STRANGE GIRL

STRANGE GIRL
HANA YANG POLOS


__ADS_3

Hana kini sudah berada di rumah, dia segera membersihkan tubuhnya. Dia menyerahkan jas Maxim dan Raka ke asisten agar ssegera di cuci dan di setrika. Tidak berselang 15 menit, Hana sudah rapi dengan pakaiannya sehari hari di rumah. Rambutnya tergulung dengan handuk putih. Hana berbaring di kasurnya, menatap langit langit kamarnya.


"Apa penampilanku berlebihan hari ini? Kenapa aku merasa diriku jadi bahan pandangan?" Hana bergumam sendiri.


Seketika ingatannya terfokus ke sosok pria yang tadi siang banyak membuatnya terkejut, siapa lagi jika Maxim. "Han!! Jangan sampai kau jatuh cinta sama pria nyebelin itu!!" gumam Hana sembari menyemangati dirinya. Hana bangkit dari rebahannya, melepas gulungan rambutnya dan turun hendak makan malam. Tidak terasa waktu yang dia habiskan di kamar sudah begitu lama hanya untuk melamun.


"Tumben cepat balik? Hari ini adikku yang cantik ini kesambet setan apa sih? Kok aku merasa banyak hal aneh darimu!? Hayo ngaku!!!" Remon yang datang dari ruang tamu meledek Hana yang sudah tiba di ruang makan terlebih dahulu.


"Tau ah gelap!!! Kepo banget sih luh!!! Awas, jangan terlalu kepo urusan orang, dosa tau!!!" jawab Hana tidak memberitahu.


"Bagaimana tantangan kakak tadi siang?" tanya Remon sembari duduk di samping kursi Hana.


"Bingung ah!!! Tapi hari ini dia gak ngijinin Hana dekat dia, trus tadi siang tiba tiba aja ngasih jasnya ke Hana pas Hana mau ke kantin! jawab Hana polos. Remon sukses tertawa dengan cerita Hana.


"Han.... Han... loh benar benar polos atau di pura pura polos sih!!" kata Remon membuat Hana semakin bingung.


"Bisa gak jangan main teka teki mulu!! Mentang mentang nilai matematikamu tinggi main teka teki mulu, udah ah kesal aku!!" jawab Hana sambil memanyunkan bibirnya karena kesal.


"Hahahahahahaha.... Jangan ngambek adikku tersayang!!! Kakak jawab gak ya!!??" kata Remon lagi membuat Hana semakin kesal. Kali ini Hana tidak hanya memanyunkan bibirnya, matanya kini sudah memberi tatapan tajam ke Remon.


"Iya iya.... Kakak jawab, Hana ancaman sama Maxim!!! Bahaya loh!!! Hahahahahaha......" jawab Remon, Hana bukannya mengerti. Hana justru semakin menatap tajam.


"Jadi maksud kakak Hana bahaya gitu?? Emang Hana malaikat maut!??" kesal Hana meneriaki Remon.


"Hanaaaaaa, suaramu!!" Safira menasehati Hana karena kebisingan yang dibuat Hana.


"Mama!!!! Kak Remon yang salah!! Masa iya kak Remon bilang Hana ancaman sih!!" jawab hana membela diri.


"Polosnya putri ayah!! Maksud kak Remon bukan itu Honey!! Maksudnya ancaman itu, masalah perasaan!!" jelas Lexon sambil duduk di tempatnya biasa duduk di ruang makan.

__ADS_1


"Benar kata ayah! Sok polos sih loh!! Hana!!!! Dunia keindahanmu sudah tiba!! Lihat saja nanti, Maxim berubah ubah. Kadang baik, kadang badmood, jadi Hana sayang! Kau harus sabar, kau harus mengendalikannya kalau kau tidak mau terluka!" jelas Remon sambil tersenyum lebar.


"Putri ayah tidak segampang itu dikalahkan!! Enak saja kamu! Emang kamu udah bisa mengendalikan Melani??" bukannya di jawab Hana, Lexon malah menjawab untuk membela putrinya.


Hahahahahahahaha...... Seketika tawa pecah di ruang makan, Hana dan Safira tertawa bersama membuat nyali Remon seketika menciut. "Kalian jahat!!" kata Remon memasang wajah tidak berdaya.


"Makanya kak, baik sama Hana biar Hana bantuin!!" Hana mencoba menolong tetapi harus memberi keuntungan untuk diri sendiri.


"Hahh.... Loh memang ya! Menolong bisa gak tanpa pamrih??" jawab Remon menatap Hana tajam. Hana tidak takut, dia justru mengejek Remon dengan memasang wajah menyebalkan.


"Sudah sudah!! Makan dulu, jangan ribut!" lerai Safira yang sudah selesai membagi lauk.


