
Di perusahaan Maxim, sekretaris Raka harus bekerja sendirian setelah mendapat surel ijin cuti dari Hana. Rasanya ruangannya sepi karena tidak adanya Hana. Meskipun sedari awal ruangan itu memang sepi sebelum Hana masuk keruangannya. Tetapi beberapa minggu ini, kehadiran Hana sangat menyenangkan. Jadi sangat terasa saat Hana tiba tiba tidak terlihat.
Tring!!! Bunyi pesan di ponsel Raka. Raka yang sedari tadi sibuk dengan komputernya memutuskan untuk membuka ponselnya setelah mendengar dering pesan. 'Segera urus penerbanganku pulang saat ini juga' pesan dari Maxim.
"What!!! Apa apaan sih bos gue!!! Masa iya harus mengurus penerbangannnya sekarang?"Raka berkomentar. Bingung dengan jalan pikiran bosnya. Jika ingin kembali, seharusnya bosnya mengabarinya sedari tadi malam. Tetapi kenapa harus pagi ini bosnya mengganggunya. Mengingat banyaknya tumpukan dokumen di meja dan banyaknya surel yang masuk ke komputernya belum dia periksa.
Tring!! 'Cepat!! Jangan ada komentar!' lagi lagi Maxim mengirim pesan karena pesan awal belum mendapat balasan.
"Semoga aku panjang umur menghadapi bosku!" gumam Raka dan segera beranjak dari duduknya.
'Selesai bos! Silahkan nikmati penerbanganmu, saya menunggu di bandara!' jawab Raka mambalas pesan Maxim. Raka bahkan membalas pesan sembari berjalan menuju lif.
"Andaikan saja aku punya kekuatan seribu bayangan naruto, mungkin pekerjaanku akan selesai dengan cepat!" Raka selalu berbicara sendiri. Meskipun begitu, dia tetap fokus menyetir mobil ke arah bandara.
"Hufy!! Han... Han... Loh kenapa harus gak datang sih disaat gue bermasalah! Loh malah selamat dari bos menyebalkan ini!" Raka menginjak rem setelah tiba di bandara. Dia keluar mobil menanti kedatangan Maxim.
"Akhirnya dia datang!" pandangan Raka fokus ke seorang pria yang sangat dia kenal. Pria itu tampak terburu buru menuruni anak tangga.
"Selamat datang bos! Apakah ada hal mendesak yang membuatmu terburu buru kembali?" tanya Raka penasaran melihat Maxim terburu buru melangkahkan kakinya ke mobil yang terparkir. Barang barang dibawa para pengurus bandara.
"Jangan banyak bicara, segera berangkat ke perusahaan!" perintah Maxim tidak menanggapi pertanyaan Raka.
"Baik bos!" jawab Raka dan segera menginjak gas setelah koper Maxim masuk bagasi mobil.
"Apa kemampuan mengemudimu menurun setelah ku tinggalkan beberapa minggu?" ledek Maxim tetapi malah membuat Raka bingung.
__ADS_1
"Maksud bos?" tanya Raka.
"Tambah kecepatanmu!!" titah Maxim kesal karena sekretarisnya itu tidak memahami ucapannya.
"Oh, maaf!!" Raka langsung menambah kecepatan. Entah mengapa Raka sangat penurut. Raka merasa suasana hati Maxim sedang tidak baik. Raka memilih menyelamatkan diri, tidak mau terkena amukan Maxim.
Mobil yang Raka kendarai akhirnya tiba di parkiran perusahaan. Maxim langsung turun tanpa menunggu Raka membukakan pintu untuknya. Raka semakin bingung melihat tingkah Maxim. Raka hanya bisa menggaruk sikunya yang tidak gatal sembari melihat Maxim berlari memasuki lif.
"Aneh!! Ada apa dengannya? Dia seperti merindukan istri dan ingin segera memeluk istrinya!" gumam Raka.
"Oh gawat!!! Apa mungkin dia merindukan Hana?? Gawat!!! Hana tidak datang ke perusahaan! Bagaimana ini?" Raka langsung berlari menyusul Maxim. Raka yakin Maxim akan segera bertanya tentang keberadaan Hana.
"Dimana Hana!!!!" tanya Maxim sedikit berteriak di ruangan Raka. Dia langsung mencari Hana ke ruangan Raka karena sebelum dia pergi ke AS, dia menyuruh Hana pindah ke ruangan Raka.
"Maaf bos!! Hana sedang kurang enak badan, dia meminta cuti hari ini!!" jawab Raka yang baru tiba di ruangannya.
Raka cepat menyodorkan kunci ke Maxim. Dia tahu Maxim sedang mode gila akan cinta. Dia tahu Maxim sedang mode gila karena sangat merindukan Hana.
