STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
MENDONGENG


__ADS_3

Hana perlahan menyuapkan makanan buatan Maxim ke mulutnya. Hana mencicipinya sedikit saja sebagai permulaan. Seketika matanya membulat sempurna. Hana langsung menyendokkan makanannya lagi dalam jumlah lebih banyak.


"Apa seenak itu?" tanya Maxim melihat Hana yang makan lahap.


"Mmm...." jawab Hana singkat. Mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Makanlah perlahan, tidak ada yang berebutan denganmu" Maxim mengingatkan Hana. Maxim tidak mau Hana tersedak karena makan terlalu buru buru.


"Sejak kapan kau pintar memasak nasi goreng? Aku tidak pernah tahu dan kau juga tidak pernah memasaknya untukku!!!" Hana mulai cerewet setelah makanan di mulutnya habis dia telan.


"Aku pintar memasak sudah sejak dulu!! Lagipula kenapa aku harus memasak untukmu sedangkan kau tidak memintanya!" kata Maxim malah menyalahkan Hana.


"Sekarang aku juga tidak meminta, kenapa memasak untukku?" tanya Hana tidak mau kalah. Dia malah mengajak Maxim berdebat hingga lupa makanannya.


"Itu karena aku terpaksa!!" jawab Maxim asal. Tetapi jawaban itu malah membuat Hana kesal.


"Kamu terpaksa? Yasudah aku tidak memakannya lagi. Aku takut perutku akan sakit karena memakannya" kata Hana dan mengembalikan kotak makanan.


"Tidak tidak.... Bukan begitu honey!!! Aku bercanda!!" Maxim langsung mendekat membujuk Hana.


"Aku tidak yakin!!! Sudah ambil saja makananmu, aku akan berdoa supaya makanan yang sempat aku makan tidak akan membuat perutku sakit. Sisanya makan saja sendiri!!!" Hana masih cemberut karena ucapan Maxim.


"Maaf honey!!!! Bukan begitu!!!! Katakan bagaimana supaya kau memaafkanku!" kata Maxim membujuk Hana.


Hana diam sembari berpikir sejenak, dia tidak mau menyianyiakan peluang ini. Apalagi jarang jarang dia bisa mengerjai Maxim.


"Mmmmmmm......... Kau harus membacakan dongeng untukku, soalnya aku rindu dibacakan dongeng" ide Hana. Ide benar benar di luar dugaan Maxim. Bagaimana bisa dia membacakan dongeng untuk Hana. Jika Hana meminta dibelikan mobil mungkin dia akan berikan. Tapi ini membaca dongeng, ini bukan tipikalnya.


"Honey!!!! Are you seriously? Aku mendongeng?? Jangan bercanda" kaget Maxim. Dia benar benar tidak habis pikir dengan permintaan Hana.


"Yasudah kalau gak mau!! Sudah sana balik, ini sudah malam" usir Hana. Dia memilih berbaring kembali tanpa minum setelah makan. Bahkan makanannya belum dihabiskan.


"Tapi aku tidak tahu cara mendongeng Honey!!! Please, ganti yang lain ya!!" pinta Maxin memohon ampunan Hana.


"Gak ada yang lain, aku maunya mendengarkan dongeng darimu!! Terserah mau dongeng apa, mau cari dari google juga gak apa apa. Bayangin saja kamu mendongeng untuk anak kecil!!" Hana masih tetap kokoh harus mendengar dongeng dari Maxim.


"Huft.......... " Maxim menghela nafas kuat. Kali ini dia sudah membahayakan diri sendiri. Andai waktu bisa diulang, dia tidak akan asal berbicara.

__ADS_1


"Baiklah!!! Tapi kamu harus janji, habisin makananmu dulu!" kata Maxim yang akhirnya mengalah.


Maxim sibuk mencari cerita yang akan dia bacakan untuk Hana. Selagi sibuk mencari dari google, Hana sudah menghabiskan makanannya hingga tak bersisa. Bahkan Hana sudah meneguk minuman satu gelas dan menyandarkan tubuhnya di kepala kasur karena baru selesai makan.


Hana menyilangkan tangan di depan dada, dia menatap Maxim yang sedang serius dengan ponselnya. Hana menantikan cerita yang akan dia dengar dari Maxim.


"Sudah dapat?" tanya Hana karena sudah terlalu lama dia menanti Maxim memulai cerita.


"Aku bingung harus memilih yang mana? Bagaimana jika kamu saja merekomendasikannya, mungkin ada cerita yang sangat ingin kamu dengar!" usul Maxim yang sudah kebingungan memilih ceritanya. Dia tidak tahu ending dari ceritanya, Maxim takut ceritanya justru membuat si pendengar sedih.


"Kamu bacakan putri tidur saja!! Kamu sudah lama mencari tetapi belum juga menemukannya!! Huftttt...... Carikan cerita putri tidur saja, biar sekalian aku tertidur juga!!" suruh Hana dan segera berbaring meskipun belum seharusnya dia berbaring karena habis makan.


"Aku sudah dapat!!!" kata Maxim senang. Dia memperbaiki selimu Hana sebelum akhirnya memulai cerita.


"Pejamkan matamu!!" suruh Maxim dan memulai cerita dongengnya.


