
Hana dan Rena menanti kedatangan Melani di kelas. Benar saja kata Melani, sepertinya Melani membuat jurus manjur untuk membuat dosennya cepat menyuruhnya keluar dari ruangan. Melani datang dengan senyum lebar dan tampak begitu manis. "Ayo berangkat!" ajak Melani dan segera menyambar tas di mejanya. "Kalian memang baik, terima kasih sudah merapikan bukuku" tambah Melani dan menggandeng lengan kedua sahabatnya.
"Traktir dong!! Gak ada yang gratis tau!!" jawab Rena dengan senyuman penuh penekanan pada Hana. Berharap Hana akan membantunya. Hana hanya tersenyum tipis. "Yops! benar Mel! Loh harus traktir kita dua, loh yang bayar bakso sama minumnya, sah!" Hana membantu Rena.
Melani hanya bisa menyetujui dengan pasrah. Dia sudah mengenal kedua sahabatnya. Dia mengangguk, tidak lupa dengan senyuman ramah agar tampak tidak terpaksa.
"Bu! Seperti biasa ya!" Melani memesan kepada ibu yang punya warteg.
"Loh berdua rencananya selesai kuliah kemana?" tanya Hana penasaran dengan planning kedua sahabatnya. Hana selalu memikirkan kemana dia akan melangkah setelah selesai kuliah, tapi banyak kebimbangan setiap kali Hana akan memilih.
"Gue sih Han pastinya bisa kerja di perusahaan keluarga loh! Itu sih mimpi semua orang, karena gue yakin di perusahaan kak Maxim gue gak ada harapan. Jadi setidaknya perusahaan ternama kedua bisa gue masuki. Sedari awal sebelum perusahaan kak Maxim buka cabang, gue udah bertekad bisa kerja di perusahaan keluarga loh. Tapi meskipun perusahaan nomor 1 buka cabang, gue juga masih akan ke perusahaan keluarga loh" jelas Rena penuh yakin dengan pilihannya.
"Loh berdua pasti sudah tahu dong jawaban gue meskipun gak gue jawab!" jawab Melani santai. Dia melihat kedua sahabatnya secara bergantian.
"Iya manatau kan loh ada rencana lain selain kak Remon!" balas Hana mencoba mengelak agar Melani tidak menyuruh dia dan Rena menebak.
"Hahahaha....gue gak akan punya rencana lain kok! Ayah sama ibu juga mendukung, apalagi ayah! Ayah kan sahabatan sama ayah loh, jadi amanlah!" kata Melani bangga. Melani lupa dengan salah satu sahabatnya yang tidak memiliki hubungan dekat dengan keluarga Hana.
__ADS_1
"Hm hm hm!! Hahah.... loh bisa saja Mel! Ayah akan tetap menjalankan aturan kepada calon karyawan. Kecuali loh bikin pelet sama kakak gue itu!" Hana mencoba meluruskan kata kata Melani. Takut Rena sakit hati karena tidak ada yang bisa diandalkan. Dia hanya menjalin persahabatan dengan Hana, tidak ada hubungan dalam keluarga. Seperti orang tua mereka yang bersahabat atau hubungan sanak saudara.
Rena hanya keluarga yang biasa saja, tidak ada yang istimewa dari keluarga Rena. Rena tinggal bersama ibunya. Dia bahkan tidak mengenal ayahnya. Dia hanya tau ayahnya sudah berpulang kepada pencipta. Rena tidak lagi terlalu penasaran dengan ayahnya, baginya: ibunya adalah ayah dan ibu.
"Ahh..... betul juga ya! Gue lupa ayah loh galak jika sudah menyangkut aturan. Berarti gue harus berjuang dong! Gue harus berjuang agar bisa ketemu sama kak tampan, ya kan Ren? Mari berjuang!" Melani segera paham dengan apa yang baru saja dia katakan. Dia tidak ingat jika kata katanya bisa saja membuat Rena sakit hati. Meskipun sebenarnya mereka tidak tahu apakah itu akan membuat Rena sakit hati atau tidak.
"Yah!! Kita harus berjuang! Demi bersama Hana!!" jawab Rena dengan mengekspresikan wajah girang. Sebenarnya dia mengerti dengan apa yang kedua sahabatnya itu katakan. Rena mengerti jika kedua sahabatnya sedang menjaga perasaannya. Rena tidak masalah, dia sadar dengan dirinya sendiri. Dia bersyukur bisa bersahabat dengan Hana, putri konglomerat yang sedang menyembunyikan identitasnya.
