
Keluarga Hana dan Yemima si gadis kecil tengah sibuk berbincang bincang. Mereka terkadang bercanda gurau bersama Yemima. Terlihat jelas dari tawa Yemima yang selalu pecah memenuhi ruangan itu. Yemima langsung bisa beradaptasi dengan keluarga Hana.
Meskipun semua keluarga berbincang bincang, mereka tidak memiliki satu topik perbincangan. Hanya kaum hawa yang bercanda gurau dengan Yemima, berbeda dengan kaum adam. Kaum ada berbincang fokus ke topik perkembangan dunia bisnis.
Tok tok tok..... Suara ketukan pintu ruangan Hana seketika menghentikan kegiatan mereka. Mata serentak memandang ke sumber suara. Melani dengan sigap berlari ke arah pintu untuk membuka pintu. "Cari siapa bu?" tanya Melani ke seorang wanita yang umurnya diperkirakan lebih muda dari Safira, wanita itu berdiri tepat di depannya.
"Maaf kak mengganggu, Yemima ada? Aku ibunya!" jawab si wanita muda menperkenalkan diri.
"Mama!!!!!!" teriak Yemima yang mendengar suara ibunya langsung berlari menghampiri wanita itu.
"Mama sini, kenalin ini kak Hana teman baru Mima dan mereka semua keluarga kak Hana!" Yemima menarik ibunya masuk keruangan Hana dan memperkenalkan semua keluarga Hana termasuk Hana sendiri.
"Terima kasih sudah menjaga putriku, maaf jika putriku merepotkan kalian semua!!" ibu Yemima langsung meminta maaf sembari menundukkan kepala agar terlihat lebih sopan.
"Oh tidak kok, jangan terlalu sungkan. Kami justru senang bermain dengan putrimu. Putrimu begitu ceria dan sangat sopan, kamu sudah mendidiknya dengan baik" Safira memuji Yemima dan menolak permintaan maaf ibu Yemima.
"Benar bu! Kami tidak merasa terganggu kok dengan kehadiran Yemima. Kami justru merasa terhibur" tambah Hana berkata jujur.
"Duduklah dulu bu, jangan berdiri saja! Sini sini!! Kita berbincang dulu, Yemima masih bermain dengan menantuku" ajak Safira mempersilahkan ibu Yemima duduk disampingnya.
"Terima kasih bu!" jawab ibu Yemima sopan.
"Oh kenalkan, saya Safira ibu Hana" Safira mengenalkan diri. "Kalau boleh tahu, Yemima alergi makanan apa? Kenapa semua tubuhnya memerah?"Safira mencoba memberanikan diri menanyakan kondisi Yemima. Safira ingin tahu lebih detail.Yemima memang sudah bercerita mengenail alerginya.
"Maaf bu, saya tidak tahu apa saya harus memberitahunya atau tidak karena kita juga baru saja berkenalan. Tetapi saya juga tidak tahu harus bercerita kepada siapa, saya akan bercerita kepada ibu saja saya yakin saya bercerita ke orang yang tepat" jawab Ibu Yemima.
"Sebenarnya saya bingung dengan penyakit putriku. Dokter mengatakan kalau dia alergi makanan, tetapi yang saya tahu putri saya tidak pernah alergi pada makanan" jelas ibu Yemima.
"Jadi menurut ibu, Mima sakit apa? Kenapa bisa tubuhnya memerah seperti itu? Karena memang alergi itu bisa muncul kapan pun tanpa kita ketahui" Hana mencoba berbaur dengan perbincangan ibunya dan Ibu Yemima.
"Seingat saya awal tubuh putriku memerah setelah saya menyuruhnya memakai baju baru yang saya beli saat dia berulang tahun. Setelah dia memakainya, malamnya tubuhnya mulai memerah dan semakin haru semakin banyak" ibu Yemima menjelaskan satu persatu. Dia tidak pernah memberitahu cerita ini kepada siapapun karena mereka tidak akan percaya dengan ceritanya.
__ADS_1
"Apa pakaiannya tidak dicuci dulu bu sebelum mengenakannya?" tanya Safira bergiliran bertanya dengan Hana.
"Saya tidak mencucinya bu karena niat saya hanya ingin putriku mencobanya dulu sebentar setelah itu langsung dilepas untuk di cuci. Biasanya juga tidak pernah ada kejadian seperti ini" kata ibu Yemima menjelaskan.
"Apa dokter mengatakan jenis makanan yang membuat Yemima alergi?" Safira melanjutkan pertanyaannya.
"Kata dokter dia alergi makanan laut, tetapi masalahnya kami tidak mengonsumsi makanan laut dalam seminggu itu. Pernyataan itu yang membuatku semakin yakin kalau dokter sedang memberi diagnosis yang salah" lanjut ibu Yemima menjelaskan.
"Apa ibu boleh menunjukkan pakaian itu padaku?" pinta Hana.
"Boleh!!! Besok pulang bekerja saya akan mengambilnya ke rumah dan memberikannya kepadamu" jawab ibu Yemima.
Hana melirik ayahnya yang kebetulan juga melihatnya. Remon dan Maxim juga tidak terkecuali. Tidak tahu apa yang mereka pikirkan.
