
Hana melakukan tugasnya sebagai asisten yang baik hari ini. Dia sangat puas dengan kinerjanya hari ini. Meskipun ada rasa kesal karena karyawan restoran dan juga perkataan Maxim. "Awas saja, lihat saja bagaimana aku akan membuatmu terdiam!" kata Hana bertekad.
Hana turun ke ruang makan setelah selesai membersihkan diri. Tubuhnya kini terasa lebih segar. "Malam!" sapa Hana pada penghuni ruang makan yang tengah menunggu kedatangannya.
"Sesekali kamu kek yang nungguin kami di meja makan!" kata Remon yang kesal menunggu Hana. Meskipun sudah makan siang di restoran, perutnya malam ini terasa lapar.
"Apaan sih? Berisik tau!!" balas Hana tidak mau kalah.
"Mulai lagi!! Apakah mama sama papa perlu menunggui kalian selesai berantam dulu baru kita makan?" kata Safira penuh penekanan. Jelas terlihat ekpresi tegas di wajahnya.
"Hmmm.... Sudah sudah!! Ayah sudah lapar, apa kalian tega melihat ayah kelaparan? Ayo makan!" Lexon mencoba menghentikan perdebatan di meja makan.
Meja makan seketika terasa sepi tanpa suara Hana dan Remon. Hanya sendok berdenting yang terdengar di meja makan. Lexon menyelesaikan makannya dan di susul Hana.
"Lama banget! Cowok kok lamban!!" ejek Hana membuat Safira menatap Hana tajam.
Remon hanya tersenyum puas karena merasa dibela Safira. Remon menikmati makanannya tanpa peduli dengan tatapan Hana. Entah apa masalah Hana hingga selalu mencari masalah malam ini.
Semua keluarga berkumpul di ruang makan. Mereka tidak menonton televisi, mereka sibuk dengan ponsel dan juga majalah di tangan Safira. "Bagaimana hari kalian?" tanya Lexon di tengah tengah kesibukannya dengan ponsel.
"Baik yah!! Bahkan banyak kejutan hari ini!" jawab Maxim sembari melirik Hana.
"Oh iya? Apa ayah bisa mengetahuinya?" tanya Lexon penasaran.
"Ayah tidak tanya bagaimana hariku?" Hana cepat bertanya untuk mengalihkan perbincangannya dengan Remon. Hana tahu hal mengejutkan apa yang Remon maksud.
"Oh iya, ayah hampir melupakan putri tercantik ayah!" jawab Lexon memuji Hana membuat Remon dan Safira memutar bola mata.
"Hariku sangat baik yah!! Bahkan bosku memujiku hari ini!" bangga Hana meskipun sebenarnya dia tahu Maxim kebanyakan meledeknya bukan memuji.
'Ini adik gue kok pintar drama sih? Lah dia kan tahu Maxim bukan memujinya dengan tulus, Maxim hanya sedang meledeknya' batin Remon menatap Hana keheranan.
"Hahahaha... Baguslah!! Putri ayah memang yang terbaik! Istirahatlah! Mungkin kalian sudah lelah, ayah juga mau istirahat. Ayo mah!" ajak Lexon ke Safira. Lexon membantu Safira berdiri, menggandenga lengan Safira sambil berjalan ke arah kamar. Sesekali Lexon mendekatkan kepalanya ke kepala Safira, terlihat sangat manja.
"Bucin tua!" kata Hana dan Remon bersamaan. Keduanya saling memandang dan saling menaikkan alis.
__ADS_1
"Ember!!" ledek Hana dan pergi meninggalkan Remon.
"Maksudnya apa ya? Apa dia mengejekku?" gumam Remon bertanya ke diri sendiri, tidak memahami ucapan Hana. Remon memilih menyusul Hana ke lantai dua.
Pagi hari....
Hana sedang sibuk menata rambutnya, dia memberi sedikit gelombang ke rambutnya yang sudah mulai panjang. Memberi polesan di wajahnya, terlihat natural tetapi sangat cantik. Haa juga tidak lupa mengaplikasikan pewarna bibir berwarna pink, membuat wanita itu semakin cantik. Hana berdiri di depan cermin menatap dirinya. Baju kemeja putih dengan rok abu abu model pas sedikit di atas lutut.
"Perfect!!" puji Hana dan segera mengambil tas samping, melangkahkan kakinya menuruni setiap anak tangga. Hana ke ruang makan membuat semua orang terkejut.
"Non!!! Anda sangat cantik!!! Apa nona mau kencan?" tanya kepala Asisten rumah.
"Hahahaha..... tidak kok bis, hanya sedang berminat saja" jawab Hana tidak mau memberitahu.
"Papahhhh...... Lihat putrimu!! Sepertinya putrimu sedang kurang sehat!!" teriak Safira membuat Lexon dari kamar segera bergegas ke sumber suara.
"Ada apa sih ma? Kok teriak teriak, kenapa Hana?" tanya Lexon setelah berdiri di samping Safira.
"Lihat putrimu, apa dia memang Hana kita? Mama takut salah lihat pah!" kata Safira menunjuk ke arah Hana.
