
Maxim masih mengajak Hana berkeliling, dia tidak langsung membawa Hana pulang. Maxim menunggu kemerahan di wajah Hana hilang, dia tidak mau orang di rumah mengkawatirkan Hana dan Maxim yakin Hana tidak menginginkannya.
"Apa kamu lapar?" tanya Maxim yang melihat Hana sudha bangun dari tidurnya.
"Kenapa kita tidak pulang?" tanya Hana yang sadar kalau tempat mereka sekarang bukan jalan pulang.
"Aku ingin melepas rindu karena tidak bertemu denganmu beberapa jam. Ayo makan duku baru pulang! Kamu suka rendang kan?" tanya Maxim dan diangguki Hana. Seketika Hana menelan ludah ngiler mengingat aroma dan rasa rendang. Apalagi buatan kepala asisten rumahnya.
Maxim menghentikan mobil di rumah makan sederhana. Dia memasangkan masker di wajah Hana dan memasang topi di kepala Hana. Dia juga memasangkannya untuk diri sendiri.
"Ayo!" ajak Maxim meminta Hana ikut turun mobil.
Hana turun dibantu Maxim. Tidak pernah sekalipun Maxim melepas genggamannya di pergelangan tangan Hana. Maxim memilih tempat duduk dan di sudut. Maxim tidak ingin orang orang leluasa melihat mereka.
"Waooo!!! Mereka juga menjual durian!!!! Aku mau!!!!!" rengek Hana yang melihat tumpukan durian saat melintas.
"Matamu dan hidungmu memang jeli!! Baiklah, aku akan mengalah. Makanlah sepuasmu! Aku tidak melarang" jawab Maxim menyetujui permintaan Hana. Meskipun itu akan memberinya derita kepala pusing.
Hana kegirangan, dia segera menghampiri pemilik toko diikuti Maxim yang berusaha menyelaraskan langkahnya dengan Hana.
"Bu!! Saya mau duriannya dua, satu di bungkus satu lagi makan disini! Tolong di kupas langsung ya bu!! Saya juga pesan nasi lengkap dengan lauk , lauknya rendang dan sayurnya ini!" pesan Hana sambil menunjuk sayur daun ubi tumbuk.
Melihat semua makanan itu, air liur Hana semakin banyak. Dia ingin segera menyantap makanan yang dia pesan. Dia bahkan hampir melupakan Maxim.
"Hm.... Hm... Untukku??" tanya Maxim.
"Oh iya benar, aku lupa!!!!!" kaget Hana.
"Kamu mau apa?" tanya Hana.
"Samakan dengan pesananmu saja!" pinta Maxim.
"Lengkap dengan durian?" ledek Hana. Dia sangat tahu Maxim sangat tidak menyukai durian. Apalagi mengingat saat pertama kali mereka bertemu. Adegan itu ingin membuat Hana kembali tertawa.
"Hahah..... Kamu kejam!!! Aku tidak mau, aku menontonmu saja sudah cukup!" tolak Maxim.
"Bu!! Tolong antar ke meja di belakang ya!!" pinta Hana dan segera kembali ke tempat duduk mereka di belakang. Maxim audah terlebih dahulu tiba disana menunggu Hana.
"Pesanannya kak!!" kata seorang gadis yang Hana perkirakan umurnya masih jauh dari umurnya.
"Terima kasih!!" jawab Hana dan membagi pesanannya dengan pesanan Maxim.
__ADS_1
"Apa yang terlebih dahulu ku makan ya?? Hmmmmmmm..... Ini semua sangat enak, aku sampai bingung harus mulai darimana? Aku makan sedikit duriannya saja sebagai pembuka!" kata Hana memutuskan.
"Mendengar durian, Maxim langsung menutup maskernya kembali. Dia lebih memilih menunggu Hana menikmati nasinya. Daripada dia harus mencium aroma durian. Lagipula tidak salah jika dia dengan Hana sama sama menikmati nasi rendangnya.
Hana menggeleng geleng bahagia menikmati duriannya. Dia sudah memakan 5 batu durian. "Cukup!! Sekarang makan, baru lanjut lagi" kata Hana. Dia berbicata untuk dirinya sendiri.
Maxim juga ikut menikmati makanannya. Dia makan cepat takut Hana akan selesai terlebih dahulu dan akan lanjut makan durian.
Benar saja tebakannya. Hana terlebih dahulu selesai. Dia akan melanjutkan makan durian yang tersisa. Maxim segera mengakhiri makannya. Dia segera meneguk minuman botolnya dan kembali mengenakan masker. Jika mencium aroma duriannya secara langsung, bisa dipastikan Maxim tidak akan mampu menyetir untuk pulang karena sakit kepala.
"Sudah puas???" tanya Maxim yang memandangi Hana menyantap durian.
"Mm..... makasih Max!!! Aku sangat senang untuk makanan malam ini!! Love you!!!" jawab Hana masih mode bahagia. Dia sibuk menghilangkan aroma durian di tangannya. Dia tidak mau aroma itu mengganggu Maxim.
"Tunggu disini, aku akan bayar!!" kata Maxim dan mendekat ke kasir.
Hana hanya menurut, dia menunggu Maxim kembali. Setelah melihat Maxim kembali, dia lelas berdiri. Dia menggandeng tangan Maxim dengan tangan kanannya san tangan kirinya membawa tentengan durian yang dia pesan.
"Kamu akan makan durian itu lagi di rumah?" tanya Maxim ke Hana setelah sampai di mobil.
"Tentu saja!! Tetapi tidak menikmati duriannya langsung, aku mau menyuruh bibi mengolahnya jadi pancake durian!! Apa kau tahu, pancake buatan bibi sangat enak!!" bangga Hana.