"Bu saya pamit bersama Yemima, ini sudah waktunya Mima melakukan pemeriksaan" pamit Ibu Yemima setelah melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
"Oh tidak masalah, silahkan!!" jawab Safira sopan.
"Mima!!! Ayo sayang balik ke kamarmu!! Ini jamnya untuk melakukan pemeriksaan" ajak ibu Yemima dan segera diangguki Yemima.
Besok memang hari terakhir Hana di rumah sakit. Namun Hana memilih agar tidak pulang lebih awal. Dia mungkin masih bisa bermain dengan Yemima. Lagipula cuti kerjanya 3 hari, jadi pulang malam juga tidak akan jadi masalah.
"Sudah ma, pulang saja!! Kalian juga harus beristirahat. Aku tidak apa apa disini, ayah juga sama kakak, kalian malah jadi bolos kerja. Sana kalian balik!! Jangan mentang mentang kalian punya perusahaan kalian jadi semena mena!! Sana balik!!" usir Hana. Hana juga ingin beristirahat.
"Jadi siapa yang jaga kamu?" tanya Lexon.
"Papa!!!! Hana tidak bayi yang harus di jaga jaga. Hana sudah besar pah!!" jawab Hana ketus. Ayahnya memang selalu berlebihan jika sudah mengkawatirkannya.
"Biar aku yang jaga!!" tawar Maxim.
"Tidak!!!! Kau juga pulang Max, ingat kamu juga jangan bolos kerja!!! Kamu sama dengan kak Remon sama ayah, jangan mentang mentang pemilik perusahaan kalian bertiga jadi semena mena. Kalian pulang saja semua, nanti kalau aku butuh di temani aku telpon" Hana masih kokoh tidak mau di temani.
__ADS_1
"Kalau mama gimana? Kan mama gak kerja!" tawar Safira.
"Mama juga tidak boleh!! Mama harus istirahat!! Mel!! Bawa mama balik" suruh Hana.
Melani mengangguk dan bangkit berdiri menemui ibu mertuanya. Yang lain juga sudah bangkit berdiri. Mereka harus pulang karena sudah diusir Hana. Mereka tidak bisa lagi membantah.
"Ingat!!! Jika butuh sesuatu telepon ayah!!" Lexon memberi peringatan sebelum benar benar meninggalkan ruangan Hana.
Hana hanya mengangguk mengiyakan. Hana langsung membantu ayahnya keluar dari ruangannya. Setelah melambaikan tangan, Hana menutup pintu ruangannya. Hana kembali ke kasur dan berbaring. Hana menatap langit langit ruangannya. Hana tiba tiba bangkit duduk dari berbaringnya.
"Mudah mudahan tidak kasus besar" gumam Hana. Hana masih mengingat cerita dari ibu Yemima. "Mudah mudahan ini tidak berkaitan dengan kantor cabangku. Kalau tidak aku mungkin akan merasa bersalah kepada Mima"
Hana yang lelah berpikir akhirnya memilih untuk tidur. Karena semua keluarganya datang berkunjung, waktu tidur siangnya hilang. Jadi Hana memilih untuk mengganti waktu tidurnya siangnya menjadi sore. Lagipula tidak ada pekerjaan yang harus dia lakukan.
Hana mengucek matanya ketika merasa seseorang masuk keruangannya. Penglihatannya masih sedikit kabur karena kesadarannya belum sepenuh kembali.
"Kamu sudah bangun? Ayo makan malam, aku sudah membawa makan malammu. Bukankah makanan rumah sakit sangat hambar? Jadi bangunlah!!" suara seorang pria yang sangat khas di telinga Hana.
Hana kembali mengucek matanya, dia menggeliat seperti cacing dan bangkit duduk. "Kenapa kembali? Kan aku tidak menelpon" kata Hana dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun.
Maxim menyentil dahi Hana pelan. "Jika aku tidak berinisiatif datang, kau akan tidur sampai lupa makan. Bahkan suster yang mengantar makananmu juga tidak kau sadari datang ke kamarmu" kata Maxim sembari membuka rantangan yang dia bawa dari rumah.
"Kapan kau memasak ini?" Hana langsung mendekat ke sumber makanan. Aromanya sangat enak di indra penciumannya.
"Tadi sepulang kerja aku pulang ke apartemen" jelas Maxim.
"Mm....... kalau aromanya sih enak, tapi apa kamu yakin ini layak dimakan?" tanya Hana sedikit ragu. Ini adalah pertama kalinya dia makan masakan Maxim.
"Apa kamu pikir aku sebodoh itu sehingga tidak tahu memasak?" Maxim tidak terima keahlian memasaknya di sepelekan Hana.
"Bukan begitu, tapi ini pertama kalinya aku melihat masakanmu. Jadi tidak masalahkan kalau aku sedikit ragu" jawab Hana tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"Yasudah aku tutup lagi, makan saja makanan rumah sakit ini" kata Maxim dan segera menyodorkan makanan rumah sakit.
"Tidak tidak tidak..... Berikan itu saja! Aku merasa tidak enak jika menolaknya, apalagi kamu sudah susah payah membuatnya" Hana mencoba menolak makanan rumah sakit dengan halus. Lagipula tidak ada salahnya mencoba masakan yang dibuat kekasihnya. Mungkin saja masakannya menambah nilai plus untuk Maxim.