STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
PINDAH KE TEMPAT BARU


__ADS_3

Sejak bermain golf akhir pekan lalu Hana tidak memiliki banyak waktu untuk berkencan dengan kekasihnya. Hana sibuk menjadi karyawan baru di perusahaan. Hana terlihat sangat serius untuk mempelajari manajemen di perusahaan keluarganya. Hana sendiri kurang paham dengan dirinya sendiri, kenapa dirinya begitu sangat ingin memahami semua manajemen perusahaan.


Hana ingin mengetahui bagaimana proses berjalannya perusahaan pakaian keluarganya. Mulai dari proses produksi, bagaimana pemasarannya, hingga bagaimana pengelola keuangan. Di bagian pengelolaan keuangan adalah kunci utamanya.


Remon yang menyadari keseriusan Hana tidak ambil pusing. Remon justru senang dan malah ikut membantu Hana. Remon senang ketika mengetahui ketertarikan Hana dengan perusahaan keluarga mereka, karena sebelumnya Hana sama sekali tidak terlalu tertarik.


"Apa kau sudah memeriksa buku besar? Bagaimana? Apa ada masalah?" tanya Remon ke Hana. Kedua anak dari Safira dan Lexon itu tengah duduk bersantai di sofa ruang tamu.


"Untuk sekarang ini, Hana rasa masih baik baik saja. Mudah mudahan begitu sampai seterusnya. Tetapi aku boleh bertanya kan kak?" tanya Hana yang tiba tiba penasaran dengan sesuatu.


"Katakan!" jawab Remon.


"Apa kakak juga selalu memeriksa buku besar perusahaan cabang?" tanya Hana penasaran.


"Kakak selalu memeriksanya kecuali kantor cabang ke 2, kakak tidak rutin memeriksanya karena kakak yakin dengan kepala cabang, ayah juga. Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Remon yang juga penasaran dengan maksud pertanyaan Hana.


"Entahlah, mungkin aku hanya terlalu curiga saja. Kakak tau, terkadang semakin orang dipercaya, semakin dia merajela!. Kak!! Aku punya pemikiran, tidak tahu kakak dan ayah menyetujui atau tidak" ungkap Hana mencoba ingin memberitahu sesuatu.


"Katakan saja!!" tegas Remon.


"Mm...... Bagaimana kalau aku ke perusahaan cabang kedua saja, tapi tidak sebagai pimpinan hanya sebagai karyawan baru. Hitung hitung aku bisa memperhatikan keadaan disana" Hana akhirnya mengucapkannya. Hana sempat ragu memberitahu, takut kakak dan ayahnya tidak setuju"


Remon terdiam sejenak, dia sedang berpikir. Ada benarnya yang Hana katakan. "Apa kau yakin? Apalagi jarak dari rumah ke sana tergolong jauh" kata Remon mencoba meyakinkan Hana kembali.


"Apa kakak lupa siapa adikmu? Aku Ratu jalanan!! Bagiku itu tidak akan jauh, pasti akan sangat menyenangkan!" Hana menjawab dengan yakin.


"Baiklah!! Tapi disana kau mungkin akan bertemu beberapa kenalan lama, apa tidak masalah?" tanya Remon lagi sebelum benar benar menyetujui.


"Tenang saja!! Mau kenalan lama atau baru aku pasti bisa!" jawab Hana. Wajah penuh keyakinan.


"Bagaimana dengan Rena?" tanya Remon mengingat sahabat Hana.


"Biarkan dia tinggal disini. Kakak perhatikan dia, biarkan dia belajar disini. Dia sangat ingin bekerja di sini, suatu waktu aku pasti membutuhkan bantuannya" jelas Hana. Tidak tahu sebenarnya apa yang dia katakan, tetapi lagi lagi dia merasa yakin dengan firasatnya.


"Baiklah, kakak setuju! Kakak juga akan mencari jalan agar papah setuju!" akhirnya Remon menyetujui.

__ADS_1


"Besok kau bisa mulai bekerja, sebagai karyawan baru bukan di transfer dari pusat" jelas Remon.


"Siap bos!!" jawab Hana dengan sigap.


Di tengah tengah perbincangan serius itu, Hana dan Remon tidak menyadari kalau kedua orang tuanya sudah menguping pembicaraan mereka. Kedua orang tua itu takjub denga anak anak mereka.


"Pah!! Kau lihat, putra putri kita sudah dewasa" kata Safira sambil menatap punggung kedua anaknya.


"Iya mah! Padahal papa masih ingat mereka menangis di gendongan papa, sekarang mereka justru sudah berbagi beban dengan papa" jawab Lexon bangga dengan kedua anaknya.


"Sekarang papa sudah yakin jika menyerahkan perusahaan ke tangan mereka" tambah Lexon.


"Cemilan malam!!!" Melani tiba tiba muncul dari dapur dengan sepiring pisang cokelat di tangannya.


" Waoooo, kakak ipar memang yang terbaik!!!" puji Hana.


