
Hana tidak tahu kapan dia tertidur semalam. Dia hanya tahu untuk bangun di pagi hari setelah perawat datang memeriksa keadaannya. Dia juga tidak mendapati Maxim di ruangannya pagi ini.
"Sus!!! Dimana pria yang menemaniku?" tanya Hana mencoba mencaritahu keberadaan kekasihnya.
"Oh pak Maxim, pak Maxim tadi pamit untuk beli sarapan. Mungkin sebentar lagi akan kembali" kata perawat memberitahu Hana. Maxim memang sempat berpamitan ke perawat sebelum meninggalkan Hana.
Hana hanya mengangguk pertanda mengerti. "Tidak ada masalah lagi kan sus?" tanya Hana mencoba mencaritahu keadaan tubuhnya. Dia sudah mulai tidak betah di rumah sakit. Apalagi dia paling anti berobat di rumah sakit. Biasanya Hana akan berobat di rumah.
"Kondisi nona sudah membaik, mungkin besok sudah bisa pulang" jelas perawat, dia tengah sibuk melepas selang infus di pergelangan Hana. Hana sudah tidak membutuhkannya, Hana hanya perlu fokus dengan penyembuhan kaki kiri yang masih sulit bergerak. Apalagi kaki kirinya dipasang gips membuat pergelangan kaki Hana semakin sulit untuk di gerakkan.
"Baiklah nona, saya tinggal dulu. Saya sudah selesai memeriksa, jika butuh sesuatu bisa tekan tombol disana!" pamit perawat sambil menunjukkan sebuah tombol disamping ranjang tempat Hana berbaring.
"Baik sus, terima kasih!" jawab Hana sopan.
Sepeninggal perawat, Hana mencoba menyibukkan diri dengan ponselnya sembari menunggu kedatangan Maxim. Lima menit sudah berlalu, Maxim juga tak kunjung kembali. Hana sudah bosan dengan ponselnya.
"Lebih baik aku berkeliling rumah sakit, jarang jarang aku bisa datang ke rumah sakit" gumam Hana pelan. Dia mencoba mencari kesibukan sendiri.
Hana perlahan pindah ke kursi roda yang disediakan di ruangannya. Hana mulai memutar roda kursi agar bisa berpindah tempat. Hana menyusuri setiap lorong rumah sakit yang mudah dia capai dengan kursi roda. Hana sesekali menarik nafas dalam mencoba mencium aroma rumah sakit. Aroma rumah sakit sangat berbeda di penciumannya. Hana memejamkan mata untuk lebih mengenali aroma yang masuk ke indra penciumannya.
"Ahhhkkkkkkk....." suara gadis kecil yang terjatuh karena menabrak kursi roda Hana. Gadis itu berlarian di lorong rumah sakit dan terjatuh karena tidak memperhatikan keberadaan Hana di depan dengan kursi roda.
Hana segera memutar kursi roda untuk melihat anak kecil yang terjatuh. Hana segera membantu gadis itu berdiri. "Kamu baik baik saja dik?" tanya Hana sambil memeriksa lutut gadis kecil itu. Hana terkejut saat melihat kondisi kulit gadis itu. Hana sedikit terkejut dengan kondisi gadis itu, tapi Hana segera menentralkan wajah terkejutnya . Hana tidak ingin gadis kecil itu melihat ekspresi terkejutnya.
"Maaf kak! Aku tidak perhatikan jalan, kakak tidak apa apakan?" tanya gadis kecil itu balik bertanya setelah dia bangkit berdiri.
"Kakak baik kok!! Kamu sakit apa??" tanya Hana penasaran dengan penyakit gadis kecil yang baru saja menabraknya.
"Kata dokter aku alergi makanan kak, tapi aku dan mama tidak tahu alergi makanan apa?" kata gadis kecil itu memberitahu Hana.
Hana menatap gadis kecil itu dengan wajah kebingungan. Bagaimana bisa kita memiliki alergi makanan tetapi kita tidak tahu jenis makanan apa yang membuat kita alergi?
__ADS_1
"Oh iya kenalin nama kakak Hana. Jadi kamu bisa panggil kakak Hana. Nama kamu siapa?" tanya Hana. Sedari tadi mereka berbincang tapi tidak tahu nama masing masing.
"Nama kakak cantik, nama aku Yemima. Mama biasa panggil aku Mima, kakak bisa juga panggil aku Mima kok!" jawab gadis kecil itu memberitahu namanya dengan wajah bahagia.
"Waooo....nama kamu juga cantik, Yemima! Oke!!! Kakak panggil Mima aja" kata Hana berbasa basi dengan Yemima si gadis kecil.
"Kamu kok lari lari? Kan bahaya! Gimana kalau kamu tabrak orang yang lagi memakai tongkat? Kan jadinya sakit kakinya makin parah, kasihan!!" Hana mencoba menasihati Yemima agar tidak berlarian di lorong rumah sakit.
"Kasihan kak kalau orangnya terjatuh, Yemima gak mau melihat yang sakit. Yemima janji gak akan lari lari lagi kok" jawab Yemima dengan nada rendah.
"Kak Hana bisa gak jadi teman main Yemima? Yemima bosan di kamar terus. Mama kadang kadang keluar ninggalin Yemima sendiri. Yemima bosan" tambah Yemima meminta rasa simpati Hana.
"Memang mama kamu kemana?" tanya Hana penasaran. Hana bingung kenapa orang tua gadis ini meninggalkannya sendiri. Apalagi dalam keadaan sakit.
