STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
HADIAH ULANG TAHUN


__ADS_3

Maxim yang mendengar pertanyaan seketika menatap tajam Remon. Dia lagi lagi marah mendengar pertanyaan Remon. Dia kembali mengingat gadis di toko roti. "Entah takdir apa yang kumiliki hingga harus bertemu gadis aneh itu? Bagaimana bisa seorang gadis menyukai durian yang baunya memusingkan! Kenapa toko roti harus menjual kue rasa durian?" sungut Maxim. Dia duduk di depan Remon yang tiba tiba teringat seseorang.


Remon bangkit dari berbaringnya, dia tertawa terbahak bahak. Ternyata Maxim sama dengannya, sangat membenci durian. "Kau masih beruntung hanya bertemu dengan gadis penyuka durian sekalu, bagaimana denganku bro?" Remon mengikuti jejak Maxim, bersungut sungut.


"What? seriuosly?" tanya Maxim dengan wajah kagetnya.


Remon hanya menjawab dengan anggukan kepala. Berbeda dengan Maxim yang sudah tertawa keras. Ternyata Remon lebih menderita daripada dirinya.


"Aku harus pulang! Ada acara di rumah. Kuenya enak, selamat menikmati!" titah Remon sembari menepuk pundak Maxim. Maxim tidak mengantar kepergian Remon.


"Oke oke! Hati-hati di perjalanan, dan semangat di rumah!" jawab Maxim. Dia tidak lagi melihat kepergian Remon. Dia sibuk menikmati kue yang dia bawa dari toko roti. "Harusnya aku yang membuka kue ini, kenapa jadi si brengs*k itu!" gumam Maxim menikmati kue yang sudah terlebih dahulu dinikmati Remon.


"Selamat ulang tahun untukku!" tambah Maxim dan tersenyum sendiri menyadari kekonyolannya.


Di tempat lain, Hana masih terlihat kesal akibat pertemuannya dengan pria yang dia idolakan. Dia tidak menyangka pria itu begitu menyebalkan. Apalagi saat pria itu mengejek makanan kesukaannya. Hana benci itu, seketika rasa itu sedikit berkurang. Meskipun tidak sepenuhnya.


"Huh! Selamat ulang tahun untukku!" semangat Hana untuk dirinya, tidak lupa untuk menikmati kue rasa durian itu. Hanya dengan kue itu perasaan kesalnya sedikit berkurang. "Ini sudah malam, tapi sampai sekarang ucapan selamat belum juga ku terima! Apa aku memang anak mereka? Sudahlah! Aku yang menginginkan ini, aku yang tidak mau terlihat sebagai anak mereka! Hidupku menyedihkan!" rengek Hana tapi tetap menikmati kue durian itu.


Hana sanggup menghabiskan kue durian itu, karena ukuran kuenya juga tidak begitu besar. Hana yang berdiam diri di kamar seketika diam membeku, lampu padam. Hana sangat benci itu.


"Huaaahhhhh!!!! lagi lagi hariku sial!! Bibi!!! Kakak!! Momi!! Dad!!!" teriak Hana memanggil semua penghuni rumah. Hana perlahan mencari ponselnya yang tadi dia letakkan di meja samping kasurnya. "Dapat!" soraknya senang karena menemukan benda yang bisa menolongnya.

__ADS_1


Hana berjalan perlahan setelah menyalakan senter di ponsel pintarnya. Hana pelan-pelan menuruni tangga. Sialnya senter HP padam, daya ponsel mati. "Huahhhh!!! mama!!!! tolongin Hana!!" tangis Hana yang memilih duduk di tangga, tidak mau melanjutkan langkahnya ke lantai bawah.


"suprise!!!" teriak semua orang dari lantai bawah. Lampu menyala bersamaan dengan suara dari lantai bawah. Hana yang sudah menangis sesenggukan melihat lantai bawah. Semua orang sudah ada di bawah, lantai bawah sudah dihiasi begitu indah. Kedua sahabat Hana juga sudah disana.


"Kalian jahat!!! Huahhhh!!!" Hana merengek tidak mau pindah dari tangga itu. Dia bersikap manja, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


Lexon langsung berlari menghampiri Hana. "Maafkan ayah sayang!" memeluk Hana yang merajuk. Hana membalas pelukan ayahnya, air mata tidak juga berhenti mengalir. Dia masih kesal dengan hari ini. Seharusnya ini hari keberuntungan, kenapa berubah menjadi hari sial?


