STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
HARI PERTAMA MAGANG


__ADS_3

Seluruh keluarga Sunitra sedang duduk di ruang makan menikmati makan malam. Tidak ada yang memulai perbincangan hingga makan malam selesai. Aturan tidak tertulis yang harus di patuhi di keluarga Sunitra. Safira mengajarkan anak anaknya sopan santun sejak kecil. Safira tidak ingin kedua anaknya tumbuh menjadi anak anak yang tidak beretika. Terutama mengingat keluarga mereka adalah keluarga terpandang, bisa saja anak anaknya mengandalkan kekuasaan itu untuk berbuat sewenang wenangnya.


Tetapi anak anak keluarga Sunitra tidak melakukannya. Mereka menjunjung tinggi tata krama yang sudah Safira bina sejak kecil.


"Bagaimana persiapanmu untuk magang besok?" Tanya Remon yang tahu kapan jadwal magang Hana.


"Begitulah!! Siap tidak siap tuan putri ini harus maju!!" jawab Hana santai membuat Lexon dan safira melirik Hana.


"Ayah hampir melupakan hal penting itu, di perusahaan mana?" tanya Lexon penasaran. Lexon lupa dengan kegiatan penting putrinya. Dia terlalu sibuk mengurus perusahaan. Bahkan Safira pun hampir melupakannya, dia mengira putrinya belum dewasa. Mengira Hana masih di semester awal.


Remon mengetahuinya karena perusahaannya juga masuk ke daftar perusahaan elit yang menerima magang bersertifikat dan Remon yang menyetujui siapa yang layak untuk masuk ke perusahaannya setelah melewati beberapa tahapan seleksi.


"Perusahaan kak Maxim yah! Aku terpilih masuk kesana. Aku juga sedikit heran kenapa aku bisa masuk kesana, kenapa tidak ke perusahaan kita jika memang harus di pilih" Hana masih curiga ada permainan Remon.


"Bukankah itu bagus? Andai saja kamu di pilih masuk ke perusahaan keluarga kita, aku yakin kamu juga gak akan menerima" jawab Remon cepat. Tidak mau ayahnya ikut bertanya. Memang kenyataannya Remon sedikit bermain. Remon tidak mau adiknya masuk ke perusahaan kecil. Remon ingin Hana belajar managemen di perusahaan besar.


Remon juga ingin Melani selalu di dekatnya. Remon takut Melani akan di ganggu laki laki lain. Remon teringat dengan drama korea yang dia dan Hana tonton. Tumbuhnya benih cinta antara pemagang dengan karyawan senior.


"Iya juga sih kak! Awas kakak bertindak kasar ke kedua sahabatku! Bersikap baik pada mereka, perhatikan karyawan karyawanmu yang lain! Awas kegatalan" ancam Hana ke Remon membuat Lexon tersenyum geli melihat ekspresi Remon yang diancam Hana.


"Tenang saja!! Aku akan menjaga calon istriku!!" jawab Remon membuat Lexon dan Safira membulatkan bola mata mereka.


"Oeekkkk!! Tolong tingkat kepedaan itu di turunkan!! Tidak dibutuhkan" Hana meledek Remon yang terlalu percaya dengan ucapannya.


"Iyalah!! Kita harus yakin dengan perasaan kita. Kakak yakin kok dia calon istriku di masa yang akan datang! Ayah sama Mama sudah restui kok, Benar kan Pah, Mah? " tanya Remon bangga.


"Ayah dan Mama tidak akan memaksakan kehendak kami untuk kalian. Kalian yang memilih jalan kalian. Ayah dan Mama hanya memberi nasihat agar kalian tetap menjaga batasan. Jaga batasan selama berpacaran, jangan sampai merusak dan dirusak. Paham!" nasihat Safira kepada kedua anaknya. Lexon hanya mengangguk tanda setuju dengan ucapan istrinya.


"Hahahaha.... awas kebablasan kak!! Ingat pakai kond*m!!" ejek Hana tanpa sadar dengan ucapannya.

__ADS_1


"Hana!!! Tahu darimana kamu ucapan itu? Gak sopan sama kakakmu! Itu juga berlaku untukmu!" Safira sedikit membentak Hana yang tidak sadar dengan ucapannya.


"Hehehe.... sorry Moms!! Terlintas di otak saja!" jawab Hana santai merasa tidak bersalah.


"Memang putrimu yang satu ini kelewatan yang pah! Efek menonton drama korea yang begini jadinya!!" Tambah Safira menasihati Hana.


"Sudah sudah! Mari istirahat! Besok adalah hari pertama Hana magang. Dia tidak boleh terlambat. Kamu juga Remon, besok kamu harus memeriksa anak anak magang yang kamu terima, jadi cepat istirahat. Ayah tidak mau hari esok kalian terganggu. Selamat malam!" pamit Lexon setelah menyuruh anak anaknya meninggalkan ruang makan.


Berbeda dengan Safira yang masih di dapur memperhatikan kinerja asisten rumah. Safira akan kembali ke kamar setelah para asisten sudah selesai dari dapur dan kembali ke ruangan yang sudah di sediakan untuk mereka. Tidak lupa sebelum meninggalkan dapur, Safira akan memberi list daftar makanan untuk besok dan memberi uang belanja untuk besok.