"Mama kerja kak" jawab gadis itu singkat.
"Ayahmu?" lanjut Hana bertanya.
Hana seketika tertegun. Ternyata dirinya sudah termasuk sangat beruntung. Dia memiliki segalanya. Bahkan kasih sayang keluarganya juga Hana tidaklah kekurangan.
"Bagaimana kalau seperti ini, karena kaki kakak sakit, Yemima main di kamar kakak saja ya! Yemima ada telepon gak? Atau tahu nomor mama biar kita pamit sama mama. Kasihan mama nanti kecarian" ide Hana. Dia merasa kasihan melihat kondisi gadis kecil yang baru saja dia ajak berkenalan.
"Benarkah kak? Apa tidak masalah aku bermain sama kakak?" tanya Yemima senang.
Hana mengangguk sembari memberi senyuman ramah. Gadis kecil itu melompat lompat bahagia. Hana bahkan sampai ikut senang melihat gadis itu bahagia, padahal mereka baru saja berkenalan.
Hana akhirnya mengajak Yemima ke kamarnya. Saat hendak memutar kursi roda ke arah kamar, dia mendapati Maxim berdiri dibelakangnya. Hana langsung menunjukkan deretan gigi putihnya. Hana yakin Maxim sudah mencari carinya.
Maxim tidak berbicara apapun. Dia hanya mendekati Hana dan mendorong kursi roda Hana ke arah kamar. Yemima juga mengikuti langkah mereka. Maxim membuka pintu ruangan Hana dan mendorong kursi roda masuk ke dalam.
"Kamu darimana saja?? Kamu hanya bisa buat orang panik saja!!!! Apa kamu tidak tahu seberapa panik Maxim mencarimu??" Safira tiba tiba merepet.
__ADS_1
"Maaf ma, Hana bosan di kamar. Kalian ngapain disini semua?? Emang rumah sakit ini tempat nongki biar datang kesini semua!!" kata Hana terkejut melihat semua keluarganya datang berkunjung ke kamarnya.
"Apa kamu pikir kami tidak panik saat dengar kamu masuk rumah sakit? Kamu bikin orang kawatir saja!" kata Remon ikut merepeti Hana.
"Ya maaf!!! Kan Hana juga gak mau merepoti, tapi mau gimana lagi. Hana juga gak tahu bakalan jatuh" jawab Hana santai. Lagi lagi deretan giginya terlihat.
"Putriku sudah sakit jangan dimarahi lagi!!!" Lexon menghentikan repetan Remon dan Safira, istrinya.
Hana langsung mengangguk angguk. Dia memasang wajah lugunya setelah mendapat dukungan dari Lexon.
"Maaf ya nak Maxim, kami jadi merepotimu!!" kata Safira meminta maaf karena telah membuat Maxim menjaga Hana semalaman.
"Tidak apa apa kok tante, Maxim tidak merasa terbebani. Lagipula itu sudah tanggung jawab Maxim juga kok" jawab Maxim sopan.
Lexon hanya diam tidak menanggapi. Dia juga tidak tahu harus bagaimana berbicara. Memang betul Maxim sudah rela menjaga putrinya semalaman. Remon bahkan melirik ayahnya yang memilih diam.
"Siapa dia?" tanya Melani yang dari tadi memandangi gadis kecil itu.
"Oh iya hampir lupa. Kenalin, ini Yemima. Dia mau ditemani karena di tinggal sendiri disini. Aku mau menemani dia bermain" jelas Hana.
"Oh iya, Mima sini telepon mama. Kasihan mama nanti panik mencari kamu!" suruh Hana ke Yemima sambil menerima selembar kertas dari Yemima.
Hana menerima lembaran kertas dari mengetik nomor yang tertulis di kertas itu ke hp nya dan lanjut memulai panggilan. Setelah terhubung, Hana segera menyerahkan ke Yemima.
"Hallo mama, ini Yemima. Yemima baik kok ma, mama jangan kawatir. Mama baik baik kerja ya!! Jangan terlalu kawatirkan Mima, ada kak Hana teman Mima disini. Mama!! Yemima pamit bermain di kamar kak Hana ya!! Kak Hana teman baru Mima ma. Boleh ya ma!!" pinta Yemima sopan. Bahkan semua keluarga Hana salut melihat gadis kecil yang berbicara sangat sopan itu.
"Kakak, mama mau bicara" Yemima menyerahkan telepon ke Hana.
"Halo tante, kenalin aku Hana. Aku ada di kamar 303 tante. Tante jangan kawatir, Hana akan jaga Yemima. Tante bisa menjemputnya ke kamar Hana jika sudah tiba di rumah sakit" jelas Hana mencoba meyakinkan. Hana mengembalikan ponsel ke Yemima.
"Sudah dulu ya ma!! Yemima main dulu. Iya mama, mama jangan kawatir!!! Yemima gak akan nakal kok, Mama jangan kerja berat ya!!! Sudah dulu mama, love you ma!!" kata Yemima mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Lagi lagi orang orang di ruangan itu salut melihat Yemima. Tubuh kecil, umur masih dini tetapi pola pikir seperti orang dewasa. Sangat hebat. Safira bahkan sampai mendekat dan memeluk Yemima. Yemima hanya terdiam mematung. Dia bingung kenapa tiba tiba dipeluk. Tetapi dia tidak peduli, Yemima memilih membalas pelukannya.