Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author

Smartphone Ku Bisa Menghubungi Author
Bab 36. Taman, Hujan Deras


__ADS_3

Sampai sekitar pukul 11:00.


Di taman Universitas San Diego,Rein tersenyum setelah melihat dirinya berhasil melewati Ujian masuk Universitas San Diego. Walaupun belum tahu hasilnya,Rein tetap bersemangat sambil tiduran dan memikirkan wanita yang sudah menyapa dirinya dengan kata semangat.


Sambil menahan diri karena merasakan lapar,Rein mengambil sebotol air mineral yang dibawanya. Botol bekas pakai yang sudah di isi ulang dengan air rebusan di kontrakannya. " Gluk,Gluk..Ah.. Rasanya ada bau gas tapi ini menyegarkan.." Ucap Rein tersenyum sambil kembali merebahkan tubuhnya.


"Hari ini aku mau cari kerja paruh waktu, mungkin jadi kurir" Keluh Rein merasakan perutnya keroncongan. Dan sesaat hendak bangun dari duduknya,Rein mendengar suara seseorang duduk di sebelahnya sambil membawa kotak makanan. Hanya melihat sekilas,Rein terkejut melihat sosok wanita di sampingnya. Wanita dengan kacamata belajar,memperlihatkan senyum ke arah Rein.


"Ku kira tidak ada orang disini, Aku sering makan sendiri di tempat ini sambil berteduh di pohon beringin ini" Ucap Wanita mendengar suara perut Rein.


"Terimakasih untuk yang tadi" ucap Rein hendak berdiri tapi tangannya langsung dipegang oleh wanita tersebut.


"Kau lapar?, kebetulan hari ini Griss tidak masuk. Padahal dia suka sekali dengan telur dadar buatanku" Ucap Wanita disamping Rein yang mengeluarkan dua kotak bekal makanan. "Nih,buatmu. Temani aku makan siang."


"Tidak,aku mau pergi" ucap Rein menolak tapi perutnya terus berbunyi keras yang bahkan membuat wanita di sampingnya terkekeh.


Sambil menarik Rein untuk duduk,Wanita tersebut kemudian memperkenalkan diri " Aku Nina, dosen sejarah kota. Duduk lah,lagian aku tak bisa menghabiskan dua bekal makanan ini." Pinta Nina terus mendengar suara perut Rein.


Sambil malu merasakan dan mendengar bunyi perutnya,Rein melihat Sosok Bu Nina seperti seorang dewi untuknya. "Tapi,.." Ucap Rein melihat ekspresi kesal di wajah Bu Nina.


"Heh!, Kalau tidak mau ya sudah. Anggap kita tak saling kenal" Ucap Nina terkekeh dan menanyakan nama Rein.


Sambil menerima kebaikan Nina,Rein tersenyum melihat Nina yang menertawakan dirinya. "Aku Rein Rumble..Bu Nina,terimakasih." Ucap Rein yang membuka bekal makanan yang diberikan Bu Nina. Melihat dengan jelas,makanan biasa yang tampak mewah di matanya.


"Hiks,aku tak akan melupakan kebaikan mu. Suatu saat jika aku berhasil,pasti akan aku balas" Gumam Rein yang memakan lahap makanan yang diberikan Bu Nina.


Tersedak!


"Ini minum.." ucap Bu Nina memberikan botol minuman ke arah Rein,yang dimana Botol kemasan air mineral Rein sudah kosong.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat,Rein langsung meminum air yang diberikan Bu Nina dan tersadar " Maaf,aku tanpa sadar..sudah.." Ucap Rein kembali melihat senyum terkekeh Bu Nina.


"Tidak apa,ciuman tidak langsung ini buatmu" Ucap Bu Nina terkekeh sambil menutup mulutnya.


Hingga pukul 12:00.


Rein berdiri dan berterimakasih pada Bu Nina. Sambil melambaikan tangannya,Dengan wajah memerah Rein lebih sedikit tahu tentang kepribadian Bu Nina yang berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah ditemuinya.


"Dia seperti Leinera,Ah..Bagaimana ya kabar Leinera? Ku pikir aku bisa bertemu dia disini" Ucap Rein yang kemudian pergi ke sungai untuk sekedar menenangkan diri dan melihat banyak iklan pinjaman online masuk di Whatsapp-nya " Sebenarnya mereka tahu nomor ku dari mana sih!, Aku harus ganti Nomor kalau seperti ini. Iklan yang meresahkan!."