"Papa jahat! Mama juga, apalagi kakak! Kalian berdua juga! Bahkan bibi juga ikut ikutan!" kesal Hana mengutarakan kekesalannya.


"Sorry girl! Kita rencananya mau kesini tadi siang, tapi kak Remon menahan dan memberitahukan rencana ini. Yah! Kami juga senang dong kalau sahabat kami bahagia!" jujur Melani menjelaskan, diikuti anggukan kepala dari Rena.


Lexon memapah putrinya ke ruang tamu, mengajak Hana berdiri di meja yang berisi kue ulang tahun. "Kenapa gak rasa durian?" tanya Hana tidak terima.


"Memang cuman kamu yang mau makan?" kata Safira membuat Hana tersenyum malu. Dia melupakan orang lain, dia hanya mengingat kesenangan sendiri.


"Ya maaf! lupa gue! Ini jadi gak tiup lilinnya?" tanya Hana polos.


"Jadi!!" jawab semua orang serentak. Mereka tidak bisa melawan sosok Hana yang menyebalkan dan super aneh. Tadi dia masih menangis dan jangan lupakan mode manjanya. Sekarang gadis itu sudah berubah menjadi mode semangat. Hana meniup lilinya dan disambut yang lain dengan tepuk tangan.


"Berikan kadonya!" pinta Hana membuat semua orang menepuk jidat. Seharusnya Hana memotong kue dan membagikannya ke semua orang, tapi berbeda dengan Hana. Setelah mengucapka doa permohonan dan meniup lilin, Hana justru meminta kado dari semua orang.

__ADS_1


"Ha...na!!!!" teriak semua orang, kecuali Remon yang tertawa geli. Dia heran kenapa dia memiliki saudara yang aneh.


"Hahahahahahaha..... maaf, lupa!" jawab Hana santai membuat semua orang geleng kepala. Hana memotong kue dan membagikannya ke semua orang. Dimulai dari kedua orang tuanya, lanjut dengan kedua sahabatnya. Hana sengaja memberikan suapan terakhir kepada Remon. Hana masih kesal dengan Remon yang memilih merayakan ulang tahun sahabatnya daripada saudarinya.


"Sudahkan? Sekarang mana hadiahnya?" tagih Hana. Dia penasaran dengan Hadiah yang akan dia terima. Semua kado sudah terkumpul, Hana tidak membuka kado dari orang tuanya ataupun dari dua sahabatnya. Hana memilih membuka kado dari Remon, karena kado dari Remon yang selalu membuat Hana melompat kegirangan bagaikan di alam surga.


"Lah!! Masa cuman foto BTS sih? Album terbarunya mana? tiket konsernya?" tanya Hana tidak terima. "Dasar kakak tidak peka!" gumam Hana dan menatap tajam Remon. Remon hanya membalas dengan senyuman tidak bersalahnya.


Hana lanjut membuka hadiah dari ayahnya, mungkin ayahnya akan membuatnya lebih bahagia. Hana tidak berharap banyak pada 3 wanita itu. Hana sudah merasa senang jika ke 3 wanita itu memeluk dan menciumnya. Hana hanya akan meminta lebih pada pimpinan dan wakil pimpinan perusahaan Sunitra.


"Wah!! Ayah memang yang terbaik!" mengacungkan jempolnya karena mendapat album terbaru BTS. Hana memeluk Lexon dan di balas Lexon.


"Semua yang terbaik untukmu putriku! Ayah akan selali mendoakanmu dan mendukungmu! Jadilah pribadi yang dewasa!" kata Lexon memberi semangat pada putrinya.


"Terima kasih ayah! Tapi ayah, ini masih kurang! Tiket konsernya mana?" tagih Hana merasa tidak puas.


"Hahahahaha..... mampus! Siapa suruh memanjakan putrimu!" ejek Safira pada suaminya. Safira tau menghadapi putrinya yang aneh itu tidak akan mudah.


"Setelah kamu lulus kuliah, ayah akan memberikan tiket konsernya. Jika Tuhan menginginkan, ayah akan membuatmu bertemu langsung dengan mereka! Tapi dengan syarat, kamu harus lulus denga IPK memuaskan!" kata Lexon menenangkan Hana.


"Of course dad" jawab Hana cepat. Hana tertantang dengan ucapan ayahnya. Dia memang wanita yang suka dengan tantangan, tidak akan mengaku kalah sebelum dia mencobanya. Hana bahagia karena ulang tahunnya tidak dilupakan. "Aku anak kandung, bukan anak tiri ternyata" gumam Hana pelan, tidak mau terdengar yang lain. Dia tersenyum lucu dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2