Beberapa kali Hana ingin tertawa karena logat pembacaan Maxim terkadang tidak sesuai dengan keadaan di cerita. Tetapi Hana memilih menahan tawa, Hana tidak mau Maxim mengakhiri cerita sebelum selesai. Padahal Hana pun tidak tahu kapan cerita Maxim selesai. Hana tertidur sebelum Maxim menyelesaikan cerinya.


"Honey!!! Aku pamit kerja ya!! Aku sudah belikan sarapan untukmu dan si gadis kecil kemarin. Ibumu dan Melani juga akan berkunjung siang, nanti malam aku akan datang lagi menjemputmu pulang" catatan singkat dari Maxim yang dia tempelkan di kotak makanan Hana.


Hana yang membaca pesan Maxim terkejut dengan suara Yemima. Dia langsung berpaling ke arah suara Yemima. "Apa aku membuat kakak terkejut?" tanya Yemima sopan.


"Oh tidak apa apa. Kemari lah!! Apa ibumu sudah pergi bekerja?" tanya Hana.


"Sudah kakak!! Ibu mengantarku sampai pintu saja, ibu buru buru ke kantor" jawab Hana lalu duduk di sofa dekat kasur Hana.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Hana.


"Mmm....belum kak, mama buru buru, jadi aku menunggu makanan rumah sakit saja!" kata Yemima. Wajahnya tidak terlihat kecewa atau sedih. Wajahnya selalu riang.


"Makanan rumah sakit hambar. Sini kita makan sama" ajak Hana sambil menunjukkan dua bekal.


"Wahhh...... Apa satu untukku?? Apa pacar kakak membelinya?" tanya Hana dia langsung mendekat ke Hana setelah melihat dua kotak bekal.


"Mm..... ambil ini!!!" jawab Hana singkat dan menyodorkan satu bekal untuk Yemima.


Hana turun perlahan dari kasur dan duduk di sofa disamping Yemima. Mereka terlihat sangat lahap menghabiskan sarapan yang dibuat Maxim.

__ADS_1


"Waoooo..... Kakak beruntung punya pacar yang pintar masak. Apa pacar kakak chef?" tanya Yemima. Dia memuji masakan buatan Maxim. Rasanya sangat pas di lidahnya.


"Tidak!!! Dia pengusaha, tapi dia pintar masakkan?" kata Hana ikut memuji Maxim.


"Aku juga akan mencari pacar yang pintar masak jika sudah dewasa nanti" Karena begitu menyukai masakan Maxim, Yemima bahkan membuat tipe idealnya sama dengan pacar Hana.


"Hahahahaha......jangan hanya pintar masak ya!! Tapi pintar belajar, pintar masak, pintar cari uang dan pintar menjagamu juga. Oke!!!" nasihat Hana dan segera diangguki Yemima.


Kedua gadis ity sudah meneguk minuman botol yang Maxim persiapkan. Keduanya bersandar setelah merasa kenyang. Kedua saling memandang dan seketika tertawa bersama. Mereka sudah seperti saudara kandung.


"Yemima!!!!!" teriak Safira dan Melani bersamaan setelah masuk ke kamar Hana dan menemukan Yemima sudah di kamar Hana.


"Pagi tante, pagi kakak Melani!!!" sambut Yemima sopan. Dia menghampiri kedua orang yang baru datang.


"Lihat apa yang tante bawa untukmu!!" Safira langsung menggendong Yemima dan menunjukkan bagpaper yang di tangannya.


"Apa itu tante?" tanya Yemima penasaran.


"Kamu suka cokelat kan? Tante bawain cokelat untukmu. Tante juga bawa tar cokelat!!! Apa kamu suka??" tanya Safira sembari berjalan ke arah sofa dengan yemima masih di gendongannya.


Entah bagaimana Yemima membuat semua keluarga Hana sangat menyukainya. Gadis kecil itu memang sangat imut meskipun kulitnya memerah akibat alergi.


"Suka!!!! Waooo....tante memang yang terbaik!!!" puji Yemima dan mengacungkan jempol dua. Yemima duduk di pangkuan Safira. Safira benar benar tidak melepas gadis kecil itu. Mungkin saja Safira rindu menggendong anak kecil. Dia sudah lama tidak bermain dengan anak kecil. Yemima bagaikan obat untuk kerinduaannya.


"Hmmmmm...... Mama memang selalu tahu mencuri perhatian orang sampai melupakan orang yang sakit!!" gumam Hana ke arah Melani dan diangguki Melani. Keduanya tersenyum bahagia melihat kedekatan Safira dan Yemima.


"Mama kapan balik?" tanya Hana ke Yemima. Hana begitu sangat penasaran dengan pakaian yang di duga membuat Yemima alergi.


"Nanti siang kak, mama katanga sif pagi jadi baliknya siang!" jelas Yemima sambil menikmati tar cokelat yang dibawa Safira untuknya.


"Ohoo.... bisa berikan sedikit untukku?" Hana ngiler melihat Yemima yang begitu lahap menikmati tar cokelat dan juga cokelat batangan.


"Ih kamu!!!! Sudah besar juga!!" ledek Safira.


"Ih mama..... Apa salahnya!!" Hana tidak peduli. Dia membuka mulut ke arah Yemima.


Yemima tidak masalah dengan itu, dia menyuapkan tar cokelat dan memotong cokelat di tangannya lalu menyodorkannya ke mulut Hana. Hana menggeleng geleng senang seperti anak kecil. "Enak kan?" tanya Yemima dan diangguki Hana. Safira hanya menggeleng melihat tingkah Hana yang sudah berlagak seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2