STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
PERTEMUAN YANG TIDAK DIINGINKAN


__ADS_3

Hana semakin bahagia karena setelah wanita di depannya pergi, dia akan mencapai tujuannya. Dia begitu penasaran dengan roti yang berada di kotak kaca di depan. Pasti roti itu sangat enak makanya banyak orang mengantri. Akhirnya giliran Hana tiba, dia memilih cake yang dia rasa sangat unik bentuknya. Bahkan rasanya sangat jarang dia lihat di toko roti lain, cake dengan cream durian.


Air liur Hana bahkan semakin banyak karena membayangkan enaknya makan cake itu. Dia sejenak melupakan bahwa dia dari rumah kesal karena ulang tahun yang terlupakan. Hana mengambil kue itu dan segera meninggalkan tempat mengantrinya agar orang lain juga dapat giliran.


"Ahhhhh" teriak Hana keras membuat seluruh penghuni toko roti melihat ke arahnya. Kue yang Hana pegang terbang ke atasnya. Hana yang hampir terjatuh meraih tangan pria yang tadi mengantri di belakangnya. Pria itu mengenakan kaos oblong putih dengan masker putih menutupi wajahnya, tidak lupa dengan topi hitam di kepalanya.


Pria itu juga tampak berusaha membantu Hana, tapi sialnya kekuatab Hana tampak lebih besar daripada pria masker itu. Pria itu terkejut, tampak jelas dari matanya yang melotot besar melihat Hana dan akhirnya, bukkk!!! keduanya jatuh. Pria itu menimpa tubuh Hana yang mungil. Hana lagi lagi melotot, roti yang terbang tadi akan mendarat di kepala pria itu.


Takk!!! sudah mendarat! kepala pria itu tertekan dan akhirnya mencium kening Hana. Lagi-lagi Hana melotot, tidak ada pria yang menciumnya kecuali ayahnya dan Remon. Lexon dan Remon bahkan tidak mencium keningnya, mereka hanya mencium kepalanya. Tapi sekarang, apa yang dilakukan pria ini? Dia mencium kening Hana, yah meskipun masih ada pembatas di ciuman itu. Pembatas yang begitu tipis, apalagi jika bukan masker yang pria itu kenakan.


Hana segera mendorong pria itu ke samping, mengusap usap keningnya dan memberi tinju ke wajah si pria masker. KO!! Pria itu tersungkur, dia memegang wajahnya yang terkena tinju Hana. Dia segera membuka maskernya karena rasa sakit di pipinya.


"Heyyy..... kenapa kau memukulku? Aku juga dirugikan! Lihat kepalaku sudah penuh dengan kue aroma busuk ini! Apa ini? kue rasa durian? gadis apa yang suka dengan durian yang baunya sangat menyengat!!" teriak pria itu.


Hana yang terkejut melihat wajah pria itu kembali melayangkan tinju ke arah si pria. Hana tidak suka dengan ucapan pria itu. Hana segera bangkit, tapi lagi lagi terjatuh dan menimpa pria itu.


"Wahhh!!!!! kenapa hariku sial sih!! Udah ulang tahun dilupakan, bertemu pria mesum, jatuh, malu!!" kesal Hana sembari mengacak acak rambutnya. Dia lupa pria di bawahnya tengah menahan bebannya.

__ADS_1


"Wanita gemuk! bisa tidak kamu menyingkir? tubuhmu sunggu berat!" ucap pria itu dengan nafas berat.


"Sorry! Tunggu, loh bilang gue gemuk? mata loh katarak ya?" teriak Hana dan segera berpindah. Hana segera membuka ikatan tali sepatunya dengan sepatu pria itu. Gadis kecil yang baru saja akan keluar dari toko roti itu tersenyum lucu. Gadis kecil itulah pelakunya.


"Itu Maxim bukan?" teriak salah satu gadis yang mengerumuni Hana dan pria masker. Pria masker itu akan segera lari tapi tidak berhasil karena Hana menariknya kembali.


"Ikatannya belum lepas pria mesum, kaki gue sakit!!" teriak Hana dan mempercepat gerakannya membuka ikatan tali sepatu. Pria masker hanya bisa pasrah, dia tersenyum dan menyapa orang orang disana.