"Wouuuu, you are so beautiful!! Mau kemana putri ayah dandan sangat cantik?" puji Lexon yang juga terkejut dengan penampilan Hana.
"Emang laku?" ledek Remon dan mendekati Hana. Dia melihat Hana secara mendetail.
"Hahah.... Ya lakulah!! Masa cantik cantik gak laku, emang kayak loh!! Gak punya mental!!" balas Hana mengejek dan mendekati Safira dan Lexon yang terdiam karena perdebatan yang terjadi diantara kedua anaknya.
"Pah!! Mah!! Putri papa sama mama yang cantik ini mau berangkat kerja, doakan putri kalian yang cantik ini ya! Doakan supaya anak orang yang kaya, tampan dan baik kepentok sama putri kalian ini. Doakan juga putri cantik kalian ini bisa menjalani hari dengan baik!" pamit Hana panjang lebar.
"Ihhhh..... Mama bingung mau bilang apa pah!! Putrimu benar benar sangat aneh!!" kata Safira sambil menepuk jidatnya.
"Kok bingung mah?! Kan tinggal bilang iya saja! Emang mama mau putrimu ini menyendiri sampai tua?" tanya Hana membuat Lexon tersenyum geli akibat kelakuan Hana.
"Sudahlah, mama doakan yang terbaik untukmu putri mama yang tercantik!! Hati hati di jalan!!" kata Safira mengalah.
"Oh iya pah! Hana boleh minta tolong gak?" tanya Hana sambil melirik Remon. Remon seketika merasa tidak aman dengan lirikan Hana.
__ADS_1
"Apa sih inggak buat putri ayah!! Katakan saja apa yang perlu ayah bantu?" tanya Lexon membelai rambut Hana penuh kasih sayang.
"Pengen diantar kak Remon!!" jawab Hana memasang wajah imutnya.
"Sudah gue tebak, gue tidak aman!! Tidak mau pah! Remon belum mandi!" Remon menolak. "Ayah saja!" tambah Remon melempar tugasnya ke Lexon.
"Gak mau pah! Pengen kak Remon saja, kan kak Remon gak turun dari mobil. Jadi gak masalah dong!! Cepatin dong kak, Hana gak mau telat! Masa Hana harus naik motor? Kan udah dandan cantik!!" sungut Hana. Lexon menatap Remon, Safira juga.
Remon hanya bisa mengalah dan mengambil kunci mobilnya. "Kak jangan mobil mahal ya!" teriak Hana yang tidak mau dirinya jadi bahan pandangan orang.
"Bawel!!" kesal Remon dan mengganti kunci mobil sportnya dengan mobil Agya putih.
"Hana berangkat dulu mah, pah!" pamit Hana sembari melambai ke arah dia orang yang masih berdiri menatap kepergiannya.
"Putri kita lucu kan mah!!" kata Lexon pelan.
"Lucu kepalamu!!" jawab Safira ketus. Dia bahkan merasa kepalanya akan pecah karena memikirkan sikap putri satu satunya.
Di mobil Remon penasaran kenapa Hana berdandan hari ini. Sangat tidak mungkin Hana mau melakukannya jika tidak ada penyebabnya.
"Kenapa loh berdandan rapi? Apa ada seseorang yang memberi tantangan?" tebak Remon.
"Tuh tau!!! Teman tercintamu menantangku!!" jawab Hana jujur.
"*W*hat?? What's wrong?" Tanya Remon dengan penuh keterkejutan.
"Mereka bilang tubuhku tidak berbentuk!!!!!!" kesal Hana. Dia sedikit berteriak karena begitu kesal.
"Hahahahaha......... tebakan gue benar. Pantas saja ekspresi wajahnya aneh saat kuberitahu kau tidak suka kalah dalam tantangan!! Hahahaha..... Mampus sudah dia!!! Dia akan menganga melihatmu! Kakak jamin dia kalah!" kata Remon jujur.
"Benarkah? Kakak tidak bohong kan?" tanya Hana mencari keseriusan dalam perkataan Remon.
"Kakak berani taruhan, jika dia menganga melihatmu! Belikan kakak KFC dekat kantin SMA mu, kakak tidak ada waktu kesana jadi rindu makan KFC nya dan jika dia tidak tertarik sama sekali, kakak beli tiket konser BTS untukmu" tantang Remon dengan ekspresi wajah yakin.
"Waooo.... tiket konser!! Mau doakan dia tidak tertarik agar dapat tiket konser BTS salah!! Aku tidak mau kalah, aku harus menang!! Hufftt... Bye tiket konserku!" pasrah Hana.
__ADS_1
Remon hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah laku Hana. Remon menginjak rem mobil tepat di depan gedung perusahaan Maxim. Hana turun begitu elegan dengan hak tinggi berwarna hitam sekitar 5cm terpasang di kaki putih mulusnya.
"Terima kasih kakak tampan!!" Hana mengucapkan terima kasih setelah Remon mengantarnya. Remon hanya mengangguk dan segera lepas landas meninggalkan perusahaan sahabatnya.