STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
RINDU


__ADS_3

Hana sudah berada di depan pintu ruangan Maxim. Dia belum mengetuk pintu itu, Hana masih berjalan kecil di sekitar pintu. Sekretaris yang berada di luar pintu saja merasa bingung dengan tingkah Hana. Hana hanya memberi senyuman pada sekretaris wanita yang melihat tingkahnya.


Tok...tok..tok... Hana mengetuk pintu dan mendengar balasan dari Maxim yang mempersilahkan masuk.


"Pagi pak! Ada yang perlu saya bantu pak? Pagi pagi bapak sudah mencariku!" kata Hana mantap tanpa rasa takut.


"Siapa yang mencarimu pagi pagi? Apa kau begitu merindukanku hingga datang terlalu pagi? Aku menyuruhmu datang setelah makan siang." jawab Maxim santai. Maxim memang sedikit terkejut dengan kedatangan Hana yang tak terduga.Maxim ingat dia menyuruh Hana datang setelah makan siang. Entah apa yang gadis itu pikirkan.


"Bukankah bapak menyuruhku datang kemari?" tanya Hana tidak mau di salahkan.


"Saya memang menyuruhmu datang kesini, tapi setelah makan siang! Kau memang terlalu merindukanku, apa ka rindu di gendong untuk kedua kalinya?" kata kata Maxim sukses membuat Hana membulatkan mata dan menatap tajam ke Maxim.


"Kenapa? Saya memang pernah menggendongmu kan? Apa kau ingin di gendong untuk kedua kali?" tambah Maxim, membuat Hana seketika berlari menutup mulut Maxim dengan telapak tangannya. Hana bahkan sedikit menekannya, membuat Maxim kesulitan bernafas karena hidungnya ikut tertutup.


Hana sadar dengan tindakannya dan segera melepas tangannya. "Maaf pak! Tanganku memang sedikit keterlaluan. Otak saya sudah berpikir untuk tidak melakukannya, tetapi tangan saya tidak menurut pak!" kata Hana merasa tidak bersalah sama sekali. Jika dia bisa, mungkin dia akan menutupnya sedikit lebih lama.


Maxim masih berusaha mengatur nafasnya yang sempat terhenti karena ulah Hana. "Ini namanya percobaan pembunuhan atasan! Apa kau begitu sangat ingin membunuhku?" bentak Maxim membuat Hana terkejut.


"Ti...tidak kok pak! Saya tidak diajarkan untuk membunuh sama orang tua saya. Lagian cara itu terlalu mudah, tidak unik!" jawab Hana santai. Dia tidak sadar di dalam kalimatnya itu ada kata kata membenarkan bahwa dia terniat membunuh Maxim.


"Wahhh!!! Bagaimana bisa Remon menyuruhkan menjagamu. Berarti aku sedang menjaga pembunuhku!" Maxim tidak habis pikir dengan cara berpikir gadis di depannya.


"Sudahlah! Aku pasrah dengan nyawaku di tanganmu! Mulai besok kau bekerja sebagai asisten pribadiku!" tambah Maxim, dia penasaran dengan balasan gadis di depannya. Maxim yakin Hana sangat tidak suka itu.

__ADS_1


"What!!! Tidak salah pak? Sayakan anak magang, bagaimana bisa saya layak menjadi asisten bapak? Cari yang lain saja pak? Atau jangan jangan bapak yang rindu menggendongku? Keenakan ya pak peluk saya, secara saya gadis cantik!" bangga Hana membuat Maxim yang sedang menyeruput tehnya menyemburkan kembali. Maxim sama sekali tidak menyangka gadis di depannya sampai berpikiran demikian.


"Hahahhh... tidak ada bantahan, mulai besok datang lebih awal ke ruangan saya. Mejamu akan di buat di sudut ruanganku. Silahkan keluar!!" Maxim langsung mengunci kalimat Hana. Hana sama sekali tidak bisa menolak, Hana hanya pasrah dan pamit undur diri.


"Jika aku tidak menyelesaikannya dengan cepat, aku yakin aku akan kalah dengan cara berpikir gadis itu. Bagaimana bisa ada gadis yang sangat aneh di dunia ini?" gumam Maxim setelah Hana keluar dari ruangannya. Dia memang hampir kalah berdebat dengan Hana. Beruntung dia cepat tanggap untuk mengakhiri perbincangan mereka.


"Awas loh Mon!! bisa bisanya loh nyuruh dia jadi asistenku? Wah!! Sepertinya gue harus menyelamatkan diri sendiri, tidak ada yang bisa membantuku. Tunggu, bukankah itu terbalik? Kenapa aku yang jadi tertindas??" Maxim merasa heran dengan keadaan saat ini.


"Sudahlah!! Jika terjadi sesuatu padaku, maka itu urusan Remon" Maxim lagi lagi menenangkan diri sendiri. Dia menyisir rambutnya dengan jarinya, menjadi kebiasaannya saat sedang memikirkan masalah.


