STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
PENDEKATAN MAXIM DENGAN LEXON


__ADS_3

Di lapangan gofl terdapat Maxim, Remon dan Lexon. Mereka tengah fokus dengan permainan golf. Sesekali diantara mereka ada yang bertepuk tangan karena berhasil memasukkan bola.


Maxim sengaja mengundang laki laki keluarga Sunitra untuk bermain golf. Maxim ingin mencoba melakukan pendekatan dengan Lexon, ayah dari kekasihnya. Maxim meminta bantuan Remon untuk membujuk Lexon. Sebagai seorang sahabat, tentu saja Remon membantu.


Ketika sudah puas bermain beberapa putaran, ketiga pria itu berjalan ke arah tempat duduk di pinggir lapangan. "Ini om minum dulu!!" dengan sigap Maxim meyodorkan botol minuman yang sudah dia buka penutupnya.


Mau tidak mau, Lexon hanya bisa menerimanya meskipun tidak mengucapkan terima kasih. Dia hanya menatap Maxim sekilas lalu segera meneguk minuman yang dia terima dari Maxim.


"Permainan om sangat bagus!! Bagaimana om bisa sangat mahir bermain golf? Apa om punya saran agar kemampuanku bisa meningkat?" tanya Maxim mencoba mencari topik pembicaraan.


"Ini masih belum seberapa. Masih ada seseorang yang ku kenal lebih unggul dariku" jawab Lexon merendah. Dia menatap jauh ke tengah lapangan. Entah apa yang sedang pria paruh baya itu pikirkan.


"Benarkah? Bisakah om mengenalkannya denganku? Mungkin aku bisa menjadikannya mentorku?" tanya Maxim tidak mau menghentikan topik perbincangan.


"Sahabatku. Sayangnya sejak tamat kuliah sampai sekarang kami sudah tidak berkomunikasi. Entah bagaimana keadaannya sekarang" curhat Lexon.


Maxim yang sama sekali tidak tahu siapa teman yang Lexon katakan hanya manggut manggut. Meskipun tidak kenal, tetapi Maxim yakin orang yang dimaksud sangat baik makanya Lexon sangat merindukannya.


"Semoga om bisa segera berkomunikasi dengan sahabatmu itu. Bagaimana jika aku berguru denganmu saja om? Aku ingin mengasah kemampuanku" ide Maxim mencoba langkah selanjutnya agar semakin dekat.


"Aku sibuk!! Kalian anak muda bisa belajar otodidak" tolak Lexon tegas.


Tetapi bukan Maxim namanya jika menyerah. Dia melirik Remon, memberi kode tatapan agar Remon membantunya.


"Bagaimana jika minggu depan kau berkunjung ke rumah? Kita akan bermain catur, kemampuan caturmu sangat bagus, mungkin saja bisa mengalahkan ayah. Belum ada seorang pun yang bisa mengalahkan ayah, termasuk aku" jujur Remon.


Mendengar pujian putranya, Lexon sedikit menunjukkan wajah bangga. Kemudian dia melirik Maxim. Penasaran sebagus apa permainan catur Maxim sehingga Remon berani menantang Maxim bermain catur dengannya.


"Baiklah, aku setuju!! Kebetulan aku sedang menganggur!" jawab Maxim menerima tantangan.


"Husband!!!!!!!!" teriak seorang gadis yang Remon sangat kenal suara itu.

__ADS_1


"Kamu pikir kamu saja yang punya husband?? Ibu juga punya!" Safira tidak mau kalah dari Melani menantunya.


"Husband!!!!" teriak Safira memanggil Lexon. Lexon yang mendengar itu membalas dengan senyuman.


Hana hanya bisa menggeleng kepala melihat ulah kedua orang yang sedang bersamanya. Dia tidak bisa memanggil hal yang sama karena memang belum belum memiliki.


"My baby honey!!!!!" teriak Hana tidak mau kalah. Tidak bisa memanggil husband, setidaknya dia bisa memanggil kekasihnya.


Maxim yang mendapat panggilan mesra tentu saja seketika langsung memasang wajah ceria. Sangat jarang Hana bisa memanggilnya dengan mesra. Maxim seketika tersadar kalau dirinya sudah mendapat tatapan mematikan dari Lexon.


"Maaf om!! Dia yang memanggilku dengan sebutan itu! Bukan aku yang meminta! Jadi aku tidak sanggup mengabaikannya" jujur Maxim mencoba aksi penyelamatan diri.


"Tetapi tidak perlu memasang wajah manjamu!! Laki laki kok gitu!!" balas Lexon tidak terima.


