dengan membawa tongkat kayu yang diambil dari tanah dan memukul tiga orang bawahan preman dengan cepat.


Bugh!


Pukulan keras tongkat kayu mengenai wajah tiga preman dengan keras. Membuat ketiganya langsung tersentak. "Siapa!!" ucap Bos preman melihat Rein berdiri di depannya.


Pletak!


"Aarh!!, sialan kamu!!, hajar dia!!" perintah bos preman menyuruh anak buahnya.


Membuat ekpresi senang di wajahnya, terlihat Rein membungkukkan tubuh dan melayangkan kepalan tangan ke arah empat orang preman yang hendak menyerangnya.


Bugh! Bugh!


Dua pukulan mengenai Perut dua preman di depannya. Memainkan satu kaki kanan, Rein kemudian menendang tubuh Preman yang berada di samping kanan dan beralih menendang tubuh preman yang berada di sebelah kiri nya. "Mudah.. mudah, ayo.. kita bermain sebentar" ucap Rein berdiri tegak dan meremas tangannya.


"Cih, kurang ajar!, mengganggu saja!" ucap Bos preman yang melihat empat anak buahnya jatuh tersungkur di tanah, sambil menahan rasa sakit akibat pukulan Rein.

__ADS_1


Saat ini wanita yang berada di tanah, memperhatikan seseorang yang hendak menolongnya. Memperhatikan dan mencoba memastikan. "Bukan kah dia Rein?" ucap perempuan tersebut yang kemudian memanggilnya. "Rein!! kau kah itu??."


Mendengar namanya dipanggil, seketika Rein mencoba melihat perempuan di belakang tubuh bos preman. "Heeeh!!, bu nina???" ucap Rein yang bersiap menerima pukulan.


"Rasakan pukulan tinju ku!" teriak bos preman yang langsung memukul Rein.


Menghindar dengan cepat, tangan Rein kemudian menangkis lesatan tinju bos preman. Memukul pergelangan tangannya, Rein seperti membuat retakan tangannya.


Kretek!


"Ah!!" rintihan Bos preman merasakan tangannya retak.


Menendang wajah dengan kaki kanannya, Rein kemudian membuat tubuh bos preman tersungkur ke tanah. "Haha, kalian ini.. kurang beruntung karena bertemu dengan ku" berkata Rein yang kemudian menghampiri dosennya.


"Anda tak apa apa bu nina?."


Meraih tangan Rein, terlihat Bu nina yang sedang memperbaiki pakainya. "Rein, untunglah kamu disini" ucap bu nina yang kemudian berdiri dan melihat ke lima orang preman tersungkur di tanah Sambil menahan rasa sakit di tubuh mereka.


"Terima kasih Rein."


"Tak masalah, tapi lebih baik kita pergi. Bagaimana pun, aku tak memiliki dendam dengan mereka. Tapi jika bu nina mau.." ucap Rein sambil berbisik di telinga nya.


"Boleh kah?"ucap bu nina yang kemudian menendang satu persatu ************ ke lima orang preman tersebut.


Bugh! Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!


"Aaah!!" teriak keras ke lima Orang menahan sakit.


Meraih tangan Bu nina, terlihat Rein langsung menggendong tubuh nya. "Kita harus pergi secepatnya,karena ini sudah malam.. mungkin ada rumah penduduk di wilayah ini dan kita bisa menginap sementara dan meminta pertolongan." Ucap Rein yang berlari sambil menggendong tubuh bu nina.

__ADS_1


"Aku bawa mobil, tapi mungkin sedikit jauh dari tempat ini" ucap bu nina yang bertemu dengan para preman di minimarket yang tidak jauh dari tempat tersebut.


"Benarkah,kita kesana" ucap Rein yang kemudian berlari dan bergegas, dan bagaimana pun para preman bisa saja mengejar mereka.


__ADS_2