
"Maaf kak, aku jadi ketiduran di kasurmu! hehehe...." kata Hana merasa tidak malu sama sekali. Terakhir dia tidur bersama Remon adalah saat Hana masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Bahkan ibunya sudah melarangnya tidur bersama Remon, tapi bukan Hana namanya jika aturan selalu di langgar. Hana sama sekali tidak tertarik untuk mematuhi aturan aturan yang ibunya buat. Hana selalu berprinsip 'Aturan untuk dilanggar'. Hal itu yang membuat Safira selalu pusing, bahkan suaminya selalu mendukung putrinya.
Remon yang selalu mengobati hati Safira. Putra sulungnya selalu menuruti ibunya. Tapi bukan berarti Safira tidak menyayangi Hana, Safira bahkan sangat menyayangi kedua anaknya.
"Oh iya kak, gimana? Udah?" Tanya Hana yang masih menampilkan wajah bantal dengan rambut acak acakkan.
"Gimana apanya? udah apanya? Nanya itu jelas?" jawab Remon, yang sebenarnya tau maksud pertanyaan dari Hana. Bukan Remon namanya jika tidak mencari masalah dengan Hana. Rumah itu tidak akan indah jika dua bersaudara itu tidak saling berdebat, memojokkan, tapi saling menyayangi.
"Ihhhh..... kakak bodoh atau apa sih? kok bisa jadi wakil ayah di perusahaan? pertanyaan itu aja gak tau, kan tadi udah dikasih tau pas kakak pulang!!!!" kesal Hana meneriaki Remon.
"Hahahahahaha.........." tawa Remon pecah, senang karena berhasil mengerjai Hana. "Muka kamu lucu!!!! Hahahahaha........" ejek Remon. Cekrek cekrek cekrek, tidak lupa Remon mengabadikan momen lucu itu.
"Kak Remonnnnnnnnn....... Hapus gak?? hapus!!!!" teriak Hana. Dia berdiri, melompat dari tempat tidur dan hendak mengambil ponsel Remon, tapi tinggi badan itu tidak mengijinkannya untuk meraih ponsel yang ditangan Remon.
"Mau diijinin apa inggak?" pancing Remon yang sukses membuat Hana berhenti menggelitikinya. Hana yang tidak sanggup meraih ponsel hanya bisa mencari akal dengan menggelitiki tubuh Remon. Hana tau kelemahan kakaknya.
"Mau dong kakak ku sayang" seketika wajah bar bar menjadi wajah imut bak boneka berbie, dengan mata berbinar bahagia.
"Mama ngijinin, tapi...." henti Remon, tidak melanjutkan.
"Tapi kenapa?? jangan motong motong kakakku sayang" goda Hana lagi. Tetapi dalam hati ingin rasanya memukul Remon.
"Aku harus ikut, tapi sepertinya aku malas ikut, gimana dong adekku sayang??" goda Remon.
"Ih...kakak lebay deh! mau muntah!" protes Hana melihat logat bicara Remon yang berlegato seperti merayu.
"Ya gimana? kakak harus ikut! kalau inggak gimana kami mau diijinin!" pinta Hana kesal, sedari awal perbincangan, Remon selalu bertingkah.
"Tergantung sikapmu hari ini! Jika kamu baik, aku akan berpikir kembali" jawab Remon santai dan keluar kamar meninggalkan Hana yang sudah menahan amarah. Remon menuju ruanh makan sambil cengingisan karena mengingat wajah Hana yang lucu karena menahan amarah.
__ADS_1
"Gaissssss................. " teriak Hana pada benda pipih di tangannya.
"Hana.....loh pikir telinga gue apa!! sakit tau... pelan dikit kenapa sih, kek pakai toak aja" gerutu Melani sambil menutup telinganya.
"Entah ni si Hana, kayaknya gue harus operasi telinga ini, gue udah mulai pekak" tambah Rena mengutarakan unek uneknya.
"Hehehe..... sorry!! aku mau kasih tau info penting, loh semua harus bantuin gue, oke!!" pinta Hana.
"Apa! cepatan, jangan nunda nunda" jawab Rena.
"Kan mama gue ngijinin, tapi syaratnya, kakak gue harus ikut!! gimana dong?" kata Hana memberitahu.
"Yah ikut aja, kan bagus ada yang nyupiri kita" jawab Rena setuju.