Rena senang bisa bersahabat dengan Melani, putri dari rektor di kampusnya. Bagi Rena, itu adalah sebuah anugerah karena dia yang biasa biasa saja bisa masuk ke grup orang orang terpandang. Apalagi mengingat kedua sahabatnya tidak pernah mengungkit tentang status. Kedua sahabatnya selalu merakyat sepertinya.
Kedua sahabatnya bahkan sering bermain ke rumahnya yang pastinya sangat berbeda kelas dengan rumah Hana dan Melani. Kedua sahabatnya bahkan terlihat menikmati kesederhanaan dari keluarganya. Menikmati masakan senderhana dari ibunya. Rena tidak mudah sakit hati dengan ucapan kedua sahabatnya, terutama Melani. Rena tahu sifat Melani, jadi dia tidak terlalu membawa ke perasaan.
Rena dan Hana akan berusaha mengontrol Melani agar tidak melebihi batas. "Semangat! Kalian pasti bisa! Aku mendukung kalian berdua!" teriak Hana dengan penuh semangat memberi semangat pada Rena dan Melani. Hana bahkan memukul meja membuat mangkok dan gelas di meja bergetar.
"Maaf bu! Terlalu bersemangat!" Hana meminta maaf pada ibu pemilik warteg. Ibu pemilik warteg hanya tersenyum ramah, dia sudah mengenal ketiga gadis itu cukup lama. Jadi hal itu sudah biasa baginya.
"Loh gimana Han?" tanya Rena penasaran dengan sahabatnya yang sedang menyembunyikan identitasnya.
__ADS_1
"Gue masih bimbang! Apakah gue harus langsung bekerja di perusahaan membantu kakak atau gue ke perusahaan lain dulu? Gue masih bingung memilih" jawab Hana dengan nada lesu.
"Jangan terlalu di pikirkan! Loh pikirkan pelan pelan saja, setidaknya loh udah punya pilihan. Tinggal memilih dari kedua pilihan itu saja, pasti ada jalan keluar untukmu" Rena menyemangati Hana dibantu Melani mengelus punggung Hana.
Beruntung mereka sudah menyelesaikan makanannya, jadi mereka bisa berpelukan untuk merayakan keberhasilan mereka di masa depan. "Semangat!!!" teriak ketiganya. Ibu penjaga warteg hanya bisa tersenyum bangga melihat semangat ketiga gadis di wartegnya. Gadis yang sudah dia kenal cukup lama.
"Bu! Bayar!" teriak Melani memanggil untuk membayar makanan yang sudah mereka habiskan.
"Gue balik duluan ya! Ibu sudah menghubungiku!" pamit Rena seperti biasa pulang terlebih dahulu.
"Hati hati! Sampai jumpa besok!" jawab Melani dan melambaikan tangan ke arah Rena yang sudah menjauh dari tempat mereka duduk.
"Han, menurutmu Rena gak akan sakit hati kan? Aduh mulut gue memang gak bisa di kendalikan!! Besok gue bakalan bawa lakban saja, biar mulut gue gak kelancaran lagi!! Mudah mudahan Rena gak sakit hati ya Han!" Melani merasa bersalah dengan ucapannya. Dia memang beberapa kali berbicara tidak terkontrol.
"Tenang! Rena gak semudah itu untuk sakit hati. Lain kali hati hati saja kalau mau ngomong! Loh itu memang ya, selalu aja kelancaran!" kata Hana menasehati Melani.
Melani tersenyum dan meminta maaf kepada Hana. Status Hana pernah hampir terungkap karena perkataan Melani yang tidak terkontrol. Hana hanya menggeleng kepala sebentar dan tersenyum memaklumi Melani.
__ADS_1
"Ayo pulang! Udah sore!" ajak Hana dan segera mengenakan helmnya. "Gue duluan!" pamit Hana pada Melani dan di balas anggukan Melani.
Melani sesekali termenung, dia merasa bersalah pada kedua sahabatnya itu. Melani mengoreksi diri, bertekad agar lebih mengontrol ucapannya. Melani tidak ingin kedua sahabatnya merasa terpaksa bersahabat dengannya. Melani bersyukur karena kedua sahabatnya selalu memaklumi dirinya. Hana dan Rena adalah sahabat terbaik untuknya.