"Sejak kapan ada pemagang jadi asisten pribadi? Wah!! Ini namanya penyalahgunaan kekuasaan" Hana selalu menggerutu sejak keluar dari ruangan Maxim. "Bagaimana Melani dan Rena? Mereka pasti sedang bersenang senang! Huft...deritaku sudah dimulai!" pasrah Hana dan merapikan tas dan mejanya sementara, karena besok dia tidak akan duduk di meja itu lagi.


"Kak kak!! Boleh tanya tidak?" Hana tiba tiba mendorong kursinya ke arah senior di sampingnya. Melihat dari wajah seniornya, terlihat ramah. Hana yakin seniornya bisa diajak berbicara.


"Pak Maxim gak punya asisten pribadi ya kak?" tanya Hana penasaran. Hana heran kenapa Maxim menjadikannya asisten pribadi. Hana pasti akan merasa kasihan pada asisten pribadi Maxim sekarang.


"Menurut yang kakak lihat, bos Maxim memang tidak ada asisten pribadi. Dia punya sekretaris dua, satu wanita yang di luar ruangannya dan satu lagi laki laki yang selalu bersamanya kemanapun dia pergi. Bisa di bilang sekretaris yang selalu bersamanya merangkap jadi asisten pribadi" jelas senior membuat Hana manggut manggut.


"Kasihan ya kak sekretarisnya! Pasti dia sangat lelah dan tertindas" Hana memberi pendapat.


"Hahahahah.....tidak tahu juga dik, soalnya di wajahnya tidak pernah terlihat rasa lelah. Wajahnya selalu datar! Jadi agak sulit melihat rasa lelah atau bahagia di wajahnya" tambah senior menjelaskan.


"What!! Maksud kakak wajah bos sama sekretaris sama sama menyebalkan begitu??" tanya Hana membuat senior tertawa. Dia tidak menyangka Hana akan berpendapat demikian.

__ADS_1


"Yah!! bisa di bilang begitu untuk kalian yang masih baru. Kalau sama kakak, itu sudah biasa. Kakak sudah bertahun tahun bekerja disini, jadi sudah terbiasa dengan wajah datar mereka" jujur senior kepada Hana. Hana hanya membalas dengan mengacungkan dua jempol pertanda hebat.


Hana menyelesaikan perbincangannya dengan senior. Tidak ingin mengganggu aktifitas seniornya lebih lama. Hari pertama lumayan membosankan, Hana belum memiliki jobdesk yang jelas. Hana hanya memperhatikan seluruh karyawan yang terlihat serius. Memberi penilaian yang cocok sesuai ekspresi wajah yang sedang di ekspresikan setiap karyawan.


Hana yakin mereka semua tidak serius karena pekerjaan. Tetapi ada yang menaruh ekspresi serius karena membaca pesan ataupun membaca berita hari ini. Hana sesekali tersenyum tipis karena ada beberapa karyawan yang bertingkah aneh secara tidak sadar.


Hana semakin tersenyum lebar saat melihat ekspresi wajah dua orang yang melintas. "Pantas saja mereka sulit di nilai. Wajahnya seperti kain yang tidak di setrika, kusut!!" gumam Hana pelan tapi masih terdengar ke telinga senior teman Hana berbincang beberapa menit yang lalu. Senior itu hanya tersenyum kecil dan fokus kembali ke layar komputer di depannya.


"Kenapa semakin mendekat kesini sih? membuat semangatku sebagai penilai turun saja!!" gumam Hana pelan yang melihat Maxim dan sekretaris yang merangkap jadi asisten mendekat ke arahnya.


"Raka! Berikan jobdesk pekerjaannya mulai besok, mulai besok dia akan sibuk!" perintah Maxim ke Raka sekretarisnya.


"Baik bos! Segera saya siapkan. Nona Hana, Jobdesk anda akan saya kirim melalui surel" kata Raka memberitahu Hana. Raka masih memasang wajah tegangnya.


"Baik pak! Terima kasih atas perhatiannya" jawab Hana sopan meskipun sebenarnya dia sudah sangat ingin tertawa.


"Nikmati harimu hari ini!! Kami permisi!" tambah Raka dan pamit undur diri mengikuti Maxim yang sudah terlebih dahulu menjauh.


"Tenang saja pak! Saya selalu menikmati hari saya meskipun harus melihat wajah kusut bapak dan bos bapak!" jawab Hana spontan. Beruntung itu tidak lagi terdengar Raka karena Raka sudah menjauh sebelum Hana selesai berbicara.


"Tidak tahu sopan santun berkomunikasi!" gerutu Hana kesal.


"Semangat!!" kata senior disamping Hana memberi semangat untuk Hana. "Good luck" tambahnya, membuat Hana sedikit bingung mengartikannya, tapi Hana abaikan.

__ADS_1


Hana kembali ke dunianya sendiri, memperhatikan setiap tingkah karyawan yang sedang bekerja ataupun yang sedang berlalu lalang dengan berkas di genggaman mereka. Beberapa diantara mereka ada yang tersenyum ramah ke Hana, ada juga yang sama sekali tidak menggubris keberadaan Hana. Tetapi Hana tidak peduli, dia lebih peduli dengan orang yang ramah padanya.


__ADS_2