STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
GADIS DI SUDUT


__ADS_3

"Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya pria itu. Dia mengira Hana terluka saat sedang berkelahi.


"Gila ya!! gue udah telat!!! Kenapa justru diajak ke rumah sakit sih!!" teriak Hana kesal dan segera berdiri menatap pria yang melerai mereka.


"Loh!!" teriak keduanya bersamaan. Hana tersenyum kecut dan menghapus air matanya. "Pantas gue sial! ternyata jumpa sama loh!" kata Hana kesal dan akan segera pergi tapi di tahan Maxim.


"Enak aja! Dasar gadis durian! Sudah dibantuin kok malah di tinggal? Bilang terima kasih dulu lah! Gak tau aturan!" jawab Maxim ikut kesal. Harusnya dia tidak melerai jika tau gadis yang dia tolong adalah gadis durian.


"Terima kasih! Puas? Sudah lepas dulu tangaku! Aku sudah telat!!" kesal Hana meneriaki Maxim.


"Tidak bisa!" Maxim merebut kunci motor. "Pa! aku naik motor ini, bapak nyusul di belakang ya! Nanti aku bagikan lokasi ke bapak!" titah Maxim ke supirnya.


"Siap den!" jawab supir dan masuk ke mobil.


Berbeda dengan Hana, Hana diam mematung. Heran dengan pria yang di depannya. "Hehh! ini maksudnya apa? Mau maling gadis cantik ya?" Bentak Hana.


"Hah!! Gue tidak selera dengan gadis durian! Cepat naik! Mau tambah telat?" jawab Maxim yang sudah duduk di motor Hana. Hana hanya bisa menurut karena mengingat dia sudah telat. Dia mengingat ancaman ibunya, jangan sampai Hana mendapat SP karena terlambat masuk kampus.


Maxim membawa motor dengan kecepatan tinggi, membuat Hana yang awalnya enggan untuk memegang Maxim akhirnya memegang pundak Maxim. Hana sama sekali tidak berbicara selama di perjalanan hingga akhirnya tiba di kampus Hana.


"Kamu penguntit ya? Kok bisa tau kampusku?" tuduh Hana yang sudah turun dan membuka helm.


"Sembarangan nuduh! Aku tidak ada waktu mengurus gadis durian sepertimu. Masih banyak gadis cantik di luar sana! Aku lebih berselera dengan mereka!" Jawab Maxim dan melempar kunci motor ke Hana. Dia menarik Hana masuk ke kampus, Hana lagi lagi pasrah.

__ADS_1


"Mau kemana lagi sih? lepas tidak? atau aku teriak" bentak Hana tidak terima dengan perlakuan Maxim.


"Diam sepuluh menit bisa tidak? Mau selamat atau tidak?" tanya Maxim dan masih menarik tangan Hana memasuki ruang auditorium kampus.


"Ini bukan kelas gue!" kata Hana lagi tidak menurut untuk diam.


"Diam atau kucium!!" ancam Maxim yang sukses membuat Hana terdiam. Hana sama sekali tidak berbicara, nyalinya seketika menciut. Maxim tersenyum sebentar dan kembali memasang wajah datarnya. Ternyata ancamannya sukses membuat gadis bar bar di sampingnya diam.


"Masuk duluan!" suruh Maxim tidak lupa dengan ancaman yang dibuat barusan. Ancaman itu benar benar manjur. Terbukti dari Hana yang menurut saja.


Hana masuk dan herannya, di dalam auditorium banyak mahasiswa seangkatannya. "Han! Sini!" panggil Rena dan Melani melambaikan tangan.


Hana berjalan ke arah kedua sahabatnya dengan wajah penuh tanda tanya. "Acara apa? Kok aku tidak tahu?" tanya Hana setelah duduk di antara kedua sahabatnya.


"Tapi kak Remon gak ada bilang apapun padaku!" jawab Hana mengingat Remon yang tidak memberitahu apapun padanya.


"Mungkin saja dirahasiakan! Sudah diam saja! berdoa saja biar dia tidak pria botak! Pasti kuliah tambahan ini akan membosankan. Jika itu pria tampan, pasti sangat menyenangkan!" kata Rena yang tidak mau melihat kedua sahabatnya ribut.


Pimpinan kampus masuk ke ruangan, diikuti kepala jurusan mereka. "Selamat pagi! Pagi ini kita kedatangan dua tamu spesial. Tamu ini akan memberi materi tentang bisnis di kuliah tambahan ini. Ingat! perhatikan materi kuliahnya, jangan memperhatikan dua tamunya. Karena kedua tamu ini sangat tampan, bapak mengakuinya!" jelas kepala jurusan. "Dua tamu kamu di persilahkan masuk!" tambah kepala jurusan.


