
Hana dan Melani masuk ke kamar Remon. Melani masih setia membantu Hana berjalan.
"Mau apa kesini?? Kan kamarmu di sebelah!! Ganggu orang mesra aja!!" ledek Remon yang langsung menyadari kedatangan Hana.
"Kakak ipar!!!! Lihatlah kak Remon, dia membentakku!!!" rengek Hana ke Melani.
Melani menatap tajam ke arah Remon. Tatapan itu sukses membuat nyali Remon menciut. Dia memang selalu kalah jika sudah berhadapan dengan istrinya.
"Mampus!!!" balas Hana meledek Remon.
Kedua gadis itu tersenyum bahagia karena sudah mengalahkan Remon. "Kak!!! Aku itu ke sini bukan mau main main!!! Siapa juga yang mau ganggu kalian? Gak kerjaan banget tau!!!" kata Hana menjelaskan niatnya menemui Remon.
"Trus ngapain kalau gak ganggu? Lagian menggangguku sudah menjadi hobby mu!" jawab Remon.
"Yanggg!!! Dengarin dulu penjelasan Hananya!!! Ini penting!!" Melani mencoba membantu Hana.
"Baiklah!! Katakan apa yang penting itu!" kata Remon akhirnya mengalah.
"Tau gak kak kisah Yemima? Kan mamanya bilang dia gak alergi makanan. Bercak merahnya muncul ketika selesai mencoba mengenakan baju baru" jelas Hana perlahan.
"Mm...truss??" jawab Remon singkat.
"Kakak lihatlah pakaian yang dia pakai!!" Hana menyerahkan pakaian anak kecil yang dia terima dari ibu Yemima.
Remon mengambil pakaian dari tangan Hana. "Mau kemana ini?" tanya Remon santai. Pertanyaan itu membuat Hana geram.
"Entah bagaimana kau bisa menjadi wakil ayah!!! Pekanya lama!!!" ledek Hana. "Lihat labelnya kakak goblok!!!!" geram Hana.
"Ohooooo.....sorry sorry!!" jawab Remon santai dan langsung memeriksa label pakaian.
"ini kan merek kita, jadi tidak mungkin bermasalah!!" kata Remon berargumen.
"Kak, berapa perusahaan kita yang bebas memproduksi pakaian?" tanya Hana, ingin menjelaskan tetapi masih berteka teki.
"Dua, perusahaan pusat dan cabang kedua" jelas Remon santai. Dia tidak juga peka dengan yang Hana maksud.
__ADS_1
"Jadi menurut Hana, produksi pusat memang mungkin tidak bermasalah karena kakak dan ayah ada disana, tetapi bagaimana jika yang bermasalah itu cabang kedua? Coba kakak periksa keaslian kualitas bahan pakaian ini! Mungkin ada petunjuk lain" Hana mencoba memberi pendapat.
"Mungkin saja ada yang meniru merek kita, jangan terlalu mencurigai cabang kedua!" Remon mencoba menasihati Hana agar tidak berlebihan.
"Kakak!!!! Kakak lupa ya tidak akan ada perusahaan perusahaan kecil yang berani meniru merek kita? Kasus peniruan itu sudah pernah terjadi sebelumnya dan kakak tidak ingat bagaiamana ayah memberi sanksi untuk perusahaan peniru? Jadi sampai detik ini tidak ada lagi yang berani bermain main dengan merek kita!" Hana dengan panjang lebar menjelaskan pendapatnya ke Remon.
Remon menyerah memberi nasihat. Lebih baik mencoba mempercayai kata kata Hana. Karena ada kemungkinan kata kata Hana benar, maka akan sangat berbahaya jika diabaikan.
"Baiklah!! Kakak akan menyuruh bagian produksi untuk memeriksa kualitasnya!" jawab Remon mengalah.
Hana meraih pakaian dari Remon dan merobek sedikit pakaian itu. Remon hanya bisa menatap bingung.
"Kakak gak usah sok bego, aku mau ambil cadangan untuk ku pegang, mungkin saja kakak lupa menaruhnya dimana, kan bisa bisa penyelidikanku sia sia!!" Hana meledek Remon yang memang sedikit teledor jika meletakkan barang.
"Terserah!!" jawab Remon santai.
"Udah ah, aku balik ke kamar dulu!!! Besok aku harus bekerja!" kata Hana pamit keluar.
"Apakah harus masuk? Kakimu masih belum sembuh!" Remon mengkawatirkan.
"Tenang saja kak, aku gak selemah yang kakak pikirkan. Lagipula aku harus bekerja, aku ingin mencaritahu sesuatu" kata Hana dan perlahan berbalik menuju pintu.
Remon hanya tersenyum menanggapi ledekan Hana. Berbeda dengan Melani yang menatap Remon geram.