"Tapi aku tidak punya uang lagi untuk beli kartu GSM baru, Mana bentar lagi masa aktifnya habis lagi." Keluh Rein melihat perahu kertas di pinggir sungai tempatnya berkeluh kesah.


Dan saat itu,Rein terus bersemangat mengetahui kisah hidupnya dapat dirubah oleh seseorang di kontaknya.


***


"Rein,kau ingat saat pertama kali kita berdua makan bekal makanan di taman Universitas San Diego?,saat itu aku melihat mu dan terus memperhatikan mu dari kejauhan." Lirih Bu Nina mencoba mengenang.


"Hihihi, Aku mau jujur padamu. Sebenarnya,Griss masuk hari itu,dan dia meminta ku untuk menemani mu makan dengan bekal miliknya. Dia tahu,kalau aku terus melihat mu seperti sedang mengeluh."


"Aku hanya tergerak saat itu,melihat mu yang bersemangat seperti saat aku pertama kali masuk ke Universitas. Aku seperti melihat mu seperti diriku saat muda."


"Hihi,tapi ini aneh. Sejak kenal dengan mu, kehidupan ku jauh lebih indah. Bagaimana pun, entah perasaan apa yang harus aku katakan..Bahkan aku terus menolak beberapa pria yang mencoba untuk mendekati ku..Rein.."


"Hati ku sakit,ketika tahu kamu sudah menikah..Aku bingung harus apa,hiks.." sambil meneteskan air mata,Nina saat itu menggenggam tangannya sambil terus menangis..


"Bahkan kamu sudah membantu ku terlepas dari grup Dawin, aku sungguh berterimakasih..Tapi,sampai saat ini aku belum bisa mengembalikan uang mu."


Merasakan tangan Rein yang menggenggam tangannya,Nina melihat Rein tersenyum. "Nina,maafkan aku. Akulah yang berhutang banyak pada mu,Jika bukan karena mu,aku tidak sampai sejauh ini." Ucap Rein sambil berdiri dan mencoba untuk membangunkan Bu Nina.

__ADS_1


"Aku sebenarnya juga menaruh hati padamu,tapi melihat kondisi ini,aku seperti tidak sanggup mengatakan perasaan ku. Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi hal ini,bagaimana pun. Aku sudah menikah.." Ucap Rein yang tiba-tiba merasakan sebuah dekapan erat Bu Nina.


"Rein,kenapa..kenapa kamu tidak mengatakan hal tersebut, aku terus menunggu mu menyatakan isi hati mu. Kau,sungguh membuat ku menunggu.." Ucap sedih Nina yang berkali-kali ingin memantapkan isi hatinya.


Hanya dalam sekilas,sebuah kecupan bibir di bawah sinar bulan yang tertutup awan hitam menemani mereka berdua. Dimana kondisi taman sedikit sepi dengan beberapa deru suara angin yang menggoyang kan pepohonan.


Perlahan rintik hujan turun dengan perlahan,menemani kesunyian mereka berdua.


"Aku tak mau menyesal" Ucap Nina meneteskan air mata yang bercampur hujan sambil melihat Rein yang tercengang..



Hingga beberapa saat kemudian..


Rein langsung meraih tubuh Nina dan menggendongnya di depan. Merasakan beberapa tetes air hujan yang membasahi tubuh mereka berdua.


Takut!


"Rein!, apa yang terjadi! Kenapa kamu bisa melompat tinggi!" Ucap Nina takut melihat ketinggian,dimana saat ini Rein menunjukkan kemampuannya.


Jegler! Suara halilintar!


"Lebih baik kita cepat pulang,atau kita akan sakit pilek" Ucap Rein yang berusaha melindungi Bu Nina sambil terus menggendong dan melompat beberapa kali. Menuju ke Rumah Bu Nina,saat ini Rein memandang wajah Bu Nina yang menutup mata karena takut.


Melesat dengan cepat,Rein langsung turun dan membuka jendela kamar Bu Nina di lantai atas. Yang bahkan Rein tahu kondisi rumah Bu Nina. " Kita sudah sampai " Ucap Rein hendak menurunkan tubuh Bu Nina di dalam kamarnya.


Jleger!! Petir menyambar keras!


"Uwaaaa!!" Teriak Bu Nina mendekap Rein dengan erat dan belum turun dari gendongnya. Tampak wajahnya yang begitu ketakutan,Bu Nina terus merasakan hangat tubuh Rein.

__ADS_1


__ADS_2