"Bro!! Tolong rawat adikku, jangan terlalu keras padanya!" kata Remon dengan seseorang di balik benda pipih itu.


"Sayang benar loh sama anak kepala ART kalian!! Awas jatuh cinta bro, bisa saja loh menganggap dia saudara. Tetapi biar bagaimana pun kalian tidak satu darah. Jadi hati hati!" Maxim memberi peringatan. Maxim belum tahu yang sebenarnya tentang hubungan Hana dan Remon yang memang saudara kandung, sedarah.


"Hahahaha.... gila loh bro!! Itu tidak akan terjadi. Gue bahkan ragu sama loh. Hati hati dengan matamu! Dari mata jatuh ke hati" peringatan balik Remon.


Berbeda dengan gadis di samping kamar Remon. Gadis itu sudah masuk kedunia mimpi. Mungkin di meja makan dia juga sudah merasakan kantuk, hanya saja dia tahan karena tidak mau dimarahi Safira. "Durian!! mau durian!!" gumam Hana dalam tidurnya, membuat Remon yang kebetulan lewat dari depan kamar Hana tertawa lucu.


"Selamat pagi!!! Semoga hari pertama kita menyenangkan!!" Melani sudah ribut di grup.


"Buat loh berdua sih enak! Bagiku mungkin ini sedikit horor. Mengingat kejadian gue di gendong, mau dibuat kemana wajah cantik gue?" keluh Hana tidak semangat.


"Semangat cantik, Wajah cantikmu akan masuk ke hati kak Maxim. Tenang saja, gue yakin!!" Jawab Melani mencoba membuat perasaan sahabatnya itu tenang.


"Sama Han! gue juga merasa masuk magang agak horor. Imageku sudah hancur karena di gendong kak Remon. Gue akan merasa malu jika bertemu dengannya, berbeda dengan Melani. Melani pasti sangat bahagia" Rena juga ikut mengeluh, membayangkan dia akan bertemu Remon. Rena pasti akan sangat malu pada Remon.


Hana segera bersiap setelah melipat selimutnya. Keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil pakaian yang sudah dia sediakan sebelum masuk ke kamar mandi.


"Semangat!! Ganbaru!!" Hana menyemangati dirinya sendiri sebelum masuk keluar kamar.

__ADS_1


"Selamat pagi Mah, bibi!!" sapa Hana kepada orang yang ada di dapur.


"Makan yang banyak non! Biar semangat magangnya!" kata kepala ART agar Hana semangat memulai harinya.


"Terima kasih bi! Mama gak semangatin aku?" tanya Hana kepada Safira yang masih fokus dengan masakan untuk suaminya.


"Doa mama menyertaimu!" jawab safira sembari melukis senyuman indah si bibirnya.


"Thanks moms, love you!! Hana pamit meninggalkan ruang makan menuju ke garasi mengambil motor kesayangannya. Hana langsung melaju meninggalkan pekarangan rumah.


"Untung gak macet!!" gumam Hana yang masih membelah jalan besar menuju perusahaan tempat dia magang.


Setelah memarkirkan sepeda motor, Hana sedikit berlari masuk ke gedung besar itu. Hana mencoba masuk lebih pagi karena tidak mau bertemu dengan Maxim.


"Sial!! Kayak jin aja!!" Entah darimana datangnya Maxim. Hana tidak menyadari kedatangannya. Hana terkejut karena mendengar suaranya.


"Keruanganku nanti sebelum makan siang! Aku tidak suka menunggu lama!" titah Maxim yang tahu ke Hana. Maxim tahu Hana sedikit menghindarinya, mungkin karena malu. Dia memang sudah melihat Hana sejak di parkiran tetapi enggan mendekati Hana. Jadi dia hanya mengikuti langkah Hana dari belakang.


"Baik pak! Saya akan ke ruangan bapak. Terima kasih, saya undur diri pak!" pamit hana langsung cepat pergi meninggalkan Maxim.


"Sial!! kok bisa jumpa? Lagian untuk apa sih gue ke ruangannya? bilang saja kalau rindu gue, cape banget luh!! Itu saja dirumitkan" Gumam Hana.


"Mudah mudahan dia tidak mempersulitku!" Mohon Hana sebelum berjalan menuju lantai paling atas tempat Maxim sebagai pimpinan berada.


Berbeda dengan Melani dan Rena. Mereka tampak sangat menikmati hari pertama mereka di perusahaan keluarga Sunitra. Semua karyawan tampak ramah terutama saat Remon ikut memperkenalkan diri kedua teman Hana. Semua karyawan menghargai keberadaan Melani dan Rena.


"Mudah mudahan keadaan Hana baik baik saja kan?" tanya Rena tiba tiba.


"Tenang saja! gue yakin dengan kemampuan Hana. Jadi jangan terlalu di pikirkan!" jawab Melani mencoba menenangkan perasaan Rena.

__ADS_1


"Sebaiknya kita nikmati saja masa kita!" tambah Melani.


__ADS_2