STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
IJIN MAMA


__ADS_3

Siang ini matahari begitu terik, Hana dan kedua sahabatnya bahkan enggan untuk pulang kerumah. Berhubung ketiga gadis itu pulang mengendarai sepeda motor, bisa dipastikan kulit mereka akan terbakar. Ketiga gadis itu memutuskan untuk berlama lama di ruang kelas.


"Besok kemana?" tanya Melanie yang ingat besok adalah akhir pekan. Waktu yang tepat untuk keluar rumah.


"Benar-benar, kita kemana? Gue bosan, mau refreshing otak dulu. Belum lagi minggu depan udah ujian akhir, gue mau terapi otak dulu" tambah Rena menyetujui ide Melanie.


"Terserah loh berdua aja deh! gue ngikut aja. Tapi yang pasti jika perjalanan malam, kita harus naik mobil sama" jawab Hana memberi pendapat. Kedua sahabatnya tinggal menunggu jawabannya.


"Gimana klo kita refreshing ke pantai?" ide Melanie, berharap kedua sahabatnya menyetujui idenya.


"Menurut gue sih ok, karena pantai adalah tempat refreshing terbaik. Menurut loh gimana Han? Nyokap loh ijinan gak?" tanya Rena yang tahu Hana selalu di awasi ketat oleh ibunya.


"Gue sih oke oke aja, tapi nanti gue kabari lagi. Mudah mudahan mama ngijinin. Udah yok kita pulang, udah gak terlalu panas" ajak Hana menyudahi obrolan mereka.


"Yoai... jangan lupa kasih kabarnya yang cepat" Melanie mengingatkan Hana. Ketiga gadis itu akhirnya meninggalkan parkiran kampus. Mengingat perut yang mulai berbunyi meminta diisi sang empunya.


"Siang!!" teriak Hana memenuhi rumah. Hana mencoba mencari ibunya, ingin mengajukan ijin untuk pergi ke pantai.


"Ma... mama..... oh mama....." teriak Hana memanggil manggil. Tetapi sudah memanggil begitu lama, belum juga dapat sahutan dari Safira.


"Nyonya besar sedang pergi dengan tuan besar non, sepertinya perjalanan bisnis" kepala asisten menjawab panggilan Hana yang sedari tadi berteriak memanggil Safira, ibunya.

__ADS_1


"Kenapa gak cerita sama aku bi? biasanya mama cerita klo mau jalan, apalagi nginap" kata Hana tidak terima karena Safira tidak memberitahunya.


"Sepertinya ini perjalanan mendadak non, buktinya tadi nyonya besar packingnya cepat banget. Klo gak salah bawa barang seperlunya aja" jelas kepala asisten, mencoba membuat Hana mengerti.


"Yaudah deh bi, kak Remon belum pulang?" tanya Hana mencoba mencari saudaranya. Mungkin Remon bisa membantunya meminta ijin pada Safira. Hana merasa tidak enak hati jika menolak ajakan kedua sahabatnya. Mengingat pilihan dia selalu tempat tujuan ketiga bersahabat itu jikalau akhir pekan. Setidaknya kali ini dia harus bisa ikut saat salah satu temannya memilih tempat.


"Belum non" jawab kepala asisten.


Tin.. tin... bunyi klakson mobil Remon, orang yang baru saja dibicarakan kini sudah tiba di rumah. Remon sepertinya sedang memarkir mobilnya di garasi.


Hana menunggu Remon di ruang tamu, takut Remon tidak terlihat di rumah. Apalagi besok akhir pekan, bisa saja Remon keluar rumah untuk menghabiskan malam weekend.


"Sore kak! udah pulang? gimana kerjanya?" sapa Hana berbasa basi sebelum masuk ke topik perbincangan.


"Ya ya ya.... emang loh pikir sekolah bapak gue biar bisa seenaknya aja buat aku lulus!" jawab Hana asal.


"Terserahlah! ngapain nunggu aku? pasti ada mauhya ini, benarkan?" tanya Remon yang malas meladeni Hana. Terlihat jelas raut wajah kelelahan di wajahnya.