"Hahhhh.... Ternyata jika sudah terkena penyakit cinta, orang bisa berubah!" kata Raka merasa ngeri dengan kegilaan bosnya. Raka hanya bisa bergumam sendiri, melihat setiap kegilaan yang Maxim lakukan. Tetapi setidaknya Raka bersyukur karena tidak mengikuti Maxim. Raka memilih bekerja lembur di kantor daripada hari mengikuti jejak Maxim yang sedang terkena virus rindu.
"Nona!!!! Di depan ada pria yang cariin nona! Kalau gak salah, dia pria yang fotonya pernah nona tunjukkan sama bibi!" jelas kepala asisten melapor ke Hana yang sedang bermalas malasan di sofa menikmati movie di layar besar di depannya.
"What?? Apa bibi yakin? Sedang apa dia disini? Bukankah dia ada di AS?" bingung Hana yang segera beranjak dari tidurannya.
Hana berlari kecil keluar, mengintip dari jendela memastikan orang yang dimaksud kepala asisten adalah orang yang sama dengan yang dia pikirkan. "Apa apaan ini?? Kenapa dia kesini?? Bahaya!!!! Jangan jangan dia mau mencekikku!! Hahhhhhhhhh..... Mama!!!!!" Hana seketika panik. Hana berlari lari kecil di rumah berusaha bersembunyi. Memanggil Safira juga tidak ada gunanya.
__ADS_1
Safira sudah pergi dengan urusan sosialitannya sedari pagi. "Bi!! Sini sini!! Bilang saja saya lagi sakit tidak bisa di ganggu, takut virusnya tertular!!" kata Hana meminta kepala asisten berbohong.
"Apa nona memang sakit? Jika nona sakit saya akan hubungi nyonya besar!" polos kepala asisten meladeni kebohongan Hana.
"Aduh bi..... Hana gak sakit! Hana hanya ingin menyelamatkan diri dari bahaya!!" tambah Hana mencoba memberi penjelasan.
"Bahaya?? Siapa yang membahayakan nona? Katakan padaku, aku akan memukulnya!"
"Bibi!!!!! Sudah bi!! Bibi polos atau gimana? Bibi bilang aja kek yang Hana bilang sama pria itu, itu saja cukup. Hana mau masuk kamar dulu" pamit hana dan berlari ke lantai dua ke arah kamarnya.
Tidak berselang 10 menit setelah Hana memasuki kamar. Pintu kamar ada yang mengetuk. Hana yakin itu kepala asisten yang akan memberitahu bahwa Maxim sudah pulang.
"Bi!! Dia sudah pergi??" tanya Hana sambil membukakan pintu. Seketika mata Hana membulat total, tiba tiba Maxim memeluknya erat.
"Pak!! Apa salah saya? Jangan cekik saya!" kata Hana pelan di sela sela pelukan Maxim.
Maxim sama sekali tidak merespon. Dia melonggarkan pelukannya, tetapi tidak melepas pelukan itu. Dia masih mencium aroma yang sangat dia rindukan beberapa minggu ini. Aroma yang benar benar membuatnya gila karena begitu sangat merindukannya. Bahkan Maxim beberapa kali gagal bekerja sama dengan perusahaan lain karena tidak fokus saat meeting. Itu semua karena pikirannya di penuhi Hana, Hana dan Hana.
Maxim yang tidak mampu lagi membendung rasa rindu itu memutuskan kembali ke tanah air. Dia tidak lagi peduli dengan kerjasama, karena sedari awal tujuan dia kembali ke AS bukan untuk itu. Dia kembali hanya untuk menghilang perasaan yang dia pikir hanya sesaat. Tetapi itu tidak berhasil, semakin dia menghindar, rasa itu semakin besar.
Maxim tidak peduli dengan status atau apapun itu tentang Hana. Maxim hanya akan mencoba mengikuti perasaannya. Itulah alasa kenapa Maxim kembali.
"Pak!! Saya sakit!! Nanti tertular!!" kata Hana lagi yang sudah merasa gerah karena pelukan Maxim.
"Tak apa! Tularkan saja, aku baik baik saja! Tetapi biarkan aku memelukmu 2 menit lagi!" jawab Maxim.
__ADS_1
Hana seketika merasa terhipnotis. Dia hanya bisa mengangguk membiarkan Maxim memeluknya. Pikiran Hana kosong. Tetapi entah mengapa pelukan itu semakin lama semakin nyaman. Hana sesekali menarik nafas dalam. Membiarkan aroma tubuh Maxim memenuhi hidungnya. "Sangat wangi!!" batinnya.