Hana segera beranjak dari duduknya, memesan kembali roti dengan rasa yang sama dan segera pergi meninggalkan pria masker yang di kerumuni orang orang yang ingin meminta foto dan tanda tangan.


"Apa dia tidak mengenalku? Padahal aku adalah pengusaha terkenal yang wajahnya sudah terkenal dimana mana! Apa dia orang kuno?" gumam pria masker keheranan, dia masih sibuk meladeni orang orang yang mengidolakannya.


Pria masker ingin mengejarnya karena merasa urusannya belum selesai dengan Hana. Tapi langkahnya kalah cepat dengan Hana yang sudah meninggalkan kawasan toko roti dengan motor besarnya. "Aku yakin kita akan bertemu lagi gadis aneh!" gumam Maxim dan masuk ke mobilnya dengan sekotak kue di tangannya.


"Hey bro! loh udah dimana? gue udah di bandara 1 jam bro! batang hidungmu tidak terlihat juga" kata seseorang dari ujung sana. Maxim hanya tersenyum tidak merasa bersalah karena membiarkan sahabat karibnya menunggunya di bandara.


"Hahahahaha....sorry bro! gue lupa memberitahumu, gue udah keluar bandara!!" jawab Maxim dengan nada yang sama sekali tidak merasa bersalah.

__ADS_1


"Wah! loh teman gue apa tidak sih bro? Gue sumpahin hari ini adalah hari sialmu!" kata pria di seberang dengan nada ketus. Dia menyumpahi Maxim akan mendapat hari sialnya.


"Dan doamu sudah terkabul, hari ulang tahunku sudah sial!!" dengan nada lemahnya Maxim memberitahu hari sialnya ini. Terutama saat mencium aroma durian yang menyengat dari tubuhnya.


"What?? benaran terkabul? Gue jadi penasaran siapa yang sukses membuat hari ulang tahunmu sial" tertawa puas mendengar penuturan Maxim.


"Gue tunggu di apartemenku, gue share lokasinya" jawab Maxim dan segera mengirim lokasi apartemennya. Maxim memang baru membeli apartemen di kota ini karena dia akan tinggal lama di kota ini untuk mengurus cabang bisnis keluarganya. Dia sudah mengakhiri panggilan dan segera bergerak cepat ke arah apartemennya.


"Kek siput loh!! Lama!!" teriak Remon yang melihat kedatangan Maxim. Remon tiba terlebih dahulu dan sialnya dia harus menunggu Maxim sekita 15 menit. Menunggu adalah hal yang paling Remon benci.


"Bau apa ini? Jauh sana!" tambah Remon dan mendorong tubuh Maxim menjauh darinya. Tidak lupa dengan hidung yang dia tutup dengan dua jari tangannya.


"Brengsek!!" umpat Maxim dan segera menekan sandi pada tuts di pintu masuk apartemennya.


Remon segera masuk sebelum Maxim mempersilahkan masuk. Remon bahkan merasa dia berada di rumah sendiri dan Maxim yang menjadi tamu. "Oh iya, selamat ulang tahun! Loh harus traktir gue karena aku sudah ucapkan selamat ulang tahun" kata Remon dan segera membuka kotak kue yang terletak di meja di depannya.


"Gue juga gak butuh ucapanmu!" jawab Maxim ketus dan segera meninggalkan Remon di ruang tamu. Maxim pergi ke kamar hendak membersihkan dirinya. Dia merasa pusing karena harus mencium aroma durian di tubuhnya. Setelah selesai membersihkan diri, dia kembali ke ruang tamu menemui Remon yang kini sudah berbaring di sofa dengan remote tv di tangannya.

__ADS_1


"Gue bingung siapa yang jadi tamu disini?" heran Maxim menemui sahabatnya. Dia memang sudah sering dengan sikap aneh Remon. Sejak mereka kuliah dan tinggal bersama, Remon memang selalu aneh. Tetapi meski sudah sering melihatnya, Maxim masih sering heran dengan sikapnya.


"Ngomong-ngomong kenapa tubuhmu beraroma durian?" tanya Remon penasaran.


__ADS_2