Hana langsung berlari kecil mendekati Remon, menggandeng tangan kiri Remon sembari mengayun ayun kecil. "Kak, besok kan akhir pekan. Jadi....minta ijin dong sama ibu jalan jalan ke pantai, please!!" pinta Hana memberi ekspresi lucu.


"Nanti saja! Aku mau mandi dulu" jawab Remon singkat dan di balas anggukan cepat dari Hana.

__ADS_1


"Sana sana, cepat mandi! biar wangi tambah tampan!" puji Hana dengan senyum lebar di bibirnya.


"Giliran ada yang mau diminta, baru sok imut!" gumam Remon dan berlalu meninggalkan Hana yang masih tersenyum bahagia. Jelas di wajah Hana ada harapan di ijinkan. sekitar 10 menit setelah Remon meninggalkan Hana, Hana menyusul Remon. Dia mengetuk kamar Remon tetapi tidak mendapat jawaban dari si pemilik kamar.


Hana mencoba membuka pintu kamar perlahan, memeriksa keberadaan si pemilik kamar. "Pantas saja di panggil gak nyahut, orangnya udah ngorok" kesal Hana sembari mendekati Remon, memastikan Remon benar-benar tertidur.


"Ganggu apa inggak ya?" gumam Hana sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Gak usah deh, kayaknya dia memang kelelahan. Apa memang ada masalah di perusahaan ya? Ayah juga tiba tiba perjalanan bisnis, kakak juga kelelahan. Kasihan mereka, Hana belum bisa bantuin" Hana duduk disamping kasur, memperhatikan wajah tampan sang kakak yang tertidur pulas. Ada kumis tipis di sekitar dagu pria tampan itu.


"Pantas saja Melanie klepek klepek sama ni anak, gue baru sadar kakak gue tampan! hihih...." Hana cengingisan melihat wajah Remon, Remon sampai ternganga karena begitu nyenyak.


"Tetapi klo Melanie melihat ini, mungkin dia tidak akan jatuh hati sama anak ini" Hana mulai mengabadikan kejadian langka itu. Mengambil beberapa gambar Remon yang tertidur sambil menganga.


Hana yang lelah dengan tingkah anehnya mulai memasuki mimpi indah. Dia menyusul Remon masuk ke alam mimpi, Hana bahkan tidak tau Remon sudah terbangun dan terkejut melihat keberadaan Hana di kamarnya, bahkan Hana tertidur di kasurnya.


"Ini anak gadis apa inggak sih? main tidur aja di kasur orang! Gue kirain gue udah nikah, ada istri yang menemani tidur.... taunya anak ingus yang numpang" gerutu Remon yang terkejut saat terbangun ada anak gadis di sampingnya. Tapi ada rasa tidak tega membangunkan Hana. Remon memilih menghubungi Safira untuk meminta ijin Hana ke pantai.


"Kamu harus ikut! Kamu harus ngawasi mereka, ibu akan tenang jika kamu ikut! Jika tidak, maka jangan pergi" suruh Safira meminta Remon menemani gadis gadis itu ke pantai.


"Yaudah ma, nanti aku kabari jika kami jadi pergi. Bye ma, jangan lupa jaga kesehatan!" pinta Remon yang tau ayahnya akan sangat sibuk dengan perjalanan bisnis kali ini. Remon sudah meminta agar dia yang pergi ke perjalanan bisnis. Tetapi Lexon tidak ingin putranya sibuk jika dia masih sanggup melakukan. Lexon ingin putranya mempergunakan waktunya sebaik mungkin selagi dia masih mampu.

__ADS_1


Lexon tau suatu saat nanti dia tidak akan sekuat sekarang, maka dipastikan putranya akan sangat sibuk dengan dunia bisnis. Jadi selagi dia masih mampu mengerjakannya, Lexon ingin putranya menikmati masa mudanya. Lexon tau putrinya akan membantu Remon suatu saat nanti, tetapi itu hanya sesaat, karena Hana akan mengikuti jejak suaminya. Jadi pada akhirnya perusahaan akan tetap jatuh ke tangan Remon, putra sulungnya.


__ADS_2