"Entah mengapa aku dulu begitu menggilaimu!!!" gumam Melani pelan.
"Hahahahah...... Lihatlah akibatnya, sekarang dia yang menggilaimu!!" ledek Hana yang masih mendengar gumaman Hana. Dia kemudian keluar dan menutup pintu kamar.
Hana berbaring di kasur tempat ternyaman baginya. Seperti biasa, Hana akan selalu termenung menatap langit langit kamar jika sedang memikirkan sesuatu dan akhirnya tanpa sadar akan tertidur.
Entah apa daya tarik dari langit langit kamar, tetapi itu bisa membuat Hana nyaman. Langit langit kamar yang bernuasa putih itu begitu nyaman di pandangannya.
Pagi ini Hana sudah lengkap dengan pakaian kerjanya. Tidak mewah, Hana selalu tampil biasa. Hana menyeruput susu dan menghabiskan roti tawar di piring kecil di depannya. Pagi ini Hana merasa malas untuk makan, dia memilih sarapan roti.
"Hana berangkat ya!!" pamit Hana ke keluarganya.
__ADS_1
" Biarkan Remon mengantarmu!!" kata Safira tidak tega membiarkan putrinya pergi sendiri.
"Tidak perlu ma, Maxim sudah menungguku di luar!" jawab Hana menolak.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Safira , tidak biasanya Maxim bersikap seperti sekarang. Maxim pasti akan selalu singgah jika sudah berkunjung ke kawasan Sunitra.
"Aku menyuruhnya menunggu di luar ma! Lagipula dia baru saja sampai disini!" jawab Hana meminta pemahaman Safira.
"Baiklah!! Hati hati!!" kata Safira mengingatkan putrinya.
Hana mengangguk lalu pergi meninggalkan ruang tamu. Maxim sudah menantinya. Maxim terlihat menyandarkan tubuhnya di mobil dan segera mendekati Hana setelah melihat kedatangan Hana. Maxim berusaha membantu Hana.
" Tidak perlu! Aku bisa, lagipula sudah hampir sembuh kok!" tolak Hana.
"Tidak bisa!!! Kamu jangan terlalu banyak bergerak!!" jawab Maxim dan langsung membawa Hana ke gendongannya.
"Ahkk....... Apa yang kamu lakukan?? Aku bisa berjalan sendiri!!! Turunkan aku!!" teriak Hana. Dia terkejut karena tubuhnya tiba tiba melayang karena Maxim menggendongnya.
"Diam saja!!!" jawab Maxim singkat dan tetap membawa Hana. Perlahan Maxim menaruh Hana di kursi samping kursi kemudi lalu memasang sabuk pengaman.
Cup.... Sekilas ciuman di pipi Hana. Gerakan itu sangat cepat membuat Hana sukses membulatkan mata. Jantungnya kembali berpacu, wajahnya bisa di pastikan memerah.
Maxim hanya tersenyum tipis melihat wajah Hana. Maxim tidak peduli, dia justru mengelus rambut Hana perlahan lalu melajukan mobil meninggalkan kediaman Sunitra.
Maxim berhenti tepat di gerbang masuk perusahaan tempat Hana bekerja. Banyak mata memandangi kearahnya, tapi Hana cuek saja. Lagipula mereka tidak akan melihat Maxim karena Hana melarang Maxim keluar.
Hana perlahan masuk ke pintu utama masuk perusahaan. Maxim yang kesal karena dilarang hanya bisa menatap kepergian Hana hingga menghilang dari pandangannya.
"Mon!!!! Sepertinya kamu harus diam diam memeriksa kualitas infrastruktur perusahaan tempat Hana bekerja! Aku ragu ada sesuatu yang salah di balik kecelakaan yang di alami Hana!!" kata Maxim menghubungi Remon. Maxim tidak mau asal bertindak, apalagi ini bukan perusahaannya, tetapi ini perusahaan sahabatnya.
"Kenapa kamu sama Hana sama saja?? Kalian terlalu curiga dengan proses berjalannya perusahaan cabang kedua?" tanya Remon bingung dengan dua orang yang dekat dengannya.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku yakin ada sesuatu yang terjadi di perusahaan cabang. Periksa saja jika kamu tidak mau aku mengganggu perusahaanmu!! Aku tidak mau kekasihku terluka lagi!!" kata Maxim penuh penekanan.
"Santai bro!! Gue juga gak mau adik gue kenapa napa!! Gue akan selidiki secara diam diam!!" Jawab Remon.
__ADS_1
"Sudah ya!! Aku tutup!!" kata Maxim singkat dan langsung mengakhiri panggilan.
"Punya sahabat kok gak ada atitude!!" gumam Remon yang geram karena Maxim sudah mengakhiri panggilan, padahal dia masih ingin berbincang.