"Pah jangan gitu!! Papa gak tau ya, kalau wajah papa lebih mengerikan ketika di panggil mama tadi?? Ini lihat sendiri!" Remon menyerahkan ponselnya. Dia memang mengambil gambar Maxim dan Lexon ketika mereka memasang wajah imut saat dipanggil orang orang tersayang mereka.


"Dia kan istriku!! Jadi aku berhak untuk bersikap manja padanya!!" jawab Lexon masih tidak mau mengalah.


Maxim tidak mau namanya semakin jauh dari kriteria Lexon. Jadi sebisa mungkin, Maxim mencoba untuk tetap bersabar menghadapi perlakuan Lexon. Setidaknya perlakuan Lexon masih aman, tidak tergolong berlebihan.


"Apa!!! Papa gak tobat tobat ya!!! Mama udah bilang jangan cemburu sama putri sendiri!!" Safira juga ikut membela Hana.


"Bukan cemburu, papah hanya ingin menjaga putri ayah kok!!" elak Lexon.


" Tapi jangan terlalu berlebihan ayah!!" balas Safira masih menasihati suaminya.


"Sudahlah jangan di perpanjang. Mau apa kesini? Kita sudah seperti mau tauran saja disini!" tanya Lexon. Lexon mencoba mengubah topik pembicaraan. Lebih baik segera mengubahnya daripada terkena batunya.


"Emang ayah saja yang bisa main golf? Kami juga berhak bermain. Apalagi sekarang jumlah anggota kami sudah bertambah, aku sudah punya menantu" bangga Safira dan pergi melenggok meninggalkan ketiga pria yang masih duduk.


"Aku merasa semakin hari istriku semakin cantik. Apakah ayah merasakannya juga??" tanya Remon tanpa memandang ke arah Lexon. Matanya masih setia menatap Melani.

__ADS_1


"Hahahahaha..... Sampai sekarang juga ayah masih begitu" jujur Lexon.


Maxim yang masih belum memiliki istri hanya bisa manggut manggut. Maxim merasa dirinya juga akan mengalami hal serupa dengan kedua pria yang sedang curhat.


"Ayo kita tanding? Kita bagi menjadi 3 grup sesuai pasangan masing masing" jelas Safira memanggil ketiga pria yang duduk sambil memandangi mereka.


"Aku yakin grup kami akan menang!! Suamiku sangat handal dalam segala hal!" bangga Safira memuji suaminya.


"Suamiku juga unggul kok mah!!" Melani tidak mau kalah.


"Kalah atau menang, aku tidak peduli! Dimataku, kak Maxim tetap yang terbaik!" Hana juga ikut ikutan memuji. Ketiga wanita itu saling memuji pasangan mereka. Tidak ada yang mau kalah.


Kini grup mereka sudah terbagi dan permainan sah dimulai. Para pasangan wanita berusaha sekuat tenaga memberi dukungan ke pasangan masing masing.


"Yang!! Gak apa apa kalah ya!! Aku gak mau papamu semakin benci denganku kalau aku menang!" bisik Maxim ke Hana.


"Jangan!! Kamu harus menang!!" jawab Hana juga berbisik.


"Tapi aku memang kurang unggul bermain golf, ayahku yang lebih pintar bermain" Maxim berucap jujur, dia tidak mau Hana berharap lebih.


"Yasudah!! Aku tidak memaksa. Sesuai kemampuanmu saja. Semangat!!" Hana menyemangati Maxim.


Hingga tidak terasa permainan telah usai dan pemenangnya telah ditentukan. Lexon dan Safira sebagai pemegang rekor tertinggi, selanjutnya Maxim dan Hana serta yang terakhir Remin dan Melani.


Remon sebagai pihak yang kalah hanya bisa mentraktir dua grup yang mengalahkannya di restoran dekat dengan lapangan golf. Berhubung hari juga sudah mau gelap. Anggap saja traktiran ini sebagai pengganti makan malam.


Hana kini bergabung dengan Lexon dan Safira ke mobil mereka untuk pulang. Berbeda dengan Melani yang ikut bersama suaminya, Remon. Maxim pulang sendiri karena memang tujuan mereka juga berbeda beda. Dia berniat mengantar Hana, tapi tidak bisa karena Lexon langsung menarik tangan Hana ke mobilnya.


Ketiga mobil itu akhirnya berpisah di persimpangan dekat dengan lampu merah. Hana juga hanya bisa menatap mobil Maxim yang semakin hilang di tengah keramaian malam.


Lexon sadar dengan tingkah Hana. Dia sengaja menambah kecepatan agar Hana tidak melihat mobil Maxim semakin lama. Lexon sebenarnya tidak tega melihat putrinya bersedih, tapi dia harus melakukannya.

__ADS_1


"Entah kapan aku bisa berkomunikasi dengannya!" batin Lexon masih berharap besar bisa bertemu dengan sahabat karibnya.


__ADS_2