"Yes mom!!" jawab ketiga orang yang sedang bersama Safira.


Di kamar.....


"Kak Remon!!!!!" teriak Hana.


"Sudah hilang!!!" sahut Remon dari balkon.


"Kenapa tuh muka? Kusut amat!!" tanya Hana melihat ekspresi Remon yang tak bersemangat.


"Huffttt!! Melani menghindar dari kakak!!" jawab Remon jujur. Melani memang semakin menghindar darinya, membuat Remon semakin tergila gila karena begitu merindukannya. Bahkan Remon bisa tidak bertemu Melani selama satu hari. Entah bagaimana Melani bisa menghindarinya.


"Hahahahahaha..... Kasihannya kakaku, bucin sih loh!!" ledek Hana.


"Bukan bucij, tapi ini namanya cinta sejati!!" Remon membanggakan cintanya.


"Halahhhh!!! Makanya kak kasih status yang jelas biar gak diambil orang!!" Hana mencoba memberi nasihat.

__ADS_1


"Kakak gak suka pacaran!! Maunya nikah aja!!" jawab Remon membuat Hana menatap wajah Remon, mencari tanda keseriusan disana. Wajah Remon memang penuh dengan tanda keseriusan dan tulus.


"Yaudah kak, tunangan aja dulu!! Nanti kalau Melani sudah siap magang, baru nikah! Gimana??" ide Hana dan mendapat respon baik dari Remon.


"Benar juga katamu!! Kenapa kakak gak kepikiran kesana ya!?" jawab Remon seketika bersemangat. "Kalau udah tunangan, dia sudah terikat denganku. Jadi tidak ada lagi yang bisa mengambilnya!" tambah Remon tersenyum bahagia.


"Han!! Besok temani kakak membeli cincin, jangan sampai Melani tahu!" pinta Remon. Wajahnya masih tampak berseri seri.


"Hana sibuk!!" jawab Hana singkat. Tiba tiba Hana teringat akan alasan dia datang ke kamar Remon. "Gak jadi sibuk deh!! Asal kakak jelasin ke Hana maksud omongan kakak sama ayah!" pinta Hana yang masih bingung, belum bisa menelaah ucapan Lexon dan Remon.


"Hahahahahahaha.... Hana... Hana... Otak loh cerdik! Tetapi masalah itu aja susah di telaah!" ledek Remon membuat Hana mengerucut bibir karena kesal dengan ledekan Remon.


"Bodoh amat ah!! Yang penting kasih tahu!!" Hana memaksa.


"Maksud kakak, Maxim sepertinya menyukaimu. Jadi lihat saja nanti sifatnya yang berubah ubah, dia akan lebih perhatian. Dia juga akan kesal kalau kau dekat dengan pria lain. Jadi kau harus hati hati!!" helas Remon. Hana mengangguk mengerti.


"Masa sih kak, seorang Maxim menyukai Hana yang nyebelin!?" tanya Hana tiba tiba. Hana merasa dirinya bukan wanita sempurna.


"Susah bangat sih di omongin!! Lihat sendiri saja, jangan lupa berbagi cerita dengan kakak! Kakak penasaran dengan kisah cinta sahabat karib kakak." kata Remon.


"Iya!!! Besok ambilnya cincinnya agak sore aja. Kakak jemput aku jangan di depan gedung perusahaan. Kakak tunggu di simpang saja. Aku gak mau jadi bahan pandangan lagi. Malas ladeni orang berantam. Kata Hana jujur. Dia memang sedang tidak berniat menambah musuh. Apalagi mengingat kejadian di kantin. Hana tidak kesakitan, tapi merasa malu.


"Iya!! Sudah sana keluar!! Udah larut malam!" usir Remon sembari mendorong Hana pelan ke arah pintu.


"Awas tidak tidur ya!! Awas kesambet setan," karena Hana yakin suasana hati Remon bahagia tidak sabar menunggu hari esok. Hana tidak ada habisnya meledek Remon. Hana langsung berlari ke kamarnya selesai meledek Remon. Hana tidak mau wajahnya jadi tempat mendaratnya bantal karena sudah meledek Remon.


Hana melamun di kasurnya sembari memikirkan ucapan Remon. Masih tidak percaya dengak ucapan Remon. Hana bahkan tidak sadar kapan lebih tepatnya dia tertidur pulas. Hana hanya sadar saat matahari pagi menyambutnya. Tidak pernah terdengar kicauan burung karena bukan pedesaan. Hana hanya mendengar suara suara kendaraan melaju.


Jarang di temukan udara yang benar benar segar. Udara tidak seperti udara di desa, sejuk karena banyak pepohonan. Hana bangkit dari tidurnya, meskipun badannya sulit untuk dibawa. Hana harus memaksa tubuhnya agar mau berkompromi dengannya.

__ADS_1


__ADS_2