"Hah!! Kak Remon! Kenapa bisa? Kenapa gak bilang? Awas saja nanti di rumah!" kesal Hana.


"What? Dia? Kenapa dia lagi?" tambah Hana lagi kesal. Siapa lagi yang bisa membuatnya kesal jika bukan Maxim. Semua mahasiswa perempuan sudah terpukau dengan ketampanan kedua pria yang sudah ada di depan. Mereka sangat tampan dan berkarisma. Berbeda dengan gadis di sudut. Dia tampak kesal, tatapannya begitu tajam ke arah dua pria di depan.

__ADS_1


Bahkan Remon sadar tatapan saudarinya itu, tapi dia mengindahkannya. "Mati! Gue bisa habis di rumah!" batin Remon dan langsung memijat pelipis matanya.


"Ada apa?" tanya Maxim heran dengan sikap sahabatnya itu. Tidak seperti semula saat mereka bertemu di ruang pimpinan kampus. Remon masih baik baik saja, sangat berbeda dengan sekarang.


"Tidak apa apa! Aku hanya merasa ada aurah jahat di ruangan ini! jawab Remon asal membuat Maxim ikut merasa ngeri.


"Baiklah, terima kasih untuk dua tamu undangan kami yang sudah menyempatkan waktunya bisa betemu dengan kami. Terima kasih karena sudah mau berbagi ilmu dengan mahasiswa kami. Waktu dan tempat kami persilahkan!" kata sambutan dari kepala jurusan.


"Selamat pagi! Kalian pasti sudah tidak asing dengan saya. Saya sudah sering kalian lihat di majalah bisnis dan juga televisi sebagai wakil presdir tampan! Tapi saya akan tetap mengenalkan diri, supaya kalian semakin jatuh cinta. Saya Remon Maxin Sunitra, wakil presdir yang tampan dan terkenal!" kata Remon membanggakan diri.


"Hoekk!!" ejek Hana dari sudut. Itu sukses membuat semua orang di ruangan itu menatapnya. Remon hanya bisa tersenyum lucu dengan saudarinya. Dia tahu ejekan itu untuknya.


"Maaf kak! Saya mungkin masuk angin, tadi ada pria gila yang melayangkan motor saya!" jelas Hana menyinggung Maxim.


"Oh baiklah, tidak apa apa! Mudah mudahan pria gila itu bertobat!" jawab Remon, dia tidak sadar Maxim sahabatnya sudah memberinya tatapan membunuh. "Selanjutnya saya persilahkan rekan saya untuk memperkenalkan diri" tambah Remon dan menyerahkan mic ke Maxim dan disambut Maxim dengan senyuman.


"Selamat pagi untuk adik adik kami, saya Maxim Alfredo Sanjaya. Mungkin kalian juga sudah sering mengenal saya. Hanya satu gadis di ruangan ini yang tidak mengenal saya sehingga dia selalu mengejek saya. Tapi saya tidak perlu memberitahu siapa gadis kuno itu! Sekian untuk perkenalannya, jika ada ingin bertanya mengenai perkenalannya, silahkan!" kata Maxim mempersilahkan.


"Kak, saya terfokus dengan nama kakak dengan Kak Maxin. Saya rasa nama kalian mirip, apa orang tua kalian bersahabat sehingga memiliki janji untuk membuat nama kalian sama?" tanya seorang gadis di barisan depan.


"Hahahaha.... awalnya saya juga bertanya tanya kenapa nama kami hampir sama. Tapi saya tidak tau apakah orang tua saya memiliki hubungan dengan orang tua sahabat saya ini. Oh iya saya lupa memberitahu, dia sahabat saya sekaligus saingan saya. Kami sama sama tampan, jadi menkadi saingan!" bangga Maxim yang me.buat gadia di sudut lagi lagi berbatuk.


"Maaf kak, tenggorokan saya kering! Saya minum dulu!" kata Hana lagi mengelak. Remon dan pimpinan kampus sudah tahu bahwa Hana tidak betul betul batuk karena tenggorokan kering. Mereka tahu Hana sedang mengejek kakaknya dan juga Maxim. Tapi mereka hanya bisa menggeleng kepala. Maxim hanya bisa berusaha memberi senyuman ramahnya.

__ADS_1


"Awas saja jika kuliah ini selesai!" batin Remon dan Maxim. Entah hubungan apa yang membuat keduanya menanam dendam ke gadis di sudut yang tidak lain adalah Hana. Rena dan Melani hanya bisa menepuk jidat karena ulah sahabatnya.


__ADS_2