"Jelas dong!!! Istri siapa??" bangga Remon sambil mengajak Melani duduk disampingnya.


"Enak saja!! Kakak kan rebut sahabatku!! Kupa yah!!!" Hana tidak mau kalah.


"Pah!! Urus istrimu! Kok jadi merebut istriku sih!" bisik Remon ke Lexon yang sudah duduk di sampingnya.


"Jangan salah!! Istrimu yang mencuri istriku!! Jika istrimu tidak pintar mencari perhatian, istriku tidak akan memperhatikannya!!" balas Lexon tidak mau istrinya di salahkan.


"Kenapa kalian berdua jadi ributin istri sih?? Mentang mentang Hana belum jadi istri siapa siapa kalian jadi malah ributin istri!!" kesal Hana.


"Hahahahahaha......" Akhirnya semua orang tertawa karena rengekan Hana.


"Han!! Jangan buru buru!! Nikmatin aja!!" kata Safira menasehati putrinya.


"Benar!! Kan ada Kak Maxim, benarkan mah!!" tambah Melani dan diangguki Safira.


Lexon hanya bisa diam. Dia tidak bisa berkomentar. Mengingat sampai sekarang dia belum juga bisa menghubungi sahabatnya. Jadi dia tidak bisa asal memisahkan putrinya dengan Maxim. Kecuali jika dia sudah bisa menghubungi sahabatnya untuk memastikan, Lexon akan dengan bangga menyatakan bahwa Hana sudah dijodohkan.


Begitulah keluarga itu menghabiskan malam hingga kantuk menghampiri. Mereka hanya bisa menghabiskan waktu bersama untuk bercerita hanya di malam hari.

__ADS_1


"Dimana Hana?? Kenapa belum turun?? Ini sudah jam berapa?? Anak gadis kok masuh tidur!!" Safira merepet karena tak juga melihat Hana sedari tadi.


"Udah mah biarin saja dulu!! Masih ada waktu, mungkin dia begadang semalam" Lexon menenangkan istrinya.


"Papa kok belain?? Udah putrinya salah malah di belain!" kini Lexon menjadi sasaran Safira.


"Mama cari Hana ya?" tanya Melani yang muncul dari dapur. Kini Melani sebagai menantu di keluarga Sunitra harus membantu Safira menghandel pekerjaan di dapur. Mulai dari mengarahkan Asisten rumah hingga membantu menentukan makanan apa yang perlu disajikan setiap harinya.


"Benar!! Lihat menantuku! Pagi pagi sudah bangun, sedangkan putrimu masih tidur. Bagaimana nanti dia mau ke rumah mertuanya??" Safira memuji Melani sekaligus merepeti Lexon.


"Sudah mah jangan marah marah!! Hana gak gitu kok, Hana tadi sudah pergi kerja!" jelas Melani dan mendengar itu Safira langsung membulatkan mata terkejut.


"Lihat putriku, rajin kan? Mama malah merepetinya!" Lexon bangga istrinya kalah telak.


"Ini kan masih sangat pagi!!" kata Safira masih tidak habis pikir.


"Apa mama lupa pembicaraan mereka kemarin? Berarti mulai hari ini Hana kerja di cabang kedua. Mama kan tau jaraknya dari rumah lumayan jauh!" jelas Lexon dan diangguki Remon yang sudah bergabung di meja makan.


"Iya mah! Hana sudah bertekad kemarin, yasudah Remon ijinkan saja" kata Maxim membantu memberi penjelasan.


"Jadi Rena gimana yank?" tanya Melani ke Remon.


"Rena tingga di perusahaan pusat. Aku tidak tahu apa rencana Hana. Hana hanya mengatakan dia punya firasat buruk tentang cabang kedua, jadi aku hanya ingin Hana mencaritahu" jelas Remon.


"Firasat buruk apa? Apa Hana meragukan orang ayah?" tanya Lexon tidak habis pikir dengan pola pikir Hana.


"Entahlah pah!! Biarkan saja, mungkin saja ada sesuatu" Remon mendukung Hana.


Lexon hanya diam tidak menjaqab lagi. Memang sedari dulu pola pikir Hana selalu aneh. Tetapi firasat Hana sangat jarang melenceng. Jika Hana memiliki firasat aneh, maka pasti ada sesuatu.


"Sudah sudah makan dulu! Ini sudah jam berapa? Jangan mentang mentang kalian atasan perusahaan jadi sesuka hati datang jam berapa! Memang itu perusahaan kalian?" kata Safira tidak sadar ucapannya.


"Ya memang perusahaan kita kan mah??" jawab Remon dan di balas tawa oleh Lexon.


Safira hanya bisa menggeleng kepala melihat ulah suami dan putranya. Melani juga hanya bisa tersenyum. Melani bahagia bisa berada di keluarga yang harmonis. Jika ada pertikaian, maka pertikaian itu tidak akan besar, pertikaian itu justru berubah menjadi candaan.

__ADS_1


__ADS_2