"Benarkah?? Aku ingin mencoba tapi aku benar benar tidak sanggup!!" kata Maxim jujur.
Pasangan muda itu mengobrol hingga mereka tiba di kediaman Sunitra. Maxim mengantar Hana masuk dan pamit pulang.
"Ciee..... Darimana ini?? Pulangnya malam, wajahnya ceria lagi!!" kata Melani menggoda Hana.
"Mau tau aja luh!! Bibi mana?" tanya Hana.
"Di belakang!!" jawab Melani.
"Itu apa?" tanya Remon melihat tentengan Hana.
"Kakak mau??" tanya Hana. Dia sebenarnya ingin mengerjai Remon.
"Bawa sini!! Makanan enak ya untuk dimakan!!" jawab Remon senang mendapat makanan dari Hana.
"Oeekkkkkk!!!! Durian!!!!" Remon langsung menjauhkan sekotak durian yang sudah dia keluarkan dari kantong kresek Hana.
"Hahahahahahahaha..........." Hana dan Melani teetawa serentak. Sifat kedua bersahabat itu masih sama, mereka masih senang mengerjai Remon.
__ADS_1
"Kakak ipar, semoga kakak ipar cepat ngandung dan ngindamnya kak Remon makan durian!!!" kata Hana ceplos.
Seketika Melani berbatuk mendengar doa Hana. Berbeda dengan Remon yang menatapnya dengan tatapan menggoda Melani.
"Aku mengantuk, aku tidur dulu!!" pamit Melani dan segera melarikan diri ke lantai dua kamar Remon atau sekarang sudah menjadi kamar mereka.
Remon juga ikut lari mengikuti Melani. Hana hanya menggidik ngeri melihat tingkah pengantin muda. Hana memilih kedapur mencari kepala asisten rumah, Hana ingin dibuatkan pancake dengan durian yang dia bawa.
"Bi!! Tolong buatin Hana pancake ya!! Ini duriannya!" pinta Hana memasang wajah manja.
"Siap non!! Apasih yang tidak buat nona!?" jawab kepala asisten dan menerima tentengan Hana.
"Buatnya gak harus malam ini kok bi, jangan sampai bibi begadang! Besok pagi saja!" kata Hana tidak mau karena ulahnya kepala asisten begadang.
"Tenang non, bibi ingat jam tidur kok! Pokoknya besok nona sudah bisa menyantapnya. Istirahatlah!! Ini sudah semakin larut!" suruh kepala asisten.
"Hana pamit ke kamar ya bi!!" pamit Hana dan segera pergi meninggalkan kepala asisten rumah bersama asisten rumah lainnya di dapur.
Hana segera membasuh dirinya dengan air hangat. Dia duduk di depan cermin dan mengaplikasikan cream malam di wajahnya. Masih ada sedikit bekas merah di bekas tamparan Sandra. Hana menghela nafas kuat seakan akan mengatakan kediri sendiri agar kuat dan sabar.
"Aku pasti akan membalasnya suatu saat nanti!!" gumam Hana dan beranjak ke kasur setelah meraih ponselnya.
"Apa kau sudah tiba di apartemen?" tanya Hana ke Maxim setelah panggilan video berlangsung.
"Sudah Honey!! Aku juga sudah mandi, sikat gigi, sekarang sudah berbaring di kasur. Andai kau ada disini pasti akan lebih menyenangkan" jawab Maxim menggoda Hana.
"Apa yang menyenangkan jika aku disana? Apa aku teleportasi saja?" balas Hana.
"Jika kau disini aku akan menyingkirkan bantal guling ini, aku akan menggantinya denganmu. Bantal gulingku ini tidak menyenangkan, akan menyenangkan jika kau menjadi bantal gulingnya, tidurku pasti akan lebih nyenyak!!" jelas Maxim dengan mode manja.
"What!!!!! Jadi aku hanya sebatas bantal gulingmu?? Aku sangat sedih!!" kata Hana tidak senang dikatakan bantal guling.
"Jangan salah pahan Honey!!! Bukan berarti kau bantal guling, ada maksud lain dari kata itu. Kau pasti paham sendiri" Maxim mencoba memberi pemahaman ke Hana.
Hana hanya tersenyum geli dengan maksud Maxim. "Bisa kah kau menyanyikan lagu pengantar tidur untukku?? Aku mengantuk tapi masih tidak bisa tertidur" pinta Hana. Dia memang sudah mengantuk, tetapi entah mengapa matanya tak juga bisa diajak tidur.
"Baiklah honey, kau mau aku nyanyikan nina bobo?? aku hanya tau itu. Aku pernah mendengar ibuku menyanyikannya ke ayah!!" kata Maxim jujur. Dia memang tiba tiba teringat adegan saat ayahnya juga meminta ibunya dinyanyikan lagu pengantar tidur.
"What??? Seriously?? Papamu sangat manja, aku sudah tahu kenapa kau bersikap manja!" jawab Hana sembari tersenyum menggoda Maxim.
"Jangan salah honey, kami hanya menyalakan mode manja ke orang yang kami cintai!" jujur Maxim.
__ADS_1
"Aku tahu, makanya aku memberimu cintaku. Jadi kapan kau akan menyanyikannya?" tanya Hana.
"Pejamkan matamu, aku akan bernyanyi" perintah Maxim dan segera di lakukan Hana. Hana semakin larut dalam nyanyian itu hingga terbawa ke alam mimpi. Maxim tersenyum bahagia menatap Hana yang sudah tertidur pulas dan segera menyusul Hana setelah menatap wajah polos Hana begitu lama.