"Eh tunggu tunggu... kakak loh yang mana?" tanya Melani.
"Oh iya lupa! hehehe.... what??? kak Remon ikut??? wahhhhh..... bagus dong!! gue makin semangat ini" jujur Melanie.
"Kebanyakan makan seblak nih anak, gak beres ni otak! masalahnya kakak gue gak mau, dia malah ngancam gue, bilang gue harus baik baik!! kan bukan tipe gue!!" protes Hana tidak setuju dengan permintaan kakaknya. "Jadi... loh semuakan tau, gue tuh orangnya gak sabaran, jadi lih berdua harus kesini bantuin gue, cepatin...... langsung sekalian bawa barang barang untuk besok, kita nginap disini" pinta Hana.
"Emang bokap sama nyokap loh dimana?" tanya Rena penasaran.
"Biasa! perjalanan bisnis" jawab Hana sambil menunjukkan wajah iri karena kedua orang tuanya selalu bersama kemana pun pergi.
"Hahahaha.... makanya Han, cepat dapat jodoh! kan bagus klo kamu bisa ikut perjalanan bisnis" jawab Melani menekankan perjalanan bisnis. Gue juga bentar lagi gitu kok, gue akan temani kak Remon tampan perjalanan bisnis" jawab Melani sambil menganga membayangkan masa depan indah dengan Remon.
"Udah ah... Melani mulai lagi nih, cepatin loh berdua kesini, jangan lama lama...." suruh Hana dan segera mengakhiri panggilan video.
"Non! mari kita makan malam, den Remon sudah menunggu di meja makan" ajak kepala asisten.
__ADS_1
"Bentar bi, lagi nungguin teman. Nanti Hana makan malam sama teman teman Hana bi" jawab Hana yang sudah keluar kamar menyambut kepala asisten.
"Oh yasudah non, nanti bibi tunggu dibawah saja ya" jawab kepala asisten dan hendak pergi meninggalkan Hana.
"Tapi bi, bibi sama yang lain udah makan malam belum? kalau belum, kita makan sama nanti, biar bang Remon gak ada kawan makan. Biar tau rasa!!" kata Hana sambil senyum bahagia karena merasa menang.
"Hahahah...nona selalu saja berbuat jahil sama den Remon, kasihan non!!" nasihat kepala asisten.
"Biarin aja bi! siapa suruh buat Hana kesal, gimana bi, mau kan?" bujuk Hana.
"Yaudah non, nanti bibi coba ngomong sama asisten yang lain, takutnya mereka merasa gak enak" kata kepala asisten yang bisa mengerti perasaan para asisten rumah. Karena sebuah kebanggaan bisa makan bersama dengan tuan rumah, duduk di meja yang sama.
"Bujuk aja bi, tenang aja, gue yakin bibi pasti bisa ngelakuinnya!! semangat bi!!!" dukung Hana menyemangati kepala asisten.
Kepala asisten hanya bisa tersenyum melihat tingkah nona mudanya. Dia hanya mengangguk tanda setuju dan berlalu meninggalkan Hana yang kembali masuk ke kamar.
"Dimana Hananya bi?" tanya Remon yang sudah menunggu sedari tadi. Rasa lapar sudah sangat mengganggunya.
"Maaf den, nona Hana masih menunggu sahabatnya. Katanya dia akan makan sama kedua sahabatnya, dan dia bilang Den Remon makan duluan saja" kepala asisten menyampaikan pesan Hana.
"Hana memang menyebalkan, tau gitu gue udah makan sedari tadi. Kan gue juga manusia yang bisa merasakan lapar dan haus!!" kesal remon dan segera menyantap makanan yang di depannya.
"Mari makan bi!" ajak Remon yanh sadar bahwa dia tidak mengajak kepala asisten dan yang lainnya untuk makan.
"Terima kasih tawarannya den, nanti kami makan belakangan saja" tolak kepala asisten ramah.
"Yasudah bi, nanti makannya sama Hana saja" suruh Remon, seakan akan tau dengan akal licik Hana.
Kepala Asisten lagi lagi tersenyum, ide Hana seakan akan tidak berpengaruh pada Remon yang sudah kelaparan. Tapi kepala asisten segera meninggalkan Remon yang makan dengan lahap, takut mengganggu tuan mudanya makan.
__ADS_1